NOT Second Lead

NOT Second Lead
Target Emir



"Niiiel, apa kamu sama Emir ngga ada pasangan nanti dinikahan fathan?" todong Emra mengejek.


Saat ini mereka bertiga sedang kumpul bareng di ruangan Daniel. Emra dan Emir sengaja datang ke perusahaan sahabatnya itu. Sahabatnya mengajak mereka bergabung di proyek baru, karena salah satu kliennya mengundurkan diri.


"Aku lagi usahakan," jawab Emir santai.


"Kau serius?" Daniel berteriak saking kagetnya.


"Emir! Siapa dia? Kenapa aku ngga tau?" Emra juga berseru keras saking kesalnya karena baru tau. Ternyata kembarannya sudah jalan progresnya. Kirain masih delay.


Emir hanya tertawa. Dia tadi hanya sekedar nyeplos saja.


Padahal bertemu dokter itu aja dia belum pernah lagi setelah pertemuan pertama mereka. Udah lewat beberapa hari.


Kesibukannya di kerjaan juga ditambah dengan persiapan pernikahan sepupunya, membuat Emir ngga sadar sudah melupakan targetnya.


Melihat respon Emir yang santai, tidak mengelak atau membenarkan membuat keduanya tambah yakin kalo Emir serius.


"Apa kita kenal?" tanya Daniel juga kepo. Parah juga kalo Emir sudah menemukan belahan jiwanya. Sementara dia baru saja mendapat kenyataan pahit tentang mantan kekasihnya.


Kalo sekedar asal comot perempuan ke acara pernikahan Fathan, akan sangat mudah bagi Daniel.


Tapi Daniel ngga pernah melakukannya untuk acara keluarga. Itu harus orang spesial baginya. Sama juga dengan Emir, Emra, Fathan, maupun Kalandra saat diantara mereka belum punya kekasih.


Mereka lebih baik tampil jomblo dan becanda bersama saling mengejek kemalangan masing masing.


Tapi akan bahaya kalo Emir yang merupakan tandem sejatinya itu akan membawa kekasih seperti yang lainnya.


Dia akan merana sendiri.


Daniel benar benar putus asa.


"Eh, relasi bisnis kita yang tadi cantik juga, loh. Boleh juga kalo kamu ajak melangkah lebih jauh," todong Emra menyarankan karena melihat wajah lemas Daniel.


Emra dapat merasakan perasaan galau Daniel yang nantinya akan sendiri tanpa pasangan.


"Nadira maksudnya?" sambar Emir cepat mengingat perempuan itu.


"Boleh juga tuh. Cantik, seperti yang kamu suka," lanjut Emir setuju.


Daniel tertawa hambar. Ngga mungkinlah dia pacaran dengan kembaran kekasihnya yang sudah meninggal, bantahnya dalam hati.


Dia merasa kena batunya sekarang. Dulu dulunya selalu mengejek Nidya yang susah move on dari adiknya Alexander.


Kini dia bisa merasakan bagaimana perasaan Nidya. Bahkan dia lebih dalam lagi karena Nadine sudah jadi kekasihnya, walau cuma malam itu saja. Dan yang menyakitkan dia ngga tau kalo kekasihnya sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu. Entah kapan dia bisa move on kalo begini.


"Spek gitu kamu ngga suka?" Emra menggelengkan kepala nggq percaya. Jika dia belum bertemu Kiara, ngga akan dia sia siakan.


Bukan begitu, bantah Daniel dalam hati. Dia ngga mungkin mengatakannya pada mereka berdua yang sebenarnya.


Daniel memilih tertawa tanpa nada agar keduanya ngga melanjutkan obrolan tentang tema sensitif ini.


"Perempuan yang kamu taksir seperti apa, Emir?" Karena merasa gagal atas penolakan Daniel, akhirnya Emra menanyakan gebetan kembarannya yang membuatmya sangat penasaran.


Karena Emir ngga pernah membicarakannya. Itu yang membuat Emra selaku kembarannya penasaran sekaligus kesal.


"Nanti aku akan kasih tau," sahut Emir dengan senyum menjengkelkannya di mata Emra, membuat Daniel tertawa keras. Dia sedikit terhibur karenanya.


*


*


*


Dengan senyum yang ngga lekang dari bibirnya, Emir berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Mereka sudah janjian bertemu di ruang istirahat dokter itu. Tepatnya Emir yang meminta bertemu untuk membahas biaya perawatan mobil.


Padahal itu hanya taktik Emir saja. Hatinya masih geli karena dokter itu mengira kalo dia meminjam rubicon yang memang miliknya. Oke, dia akan cosplay jadi orang biasa.


Ternyata di dalam ruang jaga itu juga ada temannya yang kemarin diminta mengurus balita yang mengalami kecelakaan tunggal bersama ibunya.


