
Malamnya Daiva ngga tenang. Dia memutuskan mengunjungi Zerina. Dia merasa kalo temannya itu serius ingin mengundurkan diri. Daiva hanya ingin tau alasannya. Kalo hanya masalah gaji, Daiva yang akan langsung meminta staf keuangan untuk menaikkkan gajinya. Kalo perlu dikasih bonus agar Zerina ngga berhenti.
Daiva heran melihat pintu aparteman Zerina yang sedikit terbuka. Dengan pelan dia mendorongnya dan menatap sekitarnya.
Tapi wajah Daiva berubah panik melihat Zerina yang terduduk di lantai dengan wajah meringis kesakitan. Kedua tangannya memegang perutnya.
"Zerina! Kamu kenapa?" seru Daiva sambil mendekatinya. Di sekitar perempuan itu ada beberapa buah tas koper.
"Daiva," panggil Zerina pelan setelah membuka matanya.
"Sebentar, aku cari bantuan dulu."
Daiva kembali keluar apartemen. Dia akan mencari sekuriti yang akan menolong membawa Zerin ke rumah sakit.
Tumben, apartemen ini sepi, makinya dalam hati. Tapi matanya sedikit berbinar melihat seorang laki laki muda yang sedang berjalan mendekat.
"Heeyy! Tolong aku," serunya sambil mendekati laki laki itu dengan terburu buru dan langsung menyeretnya memasuki kamar Zerina tanpa mempedulikan protesnya.
"Kamu gila ya!," potes laki laki itu marah.
Andai saja dalam keadaan normal, Daiva akan mengkick mulut laki laki yang sudah mengatainya gila
"Temanku butuh bantuan," sentaknya kesal. Jauh sekali dari permintaan seseorang yang butuh pertolongan.
Terdengar gumaman kesal tapi Daiva ngga mempedulikannya.
Tapi laki laki itu bersikap aneh saat melihat Zerina.
"Kamu kenapa?!" tanyanya berubah panik.
"Kamu kenal?" tanya Daiva heran
Laki laki itu ngga mempedulikannya. Dia segera mendekat dan mengangkat tubuh Zerina yang sedang menatap laki laki itu ngga percaya.
"Xavi..." suara Zerina terdengar pelan saat memangggil.
Kekasih Zerina? batin Daiva menebak.
Tapi kemudian dia mengikuti langkah laki laki itu setelah menutup pintu apartemen.
Daiva terus mengikuti langkah kaki laki laki itu menuju basemen tanpa berucap kata pun. Hanya saja dia cukup terkejut melihat Diava ikut masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu ngapain?" tanyanya sambil memakai seatbeltnya. Tidak melarang
"Dia teman kerjaku. Aku harus tau keadaan dia gimana," jelas Daiva sambil duduk di samping laki laki itu dan mengenakan seatbeltnya.
Laki laki itu yang ternyata Xavi ngga memberikannya pertanyaan lagi. Fokusnya membawa kekasih adik kembarnya ke rumah sakit. Ngga disangka apartemen Zerina satu lantai.dengan apartemen miliknya.
Begitu sampai di rumah sakit, tim medis yang sudah dihubungi Xavi sudah menunggu dan melakukan penanganan dengan sangat cepat.
Kini keduanya menunggu dalam diam. Sampai kemudian Daiva ngga sadar, kapan Xavi pergi membeli kopi dan mengulurkan padanya.
"Minumlah."
"Makasih," kata Daiva yang kini baru memperhatikan wajah Xavi lekat lekat. Rasanya seperti pernah lihat. Tapi Daiva lupa di mana.
"Kamu mengenal temanku?" tanya Daiva mengalihkan tatapannya pada gelas kopi. Dadanya agak berdebar saat mata yang ditatapnya menyorot sangat tajam.
"Ya," sahut Xavi setelah menyesap kopinya
"Kamu sendiri?" tanya Xavi sambil menoleh padanya.
"Teman kerja."
"Oo."
Ngga lama kemudian seorang dokter keluar.
"Bisa bicara dengan suaminya?"
DEG
Keduanya saling pandang.
"Suaminya lagi dinas luar kota, dok. Tapi kami masih keluarganya," jawab Daiva cepat dan Xavi juga bereaksi serius agar dokter itu percaya.
