
Iyash baru saja sampai di depan gedung sekolah. Semua anak sudah berkumpul dilapangan untuk mendapat arahan. Iyash berada di baris belakang barisan laki-laki. Matanya tiba-tiba terpaku pada seseorang yang berdiri di baris kedua barisan perempuan. Punggungnya tegap, rambutnya yang panjang diikat seperti ekor kuda dan ujungnya meliuk di bagian punggung. Iyash tahu siapa perempuan itu. Saat pemilik ikat rambut berwarna putih itu menoleh, Iyash segera tertunduk dan pura-pura tidak melihatnya.
Setelah berkumpul selama hampir tiga puluh menit, semua murid baru pergi ke kelas masing-masing dan mulai memilih kursi untuk duduk. Semua sudah mendapatkan pasangan sebangku, sementara Iyash sendiri masih berdiri dan mematung di depan pintu. Dia bingung harus duduk dimana dan bersama siapa. Pandangan matanya lagi-lagi tertuju pada Aruna, namun, gadis itu pura-pura tidak mengenal dan pura-pura tidak melihatnya, padahal sebelumnya pandangan mata mereka sempat bertemu.
Iyash dibuat gondok dengan sikap perempuan itu. Dia segera memutar pandangan dan mencari kursi kosong. Seorang laki-laki berbadan gemuk duduk sendirian dan Iyash lekas mendekat. “Hai,” sapa pemuda itu ramah. “Kosong?”
“Iya.”
“Boleh duduk di sini?” tanya Iyash dan laki-laki itu langsung mengangguk. Iyash pun lekas duduk. Entah kenapa dia yakin kalau hobi teman sebangkunya pasti makan dan jajan. “Iyash.” Dia mengulurkan tangan mencoba berkenalan.
“Umam.” laki-laki itu menyambut uluran tangannya. “Pindahan dari mana?”
“Jakarta.”
“Mmm … kami semua lulusan dari SMP yang sama,” kata Umam sembari menatap teman-temannya.
“Oh.” Iyash tidak tahu kalau dirinya adalah satu-satunya murid pindahan.
“Aku kenalin kamu ke teman-temanku.” Umam kemudian bangkit dan mendekat pada teman-temannya yang kebetulan duduk diantara Aruna. Iyash pun lekas mengikutinya.
“Teman-teman, kenalin ini Iyash,” kata Umam.
Teman-teman Umam tersenyum ke arah Iyash. Mereka bangkit dan mendekat pada Iyash sembari mengulurkan tangan.
“Denis.”
“Bagas.”
“Naya.”
Sementara Aruna terduduk dekat jendela dan tak ramah sama sekali. Iyash hanya bisa menatapnya dan berharap wanita itu memperkenalkan diri. Namun, sayang Aruna pura-pura menatap keluar jendela, dia seperti tak mendengar teman-temannya berbicara.
“Oh ini Aruna,” ucap Naya seraya menepuk bahu gadis itu dan Aruna pun menoleh pada Iyash.
Iyash mengangguk kaku. “Oh, hai.”
Aruna tersenyum simpul seraya mengangguk. Meski senyumnya terkesan pelit, tapi Iyash bersumpah kalau perempuan itu masih terlihat cantik. Lekas-lekas Iyash mengulurkan tangan agar bisa berjabatan dengan wanita itu, namun, Aruna terlambat menyambutnya karena Pak Guru baru saja datang.
“Assalamualaikum, anak-anak.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Perkenalkan Nama Bapak Harlan Samsudin. Guru Bahasa Indonesia di sini.” Pak Harlan menatap semua siswanya. “Hm, untuk perkenalan, Bapak minta kalian memperkenalkan diri dalam bentuk narasi dan dikumpulkan di depan, ya.”
Di sekolah itu memang tidak ada MOS dengan kostum dan bawaan yang aneh-aneh, Iyash bersyukur karena dia tak perlu mengulang kegiatan sewaktu SMP.
“Sepuluh menit cukup ya. Dimulai dari sekarang. Ingat dalam bentuk cerita, bukan seperti biodata.”
“Baik, Pak.”
Anak-anak mulai sibuk merangkai kata-kata terbaik yang dapat mewakili gambaran diri mereka masing-masing dalam bentuk narasi. Ada yang terlalu serius seperti Aruna, ada yang main-main seperti Umam dan ada yang biasa-biasa saja seperti yang lain, termasuk Iyash.
Sepuluh menit berlalu, Pak Harlan kembali bersuara. “Sudah ya. Silakan dikumpulkan.”
