
Setelah papanya, mamanya dan Om Alexander pergi, Alexander mengajak Herdin dan Xavi bertemu.
"Aurora hamil?" kaget keduanya serentak.
Herdin dengan ekspresi cueknya, sedangkan Xavi dengan ekspresi bingungnya.
Apa mama dan papanya bisa menerima anak Aiden yang mamanya saja sudah membunuh papanya dengan brutal.
Kemudian dia melihat ekspresi Alexander yang nampak kesal. Dia pun mendengus dalam hati.
Mungkin Alexander yang dituduh sudah menghamili Aurora dan dimintakan pertanggungan jawaban. Sayangnya ngga terlihat darah keperawanan Aurora setelah berhubungan dengan Aiden dalam rekaman itu. Aiden pun ngga merekam.video itu secara utuh.
Lagi pula seingatnya, Alexander ngga punya skandal dengan perempuan. Beda dengan kakak laki laki Alexander yang nomer dua, batin Xavi kesal.
"Kamu dituduh menghamilinya?" tanya Herdin yang paham maksud pertemuan mereka.
Alexander menghela nafas panjang.
"Begitulah. Tante Irena meminta dilakukan tes dna pada janin di perut Aurora dan memundurkan jadwal pernikahan."
Keduanya manggut manggut.
Memang ini adalah kesempatan paling bagus untuk mencegah keduanya menikah, batin mereka.
Yang Xavi sesalkan, Aurora ngga mau mengakui kalo janin itu miliknya dan Aiden. Tetap saja memaksa Alexander.
"Jangan khawatir. Aku yang akan membela kamu. Aku punya rekaman yang menunjukkan waktu pertama kali mereka berhubungan. Sepertinya cocok dengan umur janin," kata Xavi menenangkan.
"Terimakasih," jawab Alexander terharu karena Xavi sebagai pihak yang keluarganya sudah dirugikan masih saja mau membantu.
"Tapi bisakah kita ngga menunjukkan rekaman itu? Apalagi Aiden sudah meninggal," sambung Alexander membuat Xavi ngga abis pikir atas penolakan Alexander atas niat baiknya untuk.membantu.
Alexander ngga menyukai tindakan Aiden yang kurang ajar, sudah merekam adegan percintaan dirinya sendiri dengan Aurora. Setidaknya itu aib mereka.
"Tapi kamu butuh bukti autentik, kan?" kejar Xavi ngga puas karena niatnya untuk mempermalukan Aurora terhalangi.
"Bagaimana kalo kita hanya menggunakan rekaman cctv saat Aurora dan Aiden masuk ke hotel saat itu. Itu sudah merupakan bukti yang cukup kuat. Kamu juga ngga akan kena pasal penyebaran video asusila itu," kata Herdin memberikan pendapatnya.
"Aku juga punya bukti saat keduanya keluar dari hotel. Aku rasa itu bisa menguatkan kalo anak yang dikandung Aurora bukan anak Alex," sambung Herdin lagi.
Alexander langsung setuju, tapi dia menunggu keputusan Xavi. Alexander tau, Xavi sangat mendendam dengan Aurora. Begitu juga keluarga besarnya.
Bagaimana nanti nasib janin itu kalo sudah lahir, batinnya ngga tega.
Belum lahir saja janin itu sudah membuat polemik. Apalagi nanti jika sudah melihat dunia.
Apakah dia bisa diterima?
Alexander menghembuskan nafas panjang.
Xavi terdiam. Dia sedang meresapi kata kata Alexander. Matamya memejam mengingat kematian adik kembarnya. Mungkin Aiden memang menginginkan anak dari Aurora agar bisa mengikatnya tanpa tau dia bisa dibunuh kapan saja.
"Baiklah. Aku juga ingin Aiden tenang di sana," ucap Xavi setelah cukup lama terdiam.
"Ya," sahut Alexander lega karena Xavi bersikap bijak. Dia tau, sangat sulit berbuat baik pada orang yang sudah melenyapkan anggota keluarga mereka. Itu pasti sangat berat.
"Tapi kita ngga tau, di mana hotelnya," sergah Xavi bertanya dengan kesal. Dia jadi kesal.
"Melihat interior kamarnya, itu seperti hotelku. Aku akan langsung mengeceknya," sahut Herdin tenang.
"Aku ikut," tukas Alexander. Di sini dia adalah pihak yang paling membutuhkan bukti itu.
"Kita akan pergi bersama," putus Xavi juga ingin segera menyelesaikan masalah yang paling menyebalkan ini.
*
*
*
"Jadi kamu ngga percaya dengan Aurora? Aurora terpaksa berhubungan dengan Aiden, Sof," ucap Irena putus asa. Mereka saat ini berada di dalam sebuah restoran mewah, ngga jauh dari perusahaan keluarga Alexander.
