
"Cieee... Yang bakalan nyusul," ledek Puspa sang pengantin yang sedang dirangkul Herdin.
"Cie..... Yang udah resmi," ganti Emra meledek dan tergelak.
Tawa pun semakin pecah.
"Akhirnya adikku bisa menikah juga," sindir Emir sambil melirik Alexander yang tetap tenang dan menampilkan wajah tanpa dosanya.
"Bukan salahku," sangkal Rihana sambil mencebikkan bibirnya ke arah Alexander.
"Tentu my cousin," sahut Emir cepat dengan senyum tipisnya.
Laki laki tampan itu tertawa pelan sambil mengusap lembut bibir manja istrinya.
"Maaf," bujuknya lembut
'Hemm....," manyun Rihana. Masih teringat Alexander memundurkan kepulangan mereka tiga hari lagi. Puspa sampai was.was mendengar kabar penundaan kepulangan darinya.
"Tapi serius, kan, cuma tiga hari?" tanya Puspa waktu itu.
'Iya. Serius. Kamu tenang aja, aku pasti pulang sebelum resepsi," janji Rihana berusaha menenangkan hati sepupunya.
Masa karena dia, pernikahan sepupunya jadi tertunda. Padahal Puspa menikah dengan Herdin, sahabat Alexander juga. Tapi suaminya itu sama sekali ngga ada rasa kasiannya, hingga membuat hatinya semakin gemas, pengen nyubit lengan Alex sampai matang biru, agar cepat disadarkan dari keegoisannya.
"Tapi aku senang sekali kamu sudah hamil," tukas Puspa dengan mata berbinar.
"Semoga cepat menyusul," do'a Rihana tulus.
'Aku pasti akan berusaha keras," canda Herdin menyela. Kemudian suara tawa riang kembali terdengar.
"Kamu sudah tobat dan memilih bersama Kiara?" tanya Emir menatap kembarannya penuh selidik. Dia merasa sikap sepupunya ada yang janggal. Ngga lepas seperti biasa.
"Entahlah," jawab Emra tak semangat. Dia masih dongkol memikirkan nilai jualnya yang sangat rendah.
"Emra belum jelas kalo gitu. Kita duluan, ya, yang," sela Ansel sambil menjawil pipi Nayara yang langsung merona.
Nayara jadi malu dan salah tingkah karena sekarang dia sedang berkumpul di tengah tengah keluarga Ansel.
"Yakin, kan, dengan pilihan Opa," ledek Oma Mien yang tambah membuat riuh.
"Seribu persen oma," kekeh Ansel.
Nayara semakin menunduk karena malu.
"Tenang, kak, aku yang akan mengawasinya. Kalo gatalnya kumat, putusin aja," kompor Kirania menyelutuk.
Ansel ngga marah, tetap bertahan dengan kekehannya. Dia sudah tau kalo Kirania akan menjadi pembela Nayara.
"Jangan diputusin. Dimiskinkan saja," ejek Emra. Ngga kebayang sepupu hedonnya hidup tanpa kartu kartu sakti miliknya.
"Ya, ngga apa apa. Asal Nayq masih mau saja sama laki laki miskin tapi ganteng," kekehnya sambil menatap wajah tersipu calon istri yang dicarikan opanya.
"Ganteng cap buaya," dengus Kirania mencela.
"Buaya muara," sambung Emir.
"Buaya darat kali," lanjut Emra memperbaiki.
Kembali tawa terdengar heboh. Suasana foto keluarga terasa hangat dan dekat.
"Nih, ada yang ketinggalan," celutuk Kalandra membuat perhatian mereka teralihkan.
"Laki laki itu menggandeng Kiara yang tampak ragu mendekati Emra.
"Pasanganmu," bisiknya kesal lagi sambil melepaskan gandengannya pada Kiara. Dan menarik tangan Adriana yang berdiri di dekat Emra.
Emra hanya nyengir. Tapi sorot matanya masih terlihat ngga terima saat bersitatap dengan Kiara.
Kiara yang awalnya kaget dihampiri Kalandra secara tiba tiba, akhirnya terpaksa menurut karena laki laki itu langsung menggandengnya ke arah keluarganya.
Shiza tersenyum sambil terus melambailan tangannya. Ikut gembira dengan keberuntungan Kiara.
"Kamu jangan dekat dekat dia," bisik Kalandra memberi peringatan pada sekretaris yang merangkap jadi kekasihnya.
