NOT Second Lead

NOT Second Lead
Membantu Kalandra



"Nona, kita akan kemana?" tanya Adriana heran ketika Nidya terus saja menyeret tangannya setelah mereka meninggalkan restoran tempat makan siang tadi.


"Ke salon," jawab Nidya santai sambil terus berjalan di sepanjang trotoar. Karena salon langganannya yang akan dia tuju berada ngga jauh dari restoran favoritnya ini.


Adriana ngga menyahut, kembali menyerah dan terus mengikuti langkah kaki cepat Nidya.


Begitu sampai di dalam ruangan salon, Nidya memintanya menunggu di depan meja resepsionis. Dirinya sendiri langsung menemui pemilik salon langganannya.


Mereka hanya berbatasan kaca dengan Adriana. Bedanya Nidya pemilik salon itu bisa melihat keberadaan Adriana, tapi ngga berlaku untuk Adriana.


"Tante lihat, kan, gadis itu," ucap Nidya sambil menunjuk Adriana.


"Cantik sekali," puji pemilik salon kagum. Walaupun gadis itu ngga menggunakan merk branded kelas satu, tapi aura kecantikannya terpancar jelas. Sangat alami.


"Tolong buat dia lebih cantik lagi, ya, tante. Bentar lagi ada pengawalku yang akan ngantarin baju dan sepatu baru buatnya."


Nidya sudah sangat mempersiapkannya. Sedari menunggu jam makan siang, dia sibuk mencari dres dan sepatu untuk Adriana melalui katalog online.


Setelah mendapatkan pilihannya yang dapat membuat kakak kakunya itu panas dingin nantinya, Nidya menyuruh pengawalnya membelikannya dan mengantarkan ke salon.


"Hemmm," senyum tante pemilik salon mengerti.


"Dia siapa?"


"Gebetannya Kak Kalandra," bisik Nidya dengan tatapan penuh arti.


"Wow," puji tante itu ngga dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


Dia tentu tau siapa dan bagaimana seorang Kalandra.


Jadi gadis seperti ini yang dia suka, senyum Tante Listy-pemilik salon melebar.


Gadis yang sangat beruntung, batinnya.


"Tapi rahasiakan dulu, ya, tan."


"Siap nona muda," sahut Tante Listy mengerti.


Ngga lama kemudian, Nidya menemui Adriana dan membawanya ke ruangan privat.


Adriana heran melihat hanya dia saja yang melakukan aktivitas salon lengkap. Sedangkan nona mudanya hanya melakukan meni pedi saja.


"Nona ngga ikut dilulur?" tanya Adriana agak keberatan. Dia ngga enak hati karena nona mudanya seperti hanya menungguinya saja. Padahal dia hanya karyawannya.


"Aku udah kemarin lulurannya," jawab Nidya dengan senyum santainya.


"Ooh." Tapi kenapa malah memintanya dilulur. Lebih baik dia sama seperti nonanya saja melakukan meni dan pedi, pikir Adriana ngga mengerti.


"Aku sedang bosan. Sesekali kita membuat diri kita senang, malah bagus, kan," ucap Nidya masih dengan senyum yang terkembang di bibirnya.


Adriana ngga bisa membantah lagi. Harusnya dia bersyukur bisa menerima fasilitas gratis dari adik bosnyam


Kalo pun udah gajian, Adriana akan mikir seribu kali untuk melakukan perawatan di salon super mewah ini.


Dia sendiri sudah punya salon langganan tetangga perumahannya. Hanya keramas, creambath dna facial yang dia lakukan. Dia sama sekali ngga pernah luluran di salonnya, kecuali melakukannya sendiri di kamar mandi.


Tapi sekarang nona mudanya mentraktirnya dengan melakukan seluruh perawatan.


"Nanti kamu ganti dengan pakaian ini, ya," tukas Nidya sambil menunjukkan paper bag yang baru saja diantar pengawalnya.


"Ya, nona." Walau merasa bingung Adriana ngga bisa menolak.


Untuk apa dia berganti pakaian? Bukannya setelah ini akan pulang ke rumah karena hari sudah sore?


Atau nona mudanya akan mengajaknya pergi lagi?


Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya. Apalagi logo paper bag itu seperti yang pernah Kalandra belikan untuknya.


Nidya menahan perasaaan senangnya. Dia akan 'sedikit' membantu kakaknya.


Selanjutnya terserah kakaknya. Setidaknya dia sudah memberikan restunya.


*


*


*


"Tolong jemput, Adriana, ya. Aku ada janjian penting. Tadi lupa," kata Nidya langsung ketika Kalandra baru saja menyahut 'halo' saat telponnya tersambung.


Dan sebelum Kalandra menjawab, telpon sudah terputus. Ngga lama kemudian sebuah pesan muncul di ponselnya. Memberitahukan di mana salon tempat kedua perempuan itu berada.


