
Rihana merasa kepalanya pusing saat dia baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Bahkan kini dia terduduk di lantai dengan tangan memijat kepalanya perlahan. Matanya pun terpejam menahan sakit.
Beberapa menit kemudian sakitnya pun berkurang. Rihana melangkah pelan ke tempat tidurnya.
Mungkin dia kurang isirahat beberapa hari ini, pikirnya ringan.
Kedua alisnya menyatu melihat warna lebam kebiruan campur ungu di lengan kanannya.
Apa terbentur waktu di lapangan, ya? batinnya lagi.
Tapi seingatnya dia ngga pernah menyenggol apa pun.
Tanpa mau berpikir panjang lagi, Rihana pun memejamkan matanya.
*
*
*
Kembali pagi ini Alexander menunggunya di basemen. Puapa pun meninggalkan mereka berdua sambil tersenyum.
"Kamu pindah kost?" tanya Alexander langsung.
"Kamu tau dari mana?" Rihana balik bertanya.
"Tadi aku ke kost kamu. Kata ibu kost kamu udah pindah ke tempat keluarga kamu," kata Alexander sambil menatap Rihana tajam. Menuntut jawaban. Dalam hati kesal karena gadis itu ngga memberitaunya.
"Iya."
"Kenapa ngga cerita?" kesal Alexander tertumpahkan
"Maaf. Lupa."
Alexander menghembuskan nafas sambil menatap ke arah lain. Mencoba membuang kemarahannya jauh jauh.
Keduanya sempat terdiam.
"Lengan kamu kenapa?" tanya Alexander cemas saat melihat lebam di lengan kanannya.
"Mungkin kebentur."
Alexander meraihnya dan memijatnya lembut.
"Sakit?" tanyanya lembut.
"Sedikit." Wajah Rihana merona ditatap lekat Alexander.
"Hati hati," senyum laki laki tampan itu tersungging manis. Kemarahannya udah lenyap. Sejak dulu dia ngga bisa lama lama marah dengan Rihana.
"Iya."
"Nanti malam jadi, ya," ucap Alexander meminta kepastian.
"Habis makan siang aku kabari. Siapa tau ada lembur mendadak lagi."
Alexander kembali menghembuskan nafas panjang. Awalnya dia mengira lembur itu rencana papanya dan Om Dewan. Tapi ternyata tidak. Kebetulan ada klien yang mendadak minta kerja sama dipercepat.
"Nanti siang aku ngga bisa ngajak kamu makan siang bersama. Ada meeting sama klien," ucap Alexander dengan raut wajah menyesal.
"Malamnya, kan, kita ketemu," kata Rihana berusaha menghibur hati Alexander.
"Jadi ntar malam, ya," ucap Alexander dengan senyum merekah.
"Semoga," jawab Rihana ngga yakin.
"Ayo, aku antar," katanya sambil menggandeng Rihana.
"Ngga usah," tolak Rihana membuat Alexander kembali tersenyum jahil.
"Mau digandeng atau digendong?"
Huufffftt
Akhirnya Rihana terpaksa menurut.
Lagi lagi mereka bertemu dengan Om Dewan dan Aurora.
"Om," sapa Alexander ramah.
Om Dewan hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan langkahnya. Begitu juga Aurora.
Rihana agak merasa deg degan juga.
Semoga dia ngga ditaruh di lapangan lagi, do'a Rihana dalam hati.
"Kamu takut?" tanya Alexander seolah bisa merasakan kecemasan Rihana.
"Sedikit."
"Keluar aja dari sini. Jadi aspriku."
"Masih berlaku?" canda Rihana.
"Buat kamu ngga ada limitnya. Kapan aja pasti diterima," kekeh Alexander membuat Rihana juga ikut tertawa pelan.
Tapi suara tawa itu sampai juga di telinga Aurora.
Hatinya sakit. Tawa itu harusnya saat Alexander bersamanya. Bukan dengan gadis yang levelnya jauh di bawahnya.
Melihat wajah keruh anaknya membuat hati Dewan ngga nyaman. Aurora jarang bercerita tentang kegundahannya. Dalam hatinya Dewan akan melakukan sesuatu agar Alexander hanya menjadi milik putrinya lagi.
*
*
*
"Rihana, antar laporan ini ke tempat Pak Dewan, ya," ucap Zerina setelah memeriksa map map yang dibawa Rihana.
Kenapa harus saya bu? protes Rihana dalam hati. Dia enggan harus berinteraksi langsung dengan papanya.
"Harus segera ditandatangi. Kebetulan Pak Dewan ada di ruangannya. Saya harus ketemu Bu Daiva," kata Zerina seolah ngga paham dengan kalimat protes yang berjejal dalam matanya.
"I iya bu," agak gagap Rihana menjawab.
Zerina yang sudah berdiri di sampingnya, mulai merasa kalo Rihana ngga nyaman jika bertemu bos besar mereka.
"Kalo kamu ngga nyaman, saya suruh Winta aja. Cuma saya lebih suka kamu karena kamu sangat menguasai materinya," kata Zerina memberikan alternatifnya.
Rihana tersenyum, berusaha menutupi kegelisahannya.
"Ngga apa, bu. Saya saja."
Zerina juga balas tersenyum. Lebih hangat.
Rihana hampir berjengit mendengarnya.
Benarkah? Kenapa papanya malah ngga sadar?
"Saya serius. Oh ya, saya jadi pengen tau, kamu kenal Pak Alexander sejak kapan?"
"Kami berteman sejak SMA. Pak Herdin juga."
"Wow, keren banget. Terus kalian jadian?" kejar Zerina penuh kagum.