Adriana hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Dia sibuk dengan pikirannya hingga ngga menyadari Emra sudah berada di sisinya yang tadinya ditempati Kalandra
Bosnya itu sedang pergi sebentar menemui orang tuanya yang merupakan bos besar di tempat dia bekerja.
Gimana Adriana ngga grogi, canggung juga resah. Beberapa kali orang tua Kalandra menatapnya sambil melemparkan senyum hangatnya.
Adriana juga dipusingkan dengan banyaknya pertanyaan mama dan papanya tentang sudah sedekat apa hubungannya dengan Kalandra.
Ibarat dia adalah shancai, si rumput liar yang sedang didekati si tajir melintir Tao ming tse, di serial drama jadul yang jadi favoritnya.
Hanya saja Tao Ming Tse dulunya brandalan, sedangkan bosnya Kalandra, sangat jauh dari kata nakal. Dia sangat serius, pekerja keras, ngga suka gonta ganti pacar, dan jauh dari kesan negatif. Green flag. Simbol anak baik baik.
Karena itu Adriana sama sekali ngga menyadari kedatangan Emra di dekatnya.
Kalandra yang gemas melihat Adriana diam saja dihampiri Emra, segera melangkahkan kakinya menuju di mana tempat Kiara berada. Dan menarik tangan gadis itu untuk mengurus sepupunya agar ngga mengganggu kekasihnya lagi.
*
*
*
Tiga hari berlalu setelah kejadian itu. Laki laki yang katanya sedang fokus dan sabar menunggunya kembali ghosting.
Dia masih ngambek?
Padahal waktu sesi foto kemarin, dia sepertinya sudah ngga marah lagi. Bahkan tangannya dengan ringan selalu merangkul bahunya di setiap sesi foto keluarga mereka.
Apa itu cuma kamuflase saja agar Kiara berharap tinggi padanya? Setelahnya akan ditinggalkan?
Kiara menghembuskan nafas kesal. Dia sudah terjebak. Terjebak dalam obsesinya ingin menaklukkan laki laki player itu. Sama seperti Mela. Mungkin nasibnya juga akan sama dengan Mela. Otewe gagal.
Mungkin juga tawarannya yang akan sabar menunggu sudah ngga berlaku lagi.
Kiara menghembuskan nafas panjang.
Dia sudah berjanji dalam hatinya ngga akan merengek seperti Mela. Sudah tau hasilnya akan sangat menyakitkan dan memalukan diri sendiri. Temannya itu juga sudah menjauh lagi darinya dan Shiza.
Kiara merasa kasian juga. Mela sebenarnya cukup menyenangkan. Tapi mungkin sekarang dirinya dan Shiza sudah diblack list Mela sebagai teman mereka.
"Memikirkan aku?"
Sontak kepala Kiara yang sedang menunduk terangkat ke atas.
Ini dia laki laki yang suka ngasih harapan tapi kemudian ghosting, desisnya sebal dalam hati.
Keduanya saling tatap sebelum Kiara mengalihkan tatapannya ke arah laptopnya.
Walau jantungnya berdebaran ngga menentu karena senang mwlihat kehadiran Emra, tapi Kiara menahannya.
Sudah cuku hatinya tersakiti akibat sikap ngga jelas laki laki ini.
"Aku mau ngajak kamu makan siang," tukas Emra sambil duduk di kursi yang berada tepat di depan Kiara.
Bahkan kini laki laki itu menopangkan kedua sikunya di atas meja kerja Kiara dan netranya menatap lurus pada Kiara dengan tatapan jahil.
Seakan ngga merasa bersalah sudah melakukan kesalahan besar.
"Aku sudah pesan online," tolak Kiara kembali menunduk menatap kembali laptopnya.
"Batalkan."
Kiara menatap marah pada laki laki yang seenaknya memberi perintah itu. Tapi yang didapatnya hanya senyum menggoda yang membuat wajahnya semakin tampan.
"Ayolah. Ngga akan lama, sebentar saja," bujuk Emra sambil meraih tangannya. Mengajaknya berdiri bersamanya. Bahkan kini laki laki egois itu sudah berjalan mendekatinya.
Kini mereka hanya berjarak ngga nyampe satu meter saja.
Genggamannya terasa erat dan hangat. Kiara dapat merasakannya dalan aliran darah di bawah kulitnya.
