I'M Drowning In Love

I'M Drowning In Love
158. Rencana Tes DNA



Rencana Tes DNA


Happy Reading love 😘😘


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sebastian masih ragu, dirinya bukan ayah biologis anak-anaknya yang selama ini ia rawat yang ia sayangi sejak dari mereka di lahirkan di dunia ini. Sebastian menatap anak-anaknya yang sedang tertidur dengan lelapnya. ia menatap satu persatu wajah anak-anaknya.


"Papa akan selalu menyayangi kalian meski kalian bukan darah daging ku"


Sebastian mencium kening anak-anaknya yang tidak bersalah. ia hanya korban kelicikan ibunya yang telah membohongi nya. Untuk memastikan kabar tidak baik tersebut, Sebastian harus melakukan Tes DNA pada anaknya, apa mereka benar-benar anaknya atau kabar tersebut memang benar jika mereka bukan anaknya yang ia khawatirkan.


Sebastian menghubungi pengacaranya Andrew. untuk membantunya mencari rumah sakit yang terpercaya untuk melakukan tes DNA.


"Hallo Ndrew" ucap Sebastian.


"Haloo bro, tumben telepon ada apa? kau menganggu acara malam ku"


"Maaf Ndrew, Aku minta bantuan mu, Carikan rumah sakit yang terbaik"


"Rumah sakit yang terbaik?"Pekik Andrew "Kenapa tidak pergi ke DMJ Hospital saja?" saran Andrew.


"Apa?" ucap Sebastian, ia ragu jika harus kerumah sakit milik mantan mertuanya itu.


"Kenapa?" kata Andrew "Tidak ndre, aku sekarang tinggal di Bogor,aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ku disini" bohong Sebastian. ia tidak mau jika sahabat dan selaku pengacara nya itu tahu jika ia akan melakukan tes DNA.


"Tanya saja sama karyawan kamu yang asli orang Bogor, saya mana tahu bro"


"Ok baik lah, terimakasih atas saran mu"


Sebastian menggelengkan kepalanya sahabat ini tidak pernah berubah dari dulu, selalu bermain wanita.


Apa aku harus ke DMC Hospital? bagaimana dengan anak-anak jika harus meninggalkan mereka.


Keesokan hari Sebastian memutuskan pergi kerumah sakit. ia menitipkan anak-anak kepada wanita paruh baya yang biasa membersihkan rumahnya.


Disini Sebastian berada di DMJ Hospital, ia mendaftar diri terlebih dulu sebelum melakukan tes DNA nya. untuk menjawab keraguan nya. ia harus melakukannya meski Rena tidak memberitahu siapa ayah biologis nya.


"Hasilnya bisa di ambil minggu depan iya tuan" ucap perawat.


"Apa tidak bisa lebih cepat sus?"


"Tidak.ini sudah lebih cepat, jika memang bisa cepat, pihak rumah sakit akan menghubungi tuan"


"Baiklah sus, Terimakasih"


***


Sebastian tidak langsung pulang ke Bogor ia ingin menjenguk mama nya. yang ia titipkan dirumah sakit rehabilitasi kejiwaan. semenjak ia pindah ia belum pernah menjenguk mama nya. kebetulan ia ada di Jakarta. jadi, ia akan menemui ibunya terlebih dulu.


Sebastian akan mendapatkan kabar dari rumah sakit mengenai ibunya hanya melalui via telepon saja. dia juga sedikit marah sama ibunya karena telah berencana melakukan kejahatan kepada mantan istrinya dulu bersama Rena.


Sebastian melihat mama nya duduk di pinggir jendela. terlihat wanita paruh baya ini sedikit berbeda, tidak ada penampilan gelamor yang biasa ia kenakan seperti biasa, wajah cantik terlihat pucat Pasih seperti mayat hidup dan nampak kurus. Sebastian prihatin melihat keadaan mamanya.


"Mama apa kabar?" sapa Sebastian memposisikan dirinya di hadapan mamanya agar ia bisa menatap wajahnya.


Mama Elisa menatap kosong ke arah Sebastian. seperti ini lah kejiwaan mamanya, hanya diam tidak mau berbicara. kata pihak dokter yang menangani ibu Elisa kondisinya jauh lebih baik, karena sudah tidak sering mengamuk dan berteriak-teriak seperti dulu saat pertama kali masuk.


"Mama apa kabar?" kata yang sama Sebastian ucapkan. "Ini Tian mah, putra mama" Sebastian mencoba meraih tangan mamanya. ditatapnya mamanya itu yang ia rindukan.


Dulu mama nya selalu tersenyum dan memberi nasehat jika melihat putranya. namun sekarang hanya mendapatkan tatapan kosong yang Sebastian dapat.


