
"Ya," jawab Opa Dipanegara.
"Dia cantik, kan," sambungnya bangga.
"Sangat cantik," puji Opa Airlangga tulus.
Dalam diamnya Cakra pun mengakui pilihan Emir. Bibirnya tersenyum lebar.
"Katamu dia punya kembaran," tanya Opa Dipanegara ingin tau.
"Ya, mereka kembar identik. Tapi sekali lihat saja bisa langsung bisa dibedakan," jelas Opa Airlangga sambil menunjukkan foto Emra.
"Kau benar. Sekali lihat saja aku bisa langsung tau," tawa Opa Dipanegara diikuti Opa Airlangga.
Setidaknya dia bersyukur karena putrinya bertemu Emir, bukan Emra yang nampak agak brengsek di matanya.
Gaya rambutnya juga berbeda. Begitu juga tatapan matanya yang cenderung nakal.
Pintu ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian mereka.
"Maaf," ucap Wingky merasa ngga enak. Ternyata ada tamu selain papanya dan Cakra. Tadi kakaknya ngga mengatakan kalo mereka sedang menerima tamu.
Hanya beberapa kata mengerikan yang dikirimkannya yang membuat dia harus meminta ijin pada kakak keduanya Akbar, kalo papa mereka membutuhkannya. Sedikit berbohong tapi langsung tokcer dikabulkan.
"Wingky, kenalkan ini teman Papa. Cucunya yang bakal jadi menantumu," tegas Opa Airlangga berucap.
Opa Dipanegara pun menatap seksama pada Wingky yang nampak tertegun mendengarnya.
Wingky pun melihat Cakra dengan tatapan bingung.
Apa maksudnya? Tadi katanya Emir membuat masalah dengan perempuan?
Apa masalahnya sudah selesai dengan menikahkan mereka saja. Kakek perempuan itu sudah merestuinya? Begitu? Semudah ini?
Banyak sekali pertanyaan yang berputar putar di kepala Wingky.
Tapi kemudian dia menghampiri yang menyalim tangan laki laki yang seusia papanya itu.
"Kamu persis putramu. Sopan," kekeh Om Dipanegara kelihatan sangat senang.
Wingky tersenyum walau dalam hati bingung.
Emir, apa yang sudah kamu lakukan, benaknya was was.
Kalo Emra, dia sudah tau kelakuan minusnya. Tapi ini Emir. Emir.
Makanya dia bergegas datang karena ngga sabar untuk tau apa yang sudah terjadi.
"Pinjam ponselnya, Om," pinta Cakra sopan. Dia akan menunjukkan video kelakuan Emir pada papanya.
"Ambil."
Cakra mengambil ponsel yang terulur dari tangan Opa Dipanegara.
Dia pun melangkah menghampiri Winky yang masih bergeming. Wajahnya terlihat bingung.
"Lihat ini," kata Cakra sambil memutar video belasan detik tanpa suara di hadapan Wingky yang menatapnya tegang di awal dan tersenyum di tengah video sampai durasi videonya selesai.
Ngga disangkanya Emir bisa berkelakuan seperti Emra juga.
Jadi gadis cantik ini cucu si kakek?
Oooh... Maksudnya karena Emir sudah lancang menciumnya makanya minta pertanggungjawaban, senyum Wingky.
Oke, oke. Wingky akan mengabulkannya. Istrinya pun pasti akan setuju juga, batinnya lagi.
*
*
*
"Mil, ikut aku makan di resto hotel bintang lima, ya? Si Nino mau ntraktir," ajak Selina ketika melihatnya yang baru keluar dari ruang pasien.
Nino, rekan mereka sesama dokter.
"Kok, bisa? Dia ulang tahun?" senyum Kamila melihat wajah happy temannya.
"Iya. Ifa, Nur, Tanto, Nadim juga ikut. Di root top hotel bintang lima. Kaya juga si Nino ternyata. Baru tau," kekeh Selina. Wajahnya tampak berseri seri. Semua nama yang disebutnya merupakan rekan mereka semua di rumah sakit.
"Baru tau?" ledek Kamila setengah menyindir mendengar akhir kalimat temannya itu.
"Iya. Mungkin sama dengan Deco. Sayangnya target ku berubah. Aku jadi pengen yang punya heli kayak pacarmu, pinjam juga ngga apa apa," tawa Selina berderai derai.
Maksunya menyindir atau apa, tapi Kamila tetap menimpali ucapan Selina dengan tawanya. Walau dengan perasaan ngga nyaman.
"Jadi ikut, kan, Mil," ulang Selina lagi pada ajakannya. Kini mereka sudah mendekati persimpangan antara kantin dan tempat parkir.
"Aku ngga bisa. Setengah jam lagi aku ada operasi. Padahal aku pengen ikut," tolak Kamila agak menyesal. Dia diminta dokter Sabrina membantunya di operasi pasien pemasangan ring jantung.
Tentu Kamila ngga menolaknya. Dia yang sudah menyelesaikan spesialis anestesiologi, memang selalu dibutuhkan rumah sakit jika para dokter akan melakukan operasi.
"Kamu makan di kantin? Emir ngga datang?" tanya Selina bertubi, kepo.
Terbersit niat dalam hatinya untuk ngga ikut, jika Emir nanti akan mengunjungi Kamila.
Ada penyesalan besar yang disesalinya puluhan kali karena menolak ajakan Kamila waktu itu. Setidaknya pandangannya tentang Emir akan berubah. Biarlah bukan siapa siapa, tapi bisa menempel pada teman yang kaya raya. Seperti dirinya pada Kamila. Dapat merasakan barang barang super mewah yang mungkin hanya bisa dimimpiinnya saja.