Kembali keduanya saling bersitatap. Kali ini tatapan Emra sangat serius
"Sekarang aku sudah siap untuk pergi ke apartemen yang kamu menangkan."
Ada riak yang sangat jelas di mata Kiara yang ditangkap Emra.
"Aku harus mengeceknya. Setidaknya masih bernilai minimal tiga puluh persen. Haaah.... Kalian benar benar melukai harga diriku," keluh Emra dengan wajah ngga terimanya.
Segaris senyum di wajah Kiara kini berubah jadi tawa. Tawa yang berderai derai sampai wajah gadis cantik itu memerah.
Ngga menyangka laki laki buaya di depannya terlalu kekanakan.
Emra terpana melihatnya. Wajah sebal tadi sudah menghilang. Berganti tawa yang ngga berkesudahan.
Cantik, batin Emra terus menatapnya.
*
*
*
"Bagaimana? Lebih dari tiga puluh persen, kan?" ledek Kiara saat membawa Emra ke apartemen hadiah dari Shiza dan Mela.
"Ya, naek sepuluh persen," ucapnya setelah mengelilingi apartemen yang jadi sumber kekesalannnya.
Kiara tergelak.
Dia pun duduk di tempat tidur setelah capek berkeliling.
Melihat Kiara masih mengetawainya dengan bahagia, muncul niat Emra untuk sedikit mengerjainya.
"Eh..... Emra, kamu...mmff."
Kiara menatap dengan mata melotot saat tiba tiba Emra menarik tangannya dan membuatnya jatuh menimpa Emra yang kini telentang di atas springbed lembutnya.
Bibir mereka menyatu. Emra melakukannya dengan sangat intens dan lama membuat Kiara akhirnya memejamkan matanya meresapi sentuhan lembut itu.
Emra yang awalnya hanya berniat menggoda malah semakin terbakar dan ngga bisa menghentikannya.
Dia membalikkan tubuh p@sr#ah Kiara dan menurunkan ciumanya ke rahang hingga ke leher Kiara membuat gadis itu mendesis tiada henti
Emra makin ngga tahan. Dia semakin mengecup kuat leher Kiara hingga menimbulkan bekas.
Bibirnya semakin ke bawah. Saat tangannya akan membuka kancing baju Kiara, tangan gadis itu menahannya.
"No.....," des@hnya melarang dengan mata menatap sayu.
Emra tersadar, tapi dia sulit berhenti. Dia pun kembali membenamkan bibirnya ke bibir setengah terbuka milik Kiara yang sudah basah.
'Sebentar saja. Aku janji," bisiknya lembut membuat Kiara membiarkan Emra mengeksplor bagian dalam bibirnya.
*
*
*
"Mama tau, kamu menikahi Zerina karena mama," pelan wanita paruh baya yang masih jelita itu berucap
Xavi ngga membantah. Dia menatap jauh ke luar jendelanya dengan hampa.
"Tapi mama mohon, bahagiakan dia," pinta mamanya denga mata berkaca kaca.
Xavi tau mungkin Zetina sudah mengadu atas sikap dingin padanya.
Atau mungkin saja mamanya sudah melihatnya karena sangat jelas sekali tindak tanduknya pada istri pilihan mamanya.
"Cobalah terima Zerina demi mama," mohon mamanya dengan suara bergetar.
Berbulan bulan sudah dilewati. Kehamilan Zerina sudah membesar. Tapi sikap putranya masih tetap sama.
"Aku akan menceraikan Zerina setelah dia melahirkan, Ma."
Mamanya tertegun mendengarnya. Walaupun sudah menduga, tapi ngga menyangka kalo ternyata firasatnya benar.
"Xavi, bertahanlah demi mama," suara mamanya mulai terisak.
'Maaf, ma. Tolong kali ini mengerti akan perassaanku. Aku mohon," ucap Xavi lelah.
Dia lelah memback up ulah kembarannya yang sudah tiada.
Kalo pernintaannya ngga diturutin kali ini, Xavi akan lebih merasa hidupnya hanya raga tanpa jiwa.
Saat melihat mamanya mulai tersengal, Xavi bersimpuh di depannya.
"Mama harus tetap sehat demi cucu mama."
Mamanya menangis terisak. Xavi menjatuhkan kepalanya di pangkuan mamanya.
"Xavi mohon, ma. Jangan paksa Xavi lebih dari ini."
Wanita paruh baya itu ngga menjawab, hanya air matanya yang semakin deras mengalir membasahi pipinya.