
"Aku ngga suka dengan tindakanmu, Sofia," sentak Afif saat mereka sudah berada di kamar.
Sepanjang perjalanan, wajah Afif sudah mengeras. Fathan memilih pulang bersama Kalandra, putra Om Cakra, karena ada bisnis yang akan mereka bicarakan.
Sedangkan Alexander yang masih marah dengan mamanya, memilih mengantar Rihana pulang.
"Kenapa? Jangan bilang kamu lebih memilih Rihana dari pada Aurora. Dia anak ngga jelas. Orang tuanya ngga sempat menikah! Apa nanti yang akan dikatakan orang tuaku!" sembur Mama Alexander berapi api saking emosinya. Nafasnya pun memburu dengan jantung yang berdetak cepat.
Dia masih emosi atas sikap suaminya saat pulang tadi. Suaminya mendiamkannya. Hal yang sangat jarang dia lakukan.
Tubuh Afif-Papa Alexander bergetar hebat. Hampir saja dia melayangkan tamparannya pada istri tercintanya. Sesuatu yang ngga pernah dia lakukan saat mereka pacaran hingga menikah. Membentaknya pun baru kali ini.
Akhirnya Afif pun melakukan inhale dan exhale. Berulang ulang untuk meredakan kemarahannya.
Lalu Afif Suhendrata memilih duduk di pinggiran tempat tidur
"Adanya Rihana di antara Dewan dan Dilara adalah salahku. Kamu ingat saat pesta kelulusan kami dulu, kan?" ucapnya setelah meredakan gejolak amarahnya. Dia menatap lurus pada istrinya.
"Ya, apa hubungannya," tanya Istrinya mulai melunak mendengar ucapan lembut suaminya. Dia pun baru kali ini meninggikan suaranya pada suaminya.
Selama ini suaminya ngga pernah membentaknya. Baru baru ini tensi di antara mereka memanas. Karena Rihana dan Aurora. Suaminya ngga biasanya ngga satu pendapat dengannya. Padahal sebelum tau kalo Rihana anak Dewan, dia mendukung penuh Alexander bersama Aurora. Tapi kenapa kini berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Kita yang meneteskan obat perangsang pada dua gelas minuman itu. Kamu ingat?"
Dengan cepat Sofia menganggukkan kepalanya. Tentu dia masih ingat dan menyesalinya sampai sekarang. Apalagi dia dan suaminya ngga tau siapa yang sudah menjdi korban kejahilan mereka.
"Aku baru tau ternyata gelas gelas itu diminum oleh Dewan dan Dilara."
Kata kata suaminya bagai ledakan petir di dekat telinganya. Jantungnya sampia terasa sakit karenanya. Tanpa bisa dicegah, Mama Alexander terduduk lemas di dekat suaminya
"Ka ka kamu becanda, kan?" tergagap Mama Alexander bertanya.
Suaminya menggelengkan kepalanya. Kini dia mulai mengerti mengapa suaminya berbalik mendukung penuh Rihana. Dan menentang dirinya. Dia mengerti. Ada dosa yang tak termaafkan yang harus diselesaikan.
"Dewan menyimpan rahasia ini dari keluarga Om Airlangga," sambungnya lagi melihat istrinya masih bengong karena kaget dan terguncang.
Sofia tau makna dari ucapan suaminya. Mereka bisa saja dilaporkan ke polisi karena sudah menyebabkan penderitaan bahkan putri bungsu keluarga Airlangga sampai meninggal dunia.
Bukan rahasia lagi, keluarga Airlangga sangat dekat dengan para jenderal polisi. Menjebloskan mereka dalam penjara bukan hal yang sulit.
Tapi bukan itu saja yang dipikirkan Sofia. Hatinya mencelos karena merasa dosa yang selalu menghimpitnya kian terasa menyesakkan dadanya. Sampai dia sulit bernafas.
Dilara sudah meninggal. Mereka hanya bisa meminta maaf pada Dewan dan Rihana.
"Ma, kamu ngga apa apa?" tanya Afif panik melihat istrinya tiba tiba memegang dadanya.
Afif segera mengambil segelas air dan obat jantung istrinya.
Setelah menelannya dan terdiam beberapa saat, istrinya mulai tampak tenang.
"Kenapa Dewan ngga langsung menikahi Dilara saat tau gadis itu sedang hamil?"
Afif menghembuskan nafas panjang.
"Takdir mereka begitu buruk." Afif pun menceritakan semuanya dengan sangat jelas. Semua yang baru dia ketahui.
Mama Alexander sampai menutup mulutnya saking ngga percayanya. Kembali dia merasa sakit di dadanya. Dilara dan Rihana menderita karena ulahnya dan Afif.
"Jika saja aku tau kalo anak Dewan ternyata Rihana, temana Dewan sejak mereka SMA. Seandainya aja," sesal Afif dengan pikirannya yang melanglang jauh.
Mama Alexander menganggukkan kepalanya dalam kesedihannya.
Ya, seandainya mereka tau.
