
"Dua minggu?" senyum keluarga Nidya atas permintaan keluarga Fathan.
"Ya, lebih cepat lebih baik," sahut Oma Fathan yang sengaja datang, sama seperti saat Alexander menikah dulu dengan Rihana. Istrinya pun datang bersamanya.
"Bagaimana Cakra?" tanya Oma Mien sambil menatapa anak dan menantunya. Meminta persetujuan sebelum terjadi ketok palu.
Papa Nidya dan Kalandra saling tatap dengan istrinya. Setelah mendapat anggukan istrinya, Cakra pun beralih menatap mamanya.
"Setuju, Ma."
Mata Nidya membesar menatap papa dan mamanya. Dia terserang panik.
Gimana ini?
Dua minggu lagi?
Rihana menggenggam lembut lengan kakak sepupunya yang terasa sedingin es.
Nidya berpaling menatapnya. Rihana memberikan anggukan kepalanya dengan senyum lembut berusaha menenangkan saudara sepupunya.
Dulu dia pun sangat tegang saat keluarga Alexander melamarnya. Nidya termasuk salah seorang yang menenangkannya saat itu bersama Puspa.
Nidya sedikit merasa tenang karena sentuhan itu. Puspa dan Kirania pun tampak melakukan hal yang sama.
Ada keharuan menyeruak dalam hatinya. Dia bersyukur memiliki sepupu sepupu yang sangat menyayanginya.
"Jangan menangis," lirih Kirania berucap sambil bantu mengusap mata Nidya dengan hati hati agar ngga merusak make up sepupunya.
Fathan tanpa sadar tersenyum melihatnya.
Ternyata dia bisa manis juga, batinnya.
Awalnya Fathan mengira Nidya memiliki hati yang keras dan dingin. Tapi di saat ini Fathan bisa melihat kelembutan dan kehangatan gadis itu.
Yes, dua minggu lagi dia akan menikahi Nidya. Jodoh yang ngga dia sangka sangka.
Saat Nidya menatapnya, Fathan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil.
Nidya agak merinding melihat Fathan semakin menjadi cosplay sebagai laki laki ashole. Tapi jantung semakin cepat berpacu hingga dadanya terasa sakit karenanya.
*
*
*
Daniel mengunjungi lagi makam yang belum sebulan ini sering dia datangi setelah tau kenyataan yang tersimpan selama sepuluh tahun.
Nadine Risyana.
Ternyata sudah sepuluh tahun gadis itu terbaring di sini tanpa.dia tau apa yang sudah terjadi.
Daniel yang merasa si paling tersakiti selama ini karena telah ditinggalkan oleh perenpuan yang ingin dia jadikan terminal terakhirnya.
Semua berakhir ketika perempuan itu pergi meninggalkannya dengan membawa penyakit parah yang dia derita.
Sebuket mawar merah darah Daniel letakkan di pusaranya. Bahkan buket bunga mawarnya yang sudah empat minggu, tiga minggu dan bahkan dua minggu yang lalu masih ada di sana, dan sudah layu.
Mengapa Nadine? Mengapa?
Matanya kini penuh air mata.
FLASHBACK
Sebulan yang lalu
Daniel terpaku ketika klien papinya datang juga setelah dia dan Fathan hampir pulang karena merasa membuang waktu menunggunya.
Rahang Daniel mengeras tiba tiba. Darahnya bergojalak karena kemarahan yang muncul tiba tiba, serasa membakar isi rongga dadanya sampai jadi abu.
"Hei, kamu kenapa?" bisik Fathan heran melihat wajah tengil adiknya seperti menyimpan amarah yang sangat dalam saat melihat gadis di depannya.
Daniel ngga menjawab.
Dia menunggu dengan sabar sampai meeting selesai. Ngga mungkin dia langsung meluapkan amarahnya sekarang, karena bukan hanya ada dia, Fathan dan gadis itu saja. Tapi masih ada dua lagi klien mereka.
Daniel hanya diam sambil sesekali menghela nafas panjang. Sorot marahnya pun sesekali juga diarahkan pada gadis itu, yang nyatanya masih sangat tenang. Seolah dia ngga tau kesalahan besar yang sudah dibuatnya. Bahkan dengan sangat berani pura pura ngga mengenalnya.
Untung Fathan bisa menutupi ketakfokusannya kali ini. Insting Fathan mengatakan kalo mereka berdua saling mengenal.
Daniel tetap saja dalam kebekuannya. Otak pintarnya seakan tumpul mengingat kejadian di masa lalu.
Saat dia ditinggalkan padahal sedang cinta cintanya. Daniel sudah bertekad mengakhiri kebrengsekannya memainkan hati para perempuan.
Alasannya karena perempuan itu. Seorang players pasti bisa juga jatuh cinta. Dia--Nadine Risyana.
Tapi gadis itu mencampakkannya. Mungkin ini karmanya.
