I'M Drowning In Love

I'M Drowning In Love
14. Perang Dunia



Perang Dunia.


...***Hari ini esok Atau suatu saat nanti, Langkah kakimu jangan pernah sekalipun kau hentikan....


...jangan pernah Kau tinggalkan Komitmen yang pernah kau niatkan***...


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Di sisi lain, Sebastian mengerutkan keningnya menatap sesaat nomor baru yang terlihat dilayar ponselnya Ia sedang di ruangan pribadinya dengan mood yang benar-benar luar biasa kacau sehabis rapat.


"Halo." Nada suaranya terdengar datar saat mengangkat panggilan masuk dengan nomor tak di kenal.


"............................................."


Sebastian mengerut dahi setelah mendengar suara yang tidak asing lagi di sebrang telepon. Ia menatap sesaat nomor di layar ponselnya.sebelum kembali menempelkan benda pipih di telinganya.


"Pakai nomor siapa?" Tanyanya.


"................................................."


"Bukannya aku sudah memutuskan sekertaris ku untuk datang menemuimu dan kenapa malah menelpon ku? Tanya Sebastian.


".................................................."


"Aku tidak habis pikir! Apa lagi yang kamu inginkan?"


"......................................................"


"Lima puluh juta sebulan bukan jumlah yang kecil Alexa! Apalagi kau tidak perlu capek-capek bekerja untuk mendapatkan uang." Sebastian memberikan penekanan setiap kalimat yang ia ucapkan.


"................................................"


"What's?! Kau mau menguras hartaku?" makian Sebastian di telepon.


"..............................................."


"Kau...." Sebastian belum selesai berbicara tiba-tiba Alexa menutup panggilannya. "Damn it!" Umpat kekesalan Sebastian.


#


Diana nyelonong masuk ruangan kerja sebastian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia dengan pedenya melangkah masuk dengan memperbaiki penampilan nya.


"Saya rasa bapak sudah tahu kalau nyonya Alexa tidak mau menandatangani berkas perceraian ini. Saran saya lebih baik bapak mengajukan gugatan cerai lewat pengadilan dan pengacara....."


"Brak...."


Sebastian menggebrak meja di hadapannya. Ia menatap Sebastian dengan tatapan kaget


"Keluar!" teriakan Sebastian "siapa yang menyuruhmu masuk?Dan ingat jangan lupa untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk keruangan kalau kamu masih ingin bekerja disini." katanya lagi Sebastian


Diana tiba-tiba pucat Pasih dengan seluruh badan gemetaran baru pertama kali melihat bosnya marah.


"B...ba...baik pak." Ucapnya sebelum melangkah pergi dari ruangan itu.


Pengacara Andrew yang sejak tadi duduk di hadapannya mengamati antara bos Dan sekertaris nya hanya bisa tertawa.


"Kau... Kenapa malah tertawa? Apa ada yang lucu?" Kekesalan Sebastian.


"Kau membuat sekertaris kesayanganmu sakit hati, seperti bukan sifat kamu saja." Ucap Andrew.


"Ck... Karena dia kompeten dalam bekerja, hubungan ku dengan dia hanya bos dan karyawan." Bastian menyela


"Iya hubungan antara bos dan karyawan yang tidak biasa. berikan kesan yang baik meski pernah menjalin hubungan di luar kerja,


"Itu bukan urusan mu. Saya memanggil mu kesini bukan membicarakan Diana tapi Alexa jadi tidak ada alasan lain selain membahas istri ku." Ucap Sebastian.


"Ck.. istri ku" Andrew tertawa "kau saja mau menceraikan nya. menurut ku, berikan saja yang ia mau. Kau pengusaha sukses, lima milyar sebulan Bukan jumlah yang besar untuk mu. Ku ingatkan lagi kau bisa di posisi seperti ini karena siapa? Rena yang bisa memberikan keturunan Abraham?bukan kan."


"Sebenarnya kamu ini pengacara siapa? aku atau pengacara nya wanita itu?" Sebastian menatap dengan tatapan dingin.


