Behind The Lies

Behind The Lies
Abai



Aruna terbangun dalam keadaan sakit kepala dan perut yang terasa mual. Dia lekas ke kamar mandi dan muntah-muntah. Semalam dia melupakan obatnya, padahal Dokter sudah bilang kalau dia harus tetap minum obat dan juga vitamin. Faran tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya karena sejak pukul empat dini hari tadi dia sudah ke masjid.


Aruna keluar dari kamar mandi dalam keadaan lemas. Dia kemudian melaksanakan shalat subuh, lalu setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Dia ingin sehat, dia tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Namun, keadaan tubuhnya begitu lemas, sehingga dia tak peduli apapun lagi, selain hanya ingin tidur kembali.


Faran pulang dan melihat istrinya sedang tidur mengenakan mukena. Dia ingin membangunkannya dan menghentikan kebiasaan buruk istrinya, namun tiba-tiba terdengar suara Aruna melenguh panjang. Wanita itu merintih kesakitan.


Faran lekas mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dia terkejut melihat Aruna menggenggam pergelangan tangan kanannya sendiri. Tampak jelas tangannya berbalut perban sementara darah segar merembes dan mewarnai perban tersebut.


“Kamu kenapa?” tanya Faran panik.


Seketika Aruna membuka mata dan terbangun. “Mas.” Dia lekas menyembunyikan lukanya. “Sudah pulang?”


“Tangan kamu kenapa?”


“Oh ini?” Aruna kemudian melihat telapak tangannya sendiri. “Nggak apa-apa, semalam cuma kena pecahan beling.”


“Kamu sengaja, ‘kan?” tuduh Faran. Pasalnya ini bukan kali pertama Aruna melukai diri sendiri. Faran sudah tahu tabiat sang istri jika tak bisa meluapkan emosi.


Aruna terdiam.


“Iya, ‘kan?”


“Nggak usah cari perhatian, kamu sudah cukup dewasa untuk mengambil jalan mana yang baik dan mana yang nggak. Mana yang pantas kamu lakukan dan mana yang tidak.”


Aruna mengangguk. Dadanya kembali berdenyut nyeri saat Faran bilang kalau dirinya sedang mencari perhatian. “Aku juga nggak mau diperhatikan. Jadi, kamu nggak perlu repot-repot. ‘Kan, aku juga udah bilang kalau aku nggak apa-apa. Ini mah nggak sakit, cuma luka sedikit. Aku tinggal ganti perbannya doang.”


“Ya syukur, kalau lukanya cuma sedikit.” Faran kemudian pergi meninggalkan kamar.


Aruna termenung. Kedua tangannya mengepal kuat sampai luka kembali menganga dan darah mengucur menodai sprei putih tempatnya tidur.


Semua orang terlihat sibuk berbenah. Sementara Aruna masih meratapi dirinya sendiri.


“Aruna sudah bangun?” tanya Ayu di depan pintu pada Faran yang baru saja keluar dari kamar.


“Sudah, Bu, sekarang lagi mandi,” bohong Faran.


Aruna tergemap. Dia tidak suka mendengar Faran berbohong demi dirinya, akhirnya agar Faran tak tampak berbohong, Aruna turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


“Bagus kalau sudah bangun. Mau ibu buatkan sarapan?”


“Nggak usah, Bu. Biar nanti buat sendiri aja.” Faran berjalan keluar dan tampak Edgar sedang memanaskan mobil.


Dua buah mobil disiapkan, satu akan dikemudian Edgar dan satu lagi dikemudikan Pak Yayan. Semua sepakat kalau para pria akan pergi bersama Edgar, sedangkan para perempuan ikut dengan Yayan.


“Belum siap?” tanya Edgar.


“Memang kapan berangkat?”


“Kata Bunda lima belas menit lagi.”


“Nggak kepagian?”


“Takut kena macet.”


“Hm.” Faran lekas berbalik dan hendak kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Aruna berdiri di depan pintu dan sudah bersiap untuk pergi. Kedua mata mereka sempat bersirobok sampai beberapa detik.