Mau tak mau mereka lekas ke depan dan mengumpulkan tugas pertama yang mereka dapatkan. Pak Harlan mulai mengacak siapa yang akan lebih dulu membacakan kertas tersebut dan pilihan jatuh pada Iyash. Entah kenapa harus dia yang pertama.
Iyash bangkit dan langsung ke depan mengambil kertas secara acak. Lalu membacakannya tanpa tahu itu milik siapa.
“Enam belas tahun yang lalu seorang bayi perempuan lahir di tengah-tengah keluarga kecil. Pada usia tujuh bulan, bayi itu kehilangan ibunya. Dia belum mengerti dengan apa yang terjadi, yang dia dengar setelah beberapa tahun kemudian, kalau ibunya telah meninggal karena sakit parah. Setelah enam belas tahun, bayi itu tumbuh menjadi anak yang apa adanya, tidak terlalu suka bergaul, penyuka warna putih dan penikmat teh beraroma kayu manis. Dan bayi itu adalah saya, Aruna Anastasya.”
Jantung Iyash tiba-tiba berdegup menyebut nama Aruna, rasanya semua saraf di tubuhnya bereaksi waktu itu. Dia segera menatap perempuan yang duduk dekat jendela itu, wajahnya memerah dan langsung tertunduk kala Iyash menatapnya.
Suara Pak Harlan kemudian menggema. “Narasinya bagus, Aruna, kamu cocok jadi penulis,” pujinya.
Senyum malu-malu Aruna waktu itu membuat Iyash gemas, sayangnya setiap Iyash menatapnya, gadis itu langsung ketus. Iyash tidak mengerti kenapa Aruna harus bersikap seperti itu padanya.
“Lanjutkan Dennis,” kata Pak Harlan.
Denis bangkit dan segera mengambil salah satu kertas di meja. “Saya seorang remaja laki-laki yang lucu, sehat dan kuat. Pipiku bulat, alisku tipis. Dari dulu sampai sekarang hanya satu yang aku suka selain makan, Arunaaaa.”
“Eh gendut, langsing dulu, baru bilang suka sama Aruna,” kata Dennis sarkas, namun Umam tahu kalau Dennis hanya bercanda.
“Itu bukan punyaku,” elak Umam tak mengaku. “Kamu cari di sana, punyaku ada yang paling bawah.”
“Tahu dari mana punyamu di bawah? Kamu nggak lihat tadi kertasnya diacak dulu sama Pak Harlan? Dennis mengedikkan dagu sembari meletakkan kertas tersebut di meja Umam.
“Sudah-sudah, Dennis, lanjutkan,” titah Pak Harlan.
“Oh kalau begitu, sekarang kamu duduk.”
Dennis kembali ke tempat duduknya yang berada di depan meja Aruna. Namun, tatapannya masih mengarah pada Umam.
“Aruna, sekarang giliran kamu,” ucap Pak Harlan.
Aruna langsung ke depan dan mengambil kertas yang ada di meja.
“Tak ada hal yang istimewa, selain langit di depan jendela kamarku.”
Jantung Iyash berdegup. Aruna baru saja membaca narasi miliknya. Sial! semoga Aruna tidak menyadari kalau yang istimewa di depan jendela kamar Iyash adalah dirinya.
“Semuanya biasa dan datar, tapi, akan kuceritakan sedikit tentang hidupku. Aku menyukai bias biru di langit menjelang pagi dan aku akan sering melihatnya selama di sini melalui jendela kamarku. Ada banyak hal tersembunyi yang harus kutemukan selama di sini. Tapi aku tidak suka yang ribet, maka akan kubuat menjadi sesimpel mungkin. Selamat, kamu sedang membicarakan sisi lain dari Iyash Wiyahassa Ardhana.”
Aruna terperangah menatap ke arah Iyash lama. Iyash hanya bisa menenggak liur, namun, dia tak ingin mengalihkan pandangannya dari Aruna.
“Ini kebetulan atau kalian memang sengaja?” tanya Bagas sinis.
“Kebetulan,” tukas Aruna ketus sembari membawa kertas milik Iyash dan memasukkannya ke saku. Sementara kertas miliknya ada pada Iyash.
***
Sepulang sekolah Iyash berjalan sembari menuntun sepeda tepat di belakang Aruna yang sedang mengobrol dengan Umam, sedikit banyak dia mendengar percakapan mereka. Umam meminta maaf dan mengakui kalau tulisan itu memang dia yang membuatnya, dia juga mengaku kalau dia adalah fans pertama Aruna sejak mereka masuk SMP.