Kalandra yang saat itu masih berada di tengah meeting, hanya menghela nafas panjang. Padahal di acara meeting ini juga ada opa dan papanya.


Alasan apa yang bisa dia katakan pada kedua sesepuh itu?


Selalu semaunya, batinnya kesal tapi juga ada rasa senang yang menyelinap.di dadanya.


"Ada apa?" tanya Emir yang melihat reaksi resah Kalandra setelah menerima telpon.


"Siapa tadi?" usiknya lagi.


"Aku harus pergi. Tolong gantikan peranku," ucapnya sambil memberikan laptopnya. Seharusnya setelah ini dia akan presentasi di hadapan semua orang.


Kalandra lebih percaya pada Emir dari pada Emra dan Ansel. Karena sepupunya itu ngga akan banyak bertanya seperti Emra dan Ansel yang sangat kepo.


"Oke," sahut Emir mengerti.


Dengan sopan, Kalandra berdiri dan pamit pada opa, papa dan para klien peserta meeting.


Untungnya Opa dan papanya ngga terlalu meributkan kepergiannya. Karena masih ada Emir yang juga punya kharisma seperti Kalandra.


Kalandra bersyukur karena dia belum menyiapkan alasan jika opa dan papanya bertanya. Saat ini sulit baginya mencari alasan yang bisa diterima karena melarikan diri dari meeting penting ini.


"Dia mau kemana?" tanya Ansel kepo sambil melihat kepergian Kalandra.


Emra juga mendekatkan kepalanya ke arah Ansel, ingin mendengar apa yang akan disampaikan kembaranya.


"Ngga tau," jawab Emir kalem.


"Haah?" Tapi dengan cepat Ansel menutup mulutnya yang mengeluarkan suara kekagetannya. Walau ngga cukup keras, tapi cukup membuat Opanya melirik tajam


Emra hanya nyengir sambil pura pura fokus melihat layar laptopnya.


*


*


*


Adriana terkejut melihat dres yang akan dikenakamnya. Walau sudah menduganya, tapi ngga nyangka akan seperti ini. Ini seperti dres untuk pergi ke pesta.


Dres dengan bahu terbuka dan dihiasai tali spageti. Panjangnya pun selutut.


Sekarang, sih, dia pede menggunakkan dres yang memperlihatkan lengan putihnya. Tapi tetap saja Adriana merasa ini terlalu berlebihan.


Lagian kemana nona mudanya. Sudah hampir setengah jam dia pergi saat tante pemilik salon ini mendandaninya.


"Cantik sekali," puji Tante Listy setelah selesai dengan pekerjaannya.


Dari awal saja gadis ini sudah sangat cantik. Kini dengan dandanan ala korea dari tangan dinginnya gadis gebetan tuan muda Kalandra ini menjelma seperti bidadari.


Adriana pun menatap takjub dirinya melalui pantulan kaca di depannya.


Ini dia, kah? batinnya kagum dan ngga percaya.


Dan matanya membulat melihat sosok laki laki terpantul di sana.


Bosnya!


Kenapa dia ada di sini? Adriana jadi salah tingkah. Apalagi mata Kalandara menyorot aneh.


"Oke, siapa dijemput," ucap tante Listy memecahkan kesunyian.


Kalandra tersadar. Dia terpukau,


Saat datang ke salaon langganan mamanya, seorang pegawai salon membawanya memasuki ruangan ini.


Jantungnya berdebaran dengan sangat keras melihat kecantikan yang terpantul lewat cermin besar di depannya.


"Makasih, tante," ucapnya saat wanita yang sebaya mamanya lewat di sampingnya sambil tersenyum.


Setelah mereka hanya tinggal berdua, Kalandra berjalan mendekat. Adriana yang menatapnya dari pantulan kaca ngga bisa bergerak. Kakinya terasa berat.


Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika dua tangan kekar itu memeluk pinggangnya.


"Kamu cantik sekali," bisik Kalandra di dekat telinganya membuatnya merinding dan seakan dilemparkan sangat tinggi. Sangat sulit menggambarkan perasaan berbunga bunganya saat ini.


Adriana dapat merasakan debaran jantung Kalandra memukul punggungnya. Harumnya Kalandra yang terhirup membuat Adriana semakin sulit untuk bernafas.


Adriana memberanikan dirinya menatap pantulan Kalandra dan semakin membuatnya tambah merona.


Laki laki itu sangat tampan dengan jas yang masih dikenakannya.


"Kita pergi," ucap Kalandra sambil melepaskan pelukannya. Dia pun menggandeng tangan lembut gadis itu.


Dia takut ngga bisa menahan diri. Dia hampir saja mengecup pipi gadis ini. Dan itu pasti bukan cuma awalan saja. Ruangan tertutup ini bisa membuatnya lupa diri.


Tapi dalam hatinya dia sangat berterimakasih pada adik nakalnya itu.


Apa artinya Nidya sudah tau dan bisa menerima Adriana? batinnya sumringah.