
Zerina hanya bisa menangis sambil membelai pelan perutnya.
Kandungannya hanya tinggal menunggu hari saja. Persiapan menyambut kelahirannya pun sudah sempurna. Tapi kesedihan di hatinya malah makin menggunung.
Xavi semakin mengacuhkannya. Bahkan beberapa hari ini dia pulang sangat larut. Untungnya kedua mertuanya sangat memperhatikannya dan selalu menemaninya.
Zerina pun dapat merasakan kasih sayang mereka padanya dan juga pada cucu mereka yang sedang berada dalam rahim.
Walaupun tau kalo cucu mereka dari Aurora sudah lahir, tapi sedikit pun ngga ada ekspresi kebahagiaan di sana. Berniat untuk melihatnya pun ngga terlintas sedikit pun di benak mereka.
Bagi mereka, hanya dari Zerinalah, anak sah Aiden.
Harusnya Zerina bahagia karena mertuanya lebih memprioritaskan anak yang dia kandung. Tapi entahlah. Apalagi tau kalo Daiva yang akan mengasuh anak Aurora. Di hatinya terselip.rasa iri.
Mama Xavi yang melihatnya di balik pintu yang tidak tertutup rapat mengepalkan tangannya kuat kuat. Menahan amarahnya.
Kata kata dokter yang mengingatkannya agar mereka lebih memperhatikan Zerina terngiang lagi di telinganya.
Ibu muda yang sedang menunggu hari kelahiran putranya itu sedang mengalami kondisi psikis yang menurun.
Bisa berbahaya untuk keselamatannya dan bayinya saat proses melahirkan.
Mama Xavi juga sudah mendengar kabar kelahiran bayi Aurora. Hatinya sedikitpun ngga tersentuh
Yang dirinya khawatirkan adalah keselamatan cucunya dari Zerina. Cucu yang paling berharga baginya. Anak putranya yang sudah meninggal dunia dalam usia muda. Aiden.
Mama Xavi ngga akan memudahkan langkah putranya untuk menikahi Daiva. Hatinya selalu geram dan sakit jika mengingatnya. Xavi lebih memilih bersama sepupu dari pembunuh kembarannya.
Dia akan tutup buku atas segala hubungan keluarga mereka di masa lalu. Hati ibu kandung yang terluka karena kehilangan putranya, ngga akan membiarkan pembunuhnya hidup nyaman begitu saja.
Dirinya pun akan membuat Aurora membusuk selamanya di penjara.
Gadis itu harus membayarnya, geramnya dalam hati.
*
*
*
Daiva merasa hatinya berdenyut sakit melihat pemberitaan live tentang pernikahan Xavi dengan Zerina.
Ngga disangka, akhirnya diumumkan juga. Daiva mengira pernikahan mereka akan dirahasiakan. Bahkan Mama Xavi sudah mengundang Wedding Organizer untuk mengatur resepsi pernikahan putra kembarnya itu. Setelah masa nifas Zerina berakhir, barulah acara resepsi dilaksanakan
Peristiwa kematian Aiden pun di blow up nya lagi. Padahal saat ini Aurora sedang menunggu pembebasan bersyaratnya.
Mama Aurora-Irena bersama pengacaranya kembali menemui hambatan besar untuk meloloskan Aurora dari penjaranya. Kasusnya menjadi viral lagi.
Dewan dan keluarganya pun berusaha meredam kemarahan masa yang mengira Aurora sudah bebas. Untungnya saat acara akikahan hanya dihadiri oleh keluarga inti dan ngga tercium oleh pencari berita. Sementara ini wajah anak Aurora masih aman. Juga berita kelahirannya.
"Kenapa istri Hendy melakukan ini," geram Oma Mora.
Padahal harusnya ngga lama lagi cucunya bisa mendapatkan persyaratan bersyarat atas kelakuan baiknya di dalam penjara
Juga sudah banyak bukti yang menunjukkan kalo Aurora ngga sengaja melakukan pembunuhan itu karena merasa sangat tertekan.
Aurora juga sudah mengalami hidup yang sulit selama di dalam penjara. Sejak Aurora hamil bahkan sampai melahirkan
Penjara bukan tempat yang layak untuk ibu hamil seperti Aurora yang biasa hidup dengan penuh dengan kemewahan.
Di dalam penjara Aurora sudah mengalami keterbatasan hidup. Dia sudah sangat sangat menderita. Kenapa mama Aiden tidak bermurah hati sedikit pun.
