NOT Second Lead

NOT Second Lead
Restu



"Kelihatannya aku sudah mendapat restu," ucap Emir sambil memakaikan helm di kepala Kamila yang sedang mengukirkan senyum manisnya. Ngga membantah atau mengiyakan.


Keduanya kini menjadi pusat perhatian para orang tua beda generasi.


Emir memiringkan motormya agar Kamila lebih mudah menaikinya.


Saat Kamila masih belum memeluk pinggangnya, Emir pun menarik kedua tangan itu melingkar di pinggangnya.


"Sudah aku bilang, kan, kemarin, aku suka ngebut," ucapnya sambil meoleh pada Kamila sambil mengangkat kaca helm balapnya.


Kamila merona. Jantungnya berdebar kencang.


Emir keren banget.


Emir tersenyum walau Kamila ngga bisa melihat senyum laki laki itu. Dia tau gadis cantik itu gugup karena Emir bisa merasakan debaran jantung gadis itu yang memukul keras dengan irama cepat di punggungnya.


"Kita berangkat," tukas Emir sambil menstater motornya. Kamila pun melambaikan tanganya pada keluarganya yang juga ikut balas melambai ke arahnya dan Emir.


Setelah keluar dari rumah mewah Kamila, Emir pun memacu kencang motornya dengan Kamila yang semakin erat memeluknya.


Ngga ada ketakukan di hati Kamila, hanya kenyamanan saja yang dia rasakan.


Ngga makan waktu lama, motor ducaty itu sampai di depan halaman rumah sakit.


Emir membantu merapikan rambut gadis itu setelah Kamila memberikan helmnya.


"Jadi dokter yang baik, ya, jangan pilih pilih," pesan Emir bercanda sebelum pergi.


Kamila tersenyum karena lagi lagi Emir dengan lancang mencium keningnya sekilas.


"Door! Ciee ....yang lagi kasmaran," sapa Selina cukup mengagetkan Kamila. Lamunannya pun buyar.


Kamila hanya tersenyum pada temannya yang menatapnya dengan wajah cerianya.


"Apa itu motornya bosnya?" tanya Selina ingin tau. Dia sempat melihat Kamila yang turun dari motor ducaty.


Ada rasa iri terselip.di hatinya melihat Kamila yang bisa menikmati fasilitas teman Emir yang ngga kaleng kàleng.


"Mungkin," jawab Kamila agak malas. Dia melajukan langkah kakinya menjauhi Selina.


Entah mengapa hatinya jadi ngga suka jika Selina tau kenyataan tentang Emir.


Selain itu Kamila juga kurang suka membalas hal hal yang berbau materi.


Baru kali ini Kamila merasa sesuka ini pada laki laki yang baru dikenalnya.


Dulu dengan Deco rasa sukanya cepat sekali menghilang. Saat laki laki itu beralih arah pada Selina, Kamila sama sekali ngga merasa sakit hati. Selina pun menolak laki laki itu.


Tapi kalo Emir, perasaan egoisnya lebih dominan. Awalnya pun dia ngga tau kalo Emir ternyata sangat kaya raya. Hal yang menjadi tolak ukur Selina mencari kekasih dan suami.


"Mil, kita couple, dong dengan bosnya Emir," pinta Selina seperti rengekan di telinga Kamila.


Kamila menghela nafas. Gimana dia mengajak couple an dengan bos Emir yang nyata nyata adalah orang tuanya?


Tapi Kamila bingung menjelaskannya pada Selina. Kalo dia terlalu jujur, berarti dia membuka rahasia kalo Emir sangat kaya. Kamila belum siap jika Selina mungkin akan menusuknya dari belakang. Kamila ngga ingin mengalah untuk Emir.


"Katanya bosnya sudah nikah," tukas Kamila ngga berbohong. Kalo kedua orang tua Emir belum menikah, Emir pasti belum ada di dunia ini. Kenyataannya orang tua Emir menikah dan lahirlah Emir.


"Serius?" tanya Selina kecewa. Harapannya menikmati hidup mewah sampai tujuh turunan, gagal sudah.


Kamila jadi kasian melihatnya. Tapi kali ini dia ngga punya stok kata untuk menenangkan Selina.


"Atau mungkin teman temannya yang lain. Yang kaya seperti bosnya," desak Selina.


"Entahlah. Kami belun seakrab itu," tolak Kamila halus.


"Ya, okelah," sahut Selina mengerti. Dia ngga akan memaksa walau Selina merasa Kamila menutupi sesuatu darinya.


Mengingat foto Kamila di atas heli, membuat Selina akan bersabar.


Kalo heli itu akan jadi miliknya suatu hari nanti.


