
"Pa," panggil Aurora ketika melihat papanya sedang berdiri di luar pintu kamar rawat inap. Ngga hanya ada papanya, juga ada beberapa orang lagi yang sebaya dengan papanya.
Tadi Aurora memaksa Aiden mengantarnya ke rumah dulu. Dan mengusir Aiden pergi begitu laki laki itu sudah mengantarnya ke rumah.
Setelah berendam cukup lama, dan merasa penampilannya lebih baik, Aurora pun minta di antar supir ke.rumah sakit. Tentu saja dia sudah meminum pil pereda nyeri dan pil pencegah hamil.
Papanya menoleh dan tersenyum lembut menatapnya. Kemudian melamgkah mendekati putrinya.
"Papa.sakit?" tanyanya lembut
"Bukan papa," kata papanya sambil menggandeng tangan putrinya dan mendekati ruangan yang dia dekati.
Mata Aurora sedikit membesar melihat pegawai kontraknya sedang disuapi makan oleh Oma Mien Arthipura. Di sana juga ada suami oma dan dua orang gadis seusianya.
Dan matanya menyorot tajam pada salah seorang gadis yang merupakan pegawai kontrak di perusahaan papanya. Gadis yang terlihat berani menantangnya saat pertemuan terakhir mereka.
Dan baru Aurora sadari, di dekat papanya, berkumpul anak anak dari Oma Mien dan Opa Airlangga. Tentu dia cukup tau orang orang penting yang menjadi relasi papanya.
Papanya membawanya masuk ke ruangan itu dan melihat gadis yang sedang disuapi Oma Mien menoleh padanya.
Oma Mien dan Opa Airlangga tersenyum tipis padanya.
"Dia.... cucu Oma Mien?" bisik Aurora bertanya pada papanya.
Papanya menganggukkan kepalanya.
"Dia kakakmu," kata Dewan langsung sambil mengarahkan dagunya pada Rihana yang hanya menatap Aurora dengan datar. Teelihat ngga nyaman dengan kehadirannya.
Aurora tercekat, dia hampir jatuh karena kakinya yang sudah lemas tambah lemas mendengar kata kata papanya.
Aurora menatap papanya bergantian dengan Rihana.
Masa? batinnya ngga bisa percaya.
"Terjadi kesalahpahaman antara papa dan mama Rihana. Papa selalu mencarinya tapi ngga pernah ketemu. Ternyata Rihana malah kerja di perusahaan kita," jelas Dewan sangat hati hati dalam mengatur kata.
Aurora ngga menyahut. Dia hanya terdiam. Tapi otaknya berpikir dia harus tenang. Apalagi melihat keluarga Opa Airlangga ada di sini.
Pasti akan ada lagi kabar mengejutkan yang akan disampaikan papanya.
"Rihana ternyata cucu Oma Mien dan Opa Airlangga," sambung papanya lagi.
DEG DEG
Aurora sudah menduga kelanjutannya. Walau dia ngga ingin percaya, tapi semua ini ternyata nyata.
Kejutan apalagi yang akan gadis ini berikan padanya. Rasanya gadis ini diselimuti banyak keberuntungan. Belum lagi perhatian dari Kak Alexander.
Arrgghhh. Aurora ingin rasanya mengumpat dengan suara keras.
Mengapa sejak gadis ini muncul, kemalangan selalu saja menimpanya?
Selagi suasana tampak canggung, sapaan suara seseorang yang sudah membuatnya ngga tenang sejak beberapa jam yang lalu makin membuat Aurora merasa terlempar jauh ke dasar kawah gunung berapi. Seakan tubuhnya akan terbakar habis oleh panasnya suhu kawah itu.
"Pagi semua."
Oma dan Opa Alexander tersenyum melihat siapa.yang datang.
Alexander datang dengan membawa buket bunga mawar merahnya dan berjalan santai melewati Aurora yang tubuhnya bergetar tanpa menyapanya.
Alexander berjalan mantap menghampiri Rihana dengan senyum memikatnya.
"Sudah makan yang banyak?" tanyanya sambil.menyerahkab buket mawar itu yang diterima Rihana dengan senyum malu malunya.
Puspa mengerling puas pada Aurora yang wajahnya sangat pucat seolah darahnya sudah dihisap drakula.
Rasain, umpatnya dalam hati.
CUP
Tanpa sungkan Alexander mengecup sekilas pipi Rihana yang membuatnya tampak semakin memerah.
BUGH
"Sembarangan cium cium cucu Oma," gemas Oma Mien sambil memukul lembut punggung cucu sahabatnya yang sudah kurang ajar.
Alexander hanya terkekeh bersama yang lainnya kecuali Aurora. Bahkan Dewan pun melebarkan senyumnya.
