NOT Second Lead

NOT Second Lead
Rencana Dating yang mengganggu



Setelah berada di mobil bersama Herdin, Alexander menghubungi mamanya.


"Ada apa, Lex?" suara Mama Alexander terdengar pelan saar bertanya.


"Nanti malam kita jadi ketemu Zira dan keluarganya, Mam. Restoran kemarin," tukas Alexander memberitau.


Hening. Mamanya belum bersuara.


"Ma.....," panggil Alexander. Dia tau mama dan papanya belum seratus persen menerima Zira. Karena mereka lebih suka dengan Aurora dengan asal usul yang jelas.


Sedangkan Zira masih abu abu. Karena dia aja belum tau siapa papanya dan bagaimana keadaannya. Sehingga Alexander juga sulit menjelaskan pada mama dan papanya.


Tapi bagaimana bisa, Alexander memperlakukan Aurora sebagai istri, karena Alexander sudah memganggap Aurora sebagai sebagai adik perempuannya,


"Ya, mama dengar, Lex," sahut mama sangat terdengar dipaksakan.


"Ma, Alex mohon. Jangan kecewakan, Alex," pintanya agak memohon.


Terdengar helaan nafas mamanya.


"Baiklah."


Bibir Alexander berkedut.


"Terima kasih, Ma," ucapnya tulus.


Kemudian dia menutup telponnya. Tapi wajahnya terlihat ngga semangat.


"Tante belum kasih restu, ya?" tebak Herdin yang diangguki Alexander.


"Papa juga."


"Mereka masih ngarep kamu sama Aurora?" tanya Herdin sedikit menekan perasaan sakitnya. Alexander ngga bersalah. Bukan salahnya kalo Aurora jatuh cinta padanya. Dia juga ngga bisa menyalahkan Alexander yang kejatuhan cinta gadis bidadari itu.


"Begitulah," jawab Alexander ngga semangat. Dia cuma berharap rencananya hari ini bertemu keluarga baru Zira dengan keluarganya lancar dan ngga ada hambatan.


Dalam hati Alexander cukup penasaran dengan keluarga Mama Zira. Bahkan mereka sampai mengajaknya pindah ke rumah keluarganya.


Zira-nya berhutang penjelasan itu padanya. Tapi nanti malam teka teki keluarga mama Zira akan terbuka.


Ngga masalah buatnya siapa pun keluarga besar Zira. Dulu waktu tau Zira tingga di panti asuhan saja yang ngga menyurutkan tekatnya untuk terus menyukai gadis itu. Hanya saja waktu SMA Zira terlalu menutup diri.


Bukannya Alexander ngga berani waktu itu terang terangan mendekati Zira dan langsung menembaknya jadi pacar. Dia sangat mau melakukannya.


Tapi dia ngga bisa menjanjikan Zira apa pun saat itu. Lagian dia dan keluarganya bakalan pindah ke luar negeri, karema orang tuanya menginginkan dia melanjutkan sekolah di sana.


Alexander ngga ingin membuat Zira terlalu berharap disaat akan banyak godaan saat mereka melakukan hubungan jarak jauh.


Tapi bodohnya malah dia yang selalu berharap agar gadis itu tetap setia menunggunya tanpa komitmen apa pun.


Bersama Aurora hanya untuk membentengi dirinya dari para bule mau perempuan Asia yang tertarik dengannya. Dia cukup bersyukur Aurora bisa berperan sangat baik. Tapi sayangnya dia kecele. Ternyata Aurora diam diam menyukainya lebih dari seorang kakak.


Yang paling menyebalkan kedua orabg tua mereka sudah merencanakan deal deal akan menyatukan mereka dalam ikatan pertunangan dan pernikahan.


Tanpa sadar Alexander menghembuskan nafas kesal.


Sekarang semuanya harus dia perjelas. Hanya Zira yang dia suka dan cinta. Hanya Zira yang ingin dia jadikan istri dan ibu dari anak anaknya. Pasti dia akan memiliki anak anak yang berotak sangat encer jika bersama dengan Zira.


Membayangkan itu membuat sudut bibir Alexander melengkung. Herdin hanya tersenyun tipis melihat ekspresi senang sahabatnya saat ini.


*


*


*


"Malam ini kita akan bertemu keluarga gadis itu," lapor Mama Alexander pada suaminya. Setelah mendapat telpon dari Alexander, beliau segera meluncur ke perusahaan suaminya. Karena mama Alexander tau kalo Alexander hari ini ngga di perusahaan.


Dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang lembut sambil memejamkan mata.


Suaminya menghembuskan nafas panjang.


"Apa yang dilihat Alexander darinya? Belum pernah Alexander memiliki keinginan sekeras ini," ucapnya sambil berjalan menghampiri istrinya yang terlihat gundah dan gelisah.