"Sekarang kita harus mendukung Alexander dengan Rihana. Hati Alex juga untuk gadis itu. Kita harus menjaga anak Dilara. Karena kitalah penyebab kesengsaraan mereka," kata Afif mengakhiri penjelasannya.
Air mata Sofia mengalir deras. Afif merangkul istrinya penuh kasih.
"Kita dukung mereka, ya, sayang?" pelan dan lembut Afif berbisik.
"Ya." Dan tangis Sofia pun pecah.
FLASHBACK
Siangnya Sofia-Mama Alexander menatap Rihana yang ditinggal Alexander sendiri. Mungkin akan mengambil minuman yang sudah disediakan pelayan orang tua Aiden.
"Rihana," panggil Mama Alexander membuat gadis itu menoleh kemudian tersenyum.
Dengan sopan Rihana pun menyalim tangan Mama Alexander membuat hati Mama Alexamder tersentuh. Tanpa sadar beliau melihat ke arah Aurora yang juga sedang menatapnya.
Mama Alexander menark nafas panjang. Dia sudah memilih Aurora.
"Alexander kemana?" tanyanya sambil berdiri di samping Rihana.
"Ngambil minum, tante."
"Ooh," senyumnya lembut.
Terdiam lagi. Walau hatinya sudah yakin dengan pilihannya, tapi lidahnya tetap kaku untuk menyampaikan keinginannya.
"Keadaan kamu bagaimana sekarang? Tante jenguk kamu saat kamu tidur." Walaupun berbasa basi, Mama Alexander masih punya hati ngga langsung to the point.
"Sudah baik baik aja, tante. Iya, saya tau dari Oma. Terimakasih, ya, tante, sudah membesuk saya di rumah sakit," sahut Rihana sopan. Tapi dalam hati sedikit khawatir, karena Mama Alexander menemuinya sendiri.
"Syukurlah, kamu baik baik saja."
Hening. Rihana menjadi canggung, bingung apalagi yang akan diobrolkan. Sementara Alexander belum juga kembali.
"Rihana, ada yang ingin tante katakan sama kamu," ucap Mama Alexander dengan dada berdebar.
Bukan dia ngga menyukai Rihana, tapi dia ngga mau menyakiti hati Aurora. Menurutnya, Rihana hanya kehilangan Alexander. Tapi dia mendapatkan semua perhatian yang dulunya hanya dimiliki oleh Aurora.
"Kamu mencintai Alexander?" tanya Sofia pelan.
Rihana terdiam. Wajahnya merona. Jika menyangkut Alexander, sulit sekali untuk menyembunyikannya.
"Ya, tante," sahutnya juga pelan.
Mama Alexander kembali menatap Aurora yang masih menatapnya.
"Begini nak. Bisakah kamu melepas Alexander untuk Aurora?" tanya Mama Alexander sambil menatap Rihana dengan lembut.
Rihana terdiam. Dia terkejut sekaligus sedih dan juga masih menata hatinya mendengar ucapan mama kekasihnya.
"Rihana?" panggil Mama Alexander pelan. Tatapannya cukup mendesak agar Rihana segera memberikannya jawaban.
"Saya....," sahutnya mengambang. Matanya bertatapan dengan Alexander yang sudah berada di dekatnya.
"Kamu ngga perlu menjawab apa apa, sayang," kesal Alexander sambil memberikan gelas minuman pada Rihana yang reflek menerimanya.
Kemudian Alexamder menggandeng tangannya pergi meninggalkan mamanya yang masih berdiri terpaku.
"Sudah puas kamu?!" bisik suaminya penuh geram.
Mama Alexander terkejut mendengar nada suara yang dingin dari suaminya. Kentara sekali suaminya marah padanya.
Sementara itu Alexander yang sudah membawa Rihana menjauh dari mamanya kini menghentikan langkahnya.
"Minumlah dulu," kata Alexander sambil meneguk minumannya sampai habis.
Rihana pun melakukannya, walau hanya seteguk saja. Tenggorokannya menolak masuknya minuman itu lebih banyak lagi. Dia masih memikirkan kata kata Mama Alexander.
"Alex," panggilnya pelan.
"Jangan dibahas lagi. Kamu ngga perlu memikirkan kata kata Mama," tukas Alexander cepat. Setelah menaruh gelasnya di atas meja yang ada di situ, Alexander mengambil ponselnya.
Dia membuka galery fotonya dan menunjukka foto foto yang dikirim Herdin.
Mata Rihana membesar.
"Herdin menunggu keduanya semalaman di hotel itu. Kamu tau? Aurora dan Aiden keluar lagi pagi harinya dari kamar hotel yang sama. Aku melihatnya juga di sana," jelas Alexander panjang lebar.
Rihana terdiam.
"Tapi Aiden...?"
"Itu takdirnya. Mungkin Aurora butuh ayah untuk anaknya. Kalo memang dia hamil. Dan itu bukan aku," tandas Alexander tegas, kembali membuat Rihana membulatkan matanya.
END FLASHBACK