NOT Second Lead

NOT Second Lead
Herdin dan Puspa



Herdin tersenyum meihat Puspa yang baru keluar dari lift bersama Kirania. Saat ini mereka bertemu di lobi perusahaan keluarga gadis itu


"Hai," sapa Herdin ramah.


Puspa tersenyum dengan wajah merona. Kirania melirik keduanya. Pahan dia, kalo Herdin kelihatan tertarik dengan Puspa.


Auto ngalah nih, batinnya nyengir.


"Nyari Alexander?" tanya Puspa spontan, tapi sedetik kemudian dia menjawab pertanyaannya sendiri.


"Alexander lagi makan siang di kantin bareng Rihana."


"Nggak, nyari kamu, kok."


WOW....... Kirania menyenggolkan lengannya pada lengan Puspa dengan tatapan menggodanya.


Dia tau saat ini sepupunya pasti sudah mau pingsan saking grogi karena merasa surprise mendengar jawaban yang ngga disangka itu


"Aku duluan, ya. Nyusul Ansel," pamit sambil melangkah cepat, pergi tanpa menunggu jawaban Puspa


"Heiii.... tunggu, Kiran," seru Puspa kaget begitu sadar Kirania sudah ngacir meninggalkannya berdua saja dengan Herdin.


Gimana ini? Puspa mendapat serangan panik dan gugup.


"Biar saja," tahan Herdin sambil meraih lengannya, mencegah Puspa pergi.


"Temani aku makan siang," tukas Herdin sambil menarik tangan Puspa agar mengikutinya.


"Aku?" tanya Puspa bingung, tapi kakinya tetap melangkah pergi mengikuti Herdin.


"Siapa lagi?" senyum Herdin membuat jantung Puspa semakin ngga benar kondisinya.


Wajah Puspa semakin memerah ketika Herdin membukakan pintu mobil untuknya.


Puspa memegang dadanya yang naik turun ngga tenang setelah Herdin menutup pintu mobil itu dan berjalan memutar di depannya.


Apa aku lagi mimpi? Dia beneran Herdin, kan? batinnya shock sambil terus menatap Herdin dengan tataapan mgga percaya campur nervous.


Puspa terus menatap Herdin, bahkan sampai laki laki itu duduk di sampingnya.


Ya, Tuhaaan. Dia tampan sekali, batin Puspa ngga kuat Dia harus tahan, jangan sampai pingsan. Bikin malu klan Airlangga aja. Hatinya terus menyemangatinya.


"Mau makan dimana?" tanya Herdin sambil menghidupkan mesin mobilnya. Dalam hatinya tertawa melihat netra Puspa yang terus menatapnya dengan pipi merona. Terlihat tersipu.


"Ikut aja," ucap Puspa mulai merasa lebih tenang. Tapi ngga dengan jantungnya yang tetap saja berlari kencang.


"Oke." Herdin pun menjalankan mobilnya. Sudah dia putuskan akan mendekati Puspa. Gadis ini baik, Herdin sudah membuktikannya. Selain itu dia juga sangat cantik dan berkelas. Ngga akan susah untuk jatuh cinta dengannya.


Sementara itu Kirania mencari cari Ansel. Dan wajahnya tampak senang melihat sepupunya sedang merayu targetnya, Nayara.


"Ngga kelar kelar. Kapan nyusul ke pelaminan," tukas Kirania mengagetkan keduanya.


Ansel.yang sedang duduk di meja stafnya menatap Kirania kesal. Tapi kemudian merasa heran karena ngga melihat Puspa ada di sebelahnya.


Bakalan diganggu, nih, omelnya dalam hati.


"Ansel, pake uangmu dulu ya, buat bayar Puspa," bisiknya pada kakaknya mengingatkan mereka akan perjanjian diantara mereka jika Puspa berhasil kerja selama satu bulan di perusahaan lain.


"Kan, ngga nyampe sebulan," protes Ansel menyangkal sambil ikut berbisik


"Tinggal seminggu lagi. Aku udah nego, bayar separoh aja," lanjut Kirania menjawab, masih berbisik.


"Ngga bisa, dong," bisik Ansel lagi lagi menolak.


"Harus bisa. Udah syukur, tuh, Puspa ngga minta tiga perempatnya," bisik Kirania ketus.


Nayara menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya. Sudah biasa melihat keduanya berlaku aneh begitu. Mereka seperti anak kembar.


Kini Ansel dan Kirania saling melototkan matanya.


"Hemm.... Aku pergi dulu, ya," pamit Nayara.


"Jangan!" seru keduanya serentak dan menoleh padanya dengan tatapan horornya.