Aruna tertawa kecil mendengar penuturan Umam sembari memukul tubuh tambun laki-laki itu. Iyash pikir dia tidak akan mendengar dan melihat tawanya. Namun bersama Umam Aruna bisa melakukannya. Semua itu karena persahabatan mereka sudah cukup lama.
Aruna kemudian pamit pada Umam, dia lalu naik ke atas sepedanya dan mulai mengayuh, sementara Umam berbelok ke kanan dan ternyata mereka tak satu arah.
Iyash masih mengayuh sepeda jauh di belakang Aruna. Tiba-tiba Dennis menyusul. “Yash, balapan yuk, yang lebih dulu sampai ke Aruna, dia menang dan nanti yang kalah traktir es krim,” kata Dennis. Niatnya memang dia ingin Iyash tidak merasa canggung.
“Nggak deh,” tolak Iyash pelan. Dia sadar dengan kemampuannya sendiri yang tak begitu pandai mengayuh sepeda.
“Yah kenapa? Takut kalah ya?” ledek Dennis.
Tentu saja Iyash tidak suka ada orang yang mencemoohnya. “Oke. Siapa takut.” Dia sampai membuang semua keraguannya dan langsung mengayuh sekuat tenaga. Sayangnya ototnya belum terlatih, baru sedikit saja kakinya sudah pegal.
“Run, Aruna,” panggil Dennis saat sudah dekat dengan gadis itu. Sedangkan Iyash baru saja sampai di sebelah Dennis. “Aku menang,” kata Dennis sembari mengacungkan satu tangannya.
Namun, Aruna tidak menoleh, dia terus mengayuh seperti tak menyadari kehadiran dua pemuda itu.
“Run, balapan yuk sampai warung Mbah Yanto,” ajak Dennis.
Aruna mengedikkan bahu tanpa menoleh.
“Kalau kamu menang, aku traktir es krim.”
“Nggak ah, males,” tolak Aruna sembari menoleh dan seketika dia berhenti sambil menatap Iyash. “Eh tunggu!” teriaknya pada pemuda itu. “Kertasku mana?” tanyanya sembari membuka telapak tangan.
“Kertas?” tanya Iyash sembari menarik rem dan berhenti.
Aruna kemudian menegakkan tubuhnya, dia lalu merogoh saku baju dan mengeluarkan kertas yang dilipat. “Punya kamu.”
Iyash menarik napas dan menerima kertas dari tangan Aruna.
“Punyaku mana?” tanya gadis itu.
Entah kenapa melihat wajah judesnya yang cantik malah membuat Iyash ingin menjahilinya. “Kalau kamu menang, aku kembalikan kertasnya,” ucap Iyash sembari mengayuh sepeda dan melaju lebih dulu.
“Eh …,” teriak Dennis mengejar Iyash.
Iyash tersenyum sinis. Dia yakin kali ini dia bisa mengalahkan Dennis. Awalnya memang kakinya terasa pegal, tapi lama-kelamaan Iyash merasa bebas dan bisa tertawa dengan lepas. Namun, sayang Aruna menyusul dan bisa mengatasi ketertinggalannya.
“Aku menang,” kata Aruna dan berhenti tepat di depan Iyash. “Kertasku mana?” tanyanya sembari kembali membuka telapak tangan.
Iyash menarik napas.
“Mana?” desak Aruna.
Iyash lekas merogoh saku, lalu *******-***** kertas yang Aruna minta dan melemparnya ke semak. “Ambil sana.”
Kedua mata Aruna membola. “Kamu!” pekiknya kesal. Iyash lekas mengayuh dan pergi meninggalkannya. “Iyash!” teriak Aruna.
Bibir Iyash hanya bisa tersungging. Akhirnya untuk kedua kalinya dia bisa mendengar Aruna kembali memanggil namanya. Iyash merasa penasaran, dia meletakkan sepedanya di samping warung Pak Yanto dan mengintip Aruna dan Dennis di balik pohon besar belakang warung.
Siang itu di bawah panasnya terik matahari, Aruna mencari kertas yang dilempar Iyash entah kemana. Beruntung ada Dennis yang menemaninya. Dari kejauhan Iyash merasa kasihan karena sebenarnya kertas yang dia lempar adalah kertas miliknya sendiri, sementara milik Aruna masih tersimpan di saku celananya.