
"Kenapa sedih abis kencan, hemm?" tanya Emra yang membukakan pintu ketika Puspa pulang. Emra masih bisa melihat mobil Herdin meninggalkan mansion oma mereka.
Puspa ngga menjawab. Dia baru saja diantar pulang Herdin yang berubah kaku dan datar sepanjang acara makan malam mereka.
Puspa kesal. Dia merasa diombang ambingkan perasaannya oleh Herdin.
Padahal malam ini Puspa mengira dia akan resmi menjadi kekasih Herdin.
Ternyata harapannya terlalu tinggi.
"Herdin macam macam sama kamu?" tanya Emra penuh selidik.
"Enggak," jawabnya sambil terus berlalu.
"Terus kenapa abis kencan wajahmu malah kayak orang patah hati?" kekeh Emra usil.
"Sana cari pacar yang benar. Biar ngga suka kepo," sindir Puspa terus melangkah meninggalkan kakak kembarnya itu yang masih haha hihi.
Emra hanya menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang tampak kesal.
Pasti gagal, batinnya tergelak.
"Hati hati sama.Herdin. Dulu dia sukanya cuma sama Aurora," seru Emra membuat langkah adik bungsunya terhenti.
Jantung Puspa seakan berhenti berdetak. Perasaan ngga nyaman merayapi hatinya .
Emra sendiri sudah berlalu tanpa menunggu reaksi adiknya. Dia sudah bisa menebak kalo Herdin pasti belum move on.
Adiknya yang saat berangkat sangat gembira, tapi kini pulang seperti bunga yang layu ngga disiram hujan selama setahun.
Emra hanya ingin memberitau agar Puspa ngga terlalu jauh berharap. Malah dia sedikit menyesal karena engga dari awal memberikan informasi ini padanya.
Saat akan memasuki kamarnya dia berpapasan dengan Nidya yang juga menginap di rumah oma mereka.
Yang belum move on juga, sindirnya dalam hati.
Nidya melirik.Emra sinis sebelum pergi
*
*
*
Pagi ini Daiva sengaja datang menjenguk sepupunya yang masih terbaring di rumah sakit.
"Daiva?" sapa Irena agak kaget saat membuka pintu ternyata sudah ada ponakannya di depannya.
"Tante mau pergi?" tanya Daiva ketika melihat tentengan tantenya. Sudah sangat rapi.
"Tante mau bertemu klien. Syukurlah kamu datang. Bisa titip Aurora?" tanyanya pelan.
Daiva melirik Aurora yang masih tidur memunggunginya.
"Bisa, tante."
"Makasih sayang," ucap Irena terharu. Masih ada yang peduli dengannya setelah banyak orang orang terdekat yang meninggalkan mereka.
"Sama sama tante," ucapnya dengan wajah penuh senyum.
Setelah mengusap puncak kepala Daiva, Irena pun pergi.
Daiva pun masuk dan menutup pintu. Menatap sebentar punggung sepupunya.
Setelah menghela nafas panjang, Daiva pun berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
Daiva memperhatikan lagi tubuh yang ngga bergerak itu. Dia tau, sepupunya sudah terjaga.
"Sampai kapan, Aurora, kamu akan begini?" tanya Daiva sambil mengeluarkan ponselnya. Membaca berita yang semakin mengerikan. Penggemar Aurora akan melancarkan boikot pada saat acara pernikahan Alexander dan Rihana nanti.
Mereka sudah gila, geleng Daiva membatin.
Pantasan semakin banyak pengawal yang menjaga keduanya. Begitu juga gedung dan WO nya.
"Biar saja. Bukan aku yang menghasut," tukas Aurora masih memunggunginya.
Daiva menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan agar bisa lebih sabar.
"Kamu cukup bilang kalo anak itu bukan anak Alexander. Selesai, kan."
Aurora ngga menjawab. Yang dia inginkan hanya huru hara. Agar kedua orang itu ngga bisa menikmati pernikahan mereka dengan tenang dan bahagia.
"Jangan khawatirkan nasib anakmu. Aku akan menjaganya," janji Daiva.
Aurora masih diam membuat Daiva lagi lagi menghela nafas panjang.
Sabar. Sabar, Daiva.
"Aku akan menggugurkan anak ini," jawab Aurora setelah tercekat mendengar ucapan Daiva. Hatinya tersentuh karena kakak sepupunya mau merawat anaknya. Tapi dia ngga akan bisa menatap mata anaknya nanti jika dia bertanya kenapa papanya harus dibunuh.
