
Sepulang dari berkemah, Aruna merasa lebih baik seolah beban di dadanya hilang. Sekarang dia sibuk mempersiapkan diri untuk keberangkatannya ke Jakarta dan memulai semuanya di sana. Rencananya dia akan ikut dengan keluarga Iyash.
“Ayah merasa kalau kamu lebih baik di sini,” kata Gusman di depan kamar Aruna.
“Jadi, ayah nggak percaya sama Aruna?” tanya Aruna tanpa menoleh dan tetap mengemas pakaian ke dalam tas.
“Jakarta kota besar, Nak. Kalau kamu tidak bisa membawa diri, salah sedikit saja kamu bisa menyesal.”
Aruna menoleh dan menatap sang ayah cukup lama. “Ada Iyash,” katanya sembari kembali mengemas barang.
“Tak seharusnya kamu bergantung pada dia. Ayah cuma takut kamu terbiasa dengan itu sampai kamu lupa caranya berdiri dengan kaki kamu sendiri.”
Aruna menghela napas. “Mana mungkin seperti itu, sebulan lagi Iyash berangkat ke Spanyol untuk waktu yang lama.”
“Iya, Ayah tahu kamu bisa. Kamu juga harus percaya kalau Ayah bisa menyekolahkan kamu di sini.”
Aruna berdecak dan berdiri tegak. “Ayah takut Aruna bertemu dengan orang tua Ayah di sana? Atau Ayah takut Aruna bertemu ibu?”
“Bukan seperti itu.”
“Ayah lebih senang mendapat belas kasihan dari orang lain dan Ayah tak senang dengan kasih sayang kedua orang tua Ayah sendiri? Mau sampai kapan Ayah hidup seperti ini? Bagaimana kalau salah satu dari kita meninggal sebelum bisa bertemu dengan keluarga yang lain?”
“Astaghfirullah, Run, kenapa harus berkata seperti itu?”
“Terus apa yang harus Aruna katakan?”
Gusman menggeleng. Ambisi Aruna persis seperti ibunya. “Terserah kamu.” Pria itupun pergi meninggalkan kamar sang anak, sementara Aruna sendiri tercenung di tempat duduknya.
Aruna merasa tak ada yang salah dengan apa yang dia katakan. Kenapa sang ayah harus marah? Memang Aruna terlalu berambisi untuk membuktikan semuanya. Dia ingin menjadi orang yang bisa mengangkat derajat sang ayah.
Malam itu Gusman menemui Iyash di rumah Juragan Hartanto. Dia ingin berbicara sebagai ayahnya Aruna, bukan sebagai pekerja kakeknya. Bagi Iyash ini adalah kali pertama Gusman membicarakan hal ini dengannya.
“Bapak tahu kalau selama ini Aruna bergantung sama kamu.”
“Nggak juga, Pak. Aruna tidak pernah bergantung pada siapapun, dia orang yang cukup yakin dengan kemampuannya sendiri,” jawab Iyash.
“Tolong jangan terlalu memanjakannya dengan kemewahan.”
“Saya rasa Bapak salah paham.”
“Bapak hanya tidak ingin Aruna kecewa.”
“Bapak tenang saja, saya tidak akan mengecewakan Aruna,” kata Iyash yakin.
“Kalian masih terlalu muda, sebaiknya fokus saja dengan tujuan kalian masing-masing,” saran Gusman. Pria itu sudah terlalu banyak memakan asam garam kehidupan. Menikah muda adalah hal yang buruk, maka dari itu dia tidak ingin Aruna melakukan kesalahan seperti dirinya.
“Kalau bisa, putuskan Aruna dan pulanglah tanpa harus membawanya pergi,” tambah Gusman pelan.
Seketika Iyash terperangah. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini sementara selama ini hubungannya dengan Aruna baik-baik saja?
“Putus?” Napas Iyash sedikit berat, seolah dia baru saja mendengar kata itu dari mulut Aruna. “Kata putus hanya untuk orang yang gagal mempertahankan hubungan mereka, ‘kan, Pak?”
“Kalian masih terlalu kecil,” tambah Gusman lagi.
“Kami tahu, tapi dua tahun ini kami baik-baik saja. Bapak mau Aruna sakit hati karena putus dengan saya?”
Gusman terperangah. Dia benar-benar seperti bercermin. Gejolak yang ditunjukkan Iyash persis seperti dirinya puluhan tahun lalu.
“Bapak tahu kamu memberi pengaruh positif pada Aruna, tapi, sejak bersama kamu Aruna banyak berubah.”
“Bukannya itu karena kebohongan Bapak sendiri?”
Jantung Gusman mencelus. Anak muda sekarang berani melawan orang tua sepertinya. “Yash, Bapak tahu, Bapak hanya buruh kakek kamu, tapi, tolong, berilah rasa hormat kamu.”
“Bapak datang ke sini untuk meminta saya putus dengan Aruna? Maaf, saya nggak bisa, Pak. Saya janji tidak akan mengecewakan Aruna seperti yang pernah bapak lakukan.”
Jantung Gusman kembali mencelus. Ternyata dia benar-benar merasa buruk di depan anak muda itu.