Dulu dia terlalu terburu buru menebar pesona pada Deco yang ngga dia selidiki terlebih dulu.
Kirain Deco sangat kaya raya hingga berani mendekati Kamila. Sudah jadi rahasia umum, para dokter di sini pun takut menjalin hubungan lebih dengan Kamila.
Kamila berasal dari keluarga yang sangat-sangat kaya raya. Tapi dia ngga sombong, cenderung ramah juga sangat rendah hati. Karena itulah banyak yang menaruh kagum dan diam diam terpesona padanya.
Tapi kabar yang tersebar, katanya kakeknya yang pensiunan tentara itu sangat selektif mencari pasangan hidup cucunya. Ibarat bibit, bebet dan bobotlah, semuanya harus lulus. Mereka yang naksir pun jadi memendamnya dalam hati saja. Karena merasa seperti pungguk yang merindukan bulan.
Ternyata Deco yang merupakan pengusaha muda merasa insecure dan mundur teratur setelah mendapat interogasi ketat oleh kakeknya Kamila.
Selina yang awalnya silau dengan ketampanan Deco, mulai menebarkan pesonanya.
Dia bahkan melakukan physical touch yang sudah biasa dia lakukan saat kuliah dulu dengan beberapa mantannya. Dengan Deco malah dia lebih berani lagi.
Deco sempat terjerat olehnya. Tapi ternyata keluarga Deco ngga menyetujui hubungannya. Dia yang walaupun berprofesi sebagai dokter ngga menarik minat keluarga Deco karena melihat silsilah keluarganya yang dari kalangan biasa saja.
Dari pada disindir tiap bertemu, Selina memilih mundur. Walau dia sudah telanjur rugi secara fisik walaupun dia sangat menikmatinya. Deco seorang yang pro ternyata. Malah dia yang sempat terbuai dan mungkin dipermainkan.
Kepada Kamila, Selina terpaksa berbohong karena malu, kalo sudah menolak Deco. Tapi kenyataanya, keluarga Decolah yang sudah mencampakkannya. Deco pun ngga mencarinya, mungkin laki laki itu sudah merasa puas menikmatinya.
Lagi pula kekayaan laki laki itu biasa saja kalo.dibandingkan teman Emir yang memiliki heli.
"Ya, di kantin saja. Emir juga lagi sibuk katanya," senyum lebar Kamila terkembang melihat keantusiasan sahabatnya.
"Ooo... Ya udah. Sukses ya operasinya" kata Selina tulus.
"Trims," balas Kamila kemudian keduanya saling melambai saat berpisah.
Kamila harus segera mengisi perutnya, karena operasi nanti pasti akan memakan waktu berjam jam lamanya.
Tapi wajah lelahnya berubah sumringah saat melihat laki laki yang tadi mengantarnya ke rumah sakit berdiri santai dan sedang tersenyum menatapnya.
Tanpa sadar Kamila agak berlari mendekati nya.
"Kok, tau aku di sini?" Wajah Kamila merona begitu sudah berhadapan dengan Emir.
Emir hanya tertawa sambil meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke kantin.
Melihat kehadiran dokter Kamila bersama laki laki yang sangat tampan berjas mahal membuat mereka saling pandang dengan asumsi masing masing.
Kekaguman juga terpancar di mata mata mereka yang ngga bisa mengalihkan pandangannya.
Tadinya Emir melihat Kamila yang bersama Selina dan sempat mendengar kalo Kamila akan ke kantin. Laki laki berkualitas maksimal itu berbalik arah menunggu gadisnya di kantin.
"Mau makan apa? Aku juga ngga bisa lama," jujur Emir, karena setelah ini dia harus menghadap papanya yang katanya mau membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Oke. Kamu juga ya, disini makanan dan minumannya enak enak loh," sahut Kamila mengerti dengan kesibukan Emir dan sekaligus promosi kantin rumah sakit.
Emir tertawa ringan.
"Oke, apa yang kamu rekomendasikan?" Kali ini Emir menatap lembut ke dalam netra bening Kamila.
Debaran keras terasa di rongga dada Kamila.
"Ba.... bagaimana kalo nasi sama sup iga. Minumnya jus apel?" usul Kamila mengalihkan tatapannya dari Emir.
"Boleh," senyum Emir melebar melihat gadis itu nampak tersipu malu.
Kamila pun memesankannya pada pelayan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
"Tadi aku mau ngenalin kamu ke teman temanku. Tapi aku sempat mendengar kalo kamu ngga bisa pergi lama lama karena mau operasi."
"Iya, tadi ada temanku yang ultah, mau nraktir ceritanya. Tapi aku terpaksa nolak. Karena waktunya sangat sempit." Jantung Kamila berdebar keras lagi mendengar kata kata Emir.
Ngga nyangka Emir akan mengenalkannya pada teman temannya. Padahal hubungan mereka baru beberapa hari saja.
Emir mengangguk mengerti. Daniel membocorkan rahasia Emir yang sudah punya kekasih. Tentu saja Emra ngotot minta dikenalin. Begitu juga Kalandra dan Ansel. Daniel.so biang kerok juga mengajak Fathan. Mereka berencana akan makan siang bersama di root top restoran hotel bintang lima milik Fathan.
Tapi sayangnya Emir membatalkannya di saat saat akhir, karena kekasihnya ada operasi yang ngga bisa dia tinggalkan.