NOT Second Lead

NOT Second Lead
The last chance



"Dia ngga akan mengaku," tegas Irena saat mengunjungi putrinya.


Aurora diam. Penyerangan Alexander yang gagal sampai juga di telinganya membuat perasaannya tambah kesal. Harusnya dia membekali orang itu dengan pistol juga. Sayangnya ngga terpikir olehnya kalo Alexander membekali dirinya dengan senjata api.


Sampai kapan pun orang suruhannya ngga akan mengaku kalo Irena yang menyuruhnya atas permintaan Aurora.


Semua biaya hidup keluarganya sudah ditanggung selama laki laki muda pemotor itu ditahan di penjara.


Yang Aurora sesalkan kenapa harus gagal. Dia sudah ngga berminat terhadap Alexander. Tapi dia ngga rela dengan kebahagiaan mereka. Lebih baik Rihana juga kehilangan Alexander, seperti dirinya. Laki laki itu tidak boleh dimiliki siapa pun.


Hati Aurora panas melihat foto foto kebersamaan keduanya yang dikirimkan mata matanya.


Harusnya dia yang ke butik bersama Alexander. Bukan gadis pegawai kontrak ngga tau diri itu.


Kehadiran itu merampas semua miliknya. Papa, opa dan oma, dan Alexander.


"Apa sebaiknya kita berhenti?" tanya Irena pelan. Dia sudah cukup lelah. Yang Irena pikirkan saat ini hanya kebahagiaan putrinya.


Aurora menggeleng membuat Irena menghela nafas berat.


"Mama hanya ingin kita membuka lembaran baru. Melupakan semua kesakitan yang ada di sini."


Aurora terdiam. Dia juga ingin begitu. Tapi dia belum rela. Dia benci melihat dua pasang mata yang saling memandang penuh binar. Terutama mata Alexander yang selalu berbinar jika melihat perempuan yang paling dia benci.


Gimana kalo mata itu menjadi gelap dan sendu, satu pikiran jahat menyusup dalam hatinya.


"Ma, ini terakhir. Gadis itu saja," lirih Aurora berujar.


Irena terdiam. Dia menatap sepasang mata putrinya lekat lekat.


"The last?" tanya Irena memastikan.


"Yes, mam. The last," jawab Aurora agak ragu. Takut jika gagal dan dia akan sulit untuk berhenti.


"Baiklah," janji Irena kemudian tersenyum tipis. Setelah ini mereka akan meninggalkan semua kepedihan dan memulai hidup yang baru.


*


*


*


Daiva membolak balikkan undangan pernikahan sepupunya Rihana yang diberikan oleh Om Dewan sambil tersenyum.


Akhirnya menikah juga, batinnya senang. Dua hari lagi sepupunya akan menikah. Dia dan Keluarganya pun sangat sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan dengan sangat mewah dan megah.


Sudah beberapa hari ini Daiva ngga menjenguk Zerina. Dia agak sungkan, karena pada kunjungan terakhir, malah bertemu dengan Om Hendy dan istrinya yang sudah mulai membaik kesehatannya.


Syukurlah mama Xavi sudah sadar dan sudah terlihat baik baik saja, batinnya saat itu. Karena setaunya Mama Xavi sempat koma di rumah sakit.


Om Hendy tetap ramah padanya. Hanya Mama Xavi yang melihatnya sedikit kurang senang. Padahal dulunya ngga begitu. Tapi Daiva memakluminya. Karenanya dia memutuskan untuk menghindar. Toh Zerina sudah berada dalam keluarga baru yang menyayanginya. Hatinya pun sudah tenang.


Aurora masih menjalani hari harinya di sel. Bahkan dia ngga diijinkan keluar dari sel saat Rihana menikah. Om Dewan sendiri yang melarang.


Daiva mengerti ini semua demi keamanan dan kelancaran acara pernikahan Rihana dan Alexander.


Tante Irena pun diawasi pergerakannya. Daiva ngga tau kenapa. Setaunya keadaan sudah tenang saja sejak Aurora di penjara.