*


*


*


Cakra heran melihat perdebatan seorang laki laki tua seusia papanya dengan Ines, sekretarisnya. Dia baru saja kembali dari meeting room


"Ada apa, Nes?" tanya Cakra sambil mengangguk hormat pada laki laki tua itu yang kini sedang mengamatinya.


"Bapak ini mau ketemu tuan besar, tuan muda. Tapi tuan besar nitip pesan ngga mau diganggu," lapor Ines sopan. Ini selalu jadi masalahnya. Saat para tamu ngotot ingin bertemu sementara majikannya lagi ngga pengen diganggu.


"Ooh," senyum Cakra mangerti.


"Boleh tau Om siapa, ya, dan ada kepentingan apa?" tanya Cakra sopan.


Laki laki tua ini masih nampak gagah. Lebih kuat dari papanya.


"Namaku Dipanegara. Cukup katakan itu saja pada Airlangga. Dia pasti mau ketemu kalo aku datang ke sini," sahutnya agak angkuh.


"Oke, Om. Saya akan menemui papa saya dulu, agar dia siap siap ya, buat nemuin, Om," kelakar Cakra sopan.


Ines pun tersenyum lega melihat orang tua yang tadi ikut melengkungkan sedikit bibirnya ke atas. Wajah seramnya sedikit berkurang.


"Naah, begitu, dong. Kamu anaknya yang nomer berapa?" Dipanegara menurut saat diajak Cakra duduk di sofa.


"Pertama, Om. Nama saya Cakra. Om, tunggu sebentar, ya. Saya nemuin papa saya dulu," ujar Cakra sopan.


"Oke."


Cakra pun berlalu ke ruangan papanya. Biasanya jam begini papanya lagi santai bersama mamanya yang menemaninya. Tapi tadi mamanya pergi bersama Rihana, mengantar cucunya mengontrol kandungannya.


Mungkin papanya sekarang sedang tiduran dan ngga ingin diganggu.


Dan benar saja, papanya sedang tiduran di ruangan pribadinya.


"Pa, ada opa opa mau ketemu papa," ucap Cakra memberitau setelah melihat papanya membuka mata karena mendengar suara pintu yang terbuka.


"Opa siapa?" Papanya langsung bangkit dari tidurnya.


"Siapa?" Beliau akan selalu antusias jika tau yang mengunjunginya sebaya dengannya.


Seperti Opa Iskan yang selalu menjadi teman sharingnya. Hanya saja sejak kelahiran cucunya, beliau sudah jarang menemui papanya. Mungkin nanti saat Rihana sudah melahirkan, papanya pun akan punya kesibukan dan hiburan baru seperti Opa Iskan saat ini.


"Haah?!" Opa Airlangga sedikit membelalakkan matanya.


Kenapa tukang ribut itu datang? Perasaan dia ngga pernah cari masalah dengannya.


Opa Airlangga memang agak menghindari teman lamanya yang satu itu. Temperamennya tinggi.


"Sepertinya dia sangat ingin ketemu papa. Kasian tadi Ines yang menghadapinya," tawa Cakra pelan.


"Ya sudah. Suruh dia masuk saja," jawab Airlangga mengalah.


Dari pada laki laki tua itu mengamuk di depan sekretarisnya.


Harusnya Iskan ada di sini menjadi tamengnya kalo nanti dia ada apa apa.


"Kamu temenin papa," ucap Airlangga ketika anaknya sudah keluar duluan.


"Siap, bos." Walau merasa aneh dengan permintaan papanya yang tumben minta ditemani, Cakra tetap berlalu dengan cepat keluar dari ruangan papanya.


Dia harus segera menemui Om tadi sebelum beliau mengamuk lagi. Kasian sekretarisnya.


"Sekarang?" tanya Dipanegara sambil berdiri ketika melihat Cakra keluar.


"Mari, Om," senyum Cakra melihat wajah ngga sabar Laki laki tua itu.


"Kamu juga ikut. Jadi saksi," ucapnya sambil melewati Cakra yang memang juga berniat bergabung.


"Saksi?" Benak Cakra mulai berpikir aneh dan berpraduga jelek.


Pantas papa sepertinya kurang suka mendengar om ini datang. Sebenarnya ada apa? Dia siapa?


Cakra pun mengunci pintu ruangannya. Dia melihat papanya juga sudah dalam keadaan siap menunggu apa yang akan dilakukan tamunya kali ini.


"Apa kabar," sapa Airlangga berbasa basi.


"Hem... Aku baik. Aku langsung saja. Cucumu yang namanya Emir harus bertanggung jawab pada cucu perempuanku," katanya tegas.


