NOT Second Lead

NOT Second Lead
Berbagi cerita sedih



Setelah saling berpelukan penuh tangis dengan Rihana, Bu Saras mulai bercerita tentang bagaimana beliau bertemu dengan mama Rihana, Dilara.


Oma Mien dan yang lainnya mendengar dengan hati terkoyak.


"Saya melihat seorang perempuan muda, melamun di sebuah klinik kecil. Ada perban di kepalanya. Tangan dan kakinya juga ada sedikit lecet," kata Bu Saras kemudian menghela nafas. Mengenang kembali sosok mama Rihana membuat dadanya cukup sesak.


"Dilara kecelakaan?" tanya Oma Mien terkejut.


"Kata suster di rumah sakit begitu, Bu. Untung kandungannya ngga apa apa," sahut Bu Saras lagi.


"Perempuan muda itu amnesia. Dia juga ngga punya identitas. Ngga ada yang mengaku keluarganya. Padahal udah satu minggu dia berada di sana," jelas Bu Saras lagi. Menampar hati keluarga Oma Mien dan Opa Airlangga.


"Apakah ngga ada yang melaporkannya ke polisi?" tanya Cakra dengan jantung berdebar hebat.


"Sudah. Karena ngga punya identitas dan amnesia, sehingga menyulitkan mereka mencari keluarganya."


**DEG**


DEG


DEG


Jantung mereka semakin keras berdetak. Ternyata Dilara sudah sangat jauh meninggalkan Jakarta dan sudah berada di salah satu kota di perbatasan provinsi Jawa Timur.


Mereka saling menyalahkan diri sendiri dalam hati karena ngga mengira Dilara sudah berada sangat jauh dalam waktu singkat. Karena Dilara ngga pernah bepergian dalam jarak yang jauh sendirian. Adik bungsu mereka agak penakut dan manja. Karenanya selama ini mereka memfokuskan mencari Dilara di Jakarta dan sekitarnya saja.


"Akhirnya saya membawa Dilara pulang bersama saya ke Bandung karena pihak klinik mungkin akan menitipkannya ke panti sosial."


Nafas mereka yang mendengar jadi tercekat. Ngga sanggup mengeluarkan sepatah suara pun. Oma Mirn dan Opa Airlangga ngga menyalahkan tindakan Bu Saras. Bahkan mereka sangat berterimakasih.


"Saat Rihana berumur lima tahun, Dilara baru bisa mengingat siapa dirinya. Dia pun mengajak Rihana ke Jakarta. Mereka berangkat pagi pagi sekali. Sayangnya saya ngga bisa mengantar karena ada urusan yang ngga bisa ditinggalkan. Saya pikir mereka akan pergi dalam beberapa hari. Tapi sore itu juga mereka pulang ke Bandung."


Air mata Oma Mien menetes. Oma Mora menggenggam tangannya.


"Setelah itu Dilara sakit sakitan. Saya sudah membawa nya berobat ke dokter spesialis. Tapi kanker darah Dilara sudah menyebar cepat." Sampai di sini suara Bu Saras terdengar serak. Beliau mengusap air matanya yang bergulir pelan. Mengingat sesih tubuh Dilara yang sangat cepat kehilangan bobotnya akibat sel sel kanker yang menggerogotinya.


"Sebelum menimggal, Dilara meminta tolong agar menjaga Rihana sampai dia menikah. Dia ngga ingin Rihana diadopsi. Saya... saya sangat menyayangi keduanya. Dilara dan Rihana. Rihana baru meninggalkan panti setelah menerima panggilan kerja di Jakarta."


Sudah ngga dapat dibemdung lagi air mata mereka yang mulai bergulir deras. Isak tangis mulai terdengar menyayat hati.


Ngga nyangka Dilara memiliki penyakit yang mematikan. Dan mereka sebagai keluarga ngga diberi kesempatan untuk membawanya berobat ke luar negeri.


"Saya selalu ingat wajah bahagia Dilara sangat sembuh dari amnesianya. Katanya dia sangat merindukan keluarganya. Terutama mama dan papanya." Semakin deras air mata Bu Saras mengalir. Isakan tangis semakin keras terdengar.


Rasa penyesalan Oma Mien begitu besar. Suaminya kini memeluknya. Tubuh Oma Mien pun berguncang dalam tangisnya


"Dilara meminta saya menuliskan nama papa Rihana di akte kelahiran dan raportnya. Dewan Iskandardinata. Sebentar. Ada titipan dari Dilara. Saya akan ambilkan," lanjut Bu Saras kemudian beranjak dari kursinya menuju kamarnya. Meninggalkan kumpulan orang orang yang penuh diliputi penyesalan.


Suara tangis menyayat hati semakin terdengar di ruang tamu panti asuhan itu. Baru mereka mengerti kenapa Dilara ngga mencari keluarganya. Rupanya amnesianya bertahan sampai lima tahun.


Sayangnya saat sampai di rumah, mereka semua ngga ada di tempat. Membiarkan Dilara merasa sendirian. Hanya berdua putrinya saja. Jika waktu bisa diulang, mereka ingin saat Dilara dan Rihana datang, ada salah satu dari mereka yang berada di rumah.