“Iya, Pak, saya tahu. Maaf saya jadi kurang sopan, andai Bapak tidak meminta saya putus dengan Aruna.”
Gusman menghela napas.
“Wan,” panggil Juragan Hartanto seraya duduk. Belum apa-apa dia sudah menghela napas seolah ikut merasakan beban di dada Gusman. “Saya tahu kamu khawatir.”
Gusman lekas menundukkan kepala. Dia mengangguk.
“Jangan khawatir, Iyash bisa menjaga Aruna.”
Tentu saja Gusman tak bisa mempercayai bocah ingusan itu, meski selama ini Iyash memang terlihat baik pada semua orang.
“Hasa akan membantu Iyash menjaga Aruna seperti anak gadisnya sendiri.”
Gusman tetap saja khawatir, dia tidak pernah mempercayakan Aruna pada orang lain selain anaknya Mbok Murti yang dulu menjaga Aruna ketika kecil.
“Istrinya Hasa juga pasti senang dengan Aruna,” tambah juragan Hartanto.
Ah, apalagi itu. Gusman semakin tak yakin mengingat betapa judesnya Ira setiap datang ke Surabaya.
“Wan, kamu tidak percaya dengan semua yang saya katakan?”
Ingin Gusman menggeleng, namun dia tahu kalau Juragan Hartanto pasti sedih dengan penolakannya.
“Iyash memang akan berangkat ke Spanyol, tapi dia memiliki waktu sampai satu bulan untuk membantu Aruna beradaptasi di Jakarta, setelah itu Aruna bisa belajar menjaga dirinya sendiri.”
“Maaf sebelumnya, Juragan, bukannya saya tidak yakin dengan Iyash, tapi Iyash masih terlalu muda untuk diberi beban menjaga Aruna. Terkadang memang–”
“Aruna bukan beban bagi Iyash,” bantah Juragan Hartanto.
“Iya,” sahut Iyash. “Kenapa Bapak berpikir seperti itu?”
“Kamu mungkin berpikir Iyash pemuda egois yang tidak mandiri. Meski masih muda seperti yang kamu katakan, tapi lihat dari dulu dia tidak pernah bergantung pada harta ayahnya, pada harta saya. Dia bahkan tidak malu di sini bergaul dengan para pekerja, pulang pergi dengan kereta, sekolah menggunakan sepeda. Kamu bisa tanyai mereka satu persatu, betapa rendah hatinya cucu saya itu,” ungkap Juragan Hartanto bangga.
Gusman merasa tertampar, tentu saja sang kakek akan membela cucunya, apalagi yang dia tahu Iyash adalah cucu kesayangan.
“Saya hanya takut Aruna merepotkan.”
“Kalau merepotkan sudah terjadi sejak lama, tapi apa, kami tidak keberatan karena selama ini kami menganggap Aruna cucu kami. Atau jangan-jangan kamu yang tidak menganggap kami keluarga?”
Gusman menghela napas. Rasanya salah jika dia terus membela diri hanya agar Iyash melepaskan Aruna dan membiarkan anak semata wayangnya itu tetap di sini bersamanya dan berhenti bermimpi tentang kota Jakarta.
“Saya mengerti kalau ini hanya ketakutan kamu saja. Kalau kamu merasa seperti itu, kenapa tidak dengan kamu saja Aruna pergi ke Jakarta? Kalau kamu mau nanti kamu bisa meminta Hasa mencarikan pekerjaan untuk kamu.”
“Juragan, saya minta maaf. Mungkin Juragan benar kalau ini hanya ketakutan saya saja.”
Juragan Hartanto mengangguk. “Sebaiknya memang kamu pergi bersama Aruna, agar kamu lebih tenang.”
“Tapi, mungkin sudah seharusnya saya percaya.”
“Betul, kamu betul. Belajarlah mempercayai anak kamu.”
Gusman mengangguk. Awalnya ingin membuat Aruna tetap di sini, tapi malah dia yang disuruh pergi, tentu saja Gusman tak bisa karena ada trauma setiap dia mendengar tentang kota Jakarta, apalagi jika harus menginjakkan kakinya lagi di sana.”
“Sudah, sebaiknya sekarang kamu istirahat.”
Gusman kembali mengangguk. “Terima kasih, Juragan. Maaf mengganggu waktu istirahatnya.”
“Sudah cukup lama kamu bekerja pada kami dan itu bukan masalah karena cuma semalam kamu mengurangi jam istirahat saya, selebihnya kamu bekerja,” kekeh Juragan.
Gusman ikut tersenyum.
Sementara itu, Iyash sudah lebih dulu ke kamar. Dia menatap jendela kamar Aruna yang sudah tertutup. Esok adalah perjalanannya ke Jakarta dan dia sudah memberitahu kedua orang tuanya, juga Iqbal kalau dia akan pulang bersama Aruna.
Ira sempat menolak via telepon. Namun, bukan Iyash jika dia mengabaikan isi hatinya. Bagi sang ibu Iyash memang keras kepala. Namun, Hasa cukup bangga karena Iyash selalu mengikuti kata hatinya, sehingga sulit dikendalikan orang lain.