Sebastian merasa bersedih melihat kondisi mamanya sekarang. Sebastian menarik nafas panjang. mungkin mamanya tahu jika cucu-cucunya bukan cucunya.


Namun mama nya tetap diam, tidak merespon. "Mah!!,jika mama tahu bicaralah mah, Tian hanya ingin tahu kebenaran saja" tiba-tiba mama Elisa menitihkan air matanya. Sebastian terkejut dengan respon mamanya meski hanya dengan air mata.


"Mama menangis? apa mama tahu sesuatu? mama ingin bicara apa, katakan mah!" Sebastian merasa senang meski hanya air mata. ditarik tubuh kurus mamanya sekarang kedalam pelukannya. Sebastian ikut menitihkan air matanya ia merasa bahagia.


"Mah cepat sembuh iya, Sebastian menunggu mama,sekarang tian mulai merintis usaha kembali dari nol. Sebastian minta dukungan mama" bisik Sebastian,


Pria ini mengusap air matanya agar mama nya tidak melihatnya menangis. Sebastian mengurai pelukannya.


"Bastian tinggal iya mah, mama jaga diri baik-baik selama di sini, Minggu depan Tian akan datang kembali" Sebastian mencium pucuk kepala mamanya sebelum ia pergi. namun saat Sebastian hendak pergi tangan Sebastian di cekal mama Elisa.


Sebastian tertegun karena tangannya di tahan oleh seseorang membuat Sebastian menoleh kebelakang. benar saja jika mamanya yang sudah mencegah pergi.


"Mama!!" lirih Sebastian. ia berjongkok di hadapan mamanya. ternyata memang benar jika mamanya sudah banyak kemajuan meski ia belum bisa di ajak bicara.


"Ada apa mah" Sebastian nampak berkaca-kaca melihat mamanya. tangan kedua mama Elisa menangkup wajah putranya itu. di belai - belainya seperti dulu. ini lah yang membuat Sebastian merindukan mamanya. Sebastian menitihkan air matanya.


"Jangan menangis putraku"


Deg


Apa! Mama berbicara, sungguh ini diluar perkiraan ku


"Ini kemajuan yang sangat signifikan Tuan" ucap Dokter yang merawat mama Elisa. kebetulan ia akan visit saat Sebastian ijin untuk bertemu mamanya.


"Tian gak menangis mah" Sebastian menghapus air matanya dengan kasar. pria ini memeluk mamanya.


"Terimakasih Tuhan, kau kabulkan doa ku" Sebastian kembali menitihkan air matanya. dengan segera ia menghapusnya kembali sebelum mengurai pelukannya.


"Maafkan Mama sayang" ucap mama Elisa ia masih dengan pandangan kosong. "Bastian sudah memaafkan mama"


"Maafkan Mama sayang" ucap mama Elisa kembali. mama Elisa beberapa kali mengulangi kata yang sama dengan rahut wajah yang panik dan gemeteran.


"Dok, kenapa mama saya dok?" Sebastian terkejut melihat perubahan mamanya. ia bangkit dan berdiri di samping Dokter dan perawat yang menemaninya.


"Tenang Tuan, jangan panik" Dokter tersebut mengeluarkan suntikan dan menyuntikkannya kepada mama Elisa sebelum ia mengamuk dan berteriak.


Melihat mamanya tertidur setelah diberikan obat penenang. "Dok apa mama saya akan baik-baik saja?"


"Ny. Elisa akan baik-baik saja tuan, ini malah jauh lebih baik, nyonya mengalami kemajuan yang bagus, namun nyonya tidak boleh terlalu tertekan dan membuatnya emosi, beliau harus selalu tenang agar tidak panik seperti ini" jelas Dokter yang menangani Ny. Elisa.


Sebastian merasakan campur aduk, ia bisa melihat perubahan mamanya meski ia sempat histeris tadi.


Sebastian mengelus kepala mamanya dan mencium keningnya sebelum ia kembali ke Bogor.


"Baiklah Dokter, jika terjadi sesuatu kepada mama saya,tolong hubungi saya seperti biasa"


"Iya Tuan Abraham, kami akan menghubungi anda seperti biasa mengenai perkembangan Ny.Elisa"


"Kalau begitu saya permisi Dokter"


Sebastian menatap kembali mama nya sebelum ia keluar dari kamar Ny. Elisa.


Bersambung...


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Terimakasih atas kunjungan jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan like sebanyak-banyaknya 😘😘


Jangan lupa mampir ke karya terbaru author yang berjudul Janda Tapi Perawan jadikan salah satu novel favorite mu lope lope 😘🤗