
Puspa datang menghampirinya ketika Rihans bersama opa dan omanya sedang sarapan. Di belakangnya ada Ansel dan Kirania.
"Hai, sepupu," sapa Puspa sambil memeluk Rihana dengan bahagia.
"Aku senang kita beneran sepupuan," katanya sambil mengurai pelukannya.
"Masih ingat aku, kan?" sapa Kirania ganti memeluk Rihana.
Perasaan Rihana lega karena dia merasa diterima dengan baik.
Oma dan Opa pun mengembangkan senyum bahagia.
"Aku boleh meluk, ngga?" goda Ansel yang langsung ditahan Puspa.
"Laki laki *n*o," seru Puspa.
Kirania yang sudah melepaskan pelukannya menatapnya galak.
Rihana tersenyum tipis melihatnya.
Mereka sangat akrab, batinnya agak iri.
"Puspa, kalo Rihana masih di lapangan, Kalian keluar aja. Bergabung dengan Kiran dan Ansel," tegas Opa ketika ketiga cucunya sudah duduk dan akan ikut sarapan.
"Nggak, Opa. Menejerku memberitau kemarin, Rihana balik lagi ke divisi lama," senyum Puspa merekah saat menyampaikannya.
"Benar, ya? Ah, syukurlah," respon Rihana sangat tenang. Pagi ini sangat indah untuknya.
"Begitu?" sela Opa seakan berpikir.
"Atau lebih baik kalian resign aja. Bekerja di perusahaan keluarga saja," sambung Oma gemas karena Puspa selama ini keukeh ngga mau bekerja di perusahaan keluarga.
Tapi tetap saja dia sangat bersyukur karena kekerashatian cucunya, beliau bisa menemukan cucunya yang sudah lama hilang.
"Kamu pernah di lapangan?" tanya Ansel sambil geleng geleng kepala melihat Rihana.
Tubuh ringkih begini, komennya dalam hati.
"Kejam bosnya," komentar adiknya menghasut. Dia sama melirik abangnya penuh makna.
"Udah keluar aja. Ya, kan, bang Ansel," senyum licik Kirania terukir manis.
"Yes," sahut Ansel demgan smirkmya.
"Nggak! Enak aja," ketus Puspa jadi galak. Dia ngga akan melepaskan uanga taruhannya.
Ansel dan Kirania serentak terkekeh, tau isi pikiran sepupunya yang gila belanja.
Rihana menatap heran, kenapa Puspa tiba tiba naek darah sedangkan kedua sepupunya malah sudah cekikikan.
"Mau keluar kemana?" tanya seseorang dengan suara basnya.
"Bang Emir," sambut Puspa riang, karena abangnya yang muncul bersama kembarannya Emra.
Kedua kembaran itu tersenyum pada adik perempuannya sebelun beralih pada Kirania dan Ansel. Terakhir tersenyum hangat pada Rihana.
"Hai, panggil aku bang Emir. Ini bang Emra," kata Emir memperkenalkan diri.
"Mereka abangku," jelas Puspa membuat Rihana tersenyum agak lebar.
"Aku Rihana."
"Yes, Rihana Fazira. Kita pernah ketemu, kan. Sayang belum kenalan karena Oma pingsan. Ternyata malah sepupuan," tawa Emra setelah berkata panjang lebar.
Rihana dan yang lainnya termasuk opa dan omanya tergelak karenanya.
"Heboh banget," sapa seorang perempuan bersama seorang laki laki yang ngga beda usianya dengan si kembar memasuki tempat keramaian itu berada.
"Hai, aku Nidya. Ini abangku, Kalandra," sapa gadis cantik yang nampak angkuh itu.
"Rihana," kata Rihana kembali menyebutkan namanya.
Rihana kembali tersenyum. Menurut pikiranya, Kalandra yang paling tua di sini. Walau mereka terlihat sebaya.
"Jadi kamu pacarnya Alexander?' tanya Nidya penuh selidik.
"Nidya," ucap Oma Mien sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu patah hati, kak," ledek Ansel terkekeh.
Rihana mulai tegang.
Kenapa lagi lagi laki laki itu selalu membuat masalah. Kapan dia bisa tenang jika menyebutkan namanya saja bisa merubah suasana. Padahal dia ngga ada di sini, omel Rihana membatin kesal. Nama itu selalu membawa aura negatif buatnya.
"Dimaafkan. Karena kamu sepupuku, aku bakalan nyerah naksir Alexander," katanya dengan mengembangkan senyum hangatnya. Wajah sombongnya pun mencair.
"Tapi sungguhan kamu pacaran dengan Alexander?" Puspa bertanya kepo. Dia butuh jawaban langsung dari sepupunya.
Wajah Rihana merona, karena semua tatapan terfokus padanya. Termasuk oma.dan opanya. Semuanya terlihat ingin tau.
"Ya, kami baru baru ini dekat." Rihana seakan merasa sedang disidang.
"Jangan tegang, gitu, ah. Kita ngga gigit," kekeh Nidya mencairkan suasana.
Yang lain pun ikut terkekeh sambil menyimak.
"Sejak kapan?" kejar Puspa ngga puas akan dahaga keponya.
Rihana tersenyum canggung.
"Dulu kita teman waktu SMA. Setelah itu lost contact," jelas Rihana menggantung.
"Terus kalian ketemu di tempat kerja kamu?" tebak Nidya juga sangat ingin tau.
Ngga disangkanya Alexander sudah punya kekasih. Parasaan dia selalu terlihat dingin.
"Padahal dia, kan, baru pulang dari Inggris, ya," sambung Emra lagi. Berusaha menyambung benang cerita.
"Jadi kalian tetap saling cinta walau lost contact. Hebat!" seru Kirania memuji.
Manis sekali. Kasih, dong, satu yang kayak gini, teriak Kirania dalam hati.
"Apa dia memang setia selama ini," cibir Emra yang langsung mendapat delikan omanya.
"Ya ya Oma," senyum Emra melebar. Mengalah karena omanya pasti ngga ingin cucu yang baru beliau temukan jadi banyak pikiran.
"Sudah, ayo, kita sarapan," lerai Opa Airlangga memutus debat dan gelak tawa cucunya.
Hatinya senang. Kini formasi cucunya sudah lengkap.
"Siap Opa!" seru mereka sahut sahutan dan langsung duduk di meja makan. Menikmati sarapan istimewa dari omanya.
Suasana yang terasa akrab membuat Rihana ngga merasa canggung lagi. Apalagi dia pun sudah mengenal Puspa.
"Jadi kapan Puspa, kamu akan resign?" tanya Oma Mien ngga sabar.
"Rihana, kamu ntar ikut juga," sambung Oma Mien lagi.
"Bulan depan Oma," janji Puspa membuat kedua sepupu tengilnya sama sama tersenyum mengejek.
"Hemm... kelamaan. Gimana kalo Rihana yang langsung pindah," usul Opa Airlangga membuat wajah Puspa jadi manyun.
"Jangan Opa. Rihana biar nemenin aku sebulan. Iya Rihana ya," bujuk Puspa sambil mengedip ngedipkan matanya.
Rihana hanya tersenyum saja. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan temaan sekaligus sepupunya.
Apalagi melihat Ansel dan Kirania yang melebarkan senyumnya.
Kakak kembarnya hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Tentu saja mereka curiga melihat kelakuan Asel dan Kirania.
Pasti ada kesepakaran, decih keduanya dalam hati.