Behind The Lies

Behind The Lies
Berhenti Membohongi Diri



Iyash kembali datang ke rumah Ganjar untuk menemui Aruna. Dia berharap kali ini bisa membicarakan banyak hal dengan wanita itu. Namun, lag-lagi dia gagal, yang dia temui malam itu justru adalah Ashilla.


“Bi Sumi bilang tadi pagi kamu ke sini?” tanya Ashilla seraya duduk.


“Iya. Sekalian berangkat kerja.” Iyash pun duduk, kemudian mengedarkan pandangan.


“Dan sekarang pulang kerja kamu ke sini lagi, mau ngapain?”


“Aku mau ketemu Aruna.”


“Mau apa lagi?”


“Kenapa?” Kening Iyash mengernyit. “Kenapa aku nggak boleh ketemu sama dia?” tanya Iyash gondok.


“Bukan, tapi sebaiknya kamu lupain Aruna, ikhlasin dia, Yash.”


“Sepuluh tahun aku nunggu dia,” kata Iyash meyakinkan. “Kenapa di ujung penantianku, aku harus melupakan dia.”


“Tapi, dia udah nikah, Yash,” ungkap Ashilla. “Pria yang kamu temui tadi pagi, itu suaminya,” tegas Ashilla.


Iyash terpegun, jantungnya bergemuruh. “Kamu bohong. Dia pasti nyuruh kamu bohong, ‘kan?”


“Iya. Dia nyuruh aku bohong dan menutupi semuanya, tapi sekarang aku jujur. Aku kasihan sama kamu, Yash.”


Iyash mengernyit. Kemudian menggeleng. Dia masih berusaha menyanggah semuanya.


Ashilla menghela napas. “Aku yakin sebenarnya kamu tahu kalau kamu udah nggak bisa lagi miliki dia.”


Iyash tertunduk.


“Yash. Aku mohon. Ikhlaskan dan jalani kehidupan kamu dengan normal. Kamu berhak mendapat sesuatu yang lebih.”


Iyash kembali menggeleng, kedua matanya berair. “Sampai detik ini aku masih yakin, kalau Aruna itu diciptakan buat aku, Shill,” kata Iyash terbata-bata.


Ashilla terharu. Dia menepuk bahu Iyash seraya tersenyum. “Berhenti membohongi diri sendiri. Aku yakin kamu nggak sepenuhnya lupa.”


Iyash semakin tertunduk dan tak sanggup lagi menahan bendungan di kedua matanya. Perlahan kemudian dia mengangguk. “Sebenarnya sebelum ini aku pernah bertemu Aruna di Jerman, tepatnya–” Iyash tampak berpikir. “Lima tahun yang lalu. Dia sedang merayakan ulang tahunnya dengan seorang pria.”


Jantung Ashilla mencelus. “Terus kenapa kamu harus membohongi diri kamu sendiri kalau kamu sudah tahu semuanya?”


Iyash menepuk dahi. “Kepalaku seperti mau pecah setiap mengingat itu.”


“Terus Aruna tahu?”


Iyash menggeleng.


“Seharusnya kamu bilang.”


“Itu nggak mungkin, Shill.”


“Kamu tahu itu lima tahun yang lalu, terus kenapa kamu masih mengharapkan dia?”


“Tapi, tiba-tiba kamu datang, Shill,” kata Iyash mengalihkan pembicaraan.


“Dan kamu tahu aku bukan Aruna,” tukas Ashilla. Dia tak keberatan jika Iyash tak menjawab pertanyaannya.


Iyash mengangguk. “Aku udah cari tahu semua saat pertama kali melihat kamu.”


“Terus kenapa kamu harus berpura-pura?”


Iyash terdiam dan tak memberi jawaban apapun. Ashilla berdecak sembari membuang muka.


“Kamu marah saat aku tahu obsesi kamu.”


“Maksud kamu?”