Pasti sangat menyenangkan, batinnya sedikit iri.
Rihana tersenyum malu.
"Belum. Pak Alexander melanjutkan kuliah ke Inggris. Saya pindah ke Jogja setelah lulus kuliah. Kami sempat lost contact. Nggak sengaja ketemu di sini," cerita Rihana jujur.
"Ooo... Kamu manggilnya kaku banget. Pak, gitu. Biasa nama aja, kan," tebak Zerina terkekeh
Rihana lagi lagi tersenyum malu. Wajahnya merona.
'Kalo begitu kamu ngga salah. Kamu ngga usah takut. Kamu juga cantik," kata Zerina membesarkan hati Rihana.
"Ya udah, ayo, kita pergi," ajaj Zerina sambil berjalan di depan.
"Iya bu." Rihana pun mengikuti Zerina.
Akhirnya sampai juga Rihana di depan pintu ruangan papanya.
Sekertaris papanya, Bu Tika sudah memberitahu bosnya kalo Rihana sudah datang.
Saat memasuki ruangan papanya, kembali perasaan sedih menyelimuti dadanya.
Harus kuat. Harus kuat, batinnya berulang ulang.
Papanya masih sibuk dengan laporannya sampai Rihana mendekat.
"Ini laporannya, Pak," kata Rihana sambil tetap memeluk map map itu.
Darahnya berdesir saat papanya mengangkat wajahnya dan menatapnya lekat.
"Taruh aja di sini," kata Dewan tenang.
Rihana dengan patuh menaruh map map yang tadi dipeluknya.
"Sa saya permisi," pamitnya sambil menunduk. Dia ngga mau menatap mata papanya. Takutnya perasaan marahnya akan terlihat jelas.
Walaupun sudah susah payah membayangkan wajah Ibu Saras, tetap saja yang hadir di pelupuk matamya saat mamanya menangis kala melihat laki laki ini sedang menggendong anak perempuan kecilnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Dewan bertanya, kembali memperhatikan gadis itu yang hanya menunduk.
"Ya pak."
"Duduklah."
Rihana menurut.
"Bisakah saya meminta agar kamu menjauhi Alexander?" ucapnya terus memperhatikan wajah Rihana yang masih menunduk.
"Jangan lihat saya, sebagai bos kamu. Tapi tolong lihat saya sebagai seorang ayah," katanya lagi.
Wajah Rihana reflek terangkat ke atas.
Matanya berubah setajam elang menyambar mata papanya
Aku juga putrimu yang sidah disia siakan oleh mu, ketus Rihana dalam hati.
Dewan tersentak. Dia mendapati lagi tatapan penuh kemarahan itu. Kali ini bahkan sangat jelas. Sesaat dia merasa seperti tertuduh yang sudah melakukan kejahatan yang sangat besar.
"Maaf, saya ngga bisa," tolak Rihana langsung. Akal sehatnya sirna, dia.lupa kalo sedang berbicara dengan bosnya.
Rihana langsung bangkit dari duduknya.
Perasaan terbuang dan ngga dianggap membuat hatinya mendadak sakit.
Rihana sesekali ingin jadi mainlead di hati papanya. Walaupun dia ngga tau kebenarannya. Jangan meminta lagi, padahal dia ngga pernah memberikan apa pun padanya. Hati Rihana sangat terluka.
Pintu ruangan terbuka membuat langkahnya terhenti.
Seorang pria yang seumuran dengan Opanya muncul.
"Papa," panggil Dewan sambil menyambut papanya.
Papanya ngga menjawab. Tapi dia beradu pandang dengan mata yang mulai berkaca kaca. Laki laki itu sedikit termangu.
Sementara Rihana kaget. Ngga nyangka dia melihat Opa Iskan dalam jarak dekat.
Tapi dia tersadar sudah bertindak ngga sopan karena berani menatap lama papa dari bosnya.
Rihana menganggukkan kepalanya sebelum pergi.
Opa Iskan maaih terdiam. Tapi matanya masih menatap kepergian Rihana.
Aku kenapa? Rasanya aku ingin dekat dengannya, batinnya bingung.
"Pa," panggil.Dewan menyadarkannya.
"Papa merasa gadis itu cukup mirip denganmu. Aneh, kan," senyum Opa Iskan sambil menepuk bahu putranya.
Dewan hanya tertawa mendengarnya.
"Dia seperti ingin menangis. Kamu memarahinya?" tuduh Opa Iskan sambil berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
"Aku memintanya menjauhi Alexander."
"Gadis itu pacarnya Alexander? Bukan Aurora?" Kali ini Opa Islan ngga bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
Bukannya selama di Inggris, keduanya sangat dekat.
"Sekarang Alexander lagi dekat dengannya. Katanya dulu mereka teman SMA," jelas Dewan sambil duduk di samping papanya.
"Aurora jadinya gimana?" tanya Opa Iskan jadi kesal.
"Alexander hanya menganggap Aurora sebagai adiknya saja."
Hampir saja Opa Iskan berteriak lagi. Sungguh di luar nalarnya. Alexander menolak Aurora demi gadia yang baru bekerja di perusahaan mereka.
Tapi sejujurnya tadi hatinya sempat bergetar saat beradu tatap dengan gadis tadi. Seperti ada sesuatu, tapi sukar untuk dijelaskan dengan kata kata.
Yang pasti, tadi di hati Opa Iskan sempat terbit rasa sayang saat awal melihat Rihana.
Tapi mengetahui cucunya bakal bersedih, beliau akan membuang begitu saja perasaan sentimentil ini.