Tapi Daiva merasakan aura ketegangan menyelimuti keluarga mereka saat mendekati hari H pesta di gelar. Mamanya yang merupakan kakak Om Dewan juga sudah berkumpul dengan keluarga besar.


Daiva merasa ini terlalu berlebihan. Bahkan dia pernah ngga sengaja mendengar obrolan opa dan omanya bersama papanya dan om dewan kalo mereka menyadap ponsel Tante Irena dan Aurora.


Aneh aja menurutnya.


Mungkin karena ngga nendapat dukungan keluarga, bahkan Om Dewan, sampai sampai Tante Irena mengganti pengacara keluarga dengan pengacaranya sendiri. Berdasarkan rekomendasi orang tuanya.


Sidang Aurora juga ngga lama lagi akan digelar. Tante Irena sudah ngga merasa sungkan lagi dengan pengacara barunya, karena ngga berkaitan lagi dengan suaminya.


Mereka kini sedang mengumpulkan fakta fakta tentang kejahatan Aiden. Semuanya akan dilakukan demi mempercepat hari kebebasan Aurora.


Daiva sama seperti Om Dewan, dan keluarga besar lainnya. Merasa kurang etis membuka aib orang yang sudah meninggal.


Tapi menurut mama Irena, beliau terpaksa menerima dukungan dari fans fanatik Aurora yang dengan senang hati mencari keburukan Aiden yang sudah tiada. Ini semua agar Aurora ngga terlalu lama mendekam di penjara. Pengacara baru ini sedang mengusahakan pembebasan bersyarat buat Aurora.


Daiva menghela nafas panjang. Sepupunya sekarang menjadi semakin pendiam. Tatapannya terasa sangat dingin dan datar. Daiva sempat meminta Tante Irena memeriksakan kejiwaan Aurora ke psikiater, tapi ditolakmya mentah mentah. Malah tante Irena jadi memarahinya.


Daiva menghela nafas lagi. Dia mengkhawatitkan kehamilan sepupunya. Susu hamil yang selalu dibawanya ngga pernah diminum. Pernah Daiva ingin membuatkanya, tapi lagi lagi ditolak.


TOK TOK TOK


Perhatian Daiva teralihkan pada suara ketukan pintu.


"Masuk."


Lety sekertarisnya ternyata.


"Bu Daiva, ada yang mau ketemu," ucapnya sambil menoleh ke belakangnya.


Xavi berdiri di belakang Lety.


Agak berdebar jantung Daiva melihat penampilan laki laki itu yang terlihat beda. Kali ini dia mengenakan jas abu abu tuanya. Terlihat lebih maskulin dan lebih berwibawa.


"Bu," panggil Lety lagi karena bosnya terlihat bengong.


"Iya, kamu boleh pergi," ucap Daiva setelah tertegun beberapa saat. Mata elang Xavi seakan menghipnotisnya tadi.


Setelah mengangguk kecil, Lety beranjak keluar meninggalkan ruangan Daiva.


"Boleh duduk?" ucap Xavi sambil duduk di depan Daiva dan menatapnya lekat.


"Hemm...." gumam Daiva agak salah tingkah.


Aku kenapa, sih, omel Daiva dalam hati. Kesal karena gugup berada di dekat Xavi. Biasanya dia nyantai saja.


"Tadi aku ketemu klien di dekat sini," jelas Xavi mengulum senyum.


"Oo."


"Sudah punya teman buat ke nikahan sepupu kamu?" tanya Xavi ketika melihat undangan yang dipegang Daiva.


"Aku bisa pergi bareng sepupu yang lain," jawab Daiva berusaha mengembalikan ketenangannya.


Hari ini Daiva merasa sikap Xavi agak berbeda. Mereka memang sudah beberapa hari ngga ketemu. Tapi jelas tatapan laki laki ini agak aneh menurutnya.


"Ooo," senyum tipis terulas di bibirnya.


"Aku mau ngajak kamu pergi bareng," lanjutnya masih terus menatap lekat gadis cantik di depannya.


