NOT Second Lead

NOT Second Lead
Patah hati?



Syukurlah Oma Mora hanya mengalami shock ringan. Kini beliau sudah sadar.


Opa Iskandardinata menggenggam tangan istrinya lembut.


"Lain kali sabar, sayang," senyumnya membuat Oma Mora menganggukkan kepala lemah.


"Maaf," lirih Oma Mora berucap. Di dalam juga sudah ada Oma Mien dan Opa Airlangga. Juga Rihana, Alexander, Daiva dan Xavi.


Kalandra dan yang lainnya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit setelah memberi keterangan di kantor polisi.


'Syukurlah kalian semua baik baik saja," ucap Opa Airlangga sambil menatap lembut istrinya yang masih belum melepaskan pelukannya pada Rihana.


'Rihana, kamu bikin jantung Oma mau copot."


Suara tawa pun menguar.


"Jangan salahkan Rihana. Aku yang salah," sela Oma Mora menjadi tameng buat Rihana. Matanya menghangat. Tadi mereka hampir saja terluka. Dan cucunya itu sebentar lagi akan menikah. Dirinya hampir saja menggagalkannya.


Kenapa dia terlalu egois dan menurutkan perasaan sedihnya, hanya karena sangat merindukan Aurora. Rihana hanya ingin membantunya, membuatnya lega setelah menuntaskan rasa rindunya pada Aurora. Tapi Aurora tetap ngga mau juga menemuinya.


"Sayang, maafin Oma, ya," ucap Oma Mora sambil menatap Rihana penuh rasa penyesalan.


"Aku yang salah, Oma. Aku ..... aku tadinya ingin mengobrol sebentar dengan Aurora," ucap Rihana terus terang.


"Kenapa?" tanya Oma Mien sambil melonggarkan pelukannya dan menatap lekat Rihana.


Begitu juga Alexander dan Xavi. Keduanya yang sudah tau kejahatan Aurora pada Rihana, merasa terkejut dan ngga terima mendengar kata kata Rihana.


Buat apa berbaik baik dengan orang yang selalu berlaku jahat padanya.


"Karena dia adikku, Oma," ucap Rihana membuat mata Oma Mora dan Opa Iskan berkabut.


Oma Mien pun kembali mendekap erat cucunya.


Dilara sayang, anakmu berhati malaikat. Sama seperti kamu.


Opa Airlangga pun mendekat dan ikut memeluk istri dan cucunya dengan perasaan haru.


Batin Alexander, Xavi dan Daiva bergetar. Mereka bertiga tau betapa dalamnya kebencian Aurora pada Rihana. Tapi Rihana sudah menganggap Aurora sebagai adik. Dan tadi, dia hampir saja meninggal. Mereka yakin kalo Aurora terlibat dalam kejahatan hari ini.


Dewan yang akan melangkah masuk, terhenti dan bersandar di dinding dekat pintu dengan kepala tengadah mendengar ucapan putrinya.


Matanya terpejam.


Dilara, putri kita baik sekali hatinya, batinnya sambil membayangkan Dilara yang selalu tersenyum malu malu padanya. Hatinya sangat merindukan gadis itu yang kini sudah tiada.


"Opa yakin, suatu saat kalian akan akur sebagai saudara, sayang," tutur Opa dengan suara bergetar.


Oma Mora sampai meneteskan air mata. Harapannya juga begitu. Di hari tua ini mereka ingin hidup tenang, damai dan bahagia bersama anak, menantu dan cucu.


*


*


*


"Ingat Zira, tolong jangan abaikan kata kataku. Ajak aku kemana pun kamu mau pergi," ucap Alexander saat mereka berdua saja di kantin rumah sakit.


Tadi Alexander memintanya menemaninya makan karena dia belum makan. Oma Mien pun mau melepasnya.


Sepanjang jalan tadi keduanya hanya diam saja. Alexander hanya merangkul bahunya.


Dada Alexander masih terasa sakit akibat detak jantungnya yang belum stabil akibat kejadian tadi.


Ponsel Rihana yang terlepas dari tangannya dan masih dalam keadaan on saat sedang menelpon Alexander waktu itu, membuatnya panik setengah mati.


Untung ada Xavi yang bisa menemani dan mengendarai mobilnya.


Sepanjang perjalanan Alexander semakin ngga tenang karena mendengar suara jerritan dan tembakan tiada henti.


Untungnya mereka datang tepat waktu dan membantu Kalandra yang ternyata sudah dibantu sekertarisnya.


Rihana yang akan menyuapkan makanannya lagi jadi berhenti.


Hatinya bergetar mendengar permintaan manis dari Alexander.


"Ya. Maaf, ya."


Alexander tersenyum sambil mengusap pipi kanannya.


"Ya."


Keduanya saling melempar senyum dan melanjutkan makan mereka lagi.


"Aku bisa mati kalo kamu kenapa napa," ucap Alexander lagi, sangat serius.


Rihana tertegun, ngga nyangka Alexander yang kaku bisa berkata seperti itu.


"Aku sangat mencintai kamu. Jangan bahayakan diri kamu seperti tadi, ya."


Rihana tersenyum dengan rona merah di pipinya.


"Iya... Maaf.... Terimakasih Alex," ucapnya dengan suara bergetar dan jantung berdebar lembut.


"Kalo bisa terbang, pasti aku akan lakukan," senyim Alexander membuat senyum Rihana pun tambah melebar dna pipi semakin merona.


I love you Alex. So much, batin Rihana saat mata mereka saling bertatapan. Lembut dan dalam.


Dulu waktu SMA juga mereka selalu begitu. Dengan saling melihat kedalaman mata masing masing, hati mereka sudah seakan disatukan.