Cakra dan papanya menoleh, mereka saling pandang dengan binar kaget.


Emir....! Ngga mungkin. Kalo Emra mungkin berbuat begitu.


"Maksud kamu Emra?" tanya Opa Airlangga setelah terdiam beberapa saat. Suaranya agak tercekat.


Nanti setelah si tua ini pulang, dia akan mengomeli cucunya itu. Bukannya dia sudah berjanji akan serius dengan Kiara, batin Airlangga kesal


"Emra?" satu alis Dipanegara terangkat


"Dia mengenalkan namanya Emir, bukan Emra."


Kembali Airlangga dan Cakra saling pandang.


Adiknya Wingky harus tau kelakuan anak baiknya, batin Cakra gemas. Ngga nyangka Emir akan membuat masalah.


"Cucuku Emir punya kembaran. Namanya Emra. Oke, kamu duduk dulu," ucap Opa Airlangga teringat kalo dia lupa menyuruh teman lamanya duduk.


"Kembar?" dengus Opa Dipanegara cukup kaget juga. Mereka sudah lama ngga bertemu. Dan dia pun ngga begitu memperhatikan cucu cucu temannya.


Beliau pun mulai duduk dengan posisi menyandar.


Melihat situasi mulai agak memanas, Cakra menjauh untuk mengirim pesan pada Wingky, adik bungsunya agar segera datang. Biar tau kelakuan tersembunyi anaknya.


"Kalo Emir sudah menghamili cucumu, aku akan tanggung jawab," tukas Airlangga langsung menarik kesimpulan atas kedatangan teman lamanya.


"Hamil?" kali ini suara Opa Dipanegara agak menggelegar.


Cakra pun terkejut mendengarnya.


"Katamu minta pertanggungjawaban cucuku," sela Opa Airlangga masih mencoba bersabar. Dalam hati masih meyakini kalo pelakunya adalah Emra.


"Aku akan menunjukkan videonya pada kalian," kata Opa Dipanegara setelah terdiam beberapa saat menenangkan dirinya.


Temannya terlalu jauh berprasangka. Cucu kesayangannya ngga mungkin akan berbuat sejauh itu, kecamnya dalam hati.


"Video apa?" Airlangga sudah membayangkan hal hal yang sedang in di tv dan sosial media.


"Sudah. Aku ngga mau lihat. Itu aib cucu kita, sebaiknya ditutupi," tolaknya cepat.


"Memang aib. Tapi masih wajar untuk dilihat," balas Dipanegara bingung canpur kesal.


"Tanpa video itu pun aku akan memaksa cucuku bertanggung jawab," kilah Opa Airlangga mulai kesal.


"Memaksa? Apa maksudmu? Cucumu itu malah sangat senang melakukannya," marah Opa Dipanegara ngga terima karena merasa cucunya diremehkan.


Airlangga ingin menjitak kening orang tua yang sama usianya dengan dirinya, sudah mendekari kematian. Tapi masih suka melihat hal hal yang mengandung dosa.


Cakra pun deg degan. Dia juga takut, apa itu seperti video video yang viral akhir akhir ini....


Dia semakin yakin kalo pelakunya adalah Emra.


"Apa pun itu, aku akan menyuruhnya bertanggung jawab," tolak Opa Airlangga tegas.


"Sebentar, Pa. Kita harus buktikan kalo itu Emir atau Emra." Cakra punya pendapat lain. Dia masih ngga percaya kalo Emir yang jadi pelakunya. Hatinya masih yakin kalo pelaku sebenarnya adalah Emra.


"Cakra," geram Opa Airlangga. Rencananya nanti dia akan menginterogasi cucu kembarnya itu, tanpa perlu melihat video ngga sopan yang akan diperlihatkan temannya.


"Boleh saya lihat videonya, Om?" tanya Cakra ngga mempedulikan tatapan penuh peringatan papanya.


Dia butuh kejelasan saat ini juga. Emir terlalu baik untuk disangkakan hal seburuk ini.


"Tentu," jawab Dipanegara sambil memutar video itu di ponselnya. Di hadapan Cakra dan Airlangga yang mau ngga mau terpaksa melihatnya.


Dua pasang mata laki laki itu terbelalak.


Ternyata beneran Emir! Bukan Emra.....


Apa dia sengaja mencium gadis itu di bawah kamera cctv? Batin Cakra sambil menggelengkan kepalnya.


Dia akui kalo gadis iti sangat cantik.


"I ini cucumu?" tanya Opa Airlangga dengan mimik wajah senang. Dia kira video apa. Ternyata dugaannya sudah terlalu jauh.


Dia pasti akan langsung setuju.