Andrew menarik nafas dalam-dalam. Berurusan dengan Sebastian setiap hari benar- benar membuat serangan jantung dadakan. Sebastian selalu membuat masalah bertambah rumit.


"Kalau kau tidak suka akan keputusannya, ku rasa usulan sekertaris mu itu tidak terlalu buruk. Tuntut saja lewat pengadilan.


"Aku melindungi reputasi Abraham, perceraian kami tidak harus menjadi konsumsi publik.kau tahu sendiri selama aku menjabat di Abraham Group aku selalu mengandeng Rena bukan Alexa, yang publik tahu istriku hanya Rena." Ucap Sebastian.


"Ck.. kau terlalu pelit pada istrimu sendiri.dan kau terlalu sombong dan juga egois" Andrew menimpali.


Sebastian berdecik tidak suka.


"Aku bukan pelit, aku tidak suka dia tidak terkontrol hidupnya hanya bisa menghabiskan banyak uang yang tidak penting."


Andrew terkekeh.


"Bukannya kamu sudah tidak peduli padanya? Kau aneh."


Sebastian menatap pengacaranya sekaligus sahabatnya itu dengan sorotan tajam. Pria ini selalu saja membuat dirinya merasa kesal tapi ia tidak bisa marah, dia satu-satunya yang tahu apa keinginan nya.


Sebastian mengabaikan rasa kesalnya, ia mentoleransi mereka yang punya kemampuan dalam bidangnya.


"Lupakan yang tadi. Suka tidak suka, cepat atau lambat akan tetap bercerai bukan, dia pasti akan menandatangani berkas perceraian kami."


Andrew bangun dari kursi tempat duduknya ia menepuk pundak sahabat sekaligus klien nya.


"Kalau kamu sudah memutuskan, apa artinya aku disini. Bukannya dia akan pulang, kau tidak menjemput istrimu dari rumah sakit?" Tanya Andrew.


Sebastian hanya bisa acuh.


"Dia punya kaki dan tangan,dia bisa pulang sendiri, lagian saya sudah di tunggu Rena dan anak- anak dirumah."


Sekali lagi Andrew Hanya bisa menarik nafas pasrah, ia tidak percaya seorang Sebastian terkadang bisa menjadi sangat tidak berperasaan


****


"Brian..."


"hmm.."


"Kenapa kamu masih memberikan suntikan obat itu.? hari ini aku di ijinkan pulang." tanya Alexa yang masih menatap Brian di depan nya yang sedang memegang jarum suntik.


"Sudah Tahu, makanya saya kesini." ucapnya dengan nada tenang ia tahu kalau Alexa dari kecil takut jarum suntik.


"Aku... Ng... gak mau kalau di suntik, rasanya pasti sakit." ucap Alexa sambil cemberut.


Brian tertawa kemudian ia meraih pinggang Alexa untuk mendekatkan dirinya ke dekapannya ia mulai mengarahkan jarum suntik ke arah lengan tangan Alexa sambil terus mengajak bicara.


"Aku dengar kamu menolak kompensasi yang diajukan oleh suami mu. sudah selesai," ucap Brian sambil melepaskan Alexa dari dekapan nya.


"Ng... sudah selesai, ko gak sakit." Alexa sambil mengusap lengan tangannya " aku menolak karena dia ngasih aku lima puluh juta perbulan."


"Yang bilang sakit siapa? aku akan bantu kamu, jika kamu butuh bantuan."


"Ish, memang kita sedekat ini iya sampai harus minta bantuan kamu."


"Kenapa tidak,kita bisa jadi teman bukan hanya jadi rekan kerja saja gimana?" ucap Brian sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"ng ... makasih atas tawaran mu itu" ucap Alexa sambil merapikan barang-barang ke dalam koper.


Brian hanya bisa tersenyum.ia merasa senang bisa dekat lagi dengan Gadis kecilnya itu sebagai teman meski ia belum menjelaskan siapa dia sebenarnya.


"Apa sudah selesai, ayo aku antar kamu pulang." ucap Brian sambil meraih koper Alexa dari genggaman tangannya.