Daiva terdiam. Tatapannya kini dialihkan pada kertas undangan di tangannya. Tatapan Xavi membuatnya seperti terpenjara di ruang hampa.


"Gimana? Mau?"


DEG


Jantung Daiva seakan mau melompat saat Xavi meraih jemarinya, menggenggamnya lembut.


Laki laki ini kenapa?


Seingat Daiva saat pertemuan terakhir mereka, Xavi masih bersikap acuh tak acuh padanya.


CUP


Daiva makin terkesima saat Xavi mengecup lembut punggung tangannya.


Dia hanya bisa terpaku dan tatap matanya terkunci pada sosok tampan yang menatap lekat di depannya.


"Aku jemput jam tujuh malam," ucap Xavi setelah melepaskan kecupannya dan menaruh kembali tangan yang kaku itu di atas meja.


Tanpa menunggu jawaban Daiva, Xavi bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan gadis itu yang masih mematung menatap kepergiannya.


Sambil melangkah pergi, Xavi teringat ucapan papinya tadi malam.


"Kamu mau menikah dengan Zerina?"


"Kenapa harus menikahinya, Pi?"


"Mungkin aja kamu mau. Mami pun terlihat senang padanya."


Xavi terdiam.


"Aku belum memikirkan pernikahan, pi.


"Oke. Papi ngga memaksa. Em, apa kamu tertarik dengan Daiva?"


"Aku baru mengenalnya."


"Mamimu bisa kumat lagi jantungnya kalo kamu tertarik dengan Daiva. Mamimu masih trauma dengan gadis pembunuh itu."


"Daiva berbeda, papi. Dia tulus dengan Zerina," bela Xavi.


Papinya menghela nafas.


"Pembunuh itu juga terlihat tulus dengan semua orang," kecam Hendy membantah.


Xavi ngga menyahut lagi. Luka mereka terlalu dalam.


Xavi menghela nafas panjang sambil memasuki lift.


Siang itu dia malah sengaja menemui Daiva. Dia bohong tadi. Padahal dia bertemu dengan kliennya sangat jauh dari perusahaan tempat Daiva bekerja.


Setelah melihat wajah sungkan dan ngga enak hati Daiva saat bertemu mami dan papinya, Daiva ngga pernah menemui Zerina lagi.


Xavi merasa aneh dengan hatinya, merasa kehilangan karena tiap menjenguk Zerina bersama mamanya, ngga ada lagi sosok Daiva di sana. Bahkqn dia sengaja mencari alasan ke tempat Zerina hanya ingin melihat Daiva.


Mungkin papinya melihat sikapnya sebagai bentuk perhatian pada Zerina sehingga menanyakan hal tadi karena salah paham. Padahal Xavi hanya ingin bertemu Daiva.


Tadi setelah bertemu dengan Herdin yang memberikannya undangan nikah Alexander, keinginannya langsung menggebu ingin mengajak Daiva pergi bersamanya. Dia seperti punya alasan menemui gadis itu.


Kliennya memang Herdin, karena ada proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaan mereka.


*


*


*


Herdin masih terpaku menatap layar ponselnya. Mata matanya yang mengawasi Puspa mengirimkannya beberapa foto kedekatan Puspa dengan laki laki yang cukup dikenalnya. Relasi bisnisnya.


Mereka sedang makan siang di restoran. Keduanya terlihat nyaman. Wajah Puspa juga terlihat senang. Dalam foto yang ditangkap mata matanya, Puspa selalu tersenyum lepas.


Herdin menghela nafas.


Setelah malam itu, Puspa ngga pernah mau menjawab telponnya. Pesan pesannya pun hanya dibaca, itu pun setelah berhari hari mengendap di sana.


Sebenarnya apa yang dia mau? Herdin mengumpat dalam hati.


Bayangan Aurora kini silih berganti dengan Puspa.


"Herdin," sapa Tante Irena membuyarkan lamunannya.


Inne, sang sekertaris mengikuti di belakangnya dengan tatapan takut. Karena tadi Herdin berpesan kalo dia ngga mau diganggu.


Tapi Herdin memberikannya isyarat agar Inne segera keluar.


