NOT Second Lead

NOT Second Lead
Berita yang Viral



Besok paginya saat sudah berada di perusahaannya. Alexander terkejut saat membaca berita di akun sosialnya. Semuanya membicarakan Rihana yang merupakan anak h@r@m Dewan Iskandardinata.dan membela sisi kejam yang dilakukan Aurora.


Berita penangkapan Aurora jadi timbul tenggelam karenanya.


Malah media dan netijen berasumsi kalo Aurora terpaksa melakukan kejahatan karena patah hati akibat pengkhianatan Alexander terhadap kakak tiri yang baru saja ditemukan keberadaannya.


Hampir saja Alexander membanting ponselnya dengan geram.


Bahkan netijen dengan songongnya membuly Rihana yang ngga tau malu merebut Alexander yang merupakan kekasih adik tirinya.


Empat keluarga konglo terlibat dan makin membuat berita ini semakin besar.


Mereka lebih mengasihi Aurora tanpa mempedulikan kedukaan keluarga Aiden.


Malah ada netijen yang mengungkapkan kebobrokan Aiden, sehingga bagi mereka sangat wajar kalo Aurora menghabisi penjahat kelamin yang meresahkan itu.


"Apa kita ngga bisa menghentikannya?" tanya Alexander sambil mengendurkan dasinya dan menyandarkan bokongnya di b meja kerjanya.


Dia baru saja mengantar Alexander. Kelihatannya berita ini barusan di expose dan langsung meledak. Viral di mana mana.


"Aku dan staf sudah menghapus banyak akun, tapi selalu muncul belasan sampai puluhan. Netijennya juga aktif berkoar koar," keluh Herdin


Padahal paginya tadi sangat ceria kini berubah kusut seketika. Saat menapaki kakinya di basemen perusahaan orang tuanya, dia terlejut dengan banyaknya notif yang masuk di ponselnya.


Saat membaca berita, Herdin langsung melajukan mobilnya ke perusahaan Alexander, dan menyuruh staf stafnya menghapus semua berita yang memojokkan Rihana dan empat keluarga yang terkait di dalamnya. Keluarga Opa Airlangga, Opa Iskan, keluarga Alexander dan keluarga Aiden


Netijen menjadikan mereka sasaran empuk untuk melampiaskan masalah hidup mereka.


Yang aneh, bisa bisanya mereka membela tindakan Aurora dan mendukung pembebasannya.


"Kita ke perusahaan Opa Airlangga," ujar Alexander sambil menyambar kaca amta hitamnya. Dia membutuhkannya, karena tadi kepala keamanannya sudah memberitahukan kalo banyak pencari berita di depan perusahaan mereka.


"Sebaiknya kita klarifikasi," ucap Herdin sambil mengikuti langkah Alexander.


"Kalo kita ngga menerima mereka, perusahaanmu bisa mendapat nama buruk," kata Herdin lagi mengemukakan pendapatnya.


"Mereka pasti ngga akan pernah mau menyerah," sambung Herdin lagi membuat langkah Alexander terhenti.


"Tuan muda, saya sudah menyiapkan supir," kata Inggrid saat melihat Alexander dan Herdin yang keluar dari ruangannya.


Alexander terdiam. Dia memikirkan kata kata Herdin. Yang ada dipikirannya hanyalah kenyaman Zira. Walau ngga terlalu berarti abgi mereka, tapi dia perlu menjelaskan hubungannya dengan Zira.


"Persiapkan ruangan buat konferensi pers," titahnya tegas.


"Siap, Pak," sahut Inggrid dan kepala keamanan yang sedang menunggu perintah. Beberapa staf pun mengikuti langkah Inggrid untuk membantunya mempersiapkan segalanya.


Kembali Alexander mengendurkan dasinya yang anehnya saat ini membuat dia tetap sulit untuk bernafas.


"Sudah siap tuan muda," lapor Inggrid setengah jam kemudian.


Alexander menghembuskan nafas kesal.


Siapa yang berulah pagi pagi begini, geramnya dalam hati.


Dengan di dampingi Herdin, Alexander pun berjalan ke arah lift, menuju lantai dimana ruangan konferensi pers di laksanakan.


*


*


*


"Apa apaan ini," geram Opa Airlangga saat istrinya menunjukkan berita viral di akun sosialnya.


Teman temannya pun banyak bertanya tentang Rihana. Apa benar berita kalo Rihana, cucu mereka dari Dilara yang menghilang.


Oma Mien sudah merasa kepalanya berdenyut denyut membaca pesan pesan dari teman temannya. Tanpa beliau balas sekalipun.


Bahkan banyak telpon yang dia abaikan.


Pagi ini Oma sedang duduk santai di ruangan suaminya. Beliau memang selalu menemani suaminya untuk menghilangkan kebosanan dan mengirangi kesedihan karena memikirkan putri mereka, Dilara.


Sekarang beliau berada di perusahaan untuk bisa selalu dekat dengan cucu yang baru ditemukannya itu. Untuk memberikan segala kasih sayang yang belum sempat dia berikan.


Siapa.yang menyebarkan berita ini ke media?


"Rihana pasti sedih kalo tau. Mamanya sudah meninggal, tapi kenapa ada yang menjelekkan," tukas Oma Mien dengan suara serak. Hatinya sedih. Mama Rihana adalah putri kandungnya.


Rahang Opa Airlangga pun mengetat karena menahan marah.