Dan begitu rapat selesai, tanpa pamit pada Fathan, Daniel pergi mengikuti gadis yang sudah membuangnya itu.
Dia berhasil menarik lengan gadis itu dan mengurungnya di sudut resto yang cukup sepi.
Gadis itu meronta ronta minta dilepaskan.
Mata gadis itu terbelalak ketika Daniel mencium bibirnya bagai orang kesurupan. Ngga memberinya jeda sedikitpun. Bahkan sampai dia sulit bernafas.
Hingga akhirnya ciuman itu lepas menyisakan sesak.dan bengkak di bibir gadis itu.
Matanya, pipinya memerah karena marah
PLAK!
Daniel tersenyum sinis saat merasakan asin di sudut bibirnya akibat tamparan yang sangat keras.
"Kurang ajar," maki gadis itu geram. Dadanya turun naik karena marah yang amat sangat akibat dilecehkan.
"Itu pantas buatmu, Nadine!" sergah Daniel sambil menjauhkan tubuhnya. Matanya masih berkobar api kebencian yang disimpannya selama sepuluh tahun.
Gadis itu ternganga, menatapnya, sangat terkejut.
Daniel menyeka darah di sudut bibirnya dengan jempol tangan kanannya sebelum berbalik pergi.
"Tunggu!" seru gadis itu setengah berteriak tapi ngga dipedulikan Daniel yang terus melangkah pergi.
"TUNGGU!" Kini gadis itu benar benar berteriak membuat langkah Daniel terhenti.
Rasanya ada yang aneh dengan suaranya.
Dulu ngga begitu. Ah, Bodoh amat!
Daniel kembali melangkah pergi tapi jadi menggeram marah karena gadis jahat itu berani beraninya mencengkeram kuat lengannya.
"Kamu..... Daniel?" tanyanya dengan bibir bergetar.
"Kamu pikir siapa!" sentak Daniel kasar sampai cekalannya terlepas dengan mata menyorot tajam pada tatapan berpendar nanar di depannya.
Sialan, dia sudah lupa?! batin Daniel memaki ngga terima.
Jadi hanya dia sendiri yang merindu dendam bagai orang bodoh selama sepuluh tahun ini?!
Saat Daniel memutar tubuhnya lagi hendak pergi, gadis jahat itu kembali mencekal tangannya. Kali ini dengan kedua tangannya.
"Syukurlah. Akhirnya ketemu juga," ucapnya lagi lagi dengan bibir masih bergetar. Tangannya yang mencekal itu pun terasa bergetar.
Daniel mendelikkan matanya.
Apa maksud ucapannya?
Terselip sedikit kecurigaannya, tapi dia menepisnya. Perasaannya mengatakan gadis jahat di depannya sedang berpura pura untuk mengais kata maafnya.
"Lepas atau aku akan lebih kasar," ancam Daniel dengan tatapan sadisnya.
"Nadine... dia.... dia sudah lama menunggumu," ucapnya terbata tanpa mau melepaskan cekalannya.
Daniel mengerutkan keningnya. Dia merasa gadis di depannya ini sudah gila.
Bukannya dia Nadine? Apa dia lupa ingatan? decihnya membatin.
"Aku akan bawa kamu ke Nadine," katanya masih dengan getaran di bibirnya, dan tanpa menunggu jawaban Daniel, gadis itu dengan susah payah menyeret tubuh kekar Daniel.
"Hei, apa maksudmu, Nadine. Kamu lupa ingatan?" sarkas Daniel tapi tetap membiarkan tubuhnya mengikuti kemauan gadis itu.
Gadis itu menyeringai sinis.
"Aku Nadira, kembarannya Nadine."
Daniel terpaku. Kali ini secara reflek dia menahan kakinya untuk melangkah.
Mata Damiel menyorot sangat tajam. Menyelisik gadis itu secara seksama.
Sama.
Sama semuanya.
Hanya suaranya.
Tapi Daniel ngga mau percaya begitu saja. Sudah cukup dia dipermainkan.
"Kalo ngomong pake otak," katanya sarkastis.
Gadis itu terlihat menghela nafas panjang dan kesal, tapi mencoba sabar.
"Makanya ikut, biar kamu tau, aku bohong atau engga."
Daniel masih menatap ngga percaya. Menyangsikan kebenaran ucapannya.
Akhirnya dia melepaskan cekalannya. Mungkin berpikir ngga ada gunanya memaksa.
Kemudian tanpa kata gadis yang dikira Nadine oleh Daniel, kini melangkah mendahuluinya. Meninggalkannya begitu saja.
Daniel terdiam. Walaupun tetap merasa kalo dia bakalan di prank, tapi baiklah, ini terakhir kalinya dia berurusan dengan masa lalunya.
"TUNGGU!" Ganti Daniel yang berteriak dan mengejar gadis yang mengaku bernama Nadira, padahal jelas jelas dia Nadine.