“Kalau kamu memang menganggap aku sebagai Aruna, seharusnya kamu nggak marah saat aku melihat foto-foto itu, iya, ‘kan? Sayangnya kamu tahu kalau aku bukan dia, jadi kamu marah, apalagi aku melihat foto-foto Aruna yang sedang di Jerman terpajang di kamar kamu.”


Jantung Iyash mencelus. “Kamu benar,” aku pria itu.


Ashilla tersenyum karena pria itu mengakui tuduhannya.


Iyash membasahi tenggorokan. “Kemarin aku ketemu Aruna di restoran. Aku hampir gila karena takut kehilangan dia lagi, tapi, seharusnya aku sadar kalau Aruna nggak datang sendiri.”


Tentu saja karena Iyash sempat bertabrakan dengan Faran di restoran.


Ashilla menarik napas. “Faran itu psikiater Aruna. Dia yang membantu Aruna melewati semuanya.”


Iyash mengangkat wajah dan menatap Ashilla. “Dan membantunya melupakan aku?” tebak pria itu.


Ashilla menggeleng. “Bukan membantu melupakan, tapi membantunya menerima semua yang terjadi.”


Iyash berdecak. “Kamu pikir aku nggak bisa bantu Aruna melewati semuanya?”


“Aku percaya kamu bisa. Aruna sering cerita bagaimana kamu memberi banyak warna dalam hidupnya.”


Iyash tersenyum simpul.


“Tapi kali ini beda, Yash.” Ashilla memiringkan wajah dan menatap pria itu. “Ketika kami hampir meraih gelar sarjana kesehatan ayah memburuk, waktu itu Faran juga membantu merawat ayah. Saat itulah mungkin dia menyatakan niat baiknya yang ingin menikahi Aruna.”


Dada Iyash seperti dihantam benda berat. “Aruna menerima pria itu karena dia juga mencintainya, ‘kan?”


Ashilla menggeleng. “Aruna pernah menolak pernikahan itu, Yash. Dia bilang kalau hatinya tertahan di kamu.”


Seketika Iyash menegakkan tubuh dan menatap Ashilla tanpa berkedip.


Iyash menghela napas. Dia kembali tertunduk untuk meredam kecewanya. “Kenapa Pak Ridwan harus memberi amanat seperti itu?” gumam Iyash.


“Kenapa, Yash?” tanya Ashilla seraya memiringkan kepala dan menatap pria itu.


Iyash lekas menggeleng.


Ashilla kembali menegakkan tubuhnya. “Aku juga pernah mendengar kalau ibu kamu tidak merestui kalian, ‘kan? Aruna memilih mundur karena dia tidak ditakdirkan untuk melawan restu. Dia terlalu lemah untuk melakukan itu.”


Iyash termangu menatap ke lantai. Mungkin Ashilla memang ada benarnya.


“Jika Aruna saja bisa mengalah kenapa kamu tidak, Yash?”


“Tapi, kenapa aku harus mengalah kalau aku masih ada di hati Aruna?” tanya Iyash seraya mengangkat wajah dan menatap Ashilla.


“Itu dulu. Tujuh tahun Aruna hidup dengan Faran. Kamu pikir berapa kali pria itu menentramkannya ketika dia sedih? Berapa kali pria itu memeluk dan menyentuhnya? Apa kamu pikir dia akan bertahan dengan perasaan semunya?” Ashilla kemudian menggeleng. “Aku yakin tidak, Yash. Cinta bisa datang karena rasa nyaman.”


Dada Iyash sesak. “Jika memang begitu, kenapa tidak Aruna sendiri yang menemuiku dan mengatakannya?”


“Dia tidak akan setenang aku menyampaikannya,” kata Ashilla yakin.


Iyash tergemap.


“Jika tidak marah, dia akan menangis. Dan kamu tahu siapa yang bisa membuat Aruna tetap stabil?”


Seketika jantung Iyash mencelus.


“Faran,” sambung Ashilla.


