
Bertemu Kembali
...Cinta itu Dasarnya keputusan Bukan Perasaan...
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sebastian mendengus pelan.
"Kau benar, terserah dia mau melakukan apa pada akhirnya kami tetap akan bercerai." Ucap Sebastian.
Andrew mengangguk. Untuk sesaat ia tampak berpikir.
"Tapi ada yang mengganjal dipikiranku. Kau memberi Alexa kompensasi hanya uang bulanan segitu dan hotel di daerah Bogor. Untuk ukuran janda seorang Sebastian Abraham, tidakkah itu terlalu sedikit?" Tanya Andrew.
Sebastian tertawa. "Itu pantas untuknya, kami tidak memiliki anak dan dia cuma wanita bodoh yang mau aku manfaatkan,Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kakek begitu menyayanginya sampai- sampai memaksaku untuk menikahinya dan mendekatinya dengan alasan konyol seperti hutang Budi"
Andrew mendesah.
"Dari sudut pandanganku, dia satu-satunya wanita yang tidak melihat harta dan kekayaanmu, buktinya dia bisa menjalankan butiknya dan sebuah cafe dengan temannya,yang sesungguhnya parasit itu Rena tidak bisa apa-apa."
Sebastian tertawa terbahak-bahak. Hal itu, dia juga tahu. Tapi pria seperti dirinya tidak hanya membutuhkan seorang pendamping yang cinta mati kepadanya. Ia butuh pendamping yang rasional. Seorang istri yang bisa menaruh kepercayaan kepadanya disaat ia benar-benar tengah sibuk berusaha mencapai ambisinya bukan dengan mencurigainya terus- menerus. Wanita itu tidak lebih dari seorang parasit yang menyedihkan dimatanya.
" Kau mulai terdengar seperti kakek. Tolong lah.... Aku sudah cukup mendengar ceramah kakek setiap kali ia membahasnya, kalau aku mau menceraikan Alexa demi Rena, dan Rena itu berbeda dia bisa memberiku anak tidak seperti Alexa yang mandul itu." Sebastian meraih gelas anggur kemudian menuangkan minum itu untuk dirinya dan Andrew.
Andrew tersenyum sambil menggeleng- gelengan kepadanya. " Kau salah besar, Alexa bukannya pernah hamil? kau sungguh konyol telah dibutakan oleh cinta"
"Terserah padamu, aku hanya mencoba memberi saran. Ingat jangan sampai menyesal gara-gara Rena, Alexa itu cantik dan masih muda, menurut ku sebagai suami, kaulah yang seharusnya membimbingnya. Suatu saat, jika ia bersinar dan tanganmu tidak bisa menjangkaunya lagi. Kau pasti akan sangat menyesal." Andrew mengangkat gelas anggur nya ke arah Sebastian dan kemudian meneguknya sekali.
Sebastian membalasnya dan menyesap anggurnya juga.
"Tidak akan pernah menyesal untuk bercerai dengan nya" Sebastian dengan sombongnya "bahkan dia mau sukses kek, bersinar apapun dirinya nanti, Dimata dunia sekalipun dia tetap menyandang gelar janda dari Sebastian Abraham." Sebastian tertawa kecil "Wanita itu bahkan harus tetap bergantung pada ku untuk tetap bisa hidup tapi kalau dia tidak mau atas kompensasi yang aku berikan, Jangan harap aku kasih sepeserpun dari ku."
"Kau sudah gila, sudah melanggar hukum melantar kan mantan istrimu nanti yang seharusnya ia dapat bisa di penjara kamu"
Andrew diam. Ia malas untuk melanjutkan debat dengan tuan sombong dan keras kepala ini.
Sebastian mengalihkan tatapannya ke arah pemandangan yang terhampar di jendela kaca kantornya. sikap dingin Alexa kemarin saat ia menemuinya di rumah sakit berputar-putar di dalam ingatannya sampai sekarang.
Sejujurnya. Sebastian sendiri lupa mengapa ia bisa menjadi benci pada istrinya sendiri, sejak kapan ia bisa merasakan begitu, Apakah itu dimulai ketika mereka menikah?
Sebastian menggeleng cepat beberapa kali, untuk apa juga ia memikirkan wanita itu? Dalam hidupnya, wanita itu sudah tamat!. Yang ia pikirkan sekarang adalah masa depannya dengan keluarga barunya yang telah memberikan kebahagiaan.
*
*
*
Setelah seminggu ia mengurus masalah di kantor anak cabang di Jerman ia kembali ke tanah air. Perjalanan Jerman - Indonesia kurang lebih lima jam perjalanannya kini pesawat jet pribadi berlogo crop Group company telah mendarat di bandara. Supir pribadinya sudah menunggu tuan mudanya di depan pintu lobby bandara, setelah melihat orang yang di tunggu ia langsung sigap membukakan pintu mobil.
"Pak kita ke rumah sakit dulu, habis itu kita ke rumah utama." Ucap Brian dingin.