"Emm... aku pamit keluar, Pa," kata Aurora yang sudah ngga bisa lagi menahan perasaannya. Malu dan tetkalahkan. Itulah yang dia rasakan saat ini.
Dia Aurora yang selalu mendapatkan apa pun yang dia mau, kini sudah ngga ada lagi.
"Aurora," panggil Dewan berusaha menahan langkahnya.
"Aurora."
Langkah Aurora terhenti saar Omanya memanggilnya. Omanya yang baru saja akan memasuki ruangan bersama opanya terkejut melihat kehadirannya.
"Oma," panggilnya pelan. Matanya sudah berkaca kaca. Di belakangnya sudah ada papa dan mama Alexander yang juga baru tiba dan menatapnya ngga enak hati.
Oma Mora pun menuntun cucunya agak menjauh, kemudian memeluknya. Mama Alexander juga mengikuti keduanya
Sedangkan Opa Iskandardinata dan Papa Alexander hanya menatap sedih pada bahu Aurora yang terguncang dalam pelukan Oma Mora.
Dewan yang menyusul pun jadi membeku melihat putrinya yang menangis.
Sementara di dalam, Alexander tampak ngga peduli dengan kepergian Aurora.
"Jangan dilihat," katanya sambil menggenggam lembut tangan Rihana.
Oma Mien mendecih melihat Dewan yang menyusul putri kesayangannya.
"Kamu ngga ikutan pergi?" tanya Oma Mien sinis sambil melihat Alexander.
Alexander tersenyum lebar. Tau kalo Oma Mien masih ngga percaya dengannya.
"Kemana, Oma? Ke KUA sama Zira?' tanyanya balik menggoda Oma Mien.
BUGH BUGH BUGH
Makin gemas Oma Mien memukul punggung Alexander.
"Siapa lagi itu Zira, haah!"
Puspa dan Kirania saling tatap, ngga nyangka banyolan seperti itu keluar dari bibir kaku Alexander.
Bahkan Cakra, Akbar dan Wingky saling pandang
"Apa dia seramah itu?" tanya Wingky sambil menggelengkan kepala.
"Baru kali ini aku lihat," komen Akbar sambil menatap tenang ke arah Alexander yang sedang mengembangkan senyumnya saat dimarahi mamanya.
Setahunya laki laki itu cukup dingin dan jarang berekspresi. Datar dan kaku.
Cakra juga menperhatikan tingkah Alexander dengan agak aneh.
Dia baru paham kini kalo putrinya sudah gagal menarik perhatian Alexander. Hanya bersama putri adiknya saja Alexander bisa bersikap normal.
"Rihana, Oma. Aku manggilnya Zira," jelas Alexander dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.
"Betul begitu, Rihana?" tanya Oma Mien ngga percaya. Menatap serius pada cucunya.
"Iya, Oma. Alex manggil aku Zira," katanya sambil memberi isyarat pada Alexander agar menyudahi gangguannya pada Omanya.
Alexander mengangguk tapi masih dengan senyum lebar di wajahnya.
"Hemm..." Kini Oma Mien dengan berkacak pinggang tetap melotot pada Alexander.
"Sudahlah. Kenapa kamu harus marah, sayang," kekeh Opa Airlangga membujuk.istrinya.
"Aku ngga mau dia mempemainkan cucu kita ," kat Oma Mien tegas.
"Aku sangat mencintai cucu, Oma. Bahkan dari sebelumnya, sejak kami masih SMA," jelas Alexander lembut, berusaha merebut hati Oma Mien.
"Benarkah? Tapi kenapa ada isu kamu sama Aurora?" tuntut Oma Mien minta penjelaasan komplit.
"Ngga tau Oma. Yang jelas, aku belum bisa mengikat Zira jika aku belum punya posisi yang kuat. Karenanya aku fokus kuliah, setelah lulus aku baru mencarinya lagi buat diajak nikah. Auww, sakit sayang," ringis Alexander diakhir penjelasannya.
Rihana menatapnya gemas dan sangat malu. Apalagi ketiga Om dan kedua sepupunya merekahkan senyum mereka. Begitu juga dengan Opanya. Hanya Omanya yang masih melototkan matanya.
Kenapa Alexander jadi over begini?
■
■
Maaf ya... Lagi sebal sama NT, novel ini turun terus levelnya dengan alasan ngga updet selama 7 hari lebih berturut turut....
Levelnya sekarang seakan ngga update 1-2 bulan.
Waktu sebelum ini juga sudah diturunkan. Berusaha sabar... Tetap naikin mood buat nulis...
Level sih ngga penting juga, tapi alasan NT yang ngga masuk akal bikin kesal.
Tapi sekarang lagi usahain buat namatin kok... Tetap tamat..♡♡