Sofia-Mama Alexander terpaksa menemui sahabatnya yang baru saja menelponnya. Suaminya mengijinkannya pergi.
"Aku tau Aurora adalah korban dalam hal ini. Tapi, Ren, aku percaya kalo Alexander ngga pernah meniduri perempuan mana pun," jawab Mama Alexander tegas.
"Apa kalian ngga bisa menunggu beberapa bulan lagi?" tanyanya getir.
Sofia menatap Irena lembut Dia menggeleng pelan.
"Persiapan pernikahan mereka sudah hampir rampung."
Mama Irena memejamkan mata. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk mengurangi sakit.di dadanya
Irena tau, Sofia sudah kecewa dengan skandal yang dilakukan putrinya bersama Aiden. Walaupun Aurora terpaksa melakukannya di bawah ancaman Aiden.
"Putriku tertekan. Tapi ngga ada yang mau mengerti," sahutnya sambil berdiri. Cukup sudah dia memohon. Ngga ada yang mau mendengar. Bahkan suaminya, Papa Aurora juga menolak keinginannya.
"Irena," panggil Sofia perlahan saat sahabatnya itu pergi. Tapi ngga mendapat tanggapan. Mama Alexander hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
Dia sangat menyayangi Aurora. Dia tau Aurora sangat menderita. Tapi Mama Alexander ngga bisa berbuat apa apa untuk membantunya saat ini. Ada hati putranya yang ngga ingin dia lukai lagi.
*
*
*
Rihana terkejut ketika akan bersiap untuk pulang, melihat berita di televisi yang akan dia off kan. Rihana hanya ngga suka suasana sepi, karena itu dia menyalakan TV nya yang sesekali layarnya dia tonton jika jenuh dengan kerjaannya.
Siaran TV itu menayangkan postingan IG Aurora yang berupa foto usg kehamilannya.
Aurora ngga membuat statemen apa pun. Tapi cukup banyak komentar netijen yang menduga bisa jadi itu anak Alexander membuatnya gerah. Bahkan saat Rihana mengganti saluran TV, semuanya memuat berita itu. Sepertinya ini postingan terbaru Aurora yang baru saja diuploadnya.
Aurora hamil?
Rihana kembali mengingat kata kata Alexander yang sudah menduga kalo Aurora hamil oleh Aiden.
Hatinya gundah. Apa lagi ada satu netijen yang mengupload foto saat Alexander pergi dari restoran bersama Aurora.
Dulu, saat Alexander meninggalkannya demi gadis yang terluka itu. Karena itu dulu Rihana sempat memutuskan hubungan dengan Alexander.
Tapi seingat Rihana, Mama Alexander juga ikut bersama mereka.
Rihana menarik nafas panjang panjang.
Dia ngga boleh ragu dengan Alexander, tekatnya dalam hati.
Suara pintu ruangannya yang terbuka membuat Rihana tersenyum.
Alexander juga membalas senyumnya, selanjutnya melihat siaran TV yang belum sempat Rihana matikan.
"Sudah tayang rupanya." Wajahnya berubah kesal.
Alexander pun berjalan mendekat.
"Kamu viral lagi," senyum Rihana berusaha menghilangkan kekesalan di wajah kekasihnya.
"Kamu percaya?" tanya Alexander sambil menatap lekat sepasang netra bening Rihana. Jika Rihana ngga percaya, dia akan menunjukkan bukti yang sudah ada ditangannya.
Ya. Dia, Herdin dan Xavi berhasil mendapatkan bukti rekaman cctv kedatangan Aiden dan Aurora yang dalam keadaan mabok di hotel milik keluarga Herdin.
Alexander dan Herdin ngga tega melihatnya. Mereka baru tau kalo Aiden menodai Aurora dalam keadaan gadis itu terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Karena pada video yang diperlihatkan Xavi, mereka hanya memperhatikan sekilas saja. Ngga benar benar melihat Aurora yang sedang ngga sadar saat ditiduri Aiden.
"Aku percaya kamu."
Jawaban Rihana melegakan hati Alexander.
"Aku sudah punya buktinya kalo kamu mau lihat," kata Alexander sambil mengambil ponsel di sakunya. Walaupun Rihana mempercayainya, tapi dia ingin menunjukkan bukti yang sudah didapatkannya, untuk lebih meyakinkan Rihana.
Rihana mendekat. Dia sedikit berjinjit di samping kekasihnya yang baru saja mengeluarkan ponselnya.
CUP
Alexander termangu sesaat merasakan sentuhan benda kenyal itu di pipinya. Terasa hangat sampai ke hati.
Rihana tersenyum malu malu melihatnya.
Alexander ngga membuang kesempatan. Dia mendekap erat tubuh Rihana dan mengecup ngga kalah lembutnya bibir kekasihnya itu.