NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kencan Emir



Heli pun berhenti di root top sebuah hotel bintang lima yang dari udara sangat dekat sekali dan bisa dicapai dalam waktu singkat karena bebas macet.


Emir yang turun lebih dulu, kemudian mengulurkan tangannya pada Kamila yang dengan dada berdebar menyambutnya.


"May I.....?" tanya Emir sambil menunjukkan ponselnya.


Dia juga ingin menyimpan foto si cantik ini di dalam ponselnya.


"Ya," sahut Kamila malu malu. Apalagi tanpa ragu Emir merangkulnya dan membuat kepalanya bersandar di dada bidang Emir yang berbalut kemeja putihnya.


Pose mereka layaknya pasangan yang saling mencinta. Jantung Kamila ngga henti hentinya berdetak kencang.


Laki laki itu hanya menjepretnya sekali, setelah itu menyimpan ponselnya di saku celananya.


"Ayo," ucapnya lagi sambil melangkah dengan tetap merangkul bahu Kamila.


Gadis itu ngga bisa protes atau menjauh. Dia seperti dihipnotis.


Tatapannya kini tertuju pada sebuah meja makan bulat yang cuma ada satu satunya di root top yang sangat luas ini. Terasa aneh di benak Kamila, tapi dia mgga mau memikirkannya. Juga hanya ada dua kursi, sementara belasan pelayan berjejer di sana dengan troly yang Kamila yakin kalo isinya adalah hidangan untuk mereka.


Di kiri kanannya juga tersusun indah bunga bunga hidup. Dan ngga jauh dari sana ada sebuah piano klasik yang besar dengan seorang pianis laki laki muda yang duduk di sana.


Bagaimana tadi kalo Selina ikut? Konsep ini ngga akan jadi kencan romantis lagi dengan kekasih.


Jantung Kamila berdetak keras.


Ini kencan? batinnya dengan jantung yang semakin kencang berdetak, tanpa irama dan nada.


Tanpa terasa mereka pun sudah tiba di depan meja makan yang dari tadi menjadi fokusnya. Musik lembut dari pianis itu pun mengalun lembut.


Emir memundurkan kursinya dan menyilakan dokter yang wajahnya sudah merah merona sampai ke leher jenjangnya itu untuk duduk.


Kemudian beranjak ke mejanya dengan pelayan pertama menghidangkan makanan pembuka.


"Kamu sudah menyiapkan dengan sangat matang. Bagaimana kalo Selina ikut? Apa kamu akan meminta tambahan kursi?"


Emir terkekeh lembut.


"Aku pasti akan membuatnya tetap ngga mau ikut. Seperti tadi."


Kamila pun tertawa pelan. Ya, tadi pun tanpa diminta Selina sudah menolak tanpa harus dia paksa.


"Maaf," kata Emir sambil menghapus dengan tisu sedikit noda saus salad buah di ujung bibir Kamila


Gadis itu terpaku, usapan laki laki itu begitu lembut.


Kemudian dia mengalihkan tatapannya begitu tangan laki laki ini menjauh. Jangan tanya bagaimana jantungnya ingin melompat pergi karena hal beberapa detik itu.


Ngga lama makanan utamanya keluar.


Pantas saja ada banyak pelayan dengan seragam khas hotel bintang lima.di dekat mereka.


Setiap menu yang keluar mau pun pergi, akan ada lebih dari dua orang yang melakukannya.


Kapan dia mempersiapkannya?


Siapa dia sebenarnya....


Banyak sekali pertanyaan di benak Kamila.


Sayangnya laki laki itu hanya mengenalkan dirinya sebagai Emir saja. Tanpa embel embel nama belakangnya. Nama keluarganya. Seperti dirinya juga. Jadi dia ngga tau dari keluarga mana Emir berasal. Dari kemewahan yang dia tawarkan, Kamila yakin, Emir anak dari salah satu kolega bisnis papinya.


Kamila semakin yakin kalo laki laki ini sangat kaya raya. Mungkin dari awal dialah yang sudah salah membuat kesimpulan sendiri tentang mobil itu.


Siapa tau memang mobilnya....


"Jangan melamun. Atau masih kurang?" Emir sengaja menyediakannya dalam porsi kecil makanan utama, tapi terdiri atas beberapa jenis.