"Oh, kalian bisa ikut ke ruangan saya," kata Dokter perempuan empat puluhan itu membuat Daiva dan Xavi mengikutinya.
"Saudara kalian kelelahan. Untung saja kandungannya baik baik saja," jelas dokter tenang.
"Hamil?" sergah Daiva dan Xavi bersamaan. Kemudian sama menutup mulut mereka
"Jadi kalian belum tau?"
Serentak keduanya menggeleng.
"Karena sudah tau, tolong ingatkan dia untuk beristirahat. Kandungannya cukup lemah," sambung dokter itu lagi.
"Baiklah. Terimakasih, dok. Bisa kami menemuinya?" tanya Daiva sudah ngga sabar untuk tau siapa ayah dari janin yang berada dalam kandungan Zerina. Dia hanya sempat mendengar desas desus kalo Zerina punya pacar yang sangat tampan.
"Tentu bisa. Silahkan."
"Makasih, dokter," pamit keduanya bersamaan dan pergi dengan langkah cepat ke kamar perawatan Zerina.
Di benak Xavi sibuk menduga, kalo janin itu milik Aiden.
Dalam waktu berdekatan ada dua perempuan yang hamil anaknya? Batin Xavi ngga abis pikir dengan kelakuan adiknya. Wajarnya gelar penjahat kelamin diberikan padanya.
Tapi setidaknya Xavi cukup lega, karena dia lebih suka mengakui anak Zerina sebagai ponakannya dari pada anak Aurora. Orang tuanya pasti begitu juga.
Ternyata Zerina sudah sadar saat Daiva dan Xavi memasuki ruangannya.
"Dai, terimakasih," ucapnya dengan suara menahan tangis. Hampir saja dia kehilangan kenangan terakhirnya dengan Aiden.
"Sama sama," balas Daiva lembut.
"Ini anak Aiden?" tanya Xavi tanpa basa basi.
Zerina terdiam, dia melirik Daiva sebentar.
"Dia kembaran Aiden?" Daiva menatap Zerina dan Xavi bergantian.
Pantaslah dia seperti pernah melihatnya, batinnya mulai yakin.
"Iya," sahut Zerina yang ngga mau menyembunyikan apa pun lagi. Dia sudah lelah. Dicampakkan Aiden, hamil anak laki laki itu dan kedepannya dia ngga tau bagaimana nanti hidupnya.
Gila, bagaimana bisa? Aiden mengencani dua perempuan sekaligus? Bahkan mereka sama sama hamil, batin Daiva panik.
Daiva ngga mengerti apa yang dicari Aiden. Kalo dia memang mencintai Aurora sampai harus tiada di tangan sepupunya itu,q kenapa dia juga harus menghamili Zerina.
"Aku dan Aiden sudah lama berpacaran. Tapi dia membuangku demi Aurota," ungkap Zerina pahit. Hatinya berdenyut sakit.
Daiva terdiam. Dia merasa bersalah.
"Karena itu kamu ingin berhenti?"
"Ya. Aku ingin pergi sejauh mungkin untuk melupakan segalanya. Hidup berdua saja dengan anakku," ucap Zerina dengan suara bergetar menahan isaknya.
"Kamu ngga perlu pergi. Aku yang akan mengurusmu selama hamil."
"Kamu hanya temannya. Aku dan keluargaku yang lebih berhak merawatnya. Dia mengandung anak adik kembarku," potong Xavi tegas, memutus bincang bincang kedua perempuan di depannya.
Daiva menatap laki laki di depannya dengan tajam yang juga dibalas laki laki itu.
"Oke, oke. Aku terserah kamu saja, Zerina."
Zerina terdiam. Dia bingung. Apartemennya sudah dia jual karena berpikir akan meninggalkannya.
"Kamu harus banyak istirahat. Kandunganmu lemah," lanjut Daiva lagi.
"Benarkah?" Zerina tambah sedih mendengarnya.
Daiva hanya menganggukkan kepalanya.
"Urungkan niatmu untuk pindah."
"Tapi... aku sudah menjual apartemenku," tukas Zerina bingung.
