NOT Second Lead

NOT Second Lead
Keputusan Xavi dan kisah manis Hazka-Kirania



"Mama ngga akan merelakan kamu menikah dengan Daiva," ketus Mama Xavi setelah mereka kembali dari pemakaman Zerina.


Tim medis ngga berhasil menyelamatkannya.


Xavi ngga menjawab sepatah kata pun.


Saat Zerina dinyatakan meninggal, kemudian menghadiri pemakaman dan kini sudah kembali ke mansion mereka, belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Sudah, ma," lerai Hendy-Papa Ashlan lelah.


Kenapa istrinya tetap memaksakan keinginannya pada putra mereka yang tinggal satu satunya itu.


Xavi berhak bahagia.


"Papa mau nerima sepupu dari pembunuh Aiden?" seru mamanya ngga terima. Dia sangat marah.


Mungkin karena suara teriakan mamanya yang keras membuat bayi yang sedang tertidur jadi menangis.


"Hentikan, Ma. Dave bangun," seru papanya penuh tekanan dan bergegas ke kamar bayi Aiden dan Zerina yang diberi nama Dave.


Tapi langkahnya terhenti karena Xavi sedang berjalan keluar dari kamar itu dan sedang menggendongnya. Sekaligus menenangkannya.


Mamanya pun mendekat dan mengambil alih bayi itu dari gendongan Xavi.


"Maafkan, oma. Maafkan, ya, sayang," bujuknya lembut dan merasa amat bersalah.


Kamu sudah kehilangan papi kamu. Sekarang kamu juga kehilangan mami kamu, batin Mama Xavi getir dan pahit.


Seakan mengerti bayi itu mulai tertidur lagi


"Mama harus ingat kalo mau marah, ada bayi di dekat kita," canda suaminya mengingatkan. Berusaha mencairkan suasana.


Xavi melangkah pergi.


Ketika mamanya bermaksud menahannya, suaminya menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat melarang.


Mama Xavi mendengus kesal. Dan berjalan ke kamar bayinya untuk menidurkan bayi itu. Ada dua orang baby sitter yang langsung menunduk hormat.


*


*


*


Zerina meninggal dunia. Hampir seluruh stafnya datang ke pemakaman. Omnya pun datang. Tapi dia ngga datang.


Daiva menatap bayi El yang berada dalam gendongannya.


"Saudara kandung kamu namanya Dave," gumamnya sangat pelan.


Xavi sendiri yang memberitaunya lewat pesan.


Sekarang para stafnya sudah tau kalo Zerina menikahi Xavi setelah Aiden meninggal.


Memang beberapa staf yang dulunya bekerja menjadi bawahan langsung Zerina, mengetahui hubungan bosnya itu dengan Aiden.


Kata mereka Aiden beberapa kali mengunjungi Zerina. Rihana juga pernah melihatnya sekali waktu itu.


Setelah Zerina dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter, Xavi langsung menghubungi orang tuanya. Dia meminta waktu sendiri dulu agar nantinya saat menikahi Daiva, tidak ada cuitan buruk tentang gadis kecintaannya itu.


Mata Daiva memanas. Sebegitunya dia ngga mau membuat Daiva tersakiti. Dia terlalu banyak berpikir. Daiva merutuk gemas dalam hati.


Tapi mengapa Xavi ngga mengatakan langsung padanya. Dia bisa menanggungnya. Apa pun itu. Biar sepedas dan sangat mengerikan yang dikatakan mereka. Asal bisa bersama Xavi, dirinya pasti kuat.


Air mata Daiva mengalir perlahan.


Alexander menahan tangan Rihana yang akan melangkah masuk menemui kakak sepupunya.


Gelengan kepala Alexander membuat Rihana paham. Saat ini kakak sepupunya butuh waktu untuk sendiri.


"Bayi El akan bisa menghiburnya," bisik Alexander sambil mengelus perut Rihana di balik pakaiannya.


Rihana menganggukkan kepalanya sambil meletakkan tangannya di atas tangan Alexander.


"Kita pergi sebelum Daiva tau," bisik Alexander yang kembali diangguki Daiva.


*


*


*


Kirania menatap kesal pada Hazka yang terang terangan mengajaknya pergi menjauhi Ansel dan Nayara.


Ini sudah ketiga kalinya.


"Kenapa kamu selalu saja muncul? Bukannya aku sudah menolak kamu di pertemuan pertama kita," sentak Kirania sewot.


Hazka hanya melebarkan cengirannya. Ingat apartemen mewah di New York yang sudah dia minta pada Ansel, menjadi motivasinya untuk bersabar menghadapi keangkeran sikap Kirania.


Dalam hatinya meremehkan usaha Ansel untuk mencari laki laki yang rela dan ngga punya tuntutan apa pun untuk mendampingi Kirania tanpa batas waktu.


Kirania memang cantik. Orang orang yang ngga mengenal dekat dirinya, pasti mengira dia gadis lembut yang penurut. Bidadari surgalah walau belum mengenakan hijab.


Tapi tidak bagi Hazka yang sudah mengenalnya sejak kecil, karena orang tua mereka merupakan sahabat lama.


Dari kecil aja Kirania sudah galak hanya karena dirinya satu frekuensi dengan kakaknya Ansel.


Tambah umur malah semakin galak. Kepala Hazka sudah berapa kali dipukulnya. Bahkan rambut indahnya pun sudah pernah dijambak juga.


Apalagi berani kasar padanya. Setiap mendapat perlakuan kasar Kirania, bukan Hazka ngga bisa membalas. Dia hanya ngga mau harga dirinya akan makin tercoreng jika dia sampai menyakiti perempuan.