Iyash sudah menduganya.


“Cinta pertama memang tak selamanya indah.” Ashilla menepuk bahu Iyash.


Iyash termenung. Semua terbuka lebar saat Ashilla menyampaikan hal pahit dengan cukup tenang dan menggunakan kalimat yang baik.


“Angkasa beruntung punya kamu,” kata Iyash pada akhirnya.


Ashilla tersenyum. “Justru aku yang beruntung punya Angkasa. Kamu tahu, ayahnya Asa juga cinta pertamaku. Kayaknya aku dan Aruna senasib. Sama-sama nggak bisa bersatu dengan cinta pertama.”


Iyash tersenyum getir. “Terima kasih untuk semua waktu kamu. Maaf untuk pertemuan pertama kita, maaf untuk semua waktu yang pernah tersita karena aku.”


“It’s okay.” Ashilla tersenyum.


“Trauma yang di kolam renang itu–?”


“Iya,” tukas Ashilla, “aku sama Aruna ternyata punya satu kejadian serupa dan akhirnya kami sama-sama takut tenggelam.” Ashilla menggeleng. “Malu.”


“Hal itu pernah membuatku yakin kalau kamu adalah dia.”


Ashilla tersenyum. “Sekarang berhentilah membohongi diri sendiri. Aruna juga akan bahagia melihat kamu bisa melanjutkan hidup. Buka hati kamu karena kalau kamu masih bertahan dengan masa lalu, kamu tidak akan bisa menerima cinta yang baru.”


Kali ini Iyash tersenyum. “Kayak lagu.”


“Tapi benar, ‘kan?”


Iyash mengangguk. Dia kemudian bangkit. “Makasih, Shill. Kamu sudah membuka jalan pikiranku.”


Ashilla pun ikut bangkit. “Kamu juga pernah membuka jalan pikiranku.” Sedetik kemudian dia tertawa. “Tapi, sebenarnya nggak juga sih, aku mau kuliah lagi itu emang bener, supaya aku bisa mencari alasan biar nggak perlu ngurus perusahaan Opa.”


“Oh, yang mana?” Iyash mengernyit. “Aku nggak ingat.”


Ashilla terdiam beberapa detik. “Ya udah lupain aja,” kata wanita itu seraya menggaruk kepala. Entah Iyash jujur atau tidak, tapi yang jelas dia harus segera menutup percakapan ini.


Iyash mengangguk, kemudian mengulurkan tangan. Ashilla menyambutnya ramah. “Ashilla.”


“Iyash.”


Keduanya kemudian tertawa.


“Aku pulang, takut Angkasa salah paham.” Iyash mengambil langkah menuju pintu yang sejak tadi terbuka lebar.


“Nggaklah. Sekarang Angkasa udah nggak cemburuan.”


Iyash menoleh. “Syukurlah. Aku doakan kalian langgeng sampai kakek, nenek.”


“Aamiin.”


“Aku pamit, Shill. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Iyash berbalik dan kembali mengambil langkah.


Di depan pintu Ashilla tersenyum menatap punggung pria itu, dia kemudian berteriak. “Senang bisa mengenal kamu, Yash.”


Iyash berhenti melangkah dan tersenyum, kemudian menoleh. “Aku juga.”


Ashilla melambaikan tangan dan Iyash membalasnya.


Iyash masuk ke dalam mobil dan hendak melesat pergi. Namun, pandangan matanya tertahan pada Ashilla yang masih berdiri di depan teras rumah Ganjar. Rasanya Iyash telah keliru pura-pura bertahan mencintai Aruna, padahal beberapa bulan terakhir ini ada hal berbeda yang dia rasakan pada Ashilla. Dia akui kalau Ashilla adalah wanita yang manis dan ceria. Sedangkan Aruna tidak demikian. Aruna yang dia kenal adalah wanita yang dingin, jarang bicara dan sedikit tersenyum.


***