
"Apa maksud ucapanmu, Dewan?" tanya Cakra dengan suara bergetar menahan marah yang amat sangar.
Jika saja mereka ngga berada di ruang operasi, pasti sudah dihajarnya Dewan habis habisan.
Ucapan Dewan membuat luka hatinya semakin berdarah. Ngga disangka, b@jingan tengik itu Dewan, rekan bisnisnya.
Akbar dan Wingky pun mengepalkan kedua tangan mereka dengan erat. Kemarahan berkobar di kedua matanya.
Alexander dan Herdin saling pandang kemudian menatap Om Dewan ngga percaya.
Rasanya ngga mungkin!
Karena setau mereka Om Dewan bukan laki laki pengecut yang akan lari dari tanggung jawabnya.
Para sepupu Rihana pun saling pandang. Semua yang ada di situ diliputi perasaan aneh akan pengakuan Dewan yang sangat mengejutkan. Seakan ada petir di siang bolong menggelegar di dekat mereka.
Kini mereka mulai mengerti kenapa Rihana memiliki golongan darah A rhesus negatif. Karena mama dan papanya juga memiliki golongan darah yang sama.
"Dewan, kamu bicara apa, nak?" tanya Mora dengan debaran hebat di dadanya. Teringat lagi kemiripan Rihana dengan putri pertama mereka, Dewina.
"Aku bicara jujur, Ma. Aku juga baru tau kenyataan ini," jelas Dewan dengan mata terpejam.
"Apa maksud ucapan kamu! Dasar brengsek!" maki Akbar geram.
"Aku ngga tau kalo.gadis itu Dilara," kata Dewan pahit.
Dia bodoh! Kutuknya dalam hati. Berkali kali.
"Jelaskan. Om ingin dengar yang sebenarnya," pinta Opa Airlangga dengan memendam pedih perasaannya. Hatinya masih ngga bisa percaya dengan pengakuan Dewan. Karena setaunya putra sahabatnya laki laki yang baik dan bertanggungjawab
Oma Mien masih menatap Dewan dengan mata penuh tuntutan. Adalah aneh jika Dewan ngga tau tentang Dilara, putri mereka.
"Saya dan Dilara dijebak saat pesta kelulusan, Om. Kami ngga sengaja melakukannya," kata Dewan kemudian menghela nafas.
"Seseorang memberikan obat perangsang pada minuman kami," lanjut Dewan membuat terdengar banyak seruan kaget.
"Hari itu Dilara mengatakan sedang hamil, tepat saat saya akan berangkat ke Jerman. Saya kaget dia mendatangi saya setelah menghilang setelah kejadian malam itu."
"Apa maksudmu?" Cakra yang akan menghampiri Dewan jadi terhenti langkahnya karena isyarat Opa Airlangga.
"Setelah malam itu saya mencarinya, karena dia pergi begitu saja. Tapi saya ngga tau dia siapa. Saya cuma pernah melihatnya beberapa kali di kampus. Tapi saya ngga tau namanya dan identitas dirinya."
"Kamu bohong!" desis Akbar geram.
Dewan menggeleng.
"Aku ngga bohong," bantahnya cepat.
"Saya memintanya menunggu di kafe kampus. Saya akan mengatakan pada mama dan papa. Tapi mama dan papa malah sudah bersiap untuk keberangkatan kami."
Tubuh Opa Iskandardinata dan Oma Mora menegang. Kejadian pada hari itu tergambar jelas di pikiran mereka.
Segala tanya kini terjawab kenapa Dewan terlihat panik.
"Kamu membiarkan adikku menunggu? Dasar brengsek!" maki Wingky yang sudah ngga sabar untuk menggebuk Dewan. Ini terlalu bertele tele. Kemarahannya sudah naik di ubun ubunnya.
"Tidak, kamu salah. Aku pergi ke kafe. Tapi sayangnya aku kecelakaan. Dan koma."
Hening.
Mereka terpaku mendengarnya.
Opa Airlangga tentu ingat kejadian itu, karena beliau turut mendampingi sahabatnya sambil mencari Dilara. Dewan yang akan berangkat kuliah di Jerman malah mengalami kecelakaan hebat. Setelah beberapa hari ngga ada perubahan, Dewan dibawa keluarganya langsung ke Jerman.
Jadi saat itu putrinya sedang menunggu Dewan, batin Opa Airlangga perih.
"Kenapa kamu ngga bilang, Dewan?" tanya Oma Mora dengan mata terpejam. Air matanya turun perlahan.
Jika putranya langsung berterus terang, pasti akhir cerita ini akan sangat menyenangkan, batin Oma Mora kecewa.
"Kalo kamu bilang, semuanya akan lebih mudah," sambungnya dengan hati berdenyut nyeri.
Tangis Oma Mien pecah. Opa Airlangga memeluk istrinya dengan tubuh gemetar.
"Saya selalu mencari mereka. Setelah sadar dari koma, saya nekat pulang. Saya ke kafe itu. Ganti menunggunya. Setiap tahun, saya pasti pulang mencarinya," kata Dewan dengan suara serak.
"Tapi saya ngga pernah menemuinya." Hatinya sangat sakit saat mengutarakannya. Suaranya bergetar hebat.
"Kamu ngga tau kalo dia adikku, Dilara?" tanya Cakra setelah cukup.lama terdiam. Ada sangsi dalam nada suaranya.