Bibir Aruna tersungging tipis. Namun, Faran mengabaikannya dan pergi melewatinya. Jantung Aruna mencelus, bahkan sampai detik ini Faran masih marah terhadapnya.


Ketika Faran sudah masuk ke dalam kamar, Ayu datang menghampiri dirinya. “Kamu sudah siap?” tanya Ayu pada sang menantu.


“Ibu.” Aruna tersenyum. “Udah kok.”


“Kamu kok pucat banget.” Ayu menggenggam kedua pipi Aruna. “Kenapa, sakit?”


Aruna menggeleng. “Semalam nggak bisa tidur. Jadinya begadang, nulis sampai pagi,” bohongnya. Wajah pucat itu bukan karena semalam tidak tidur, melainkan karena dia memang sedang tidak enak badan.


“Ini lagi, tangannya kenapa?” Ayu meraih tangan Aruna yang diperban, namun Aruna lekas menyembunyikannya. Ibu mertuanya itu mungkin akan tahu kalau perban itu bukan buatan Faran, mengingat betapa berantakannya hasil karyanya itu, masih lebih baik hasil perban Bi Sumi semalam.


“Nggak kenapa-kenapa kok, Bu.”


“Bohong.”


“Nggak ini cuma pura-pura diperban.”


“Biar apa? Buka aja kelihatannya nggak cantik.” Ayu kembali hendak melihat perban tersebut, namun lagi-lagi Aruna menjauhkannya. “Kalau nggak ada apa-apa, kamu nggak akan menjauhkan tangan kamu dari ibu.”


“Luka sedikit kok, kena pecahan gelas semalam.”


“Hm. Faran tahu?”


“Tahu kok, Bu.”


“Oh ya udah. Sarapan dulu yuk.” Ayu menarik tangan Aruna ke ruang makan. “Ibu buatkan roti sama susu ya?”


Aruna mengangguk dan tak berani menolak, meski dia tak berselera.


Tak sampai lima menit semuanya sudah tersaji meja. “Ayo makan, ibu tungguin,” kata Ayu memastikan kalau sarapan yang dia sajikan akan dimakan menantunya.


“Belum, katanya dia mau buat sendiri. Biarin aja.”


Aruna tersenyum dan mulai menyantapnya perlahan hingga habis. Ayu menemaninya sambil bercerita kejadian waktu Faran kecil. Aruna sudah sering mendengar cerita itu, tapi Ayu akan terus menceritakannya tak peduli seberapa kali Aruna mendengarnya, yang jelas dia suka menceritakan momen ketika Faran belajar berjalan, hari pertama ke sekolah dan setiap pencapaian dalam hidup Faran dengan bangga.


Dari semua yang sering Ayu ceritakan, Aruna tahu kalau ibu mertuanya itu sangat membanggakan Faran. Kalau dia punya anak akan seperti apa perhatian Ayu, akankah suatu saat nanti Ayu bercerita tentang betapa lucu dan manis cucu-cucunya.


“Habiskan susunya,” pinta Ayu ketika melihat gelas Aruna yang masih penuh.


Aruna mengangguk dan memaksakan diri menenggak semua susu tersebut, namun beberapa detik setelah susu tersebut sampai ke lambung, dia mulai merasa tak nyaman, perutnya sakit dan mual, keringat dingin mulai terbit membasahi kening dan sekujur tubuhnya.


“Sudah?” tanya Ayu seraya bangkit.


Aruna mengangguk tanpa menatap ibu mertuanya.


“Ya udah ibu tunggu di luar, yang lain udah pada ngumpul.” Ayu pergi setelah Aruna mengangguk.


Saat Aruna bangkit perutnya semakin terasa mual. Dia cepat-cepat berlari ke wastafel dan memuntahkan semua susu dan roti yang dia makan. Entah apa yang harus dia makan, kenapa setiap perutnya diisi dia merasa mual?