Siapa yang berani mengganggu keluarga mereka?


"Kita akan boikot berita ini," tegas Opa Airlangga sambil merangkul bahu istrinya. Beliau akan melakukan apa pun untuk menghentikan huru hara ini.


Sementara itu di ruangan Cakra, sudah berkumpul adik.adiknya, juga anak anak dan ponakannya.


"Ini Gila!" seru Wingky emosi. Berita ini sangat memojokkan Rihana, ponakannya. Anak dari adiknya yang sudah tiada.


"Harusnya mereka menghujat Aurora. Tapi mereka malah memujinya sebagai pahlawan pembela martabat perempuan," gerutu Nidya ngga terima. Selain memang ngga menyukai Aurora, tentu dia ngga terima kalo Rihana dizalimi.


"Betul, memang aneh," sambung Kirania juga mangkel. Dalam hati mengakui pesona Aurora sangat luar biasa. Sudah berbuat jahat pun masih dibela.


"Ini ngga bisa dibiarkan. Kita harus segera bertindak. Aku ngga terima adikku yang sudah tiada masih saja dipertanyakan masa lalunya," geram Akbar.


Perasaan Cakra pun marah. Sangat tersulut dan jengkel.


"Kita sebaiknya berkumpul di ruangan papa saja," putus Cakra berusaha tetap tenang. Mereka harus melakukan meeting keluarga secepatnya.


"Setuju," sahut Emir dan Emra kompak.


"Bagaimana reaksi Opa Iskan kalo sudah mengetahui berita ini," timpal Kalandra sambil menggelengkan kepala.


"Pasti langsung disegellah," timbrung Emra yakin


"Betul," sambung Ansel. Mereka sangat paham dengan watak pemarah Opa Iskan, sahabat Opa mereka.


"Puspa lagi nemenin Rihana?" tanya Cakra sambil menggusar rambutnya. Dia merasa bersalah pada adiknya karena membiarkan anknya mengalami bulyan bulan bulanannya media sosial saat ini.


"Iya," sahut Kirania.


"Perlukah kita membuat konferensi pers, Pa?" tanya Emir jengkel. Ada yang harus diclearkan


"Tetap aja mereka ngga percaya," decih Emra mangkel.


"Biarkan saja. Yang penting kita sudah katakan kebenarannya. Pasti setidaknya ada yang percaya," bantah Emir yakin.


"Rasanya ngga perlu. Alexander sudah melakukannya," tukas Kalandra langsung menekan tombol power pada remot tv yang ada di depan mereka.


Sementara itu Rihana dan Puspa pun terpana melihat layar televisi yang awalnya berisi acara good morning, berganti dengan siaran langsung yang menampilkan sosok Alexander dan Herdin yang dikelilingi banyak sekali pencari berita yang ada di sana.


"Alexander mau ngapain?" tanya Rihana sempat speechless. Dia sampai mengucek matanya antara yakin dan ngga kalo Alexander yang berada di layar televisi ruangannya.


"Mungkin ada yang ingin dia klarifikasi," sahut Puspa memberi pendapat. Tapi kuramg tau juga apa yang akan disampaikan Alexander. Karena para pewarta itu pasti ngga akan pernah puas memberinya pertanyaan. Puspa mendumel dalam hati.


Alex, kamu ngga perlu mengatakan apa apa, batin Rihana sungkan dan sedih. Belum apa apa dia sudah menyusahkan Alexander dengan berita miring ini.


Rihana juga merasa kesal dan sangat bersalah karena opa dan omanya, juga keluarga Alexander dan papanya harus terkena efek negatif dari kehadirannya. Padahal selama ini mereka baik baik saja sebelum mengetahui keberadaannya.


Rihana dan Puspa melihat ponsel mereka yang bergetar di atas meja. Ternyata Kalandra mengirim pesan agar mereka melihat siaran langsung ini di televisi. Sepertinya Kalandra mengirimkan ke setiap anggota keluarga mereka.


Dewan yang sedang meeting pagi dengan kliennya juga berkali kali menghela nafas kasar demgan wajah tegang. Asistennya mengirimkan cuplikan berita putri putrinya yang menjadi viral di semua akun sosial media.


"Ada apa, Pak Dewan?" tanya Pak Saiful, rekan meeting nya. Dalam hati beliau merasa prihatin dengan berita penangkapan Aurora. Tapi beliau belum melihat berita viral pagi hari ini.


"Tidak apa apa," jawab Dewan berusaha profesional dengan mengesampingkan masalah keluarganya.


Pak Saiful menyesap kopinya dan dapat menangkap jelas kegelisahan di wajah kliennya. Tanpa sadar dia mengalihkan tatapannya ke arah layar di depannya. Matanya mengerjap kaget saat melihat penampilan sosok pengusaha muda yang terkenal dan sangat berbakat dalam dunia bisnis.


"Bukannya itu Alexander?" tanyanya membuat Dewan sedikit memutarkan tubuhnya dan menatap ke arah layar televisi, berdasarkan petunjuk kliennya.


Beliau agak tercengang melihat Alexander sedang bersiap siap dalam konferensi pers yang ditayangakan secara live.


Sesuai prediksi keluarga Opa Airlangga, sementara itu di lain tempat, Opa Iskan sudah menyuruh para pengawal terpercayanya untuk memboikot semua media yang sudah menganggu ketentraman keluarganya.