Setelah sekertarisnya menutup pintu, Herdin menatap ramah wanita yang sudah melahirkan Aurora.


"Duduk dulu, tante."


Irena tersenyum lega karena Herdin masih menyambut baik dirinya.


"Ada apa, tante?" tanyanya tanpa basa basi. Karena Herdin yakin, Mama Aurora punya tujuan penting sampai harus menemuinya di perusahaannya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Puspa?"


Herdin terdiam. Dia kurang suka ada yang menyentil privasinya.


"Tante dengar, katanya Puspa akan dijodohkan," jelas Irena membuat jantung Herdin berdetak keras.


Dijodohkan? Ngga mungkin, bantah batin Herdin ngga terima.


"Herdin, hanya kamu yang tante percaya saat ini untuk menjaga Aurora. Sebentar lagi Aurora akan bebas bersyarat. Kamu mau menikahinya? Tante tau kalo kamu sudah lama menyukai Aurora. Jadi tante pikir kamu ngga akan keberatan untuk menikahinya."


"Saya bukan tong sampah tante," balas Herdin kalem.


Dia ngga peduli melihat raut marah Tante Irena di depannya. Dia pun tersinggung mendengar ucapan Mama Aurora yang sangat merendahkannya.


"Kamu!" geram Mama Aurora dengan nafas tersengal karena marah.


"Tante salah kalo mengira saya masih menyukai Aurora. Saat ini saya hanya kasian padanya," tutur Herdin lembut untuk meredakan kemarahan tante Irena.


Hatinya tercubit dengan pernyataannya sendiri. Mungkin ini yang dia rasakan sekarang terhadap Aurora.


Herdin seakan tersadar, dia baru merasakan perasaan takut kehilangan yang amat sangat ketika mendengar Puspa akan dijodohkan.


"Maaf tante, aku tinggal dulu," ucap Herdin sambil berlalu meninggalkan Tante Irena yang masih tersengal karena marahnya.


Herdin sudah ngga peduli walaupun nantinya Mama Aurora akan pingsan di ruangannya. Sekarang fokusnya hanya pada Puspa. Dia ngga mungkin mau melepas gadis itu untuk laki laki lain.


Mungkin kali ini dia akan mengamuk untuk mengambil miliknya kembali.


*


*


*


"Lo yakin akan berhasil?" kekeh Emir sambil mengerling pada laki laki yang sibuk menjepret adiknya yang sedang makan siang dengan teman mereka.


"Pastilah. Pasti udah banyak foto foto Puspa yang terkirim ke Herdin," tawa Emra pecah


Sudah beberapa kali Emra dan Emir melihat laki laki aneh yang mengarahkan ponsel ke arah adiknya. Baik sendiri maupun saat bersama dengan temannya.


Pertemuan ini pun sudah kedua kalinya, atas pengawasan dia dan kembarannya. Untungnya sahabat gila mereka mau mengikuti sandiwara ini.


"Laki laki susah move on itu pasti sekarang seperti cacing kepanasan," gelak Emir menyahuti.


Emir terlalu mempercayai Herdin untuk menjadi pendamping yang baik untuk Pusa, sampai mau menyetujui ide jahil kembarannnya.


Apalagi kata Puspa, semakin adiknya mengacuhkannya, Herdin tambah sering menelpon dan mengirimkannya pesan. Tentu saja atas sarannya dan Emra, tidak digubris sama sekali.


'Biar dia yang mengejar ngejar kamu," katanya waktu itu.


Dan sahabat mereka yang sudah bertunangan pun setuju mengikuti permainan ini. Apalagi Nicki sudah dianggap bagian dari keluarga karena seringnya dititipkan keluarganya. Puspa juga sudah terbiasa berinteraksi dengannya. Jadi akan lebih mudah dan ngga akan menimbulkan rasa baperan di antara keduanya.


"Aku rasa, bentar lagi Puspa bakal ngelangkahin kita," kekeh Emra ngga bisa berhenti. Emir pun menyambut dengan gelaknya juga.


Salah mereka sendiri yang belum mau menikah di usia muda.