Semua orang sudah menunggunya di dalam mobil. Namun, Aruna dan Faran tak kunjung datang. Edgar menekan klakson, sementara Bi Sumi diminta menyusul Aruna ke dalam rumah.


Ashilla tampak kesal, kenapa Aruna selalu memperlambat urusannya?


Saat hendak kembali ke rumah Bi Sumi berpapasan dengan Faran.


“Kenapa, Bi, ada yang ketinggalan?” tanya Faran.


“Mau pangggil Non Aruna.”


“Oh.” Faran menoleh ke belakang. Aruna memang tak terlihat, dia dan Bi Sumi hanya mendengar suara air dari keran.


Faran tampak acuh tak acuh, entah pelajaran seperti apa yang ingin dia berikan pada Aruna. Sejak semalam dia mendiamkan Aruna, bahkan tergesa-gesa dia keluar dari rumah seolah tak ingin berpapasan dengan istrinya sendiri. Namun, saat hendak masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Edgar, tiba-tiba semua orang mendengar Bi Sumi berteriak dari dalam rumah.


“Ibu, Non Aruna pingsan.” Bi Sumi berlari keluar. “Non Aruna pingsan, Bu.”


Jantung Faran mencelus.


“Iya, Bu. Kayaknya Non jatuh terpeleset soalnya lantainya basah.”


Faran segera berlari ke dalam rumah. Dia terkejut melihat sang istri tergeletak di lantai yang basah. Semua orang ikut berhamburan keluar dari mobil, kecuali Ganjar karena tampaknya orang-orang melupakan kalau dia sudah tak bisa berjalan.


“Sayang,” panggil Faran pelan. Barulah kali ini dia merasa gagal karena abai terhadap kesehatan Aruna. Dia lekas mengangkat tubuh Aruna dan memindahkannya ke sofa.


Ashilla menghela napas dan tampak resah. Sungguh dia bingung karena jujur dia juga menyesal dengan sikapnya kemarin yang terlalu keras pada Aruna.


“Kalian berangkat duluan aja, biar aku yang urus Aruna,” kata Faran pelan.


“Yakin?” tanya Ashilla.


“Iya,” jawab Faran. “Takutnya keluarga Angkasa sudah menunggu kalian. Masih ada waktu buat kami yang terpenting pengantin dan keluarga inti datang lebih awal.”


“Faran benar,” kata Miranti. “Aruna aman sama Faran,” tambahnya yakin.


“Semoga Aruna nggak kenapa-kenapa, kami duluan,” kata Ashilla. Dia kemudian pergi lebih dulu.


“Ran.” Edgar menepuk bahu Faran. Kemudian sedetik setelahnya dia menyusul Ashilla.


“Kamu bisa bawa mobil satunya, ada di garasi, kuncinya di laci tv,” kata Miranti.


Faran mengangguk. “Iya, Bund.”


“Kami temani kamu di sini,” kata Ayu.


“Ayah juga di sini buat kalian,” sambung Kamal.


“Nggak usah, aku nggak apa-apa. Bunda mungkin butuh bantuan Ayah sama Ibu.”


“Bunda nggak apa-apa, justru kamu yang butuh mereka,” kata Miranti.


Faran mengangguk.


“Yu, aku duluan ya,” kata Miranti pada sahabatnya.


Ayu mengangguk.


Miranti pun pergi bersama yang lain.


“Seharusnya ibu nggak ninggalin Aruna sendirian di dapur. Maaf ya,” sesal Ayu.


“Nggak apa-apa, Bu,” jawab Faran seraya menatap Aruna, dia kemudian meraih tangan sang istri dan hendak menghangatkannya, namun dia termangu menatap rembesan darah dari telapak tangan istrinya.


“Tangan dia sebenarnya kenapa?” tanya Ayu penasaran. “Kok darahnya makin banyak?


“Bawa dia ke rumah sakit, Ran,” usul Kamal.


Faran bangkit dan segera mencari kunci mobil di laci televisi seperti yang dikatakan Miranti. Kemudian dia pergi membawa Aruna ke rumah sakit ditemani kedua orang tuanya.