
Menyayat **Hati
Hai gaes jangan lupa vote,like komentar nya 🤗😘
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷**
Pagi ini seperti hari- hari sebelum nya,dua bulan setelah ia tahu tentang kebenaran istri kedua Sebastian. Alexa sibuk di dapur dibantu oleh kepala pelayan, meski sudah ada koki yang di tugaskan tetapi Alexa lebih suka memasak sendiri untuk menyiapkan sarapan.
"Non, maaf kalau saya lancang, apa non sudah tanya langsung pada tuan?"Kepala pelayan rumah bertanya dengan lirih.takut - takut kalau pelayanan lain atau Sebastian mendengarnya, ia selalu mendengar tangisan majikannya jika sedang sendirian di dalam kamar,tak tega melihat kesedihan ia mendekati Alexa untuk menenangkannya.
Alexa menghela napas pelan, "Gak tau bi, lexa bingung harus bagaimana, mungkin terlalu lemah sama dia" ucapan pasrah Alexa.
Bi Marti dan Alexa menoleh saat mendengar suara langkah kaki Sebastian dengan tergesa menuruni tangga.
Segera Alexa melepaskan celemek dan mengejar Sebastian yang menuju pintu depan.
"Mas tunggu! Mau kemana? Ko buru- buru? ini masih pagi lho" kata Alexa.
Sebastian menghentikan langkahnya. Dengan sedikit ragu ia membalikkan tubuhnya menghadap Alexa.
"Aku berangkat dulu ya, Ada meeting pagi ini tadi sekertarisku mendadak menghubungiku", kata Sebastian tanpa berani menatap Alexa.
"Sepagi ini, Mas? Kamu saja belum sarapan" Alexa tahu kalau Sebastian tengah berbohong.
"Iya. nanti aku bisa telat jika sarapan dulu, biar nanti sarapan di kantor saja", kata Sebastian melihat jam tangannya. "kamu hati- hati ya ke butiknya." Sebastian mengecup kening alexa "Love you", bisik Sebastian, seketika pandangan mereka bertemu sekian detik.
Lalu dengan segera Sebastian pergi meninggalkan Alexa yang berdiri termangu tanpa bisa menahannya.
Aku tahu kau sedang berbohong mas
Hanya bisa menatap punggung tegap itu dengan hati teriris sakit. Instingnya mengatakan jika ia tidak pergi meeting melainkan untuk istri baru nya.
"Non." Bi marti sudah berdiri di samping nya dengan tatapan binggung.
Alexa tersadar dari lamunannya.
"Bi, aku harus pergi, suruh Pak Mun untuk menyiapkan mobil." Tanpa menunggu jawaban bi marti, Alexa berlari menaiki tangga.
Tak lama ia turun dengan membawa tas clude mini nya.
"Aku pergi dulu, Bi," pamitnya.
Mobil meluncur di jalanan ibukota yang sudah mulai ramai. Masih pukul enam pagi, Alexa tak percaya kalau Sebastian akan menghadiri meeting. Dengan keberanian penuh mobil ia arahkan ke jalan merdeka menuju rumah seseorang.
Din!!...Din!!..Din..!!
Berulangkali Alexa menekan klakson, ia sedikit kehilangan kesabaran karena mobil- mobil yang mulai mengular.
"Masih pagi sudah macet begini," gerutu Alexa.
Mau tak mau meski melaju pelan, Alexa tetap bertahan di mobil, Ia engga menaiki ojek motor, meski dengan menaikinya akan mempersingkat waktu menuju tempat tujuan.
Setengah jam perjalanan, Alexa akhirnya sampai di sebuah rumah yang pernah ia datangi. Mobil berhenti di seberang jalan sejajar dengan gerbang yang tertutup. namun masih bisa terlihat Susana luar rumah tersebut.
Alexa turun untuk memastikan sesuatu karena mobil Sebastian tak terlihat di sana. Dan benar, gerbang bercat hitam itu terkunci dari luar menandakan sang penghuni rumah tengah pergi.
Dengan langkah lebar, Alexa kembali ke mobil, ia tahu akan menuju kemana setelah ini
Mobil meluncur di temani cahaya mentari yang mulai berpendar.
Di tengah perjalanan ia mencoba menghubungi seseorang. Beberapa kali hanya terdengar suara operator bunyi telepon tak terjawab.
"Sial" ucap Alexa.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, jalanan semakin ramai. Lagi- lagi ia harus berhadapan dengan kemacetan. Sejujurnya Alexa tidak begitu suka kemacetan daat menyetir sendiri pada saat jam sibuk begini. Ia memilih berangkat sedikit siang setelah jalanan sedikit lengang.
Gedung bertingkat dengan banyak kaca itu mulai terlihat. Alexa membelokkan mobilnya menuju halaman parkir gedung tersebut.
Dengan langkah cepat, Alexa mulai masuk ke dalam gedung. Dengan Aroma khas gedung tersebut menusuk Indra penciumannya. Ia menuju ke bagian informasi
Ia mengatur napasnya yang memburu.
"Iya, pasien atas nama Rena yang akan melahirkan", Kata Alexa tanpa basa basi
"Tunggu sebentar ya, nona." Bagian resepsionis terlihat sibuk ke arah ke monitor. Tangannya sesekali menekan keybord, mengetik sesuatu.