Siapa tau dokter ini sedang diet, pikirnya.


Sementara pelayannya datang silih berganti meletakkan makanan yang baru dan mengambil sisaan sebelumnya. Musik dengan lagu berirama lembut masih mengalun lembut, dimainkan dengan penuh perasaan oleh pianisnya.


"Tidak. Ini lebih dari cukup," senyum Kamila membalas senyum Emir yang masih memandangnya lembut.


Bagaimana bisa dia mengatakan kurang pada makanan makanan yang datang silih berganti tanpa tau kapan akan berakhir, batinnya agak mengomel.


Selain itu lagu romatis yang lembut sungguh menggugah hatinya.


Ini diluar dugaannya. Kamila mengira kalo mereka akan menikmati makanan di restoran atau di kafe, karena mereka baru saja bertemu lagi setelah beberapa hari berlalu.


Tapi Emir melakukannya dengan hal hal yang ngga mungkin dapat dia lupakan begitu saja.


"Kita akan kemana lagi?" tanya Kamila sambil mendongak menatap Emir.


Mungkin nasib laki laki ini sedang mujur, saat ini mereka hanya berdua saja di dalam lift.


"Berjalan jalan sebentar," ucap Emir balas menatapnya.


Lagi lagi Kamila serasa dihipnotis oleh mata teduh Emir. Tatapannya ngga bisa lepas dari wajah tampan laki laki itu.


"May I....?" Wajah Emir semakin dekat.


Mengapa dia suka sekali bertanya? rutuk Kamila membatin. Tanpa sadar Kamila memejamkan matanya ketika hembusan nafas hangat Emir menerpa wajahnya.


Seakan mendapatkan isyarat persetujuan dari Kamila, Emir membenamkan bibirnya dengan sangat dalam. Memberikan ciuman terbaiknya.


*


*


*


Mereka turun hingga ke basemen. Ciuman laki laki itu masih membekas hingga dia masih malu untuk menatap wajah Emir.


Emir membawanya ke dekat motor ducatinya yang terparkir.


"Mau diantar kemana?" tanya Emir sambil mengangkat dagu Kamila yang masih betah menunduk.


Emir mengulum bibirnya saat melihat wajah yang kini dia angkat sudah sangat memerah.


"Pulang."


"Kemana?"


"Apanya?" tanya Kamila bingung. Dia masih looding.


Bibir Emir berkedut melihat wajah yang tampak benar benar ngga ngerti maksud ucapannya tadi.


"Alamat rumah kamu," ujar Emir lagi.


Kamila langsung blushing.


Dengan gugup dia pun menyebutkan alamat rumahnya.


"Tapi motorku masih di rumah sakit."


"Motor yang kemarin?" Tentu saja Emir masih ingat


"Ya."


"Nanti aku akan antarkan."


"Kamu?" Kamila menatap rikuh.


Emir mengulum bibirnya lagi, gemas dengan wajah di hadapannya.


"Harus aku?" todong Emir balik bertanya dan lagi lagi bibirnya berkedut menahan tawanya karena melihat wajah yang tampak resah dan gestur yang salah tingkah.


"Biar saja motornya. Aman, kok," sahut Kamila akhirnya karena ngga kuat menahan kegugupannya lagi saat ditatap lama oleh Emir.


"Kalo gitu, besok aku antar ya," senyum Emir.


"Ngga usah," tolak Kamila semakin gugup.


Emir hampir saja tertawa mendengar penolakan cepat yang diserta rona merah di wajah cantik itu.


"Ayo naik," kata Emir sambil memakaikan dokter itu helm.


Kamila hanya bisa mengangguk dan segera naek ke motor balap Emir.


Emir meraih kedua tangan Kamila agar berada di pinggangnya.


"Peluk yang erat. Karena aku ngga bisa pelan bawa motornya."


Kamila ngga menjawab karena motor itu bergerak perlahan meninggalkan basemen rumah sakit.


Kemudian tanpa aba aba melaju kencang, menyalib kanan dan kiri dengan lincah.


Kamila ngga menjerit, hanya mengeratkan pelukannya pada pinggang Emir yang tanpa dia ketahui sedang tersenyum hangat.