"Tapi tuan muda...." Ucap sang supir yang belum menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Brian.
"Itu biar urusan saya. Cepat jalan atau bapak saya pecat."
"Ckck serem amat, dikit - dikit pecat, dikit - dikit buang ke Af..." Gumuan Dante yang masih di dengar oleh Brian.
"Aduh sakit... Berkurang sudahlah kecerdasan ku."ngeluh kesakitan sambil mengelus kepala nya yang di tonyol oleh Brian.
Brian tersenyum tipis hampir tidak terlihat. Meski ia orang yang bersikap dingin akan tetapi ia bisa bersikap humoris kepada keluarganya.
Sang supir terkekeh melihat interaksi tuan mudah nya. Meski ia bukan saudara kandung tapi melihat kedekatan nya seperti kakak beradik.
Alexa dan Raya kini sudah sampai didepan pintu kamar rawatny, dari kejauhan terlihat wanita cantik,seksi dan berpakaian mini berdiri di depan pintu, berbeda jauh dengan Alexa yang polos tanpa make-up nyaris terlihat seperti anak kecil di bandingkan dengannya.
Wanita ini adalah Diana, sekertaris kepercayaan Sebastian.
Alexa menatap Diana saat ini. Ia melempar senyum penuh makna ke arah wanita itu.
"Alexa, aku pulang dulu ya bentar lagi ada pemotret an, dan jika ada apa-apa kamu bisa hubungi aku." ucap Raya setelah mengantar Alexa masuk ke dalam.
Alexa hanya menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam Setelah mempersilahkan Diana masuk ke dalam. dan ia mengambil map di atas Nakas dan menyerahkan kepadanya.
Diana menerima dan memeriksanya, wajahnya berubah kelam dalam sesaat.
"Kenapa tidak di tandatangani?" Diana menatap Alexa dengan wajah bingung
Alexa tersenyum sambil menggeleng.
"Katakan pada atasanmu,aku tidak setuju dengan tawaran nya itu."ucap Alexa.
Kali ini Diana terlihat kesal. Nyonya muda di hadapannya ini terlalu menilai tinggi dirinya sendiri.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Diana akhirnya
Sudut bibir Alexa melengkung membentuk senyuman, namun ekspresi wajahnya tetap datar.
" Kau tidak perlu tahu dalam hal ini, aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu." Ucap Alexa dingin.
Diana terdiam sesaat. Ia mengerjai menatap Alexa. Wanita ini sejak kapan bisa memberinya perasaan terintimidasi seperti ini? Yang ia tahu. Istri tuan Sebastian, orang yang lembut,sejak kapan ia terlihat begitu arogan di hadapannya seperti sekarang? Sepasang iris hitam itu seperti bilas es yang mampu menebus Hinga ke dalam jantungnya.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada wanita ini?
"A- aku akan menyampaikannya kepadanya jika kau tidak setuju, Tapi saran ku, lebih baik terima tawarannya saja sekarang sebelum beliau berubah pikiran." Diana mencoba mempengaruhi Alexa.
Alexa melipat tangannya di depan dada. "Itu urusanku, kau tidak harus menjadi penasehat sekarang." Ucap Alexa memberi penekanan pada akhir kalimatnya.
Kalimatnya tajam namun sikapnya terlihat santai. Berbeda dengan Diana yang tampak menegang untuk sesaat.
Wajah Diana memerah,
Diana menarik nafas panjang,berusaha menormalkan gejolak hatinya.
"Aku akan menelpon tuan Sebastian untuk memberitahu hal ini." Ucap Diana.
Alexa memberinya ekspresi penuh senyum.
Diana mengamati ponsel di tangan Alexa dan diam-diam tersenyum mengejek.
"Oh maaf, aku tidak tahu kalau kau tidak memiliki nomor telepon tuan Sebastian.' Diana mencibir.
"Hem... Ini bukan sesuatu yang harus ku jelaskan padamu, cepat berikan nomor ponsel nya sekarang?."Alexa menyodorkan ponselnya, ia meminta Diana yang mengetik nomor Sebastian di ponselnya.
"...................................................."
"hai tuan Abraham" Alexa kini sambil membelakangi Diana. Nada suaranya terdengar ceria, ekspresi wajahnya pun sama.
".............................…........................"
" Ya..... Asal kau tahu ponselku hancur saat kecelakaan bulan lalu. Jadi aku membeli ponsel seadanya dengan nomor baru" Ucap Alexa tenang
".........................................................."
" Aku ingin memberitahumu, kalau aku menolak menandatangani surat cerai kita. Aku tidak setuju dengan jumlah kompensasi yang kau tawarkan."ucap Alexa.
"............................................"
Alexa tertawa mendengar nada suara Sebastian yang jelas-jelas kesal.
"Aku tidak akan menunda lagi jika kau memberi kompensasi yang sesuai. Bagaimana pun. Aku adalah istri sah, wanita yang kamu nikahi.apa yang dipikirkan media di luar sana jika mereka tahu kalau kau menceraikan ku dengan tunjangan bulanan sekecil itu?" Hardik Alexa menawarkan nya ke arah Diana, mengabaikan wajah Diana tertekuk sempurna.
