NOT Second Lead

NOT Second Lead
Terguncang



Dewan tergugu. Dia mengamuk. Segala berkas di mejanya sudah berjatuhan di lantai.


Putrinya ternyata berada di dekatnya.


Putrinya! teriaknya menggema dalam hati


Dewan baru menyadari arti tatapan pertama dan terakhir yang Rihana layangkan padanya. Sikap gadis itu yang aneh saat melihatnya. Dan wajah yang seperti habis menangis.


Dia tau aku papanya?


Mengapa dia ngga mengatakannya?


Pasti dia sangat sedih karena aku ngga mengenalinya.


BUGGHH!


Kembali Dewan memukul meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati. Buku buku jarinya sudah memerah. Bahkan sampai ada yang berdarah tapi ngga dia rasakan.


Hatinya yang sudah berdarah darah dan berdenyut sakit.


Pantas Dewan selalu merasa dihakimi tiap mendapat tatapan itu. Dialah laki laki ngga bertanggung jawab, menelantarkan putri dan mamanya. Mereka mungkin hidup menderita selama ini, sedangkan dia hidup dalam kemewahan.


*Rihana pasti sangat membencinya.


Apakah Dilara juga membencinya?


Apakah Dilara ngga pernah mencarinya*?


Bamyak pertanyaan yang berputar putar dalam hatinya.


Tapi dia jarang pulang lama. Karena setahun sekali dia pulang sebentar hanya untuk mencari Dilara. Menunggu di tempat perjanjian mereka dulu. Kafe di depan kampus mereka. Hanya waktu Aurora berumur tiga tahun, dia cukup lama menetap di rumah orang tuanya.


Hati Dewan menangis.


Tenyata gadis itu Dilara. Kenapa mereka ngga saling kenal padahal papa mama mereka sudah bersahabat lama.


Dewan mengutuki kebodohan hakikinya.


Padahal Dewan sesekali pernah mendengar keluhan dan kekhawatiran papanya tentang putri sahabatnya yang menghilang dan belum ditemukan.


Tapi dia no respect. Sama sekali ngga mau lihat foto putri Om Airlangga. Jika saja dia sudah melihatnya sejak dulu, mungkin akan lebih mudah bekerja sama. Walaupun di awal pastinya dia akan dihajar ketiga kakak laki laki Dilara.


Tapi dia ngga akan dipaksa untuk dinikahkan. Dewan menyesali nasibnya.


Kenyataannya dia menikah karena paksaan mama papanya Tapi dia tetap ngga peduli. Rumah tangga mereka sangat dingin. Itu karena Dewan selalu memikirkan Dilara.


Dia terus mencari gadis itu yang menghilang dengan membawa serta anak mereka. Ternyata anak mereka perempuan juga. Sangat cantik seperti Aurora. Dewan tersenyum getir.


Ya, Aurora tempatnya menumpahkan segala kasih sayangnya karena merindukan gadis itu dan putrinya.


Ternyata gadis itu Dilara. Dan dia sudah meninggal. Tapi Dewan belum meminta maaf padanya.


Mata Dewan kembali terpejam.


Bagaimana hidup mereka?


Bagaimana keadaan putrinya setelah mamanya meninggal?


Apa mereka ngga punya uang untuk berobat?


Pertanyaan pertanyaan itu membuat jantungnya seakan makin direm@s sangat kuat dengan tangan tangan yang ngga terlihat.


Mendadak ponselnya berbunyi.


Alexander?


Dia segera mengangkatnya.


"Kenapa kamu susah sekali dihubungi!" bentaknya marah. Kekalutannya malah dia tumpahkan pada Alexander.


Hening. Mungkin Alexander terkejut. Dia ngga pernah marah padanya.


"Ma maaf, Om. Batre hp ku lowbat. Ada apa Om menelponku?"


Dewan menghela nafas. Menenangkan emosinya. Alexander ngga pantas jadi tempat buangan kemarahannya.


"Maaf, Om emosi."


"Ngga apa, Om."


"Rihana di rumah sakit. Cepatlah ke sana. Dia membutuhkanmu," kata Dewan lancar sambil menyebutkan nama rumah sakit tempat Rihana di rawat.