"Aku bisa pulang sendiri pakai taxi online.aku tidak mau merepotkan orang super sibuk seperti mu.


Brian akhirnya mengalah, berdebat dengan nya tidak akan pernah ada ujungnya ia tahu wanita yang ada di samping nya itu sungguh keras kepala.


*


*


*


Alexa menyeret kopernya turun dari taxi online yang mengantarnya pulang.


"Nona.. mari.. mari saya bantu bawa kopernya ke dalam." Ucap seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan dirumah itu.


Alexa mengangguk Ia mengikuti langkah wanita paruh baya itu ke arah kamarnya. Alexa menatap sejenak ke dalam rumah ada yang berubah semenjak ia tidak ada dirumah.


"Dimana yang lainnya? Kenapa aku tidak melihat yang lainnya?" Tanya Alexa.


Kedua pembantu yang ada di hadapannya sekarang saling berpandangan satu sama lain. Ia ragu untuk menjelaskan tentang ke adaan rumah semenjak nona pemilik rumah tidak ada.


Seingat Alexa, rumah ini memiliki banyak pelayan Herannya ia hanya menemui seorang tukang kebun, dua satpam dan dua pembantu dirumah sebesar ini.


Bi marti tampak ragu- ragu sebelum menjawab.


"Anu.. non... bapak sudah memecat yang lainnya... Setelah nyonya Rena datang kesini." Bi marti sedikit gemetar ketakutan.


Semua pelayan dirumah ini telah di pecat oleh nyonya barunya karena tidak suka dengan cara kerjanya, meski kesalahan kecil bisa membuat mereka di pecat


"Sejak kapan Dia ada dirumah ini, aku saja masih istri sah nya. Kenapa Sebastian sudah berani membawa dia kerumah." Kata Alexa dingin.


Ia memandang kedua pembantunya di hadapannya, Alexa menatap berganti kedua orang yang masih berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk gemetar.


"Ya sudah ambilkan aku air minum"


Bi marti dengan segera mengambil air di gelas. dan menyodorkan kepada Alexa.


Alexa meraih air minum yang sudah di ambilkan Bi Ratih yang masih keponakan Bi marti.


"Begitu rupanya yasudah tidak usah di jelaskan aku sudah tahu." Ucapnya , kemudian meneguk habis isinya hingga tandas, suhu Jakarta yang panas memang sudah membuatnya haus sejak didalam taxi tadi.


Alexa melangkah masuk ke dalam kamarnya, ia mengalihkan pandangan ke sekeliling kamarnya, di tengah ruangan ada foto pernikahan dirinya.


"Ambilkan aku dus yang besar." Ucap Alexa.


Bi Ratih segera berlari ke dapur dan kembali dengan sebuah dua berukuran besar.


Alexa melepas sepatunya dan naik ke atas kursi untuk menggapai foto berisi dirinya dan Sebastian. Ia melemparkannya ke dalam dus.


Selanjutnya ia membongkar isi lemarinya mengeluarkan sebagian besar baju-baju miliknya. Dalam sekejap dus itu sudah penuh dengan barang- barang dan Bi Ratih kembali membawa beberapa dua besar dari dapur.


"Bi tolong lanjutkan yang belum selesai, saya mau mandi dulu." Alexa mengyeka keringat di dahinya.


Nona... Ini..." Bi marti tidak jadi melanjutkan kalimatnya


Alexa tertawa."Iya semua dibuang dan panggil orang untuk membawa ini semua keluar"


"Nanti... Nanti... Kalau tuan bertanya..?" Bi Ratih memberanikan diri bertanya. Bi marti menatap tajam dan ia hanya bisa meringis kemudian menyadari kesalahannya. ia takut kalau Alexa menganggap terlalu ikut campur.


"Tidak apa-apa,dia tidak akan bertanya tidak usah takut. Dan kalau sudah selesai keluarlah, aku akan memanggil kalian kalau aku butuh." Ucap alexa


Bersambung.....


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa klik favorit,rate bintang 5, komen,like,vote dan hadiah nya. Semoga kalian selalu sehat selalu dan bahagia 🥰