"Dosamu sudah terlalu banyak. Jangan ditambah lagi," sambungnya jengkel.
Aurora ngga menyahut. Dia sadar memang dosanya sudah sangat banyak. Tapi dia terpaksa melakukannya.
Daiva meneguk air mineral yang ada di atas meja untuk menyiram kemarahannya yang sudah menyala nyala.
"Kalo kamu berkelakuan baik, kamu ngga akan lama di penjara," ucap Daiva yang lagi lagi ngga mendapat tanggapan Aurora
"Memang berat hamil di penjara. Tapi tenanglah, aku, opa, oma bahkan om akan memenuhi semua keinginan ngidammu," sambung Daiva lagi.
Mata Aurora berkaca kaca mendengar opa, oma dan papanya disebut. Hatinya bergetar ngga percaya kalo mereka masih peduli dengannya.
Daiva menunggu, tapi ngga ada reaksi apa pun dari Aurora.
Kembali dia meneguk air minerat yang tinggal separuh.
"Ternyata Zerina juga pacaran sama Aiden. Dia juga sedang hamil."
Aurora tercekat. Dia jadi mengingat sikap Zerina yang ngga sopan padanya waktu itu. Sekarang dia baru tau alasannya.
"Keluarga Aiden mau mengakui anaknya."
Aurora berdecih. Dia ngga peduli. Dia aja benci dengan janin yang ada di perutnya.
"Sudah dua calon bayi yang kamu buat kehilangan papanya sebelum mereka lahir."
"Aku ngga peduli."
"Kalo kamu terus bersikap begini kamu bisa lama.di penjara."
"Biar saja."
Rasanya Daiva ingin mengetok kepala adik sepupunya yang kenapa jadi bloon begini. Buta karena cinta yang ngga kesampaian.
"Setelah kamu lahiran, kamu pergilah ke luar negeri. Anakmu akan kami yang urus. Kamu bisa memulai hidup baru lagi Aurora," bujuk Daiva sabar.
Yang dia inginkan Aurora menghentikan kegilaannya membuat polemik di sosial medianya. Ngga tega dia melihat Oma Mora yang selalu aja bersedih dan cemas.
"Memangnya kapan aku bisa bebas," tanya Aurora setelah beberapa saat lamanya. Selalu slow respon.
"Mungkin lima tahun," jawab Daiva asal. Karena dia pun ngga tau berapa lama sepupunya akan mendekam di penjara.
"Lebih baik aku mati kalo selama itu," respon Aurora ketus.
"Terserahlah. Yang jelas sudah pasti kamu akan masuk neraka kalo milih mati sekarang," timpal Daiva ngga kalah ketusnya.
Aurora ngga menyahut dan Daiva pun ngga berkata kata lagi. Pusing dia menghadapi kekeraskepalaan sepupunya.
*
*
*
"Nanti siang kita nyobaain gaun pengantin kamu, ya. Aku jemput," kata Alexander saat mengantar Rihana sampai di ruangannya.
"Iya. Alex, nanti pulangnya hati hati, ya," sahut Rihana khawatir. Pagi ini saja mereka dihadang saat belum jauh meninggalkan mansion omanya.
Ngga disangka mereka tau mobil yang digunakan Alexander. Untung tadi banyak laki laki berseragam yang membubarkan kerumunan itu.
Kata Alexander itu para pengawal keluarga mereka. Hanya saja Rihana tetap khawatir. Aksi penggemar Aurora semakin frontal. Bukan hanya sekedar mencela dengan komentar yang menyudutkannya dengan Alexander, tapi kini sudah berani menampakkan diri terang terangan dengan membentuk aliansi pembela Aurora.
"Tenanglah. Banyak yang akan melindungi aku dan kamu."
"Atau kamu di sini saja?"
Alexander menatap lembut pada netra yang tampak khawatir padanya.
"Kamu yakiiin aku tetap di sini?" goda Alexander membuat netra itu berubah kesal.
"Hemm...."
"Aku ngga bisa diam aja lihatin kamu loh," godanya lagi sambil tangannya mencubit pipi Rihana yang langsung merona.
"Alex," tepis Rihana kesal.
Alexander tertawa.
"Sayangnya aku ada janji denga klien penting," tolak Alexander dengan raut wajah menyesal.
"Jangan cemberut. Nanti rindu," goda Alexander lagi membuat senyum malu malu Rihana terkembang.
CUP
Wajah Rihana memanas merasakan kecupan cepat Alex di bibirnya.
"Aku pergi. Udah dapat doping," senyumnya sambil menutup pintu, meninggalkan Rihana yang masih berdiri mematung