"..........................…..........…............"
"Lima puluh juta ya... Kau bahkan memberi ****** mu hampir seratus juta setiap bulan." Alexa melirik ke hadapan Diana
"Aku ingin 5 milyar sebulan dan juga rumah yang di Jakarta dan resort di Jepang juga butik yang sudah aku jalani." Ucap lagi dengan tenang.
Diana membelalak kaget kemudian ia menahan dirinya. Ia tahu, Sebastian tidak akan senang jika ia bertindak lebih dari ini.
"................................................"
Alexa kembali tertawa renyah.
"Oh ... Jadi sekarang kau takut bangkrut?"
"......................................................."
Alexa menutup panggilannya, tidak membiarkan Sebastian menyelesaikan kalimatnya. Dia tahu kalau pria itu pasti sangat kesal sekarang.
"Nah, aku sudah mengatakan apa yang aku inginkan.kau bisa pergi, aku ingin beristirahat sekarang." Ucap Alexa ke arah Diana.
Diana berdiri dengan enggan. Ia menatap Alexa sekilas sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan itu.
"Aku harap kau tidak menyesal nyonya." Ucap Diana sebelum bayangan benar-benar menghilang di balik pintu.
Alexa menatap kepergian Diana dengan sorot dingin.kedua tangannya terkepal erat untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia mencoba mengatur emosinya. Saat kedua matanya kembali terbuka, air mata nya tak bisa dibendung lagi yang mengalir keluar disertai suara isak yang tidak bisa tertahan.
Di balik pintu ruangan rawatnya yang sedikit terbuka, Alexa tidak menyadari ada sosok lain yang tengah memperhatikannya.
Brian sudah berdiri di luar sejak tadi ia mengepalkan tangannya. Ia mendengar separuh dari perdebatan antara Diana dan Alexa, juga mendengar saat Alexa menelpon suaminya beberapa saat lalu. Ia melihat bagaimana kesalnya Diana saat keluar tadi. Sampai- sampai mengabaikan dirinya yang berdiri terpaku di luar ruangan.
"Lho... kenapa disini? Tidak jadi masuk? Tanya Dante yang baru saja sampai setelah tadi ia minta ijin ke toilet sebentar.
"Nanti saja,beri dia waktu sendiri." Ucap Brian.
Dante itu tertawa, tidak biasanya Brian yang kaku sebegitu perhatian pada wanita,tapi wanita ini berbeda karena ia adalah gadis kecil kesayangan nya.
"Bro.. masuk saja siapa tahu dia butuh ketenangan, sepertinya dia butuh teman,lihat lah ia begitu tertekan.siapa tahu dia ingat dengan kamu teman masa kecil nya."ucap Dante memprovokasi sahabat sekaligus bosnya kapan lagi bisa mengerjain bosnya.
Dante itu hanya tersenyum penuh arti..
Dan akhirnya Brian masuk ke dalam ruangan khusus Alexa. Ia melihat Alexa menangis.pria ini menarik Alexa kedalam dekapannya dan mengelus kepalanya.
"Menangis lah jika membuat mu tenang." bisik Brian
Alexa mendongakkan wajahnya ke atas dan melihat siapa yang sudah memeluknya ia kaget melihat rekan bisnis tiba- tiba datang.
"Eeeh..... Brian kenapa kamu ada disini.?
Alexa dengan cepat menghapus air matanya.
"Simpan dulu pertanyaan mu yang tidak penting itu.kenapa kamu menangis?jika ada apa-apa bercerita lah aku pasti akan membantu mu."
"A...aku tidak apa-apa." Sambil mengurai pelukannya dari dekapan Brian namun semakin erat pelukannya.
Hangat, nyaman seperti pelukannya kak Rian
Alexa sambil mencium aroma maskulin Brian.
"Jangan bohong Alexa, saya mendengar semua perdebatan kamu dengan wanita ondel-ondel itu." Tegas Brian.
"Aku akan membantumu jika kamu butuh bantuan, jangan pernah menangis lagi,jika kita bertemu kembali aku tidak mau melihat kamu bersedih karena pria berengsek itu aku harap ini terakhir kalinya kamu menangis."
Alexa hanya menganggukkan "Brian kenapa kamu kesini, apa ada yang mau di bahas soal resort?"
Brian tersenyum tipis "Datang kesini tidak mau membahas kerjasama kita, aku kesini hanya mau kasih kamu ini,biar kamu cepat pulih." Brian menunjukkan botol kecil berisi cairan vitamin yang di buat sendiri.
Bersambung......
Alexa Olivia Marley Jansen si calon janda muda ðŸ¤
Brian Leonardo Elgan
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa klik favorit,rate bintang 5, komen,like,vote dan hadiah nya. Semoga kalian sehat selalu dan bahagia 🥰