"Ngga apa. Di sini saja," tukas Xavi ketika mereka sudah cukup jauh berjalan.


"Nanggung. Aku antar sampai parkiran. Kamu dijemput?" berondong Daiva bertanya.


"Iya. Sepertinya sudah menunggu di parkiran." Tadi dia sempat menelpon asisten.


"Aku akan mengantarmu ke sana," putus Daiva sambil terus melangkah.


"Oke," senyum Xavi melihat betapa keras kepalanya Daiva. Dia pun menjejeri langkah gadis cantik itu.


Dia melirik lagi. Xavi akui, gadis cantik dan seksi juga kaya raya bertebaran di mana mana. Apalagi dalam lingkunga pertemanannya. Tapi yang bersahaja dan sangat peduli sama orang lain, sangat jarang dia temui.


Daiva sangat mengusik hatinya. Mengganggu tidur dan etos kerjanya.


Tapi kenapa harus Daiva? Sesalnya dalam hati.


"Kenapa kamu ke rumah Oma?" tanya Daiva setelah mereka kembali terdiam.


"Oh.... Aku bermaksud mengantarkan gaun yang kupesan di butik untukmu. Tapi Oma Mien malah memberikan aku seragam keluarga," jelas Xavi kemudian tertawa kecil. Daiva juga ikut tertawa


Ada ada aja Oma Mien, batin Daiva ngga abis pikir.


Dalam hati dia bisa menarik kesimpulan kalo Oma Mien punya maksud tertentu padanya dan Xavi.


"Seandainya Aurora ngga membunuh Aiden."


DEG


Jantung Daiva berdetak keras. Dia menatap Xavi sambil terus melangkah mengikuti laki laki itu.


Apa maksudnya? hati Daiva jadi ngga tenang.


Apa dia juga merasakan yang aku rasa?


Xavi seolah ngga sadar diperhatikan Daiva. Cuitannya tadi keluar begitu saja.


Dia pun ngga berniat mengoreksi atau menambah lagi ucapannya. Xavi hanya ingin Daiva merasakan juga kegalauannya sekarang.


Mereka kembali melangkah dalam diam.


"Oke, itu jemputanku," ucapnya seraya berpaling pada Daiva.


"Hati hati."


"Ya."


Untuk sesaat keduanya saling bersitatap. Xavi langsung mengalihkannya dan melangkah ke arah mobilnya tanpa menoleh lagi pada Daiva.


Daiva bergeming dan terus menatap hingga mobil itu menjauh.


Ada yang luruh dan sakit dalam hatinya. Perasaan yang hendak mekar itu sudah layu sebelum keindahannya terlihat.


Daiva tau, pasti akan ada bayang bayang Aiden dan Aurora jika mereka memberanikan diri melangkah. Hubungan yang tercipta akan sangat lemah jika dilanjutkan. Seharusnya Daiva tau, perasaannya terlarang buat Xavi.


Tapi ada sedikit kebahagiaan saat merasa Xavi memiliki getar yang sama dengannya. Sayangnya ngga mungkin berlanjut ke jenjang yang lebih jauh lagi. Orang tua Xavi pasti masih membenci ke keluarganya.


Daiva masih teringat akan sikap kurang suka mama Xavi beberapa hari yang lalu saat mereka bertemu. Daiva menghela nafas panjang.


Ganjalan akan Aiden dan Aurora akan selalu ada jika dia tetap memaksakan hatinya untuk terus menyukai Xavi. Xavi pasti ngga akan mau menyakiti hati kedua orang tuanya hanya demi dirinya.


*


*


*


"Xavi dan Daiva?" Dewan menatap kepergian keduanya dengaj sorot ngga terbaca.


"Sepertinya Xavi menyukai Daiva. Tadi dia ke rumah karena tau Daiva akan ada di sana," sahut Oma Mien. Kemudian menceritakan tentang kedatangan Xavi.


"Daiva sepertinya juga menyukai Xavi," simpul Opa Iskan. Baru kali ini dia melihat cucunya yang satu itu terlihat salah tingkah bersama laki laki.


"Tapi pasti akan sulit," sambung Oma Mora sedih.


"Ya." Terdengar helaan nafas panjang. Masalah Aurora belum selesai. Kini ditambah dengan Daiva dan Xavi.


"Aku menyukai anak laki laki itu. Dia serasi dengan Daiva. Apalagi dia ikut membantu Alexander," imbuh Oma Mien sambil menatap wajah suaminya yang sedang merangkulnya.


"Agak berat sayang. Keluarga Xavi pasti butuh waktu untuk menerima Daiva," ucap Opa Airlangga yang disetujui para sepuh itu dalam hati.


Dewan menatap ke arah luar.


Mereka memang serasi, batinnya sedih.


Hendy pasti ngga bisa terima ini. Apalagi istrinya baru sembuh dari koma, lanjutnya membatin.


Apalagi istrinya melalui pengacaranya sibuk membuka aib Aiden agar Aurora bisa dibebaskan.


Dewan pun ingin agar putrinya bebas dan mengukir lembaran baru. Dia akan memfasilitasinya. Tapi ngga dengan cara yang dipergunakan istrinya. Hanya saja dia belum tau alternatif lain agar Aurora cepat keluar dari penjara.


Dewan terlalu malu untuk memohon pada Hendy agar menarik tuntutannya. Tapi dia pun ngga tega melihat Aurora masih di dalam jeruji. Putrinya pun dalam keadaan hamil anak Aiden.


Berkali kali Dewan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perasaan gusar.


Dia yakin, Hendy dan istrinya ngga akan membiarkan Xavi bersama Daiva. Sangat yakin.