Dewan menatap lagi foto foto yang dikirimkan papanya. Dia menatap lama pada foto terakhir, saat Rihana kecil sedang bersama mamanya, Dilara, gadis yang selalu dia cari sampai sekarang.Tapi sekarang dia sudah tiada.


Akhirnya kamu ketemu juga.


Putri kita sangat cantik, Dilara. Kecantikan kamu menurun padanya..Harusnya aku sadar begitu melihatnya. Padahal hatiku terusik karenanya. Tapi keegoisanku membuat aku hampir mencelakakan putri kita.


Dewan mengusap air matanya. Hatinya bagai diketok dengan palu. Berulang ulang sampai hancur dan menyisakan luka yang dalam.


"Papa mendukungmu dengan Alexander. Maafkan, Papa. Dilara, maafkan aku," gumamnya dalam kepedihan yang nyata. Perih, hancur, merasa ngga berguna. Itulah yang dia rasakan sekarang.


Dia pun mendorong kursinya dengan kasar ke belakang. Bangkit dan berjalan dengan tergesa gesa.


"Batalkan semua agenda meeting hari ini," tukasnya ketika berpapasan dengan Tika, sekertarisnya.


"Tapi, Pak," kata sekertarisnya terkejut mau membantah.


Dewa hanya melambaikan tangannya sambil terus berjalan. Dia buru buru. Ada yang harus dia selesaikan.


*


*


*


Alexander buru buru menyimpan ponselnya ke.saku dna bergegas pergi. Kekalutan memenuhi pikirannya.


"Kemana?" tanya Herdin heran dan menjejeri langkahnya.


"Zira di rumah sakit. Tadi Om Dewan ngasih tau."


"Om.Dewan?" Kening Herdin berkerut.


"Iya. Om Dewan menelponku berkali kali. Rupanya mau mengabarkan keadaan Zira."


Ngga disangka, Om Dewan memberitaunya. Sayangnya batrenya lowbat.


Apa Om Dewan sudah bisa menerima hubungan mereka?


Pantas saja hatinya ngga tenang sejak tadi. Rihana sakit rupanya.


Tapi sakit apa?


"Biar aku saja yang nyetir," kata Herdin meraih kunci di tangan Alexander yang nampak melamun.


"Oh, eh, oke. Thank's," ucap Alexander tersadar.


Pikirannya lagi ngga nyatu dengan badannya. Dia memang butuh Herdin buat jadi supirnya saat ini. Bisa saja dia ngga hati hati dan malah ada apa apa di jalan.


"Tenanglah. Rihana pasti baik baik saja," kata Herdin sambil membuka pintu mobil. Membantu membuang jauh pikiran buruk Rihana.


"Aku harap begitu."


Harapannya. Semoga semesta ngga mempersulit mereka lagi untuk bersama.


Mobil melaju dalam diam. Alexander membaca lagi pesan yang ngga sempat dibacanya tadi karena lowbat.


Rupanya Zira mengganti tempat pertemuan mereka.


Dia merasa sedikit aneh dengan alamat yang Ziea berikan padanya. Itu kompleks sultan.


Keluarga mamanya tinggal di sana?


Seingatnya kompleks yang terdiri atas rumah rumah dengan arsiteltur mewah tingkat tinggi itu merupakan tempat tinggal beberapa konglomerat. Salah satunya Opa Airlangga.


Alexander pernah ke sana bersama opa dan omanya dulu, sewaktu dia masih SMA.


Salah satunya ternyata rumah keluarga mama Rihana? Siapa ya?


Hati Alexander sangat penasaran.


Herdin sesekali melirik Alexander yang ngga tenang. Dalam hati Herdin juga kepikiran, kenapa Rihana ada di rumah sakit.


Dan anehnya sekarang sepertinya Om Dewan sudah mendukung hubungan Alexandrer dengan Rihana


Apa kesempatannya sudah terbuka lagi untuk mendekati Aurora.


Tapi reflek Herdin menggelengkan kepalanya. Mengingat gadis itu yang selalu mengacuhkannya Dia kembali mengingatkan hatinya agar ngga terjerumus dalan sakit yang sama lagi. Dia harus move on.