Cakra, Akbar dan Wingky sampai mengepal erat kedua tangan mereka. Sakit dan perih yang amat sangat mereka rasakan di hati. Merasa ngga berguna sebagai kakak.


Dewan pun memejamkan mata menahan luapan emosinya.


Apa putrinya sudah tau dia papanya saat melanar kerja di perusahaannya?


"Rihana, sejak kapan kamu tau kalo aku adalah papa kamu?" tanya Dewan dengan bibir bergetar.


Rihana menatap papanya lama. Matanya berkaca kaca.


"Saat hari pertama bekerja. Puspa mengatakan nama pemilik perusahaan ini. Aku ngga menyangka, nama itu benar ada. Aku mengira Bu Saras dan mama sengaja menulisnya agar aku ngga banyak bertanya," jawab Rihana getir.


Apa aku anak haram yang ngga diinginkan, sambungnya dalam hati dengan sangat sedih. Karena nyata dia anak di luar pernikahan. Papa dan mamanya ngga sempat menikah.


Mendengarnya membuat Dewan merasa goresan di hatinya bertambah banyak.


Dia baru mengerti kenapa saat itu Rihana menatapnya marah dan benci.


Sementara keluarga Dilara sadar, ternyara Rihana berbohong dengan ngga jujur mengatakan yang sebenarnya kalo dia sudah mengetahui siapa papanya.


Tapi mereka ngga menyalahkannya. Pasti Rihana punya alasan kuat.


"Harusnya kamu katakan kalo kamu anak papa," lirih Dewan berucap dengan suara yang masih bergetar penuh perasaan.


Teringat akan sikap dan kata katanya yang ngga pantas untuk putrinya. Bahkan sampai mengirimkannya ke lapangan.


Dia papa jahanam!


"Papa selalu mencarinu setelah sadar dari koma. Sepanjang waktu papa selalu punya waktu untuk mencarimu, sayang. Jakarta London papa lakukan setiap bulannya," jelas Dewam pahit.


"Papa koma?" tanya Rihana kaget, ngga nyangka kalo papanya sempat ngga sadar.


Berapa lama, pa?


"Ya." Dewan menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan


"Papa meminta mama kamu menunggu di kafe di depan kampus. Papa harus berterus terang pada oma dan opa. Tapi oma dan opa sudah dalam keadaan siap mau berangkat ke Inggris. Papa panik. Papa langsung nyetir dengan perasaan ngga tenang buat menemui mama kamu. Tapi papa mengalami kecelakaan," jelas Dewan sambil menatap Rihana dengan mata yang sudah basah.


Rihana terpana. Ngga nyangka kenyataan yang didengar begitu berbeda dari yang dia pikirkan. Begitu juga Cakra, Akbar, Wingky bersama istri istri mereka. Oma Mien dan Opa Airlangga pun menatap Dewan dengan mata penuh riak.


Selama ini mereka mengira Dewan sengaja menghindar, ngga mau bertanggung jawab. Mereka dan orang tuanya sangat tau tentang kecelakaan Dewan. Tapi ngga menyangka karena akan menemui Dilara.


Hati mereka yang mendengar sangat pedih. Dewan yang koma dan Dilara yang amnesia. Jalan takdir di luar kuasa mereka.


"Kesalahan papamu ngga mau berterus terang, nak," isak Oma Mora dalam tangisnya.


Jika saja Dewan langsung mengaku, pasti kecelakaan itu bisa dihindari, sesal Oma Mora dan Opa Iskan ngga pernah berakhir.


Kini tangis dan air mata semakin pecah dan tumpah.


"Maafkan papa. Maaf," ucap Dewan dengan air mata yang mengalir deras.


Rihana hanya menganggukkan kepalanya.


Aku juga minta maaf, Pa, batin Rihana merasa bersalah. Dia sudah salah paham dan menuduh papanya macam macam. Bahkan sudah membencinya.dengan amat sangat.


"Setelah peristiwa malam itu, Dilara menghindar dari saya. Mungkin dia tau saya sedang mempersiapkan diri untuk kuliah di Inggris. Tapi kejadian malam itu bukan kami sengaja. Kami terjebak. Tapi dua minggu kemudian Dilara mengatakan kalo dia hamil dengan bingung. Salahnya saya ngga langsung membawanya ke hadapan mama dan papa. Tapi malah memintanya menunggu. Karena saat itu semuanya terasa cepat dan sangat mendadak. Saya pun sudah harus pergi ke Inggris. Om Airlangga, Oma Mien, maafkan saya. Tapi jangan katakan saya ngga bertanggung jawab. Saya juga menyukai Dilara. Sejak lama," jelas Dewan panjang lebar dengan kalimat yang jelas dan tertata.


"Tapi kamu menikah," kecam Wingky emosi.


"Om dan tante yang memaksanya karena melihat Dewan seperti orang linglung. Sebulan hampir tiga kali dia bolak balik Lomdon Jakarta," jelas Opa Iskandardinata agar putra sahabatnya ngga salah paham.


"Dewan ngga pernah bahagia dengan pernikahannya. Aku juga kasian pada istrinya, Irena. Intensitas kepulangan Dewan jadi berkurang sejak Aurora lahir," sambung Oma Mora dengan suara sangat sedih karena memendam sakit yang amat sangat.


Kasian putranya dan Dilara.