"Kamu bisa menempati apartemenku," sela Xavi yang seolah ngga dilibatkan dalam obrolan ini.
"Kita hanya beda dua unit saja di lantai yang sama," sambung Xavi lagi.
"Syukurlah, Zerin. Sebaiknya kamu terima saja tawarannya," tegas Daiva saat Zerina menatapnya seakan minta pendapatnya.
"Sementara kamu cuti saja dulu. Aku yang akan mengurusnya," kata Daiva lagi dengan senyum tulus di wajahnya.
"Dai, terima kasih," ucap Zerina dengan mata berkaca kaca. Dia meraih tangan ponakan bosnya dan menggenggamnya erat.
"Lebih baik kamu istirahat. Kami akan membereskan apartemenmu," kata Xavi membuat Daiva menoleh.
Dia dilibatkan? decihnya dalam hati.
"Aku.sudah membereskan semua barangku. Ada enam koper, maaf," tukas Zerina lirih.
Daiva tersenyum lembut sambil menganggukkan kepalanya.
Pasti berat beban yang Zerina pikul saat ini, batinnya sedih.
*
*
*
"Alexander, itu bukan anak Aurora, kan?" todong Opa Iskan saat Alexander mengantar Rihana ke rumah Opa Airlangga.
Para sesepuh tua itu sedang berkumpul, akibat cuitan Aurora yang sudah menjadi viral di mana mana. Di TV nasional maupun di sosial media.
"Aku ngga pernah meniduri perempuan mana pun, Opa," jawab Alexamder tegas sambil melirik Rihana yang betah duduk di sampingnya.
Rihana masih menggenggam tangan Alexander, seolah menguatkannya menghadapi pengadilan keluarga besarnya.
Opa Iskan menatap tajam. Seolah ngga percaya dengan pernyataan Alexander.
"Aku percaya kalo Alex berkata jujur, Opa," sela Emra. Dia cukup mengenal Alexander.
"Aku juga. Dia beda dengan Daniel," sambung Emir sambil menyebut nama kakak kedua Alexander.
"Lagi pula, setelah beberapa hari Alex di sini, dia bertemu Rihana. Seharusnya yang hamil Rihana, bukan Aurora," timpal Ansel membuat beberapa pasang mata tua itu menatap kesal pada Ansel yang berkata sedikit kurang ajar. Walaupun ada benarnya.
Emra menahan tawanya, takut para opa mereka naek darah.
Akbar hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan putranya yang selalu frontal.
Opa Airlangga menghela nafas panjang.
"Sudah jelas itu anak Aiden. Aku yakin banget. Kalo itu anak Alexander, pasti Aurora sudah mengatakannya. Ngga mungkin sengaja menimbulkan polemik begini," pungkas Kalandra yakin.
"Aku juga setuju dengan perkataan cucu cucuku. Maaf Iskan, sepertinya Auora sengaja agar pernikahan Alexander dan Rihana di tunda, bahkan batal," tandas Opa Airlangga sambil menatap sahabatnya yang masih diam terpaku. Seolah sedamg berpikir.
Hening.
Bahkan papa Ansel memberikannya isyarat agar menutup mulut ketika Ansel putranya ingin buka suara.
"Aku rasa mungkin benar yang dikatakan Airlangga," ucap Oma Mora sambil menatap suaminya. Walau hatinya sakit, dia terpaksa mengakuinya.
Jika memang anak Alexander, kenapa Aurora ngga langsung mengatakan apa adanya di IG nya, batin Oma Mora ngga abis pikir dengan kelakuan cucunya.
Opa Iskandardinata menghela nafasnya berkali kali. Rasanya apa yang dikatakan mereka benar semua.
Kenapa Aurora jadi seperti ini? batinnya sedih. Aurora bahkan menolak bertemu dengannya dan istrinya. Semakin membuat hati tuanya kecewa.
"Rihana aja yakin Alex ngga menghamili Aurora. Kenapa kita ngga bisa percaya," tukas Oma Mien menahan perasaan kesalnya.
Kenapa saudara tiri Rihana selalu saja berulah dan menggunakan sosial media hingga menjadi isu nasional.
Itu sama saja memalukan keluarganya sendiri, omel Oma Mien tanpa henti dalam hati.