"Maaf nona, nama lengkapnya siapa?" tanya resepsionis
"Eum ..... Saya kurang tau, tapi nama suaminya Sebastian Abraham."
Kembali si petugas memainkan jemarinya di atas Tut keyboard.
Tak lama setelah petugas itu menyebutkan sebuah ruangan beserta nomor, Alexa segera menuju ke sana.
Melewati lorong-lorong panjang yang sunyi hanya terdengar suara langkah kaki nya sendiri.Setelah beberapa kali berbelok sambil sesekali melihat papan petunjuk, Alexa melambatkan laju kakinya. Sudah hampir sampai di kamar yang di tujuh. Hening, hanya terdengar suara detak jantung sendiri yang semakin berdegup kencang.
Ragu. Alexa menyadarkan tubuhnya di dinding. Ia harus menyiapkan hatinya agar lebih tegar lagi. Pemandangan yang akan di lihat nanti bisa jadi lebih menyakitkan hatinya.
Tanpa Alexa sadari, di ujung lorong seseorang. Pria tengah setia mengikuti Alexa sejak ia terjebak kemacetan tadi. Air mukanya dingin menatap haru pada Alexa yang beberapa hari menganggu pikirannya. Batinnya turut terluka menyaksikan Gadis dari masa kecilnya. Mendapatkan penghianatan dari suaminya.
Pelan, Alexa mendekati pintu kamar. Tangannya ingin sekali mendorong pintu kayu yang di bagian atasnya terdapat kaca. Alexa menahan gerakan tangan. Dari balik kaca berbentuk persegi ia dapat menyaksikan pemandangan yang kembali menyayat hati.
Nampak Alexa mulai berkaca-kaca. terlihat suaminya Sebastian tengah tersenyum bahagia, menciumi Rena berulang kali. didekapan wanita itu, bayi mungil terlihat damai dalam tidur di pelukan ibunya.
Membuat batin Alexa remuk redam. membuat tubuhnya merosot ke lantai. Ia menangis sesenggukan sendiri sambil mendekam mulutnya. agar tidak terdengar dari dalam ruangan.
Rasanya begitu sakit melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat, namun pemandangan itu ia lihat suaminya yang sedang bersama keluarga kecilnya.
Pria yang sejak tadi mengamatinya dari jauh mendekat. Ia tak kuasa melihat Alexa yang bersimpuh di lantai.
"Ayo, kita pergi." Pria bule itu membantu Alexa berdiri. Tanpa protes, Alexa mengikuti pria yang telah menjadi rekan bisnisnya, untuk menjauhi dari kamar, dimana Sebastian tengah berbahagia menyambut anak ke duanya.
Sampai di ujung lorong, Alexa melepaskan tangan pria yang beberapa hari ia kenal, dari tubuhnya ia belum sempat melihat siapa pria itu namun dari suaranya ia sudah tahu.
"Terimakasih, tuan Brian." Alexa berkata pelan, ia menatap Brian.
"Saya akan mengantar nona Alexa pulang,atau mau kemana untuk menenangkan diri." Bujukan Brian. ia tahu Gadis kecilnya sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa menunggu jawaban dari rekan bisnis yang bernama Brian, Alexa melangkah pelan menuju pintu keluar.
Brian mengikuti Alexa, ia ingin memastikan wanita berumur 27 tahun itu baik- baik saja. ia sebenarnya pengen memeluk Alexa kedalam pelukannya untuk menenangkan hatinya.tapi sayang ia tidak berani.
Aku tidak mau melihat mu menderita seperti ini karena pria berengsek itu Al. aku janji akan melindungi mu dari siapapun
batin Brian. mengepalkan tangannya. ia sudah mulai tahu jika wanita yang sedang bersamanya adalah gadis kecilnya itu.
🍃🍃🍃
MINI Cooper Clubman John Cooper Works itu berhenti di sebuah butik. Sang pengemudi turun dengan anggun. Tanpa melihat ke sekeliling,kaki jenjangnya memasuki ruangan bernuansa mewah dengan hampir seluruh warna interiornya berwarna gold.
Mobil Bugatti Veyron sport yang sejak tadi mengikuti mobil Alexa semenjak wanita itu keluar dari rumah sakit berputar balik, setelah memastikan wanita yang di ikuti ya nampak baik-baik saja.
"Selamat pagi,Bu," sapan seorang karyawan butik bernama Ayu.
"Pagi, Ayu. Yang lain mana, yu?" Tanya Alexa yang tidak melihat 4 karyawan lainnya.
"Ada di gudang belakang Bu, sedang menata barang yang baru masuk Bu. Dan Yang lain sedang memberi label dan di cek kembali kelayakannya.
.
"Oh, Bisa kamu iku ke ruanganku?" ajak Alexa.
"Iya, Bu." Ayu yang menjabat sebagai kepala butik mengikuti Alexa menuju ruangannya.
bersambung.....
..."Terima kasih telah hadir, aku berhenti sampai disini saja. di ujung sana kulihat sudah ada yang melambaikan tangan memanggilmu....
...Terima kasih Perjalanannya"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...