"Jangan jangan Kak Ansel sudah menjanjikan sesuatu padamu," tebak Kirania sangat yakin.


Bahaya nih, batin Hazka waspada.


"Aku hanya ingin membantunya. Aku juga bukan orang miskin yang ngarapin bantuan darinya," ngeles Hazka sambil berkacak pinggang.


Jangan sampai ketahuan, batinnya mengingatkan.


"Huh! Kamu pikir aku percaya?" dengus Kirania sambil melototkan matanya.


'Terserah kamu," ngeyel Hazka dengan gaya selengeannya.


Kirania kembali membuang nafas kesal.


Sampai kapan laki laki ini akan terus membuntutinya, keluhnya dalam hati.


Rasanya selalu ngga nyaman jika Hazka berada di dekatnya. Tubuhnya langsung bereaksi negatif.


"Sudahlah. Lebih baik kita nikmati saja malam ini."


Tangan Hazka meraih tangannya dan langsung membawanya pergi ke parkiran.


"Eh, eh, kita mau kemana?" tanya Kirania kaget, terpaksa menuruti langkah panjang laki laki nyebelin itu.


"Ikut aja. Dijamin ngga bakalan bete," katanya penuh percaya diri.


Kirania berdecih kesal walau tetap saja menurut.


Ternyata Hazka membawanya ke parkiran restoran mewah yang sangat luas ini.


Ya, Ansel mengajak Nayara makan malam di restoran megah ini. Kirania yang selalu mendapat info dari Nayara tentu saja memaksa ikut


Dan yang paling nyebelin, Hazka juga ada di sini. Laki laki ini seperti mendapat mandat dari saudaranya agar bisa menjauhkannya.


Sudah dua kali Hazka berhasil melaksanakan tugasnya. Sekarang adalah keberhasilannya yang ketiga. Sungguh sangat mengesalkan.


Kirania memperhatikan deretan mobil mewah yang ada di sana. Selama dua kali Hazka membawanya pergi, selalu dengan mobil mewah yang berbeda.


Kirania percaya pasti laki laki ini sama seperti Ansel yang mengoleksi banyak mobil mewah di garasinya.


Tapi sampai di deretan mobil terakhir, Hazka ngga berhenti. Malah terus menyeret langkahnya dan berhenti di sebuah motor balap GP dari Italia.


Haah.... Motor? Kaget Kirania dalam hati.


Apalagi saat ini Hazka menyodorkan helm padanya.


"Naik motor?"


Satu alis Hazka terangkat mendengar pertanyaan gadis itu.


"Ada masalah?" Dia ngga merasa akan menyulitkan gadis bar bar ini. Apalagi gadis itu pun mengenakan kulot.


Kirania menghembuskan nafas kasar.


"Lebih baik aku pulang pake taksi," tolak Kirania sambil membalikkan tubuhnya.


Ngga bakalan dia mau naek motor dengan laki laki yang suka cosplay jadi Valentino Rossi ini.


"Kamu masih trauma?" kekeh Hazka sambil menarik lengan gadis itu agar ngga jadi pergi.


"Bukan trauma lagi. Tapi bete berat," marah Kirania yang kini sudah berhadap hadapan dengan Hazka yang masih terkekeh.


"Aku suka sama debaran jantung kamu waktu itu," gelak Hazka semakin senang mengetawai wajah manyun di depannya.


Tangannya segera mengenakan helm buat Kirania agar gadis itu ngga bisa pergi.


Ingatan Hazka melayang saat mereka masih SMP. Ansel yang ngga bisa menjemput Kirania karena mau kencan dengan teman perempuannya, memintanya untuk menggantikan tugasnya. Dengan terpaksa dia menurutinya.


Bahkan Ansel tau saat itu Hazka mengendarai motor.


Tapi dengan santainya Ansel berpesan agar mereka melewati jalan tikus untuk menghindari mata tajam polisi. Apalagi Hazka mengenakan seragam SMP. Pasti akan jadi sasaran empuk karena usianya yang belum tujuh belas tahun. Dan pastinya belum memiliki SIM.


Jadilah dia menjemput remaja putri yang galak itu di gerbang sekolahnya yang ngga jauh dari sekolah Hazka.


Kirania tentu saja menolak. Apalagi dia memakai rok SMPnya. Tapi Hazka berhasil memaksanya. Jadilah Kirania ikut bersama Hazka. Untunglah gadis itu mengenakan celana leggingnya.


Tapi mereka apes. Ternyata ada polisi yang berjaga saat Hazka akan memasuki jalan tikus di seberangnya.


Kejar mengejar pun terjadi. Dan Hazka memang sudah sangat profesional sekali mengendarai motor balapnya.


Bahkan lutut keduanya hampir menyentuh aspal saat dalam posisi ngebutnya Hazka harus berbelok.


Saat itu Hazka merasakan cengkraman kuat di pinggangnya dan jantung Kirania yang sangat keras berdetak.


Mereka memang berhasil menghindari kejaran polisi. Tapi nopol motor Hazka diingat dengan jelas. Dan orang tuanya lah yang mengurusnya saat surat tilang datang ke rumah.


"Ayo, naek," perintah Hazka sambil memiringkan motornya.


Dengan cemberut dan perasaan enggan, Kirania menurutinya.


Lagi lagi Hazka cosplay menjadi Valentino Rosi membuat Kirania semakin mengeratkan pelukannnya di pinggang Hazka.


Rasanya seperti dejavu saja. Dulu sekali mereka juga pernah serapat ini.


Jantung Kirania kembali memukul keras punggung Hazka yang tetap melajukan motornya ngebut membelah malam.