Kepalanya juga merasa berat memikirkannya. Masalah Alexander rasanya melebihi bebannya berat perusahaannya.


"Aku ngga mungkin bisa melukai hati Aurora. Mamanya saja sudah ngga memperhatikannya. Dia pasti akan sangat sedih jika mengetahui kabar ini," ucap Mama Alexander dengan perasaan ngga rela.


Menurutnya Aurora sudah terlalu banyak menahan kesedihannya sendiri. Beliau ngga mau Alexander ikut ikutan membuat gadis itu tampak lebih menyedihkan.


"Harusnya Dewan sudah sejak lama memecatnya," imbuh Mama Alexander lagi. Kesal dengan tindakan lambat Papa Aurora.


"Maksudnya?" tanya Mama Alexander ngga ngerti.


"Kamu pikir Alexander akan diam saja? Pasti dia akan mencarikan gadis itu pekerjaan di perusahaan ini."


Mama Alexander terhenyak


Kenapa dia ngga berpikir sejauh itu?


"Mungkin Alexander akan menjadikannya sekertaris atau lebih ekstrim lagi menjadikannya asisten pribadinya," kata suaminya lugas.


"Kamu jangan menakuti aku. Ngga mungkin Alexander sampai segila itu!" marah istrinya mendengar kata kata suaminya yang berpikir terlalu jauh dan ngga mungkin.


Suaminya terlalu berprasangka buruk pada putra mereka.


Suaminya tersenyum dan merengkuh bahu istrinya untuk meredam kemarahan istrinya.


"Hanya itu yang bisa dipikirkan sebagai seorang laki laki yang jatuh cinta pada seorang gadis, sayang. Alexander pasti akan melindunginya."


Mama Alexander terdiam dengan hati penuh tanya ngga percaya.


Ngga mungkin. Alexandernya ngga mungkin begitu.


Hatinya terus membantahnya. Tetap ngga terima dengan jalan pikiran suaminya.


Tapi mungkin saja Dewan juga berpikir sama makanya dia ngga gegabah memecat gadis itu yang masih berstatus pegawai kontrak.


*


*


*


Aurora terdiam saat membaca pesan yang dikirimkan Mama Alexander.


Tangannya meremas roknya sangat kuat.


Ngga mungkin.


Ini ngga boleh terjadi!


Kak Alex hanya miliknya.


Aurora ngga terima kalo dia dikalahkan oleh pegawai kontrak papanya.


Dia pun melangkah mendekati ruangan papanya.


"Tuan Dewan ngga ada di tempat, nona," ucap Mba Tika ketika Aurora melewatinya.


"Papa kemana?"


"Ada urusan bentar katanya. Tapi di dalam ada tamu yang menunggunya, nona," ucap Mba Tika lagi memberitau.


Tanpa menjawab lagi Aurora membuka pintu ruangan papanya untuk menemui tamu yang katanya sudah menunggu papanya walaupun papanya ngga ada.


Dia ingin tau kepentingan apa yang dibawa tamu papanya. Siapa tau bisa membantu.


"Hai, manis."


Tubuh Aurora menegang mendengar mimpi buruknya menyapanya. Reflek dia mengunci pintu dan membalikkan tubuhnya.


Aiden, batinnya tergetar ketika netranya menangkap seorang laki laki muda blasteran Eropa yang tampan memandangnya penuh n@fsu.


Dia berjalan mendekat dan menarik Auora dalam pelukannya dan melu*m@t bibirnya dengan g@irahnya yang panas.


Dan lagi lagi Aurora terbuai karenanya. Dia membalasnya tanpa butuh waktu lama membuat laki laki itu tersenyun smirk.


Nafas Aurora sampai terengah karena laki laki itu ngga memberi kesempatannya bernafas. Ciumannya terasa meluluh lantakkan harga dirinya. Bahkan Aurora sudah ngga sadar kalo tubuh bagian atasnya sudah terbuka tanpa penutup lagi dan sedang dinikmati dengan buas oleh kedua tangan laki laki itu.


Kini bibir laki laki itu menghajar tubuh bagian depannya dan membiarkan gadis itu mengambil nafas sepuasnya, bahkan mende$@h de$@h.


"Kamu masih sepanas dulu, honey," pujinya dan dengan nekat bergerak makin ke bawah.


"Jangan," tolak Aurora dengan bibirnya, bukan dengan tubuhnya.


Tapi Aiden ngga peduli. Hidangannya sudah ada di depan mata. Ngga mungkin dia membiarkannya. Dia akan menikmatinya sampai habis.


Aurora hanya bisa menggeran, karena mulutnya ditutup rapat oleh tangan kokoh Aiden agar suara jeritannya ngga keluar.