"Oke, gue transfer. Asal lo menjauh sekarang," usir Ansel galak, dengan suara lirih penuh dendam. Dia tau, kalo sudah Kirania ngomong gitu, uangnya ngga akan pernah kembali. Mana mau adiknya itu membayarnya setelah dia mentransfer ke Puspa.


"Oke. Sip!" senyum Kirania melebar. Hatinya senang. Tabungannya ngga tersentuh.


Aman, batinnya senang.


"Dag, Nay," pamitnya dengan mata dan bibir penuh senyum. Beda dengan tatapannya yang tadi.


"Ya." Nayara balas tersenyum sambil melihat kepergiaan adik bosnya.


"Dia memang menyebalkan," keluh Ansel.


Nayara tertawa pelan melihat wajah keruh bosnya.


*


*


*


"Herdin, kamu sendirian?" sapa mama Aurora-Irena kaget. Di sampingnya, Aurora menatap Herdin sungkan.


Dia sudah melihat keberadaan Herdin yang sedang duduk sendirian saat memasuki restoran sunda ini. Aurora juga sudah mencegah mamanya menghampiri Herdin. Tapi gagal.


"Dia calon potensial buat kamu," bisik mamanya membuat Aurora tersenyum kecut.


Dulu Kak Herdin memang sangat menyukinya. Biarpun ditolak berkali kali Kak Herdin tetap memujanya.


Tapi sekarang Aurora ngga yakin kalo Kak Herdin masih mengharapkannya. Apalagi setelah melihatnya keluar dari kamar hotel yang sama dengan Aiden. Kak Herdin seperti ngga mempedulikannya lagi.


"Tante," sapa Herdin sambil berdiri dan menyalim ramah wanita yang seumuran dengan mamanya.


Herdin hanya tersenyum sekilas pada Aurora membuat gadis itu semakin ngga nyaman.


"Sendiri?" tanya Mama Herdin lag mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.


"Berdua," jelas Herdin agak bingung mau menyebut status Puspa, yang saat ini lebih dari teman bagi dirinya. Dan saat ini gadis yang dia pikirkan sudah berada di belakang Aurora dan mamanya.


Herdin pun bergerak menghampiri. Reflek keduanya menoleh dan wajah Aurora tambah jelas berubah.


Aurora masih ingat kalo gadis itu adalah salah satu pegawai kontrak yang sangat dekat dengan saudara tirinya.


Irena melihat Aurora dengan tatapan heran dan penuh tanya. Apalagi melihat Aurora yang sepertinya ngga suka dengan gadis cantik yang sedang digandeng Herdin.


Puspa hanya bisa menatap bengong beberapa detik dengan sikap berani Herdin. Tapi kemudian dia berusaha bersikap biasa aja, mengikuti apa yang Herdin mau. Walaupun tetap saja dia gugup setengah mati.


"Dia Puspa, tante. Sepupunya Rihana," jelas Herdin mengenalkan.


Sepupunya? kaget Aurora. Hatinya bertambah kesal jadinya.


"Oooh," respon Irena paham mengapa putrinya kelihatan ngga suka.


"Tante sama Aurora ke sana dulu, ya," pamitnya dengan senyum agak dipaksakan. Beliau jelas kecewa, karena lagi lagi calon suami masa depan buat putrinya dipepet keturunan Airlangga.


"Oh iya, tante," sahut Herdin sambil menganggukkan kepalanya ketika melihat ibu dan anak itu pergi.


"Sebenarnya aku kesal sekali melihatnya," aku Puspa jujur sambil duduk. Tadi dia ke toilet sebentar.


"Kenapa?" tanya Herdin ingin tau. Walaupun sudah bisa menduganya.


Puspa hanya tersenyum ngga menjawab. Tentu saja dia ngga mungkin menjabarkan bermeter meter ketaksukaannya pada gadis yang dianggap orang orang sebagai bidadari tanpa cela itu. Seandainya saja di depannya.ada Rihana, Winta atau Kirania, maka Aurora akan bercerita dengan lancar dan penuh semangat


Tapi dia masih mikir karena kalo dia bersikap begitu pada Herdin, bisa menimbulkan stigma negatif untuk dirinya. Dan Herdin bisa saja kabur.


Untungnya Herdin ngga memperpanjang keingintahuannya. Menu yang mereka pesan juga sudah datang.


"Ayo, dimakan," ucap Herdin sambil mengaduk mie Acehnya.


"Iya." Senyum Puspa tampak lega. Kapan lagi dia bisa makan berdua dengan Herdin. Puspa akan mengingat peristiwa ini seumur hidupnya.