"Silakan duduk," ujar Kamila Adelin sambil mengisyaratkan kursi di depannya. Temannya masih tetap fokus berada di situ sambil menatap Emir dalam dalam.


Dalam hatinya terus memuji ketampanan Emir yang sangat berkharisma.


Emir melempar senyum tipisnya pada teman Kamila yang dipanggilnya Lin itu. Gadis itu membalasnya dengan senyum yang sangat manis sambil tersipu.


"Emir," ucap Emir tenang.


"Selina," ulangnya sambil mengulurkan tangannya. Emir pun menyambutnya sebentar.


"Ehem..... kamu membawa kuitansinya?" tanya Kamila to the point.


"Ya, tentu saja." Emir pun mengeluarkan selembar kertas kuitansi yang dimintanya pada pembantunya saat perawatan mobilnya selesai.


Pembantunya memandangnya dengan terheran heran.


"Kuitansi apa tuan muda?"


"Kamu ngga punya?" Emir balik bertanya yang dilanjut dengan masih tatapan bingung pembantunya.


"Kalo begitu belilah. Aku tunggu," perintah Emir langsung.


"Siap tuan muda."


Ngga lama kemudian pembantunya pun datang dan membawa sebuah satu buah buku kuitansi.


"Seperti ini ngga apa, tuan muda?" tanyanya ragu.


"Ngga apa. Sekarang tuliskan berbagai perawatan untuk rubiconku. Juga tulis lima belas juta."


Pembantunya menurut. Sekarang kertas persegi panjang ukuran kecil itulah yang diajukannya pada gadis yang akan menjadi targetnya.


Gadis itu menerimanya dan sedikit terkejut membacanya. Begitu juga Selina.


"Itu bukan mobilmu?" Selina menatap Emir dengan tatap kecewa. Awalnya dia berpikir laki laki yang berwajah sangat tampan itu merupakan orang yang kaya raya.


Ternyata benar kata kata bahwa don't judge a book by the cover. Terbukti dengan kenyataan yang ada di depannya.


"Bukan," bohong Emir tampak meyakinkan.


"Katanya dia meminjamnya. Mungkin milik bosnya." Kamila ikut membantu menjelaskan membuat Selina yang sudah berharap sangat tinggi jadi terhempaskan ke jurang yang berbatu yang dalam.


"Baiklah. Aku akan membayar penuh tagihannya. Apa kamu punya m banking?" putus Kamila dengan mengalihkan tatapannya dari kertas kwitansi ke arah Emir yang sedang menatapnya.


"Aku lebih suka.uang cash," jawab Emir agak menyebalkan.


Selina hampir tersedak.


Dia ngga punya m banking? Jaman seperti ini...., batinnya semakin speachless.


"Oke, sebentar." Kamila kemudian menghubungi seseorang melalui telponnya.


"Diantar sekarang, yah;" kata Kamila sebelum mengakhiri panggilannya.


"Sebentar, ya. Aku ngga punya uang cash sebanyak itu," sahut Kamila jujur.


Sementara ketertarikan Selina pada Emir sudah menguap.


Dia ngga sekaya Kamila ternyata. Padahal dia butuh laki laki kaya raya untuk menopang hidupnya. Gajinya yang hanya sebagai dokter biasa yang selalu bertugas di ruang gawat darurat ini ngga seberapa. Selama ini dia pun selalu menggantungkan kemewahan hidupnya pada Kamila.


Dia bersahabat dengan Kamila sejak mereka kuliah di fakultas kedokteran. Kamila sahabat yang sangat royal. Selina sangat menikmati kemewahannya saat berada di dekat Kamila.


Laki laki yang berada di depannya mungkin sama seperti dirimya. Memiliki sahabat yang sangat kaya raya yang royal, hingga dia salah paham dengan penampilannya yang terlihat WOW.


"Sebenarnya ngga perlu, karena bosku ngga memintaku untuk menggantinya. Kedatanganku kemari hanya untuk memberikan kuitansi itu saja tanpa bermaksud meminta kamu membayarnya," jelas Emir tenang.


"Bosmu pasti sangat kaya raya," cetus Selina cepat.


"Tentu saja. Aku beruntung jadi temannya," jawab Emir dengan menahan senyumnya.


Dia mulai berpikir, siapa nanti yang bakal dia jadikan sebagai bos kalo mereka nanti ingin menemuinya.


Sayang sekali, batin Selina speechless.


Susahnya mencari laki laki kaya yang bisa menghidupinya secara mewah. Seperti sekarang saat bersama Kamila.


"Tidak apa apa. Anggap saja bonus untukmu," jawab Kamila dengan senyum teduhnya.


Emir terpana sesaat melihatnya.


Fix, ini jodohnya, batin Emir ikut tersenyum.