"Tapi kamu menikah. Kamu menikmati hidupmu dengan bahagia. Tapi adikku menderita karena ulahmu!" geram Cakra.
"Ya, aku menikah. Kami dijodohkan. Aurora lahir. Tapi aku menyakiti hati istriku selama bertahun tahun," jujurnya sangat sedih.
Dia sudah membuat banyak orang tersakiti akibat keegoisannya. Termasuk keluarganya sekarang.
Puspa juga menangis di pelukan mamanya. Ngga terbayang olehnya bagaimana jika Rihana tau yang sebenarnya
"Dia gadis yang ku suka sejak lama. Tapi aku memutuskan untuk serius dulu kuliah di Jerman. Setelahnya akan mencarinya. Tapi ... semuanya menjadi sangat memyakitkan. Apalagi dia sudah meninggal," kata Dewan pahit. Dia pun mengusap air matanya.
Kembali hening.
Alexander seperti tertohok mendengarnya. Dia pun melakukan hal yang sama terhadap Zira-nya. Dia sangat bersyukur, walau sempat hilang kontak, tapi Zira baik baik saja.
"Kamu ngga mengenalinya saat dia bekerja di tempatmu?" tanya Cakra setelah bersusah payah berdamai dengan kenyataan pahit di depannya.
Dewan menggeleng dengan wajah frustasi.
"Tapi aku rasa dia tau siapa aku. Aku merasa dia sangat membenciku. Memang aku layak mendapatkannya."
Kembali hening dan sunyi.
BUGHH
"Pa!" seru Oma Mora kaget melihat suaminya memukul keras bahu Dewan hingga dia jatuh tertelungkup.
"Om!" seru Alexander sambil menghampiri dan membantu Dewan bangun. Herdin pun ikut membantu Alexander.
"Kenapa kamu menyimpan rahasia sebesar ini sendirian, Dewan! Kenapa!" raung Opa Iskandardinata sambil menekan dadanya.
Ingat betapa panik dan kalutnya sahabatnya mencari putrinya yang hilang.
Opa Airlangga melepaskan pelukan istrinya dan meminta Cakra memegang ibunya dan istri istri mantunya yang sudah bertangisan.
Dia pun menahan bahu Opa Iskandardinata yang siap akan memukul anaknya lagi.
"Hentikan! Semua sudah terjadi!" sergah Opa Airlangga berusaha menyabarkan sahabatnya.
"Ngga bisa! Anak ini harus dihajar sampai sekarat!" Penuh emosi Opa Iskandardinata mendoromg Opa Airlangga yang berusaha menghentikannnya.
"Dewan memang salah! Tapi kamu ngga berhak menghajarnya!" Istriya-Oma Mora menghalanginya dengan sentakan tajam dalam tangisnya.
Opa Iskandardinata tertegun.
Istrinya benar. Yang berhak adalah keluarga Dilara. Keluarga sahabatnya.
Dada Opa Iskandardinata merasa sesak. Ngga disangka, putranya lah dalang dari kekhawatiran dan kepanikan selama ini. Bahkan dia pun menyempatkan dirinya mencari Dilara, membantu sahabatnya tanpa tau kalo putranya yang menyebabkan semua ini.
Alexander menatap wajah Dewan yang sudah redup. Seperti sudah hilang semangat hidupnya. Jiwanya sudah pergi.
Kenyataan yang sangat menyakitkan. Alexander dapat merasakan pukulan batin yang hebat kini mendera hati dan jiwa Om Dewan.
Dia pun sedang merasa sangat sesak. Ngga disangka mereka saling mencari satu sama lainnya. Zira dan mamanyalah yang menjadi korban. Mamanya pun sudah meninggal sejak lama.
Zira, lihat. Keluargamu sudah berkumpul semua, batin Alexander merasa kacau.
"Jika saja kamu berterus terang, Dewan. Jika saja," ucap Opa Iskandardinata dengan suara bergetar. Dia pun membalas pelukan istrinya.
Opa Airlangga tercenung melihat Dewan yang sudah ssperti ngga berjiwa.
Laki laki itu tampak kesakitan. Mungkin bukan dia dan keluarga saja yang merasa kehilangan Dilara. Dewan juga merasakan hal yang sama. Mungkin penyesalannya malah lebih besar dan dalam.
Bisa saja dia ngga mengaku. Bisa saja dia menghindari masalah besar ini. Apalagi Rihana juga hanya diam saja. Rahasia ini bisa saja terkubur selamanya. Tapi Dewan ngga melakukannya.
Opa Airlangga bermonolog dalam perasaan sedih yang teramat sangat.
Dewan terkejut saa Opa Airlangga memeluknya erat.
"Maaf, om. Maaf, om," pintanya berulang kali dengan air mata yang mulai deras mengalir.
Opa Airlangga menganggukkan kepalanya, juga dengan air mata yang mengalir di pipi keriputnya.
"Iya."
Alexander dan Herdin mengusap mata mereka yang mulai memerah. Begitu juga sepupu mereka yang lain.
Dewan mungkin salah. Tapi salah itu ngga sepenuhnya milikmya. Dia pun ikut mencari Dilara tanpa tau siapa gadis itu. Cinta Dewan terbilang tulus untuk Dilara yang dia tiduri tanpa sengaja dan tanpa tahu identitas Dilara yang sebenarnya.