Oma Mora tau, yang ngotot ingin Aurora dibenam dalam penjara untuk waktu yang lama adalah mamanya Aiden. Papanya maupun oma opanya sudah ikhlas. Karena menyadari ini bukan kesalahan Aurora semata. Tapi tidak buat alam pikiran Mama Aiden.
"Aurora kita sudah sangat menderita," isak Oma Mora yang langsung ditenangkan suaminya.
"Tenanglah. Kita akan terus berusaha mencari cara agar Aurora cepat bebas," bujuk Opa Iskan.
Dewan juga menggeram marah. Kenapa sahabatnya ngga bisa melunakkan hati istrinya.
Memang bukan salah mama dan papa Aiden sepenuhnya. Tapi merekalah pencetusnya.
Dia sudah kehilangan Dilara. Dewan ngga akan mau kehilangan Aurora-putrinya. Sudah cukup putrinya menjalani hari harinya di dalam sel.
Apalagi kata Irena saat ini kesehatan Aurora agak memburuk.
Dewan akan melakukan sesuatu buat menekan sahabatnya itu agar ngga membuat putrinya Aurora semakin susah dan lama di dalam sel.
Sedangkan Mama Daiva-kakaknya Dewan merangkul bahu putrinya-Daiva dengan perasaan galau.
Hatinya juga sakit karena putrinya pun terkena imbasnya akibat kisruh masalah Aiden yang sudah almarhun dengan Aurora yang sudah mendekam di penjara.
Xavi sudah menemuinya dan suaminya, minta diberikan waktu hingga Zerina melahirkan. Setelah itu akan melepas Zerina dan kembali pada Daiva.
Waktu itu kejadiannya sebelun Xavi menikah dengan Zerina.
Dewina-mama Daiva tau, Xavi terpaksa melakukannya atas permintaan mamanya yang belum pulih dari sakit jantungnya.
Tapi kalo sudah begini, pernikahan Xavi dan Zerina telah diketahui pihak umum. Jika Xavi jadi bercerai setelah Zerina melahirkan dan menikahi Daiva, maka putrinya akan menjadi bulan bulanan cercaan masa.
Kepalanya jadi ikut berdenyut.
Kenapa dua sejoli ini harus menanggung derita padahal bukan salah mereka berdua sama sekali.....
Mamanya Xavi beneran ngga bisa dimaafkan lagi. Tindakannnya sudah random banget. Putrinya jadi ikut menderita karenanya.
Mau rasanya Mama Daiva mau ngelabrak perempuan itu. Tapi dia masih berpikir waras, karena masalah bisa nambah panjang. Mama Xavi sepertinya sangat menyukai drama menyedihkan dengan ratusan episode.
Tapi masalahnya bagaimana dengan putrinya?
Sepertinya Xavi harus menunda sedikit lebih lama untuk bisa bersama Daiva.
Huufftthh.... Mama Daiva menghembuskan nafas berat.
*
*
*
"Kasian, Kak Daiva," komen Rihana sedih melihat pemberitaan yang telah berlalu lalang.
Saat ini keduanya masih berada di atas ranjang pengantin, sambil menonton televisi yang menayangkan berita ulang tentang keluarga Xavi.
Bahkan Rihana ngga berhenti mengunyah cemilannya.
"Iya."
Alexander dapat melihat kalo Xavi kurang nyaman. Tapi pemuda itu sedang berusaha keras m3njaga image.
"Kita bantu do'a saja agar Xavi dan Daiva bisa melewatinya," sambung Alexander lagi.
Rihana menganggukkan kepalanya.
"Mau ku ambilkan jajan lagi?" tawar Alexander begitu melihat isi toples yang dipegang Rihana sudah tinggal sedikit saja.
"Ngga, udah kenyang," tolak Rihana. Dia merasa agak malu karena ketahuan suka ngemil.
Tapi sejak Rihana divonis hamil, sejak itu pula dia suka menghabiskan makanan makanan ringan bertoples toples.
Rihana takut Alexander nanti jadi ilfeel dengan bentuk tubuhnya yang akan melar kemana mana.
Rihana pun juga ngga pe-de jika nanti tubuhnya jadi mengembang. Sekarang saja dia sudah merasa ngga nyaman.
Pikirannya melayang lagi pada sosok kakak sepupunya-Daiva.
Bagaimana caranya agar kakak sepupunya bisa cepat menikah dengan pujaan hatinya?