
Faran hendak mengemudi, namun sang ayah mengambil alih. “Kamu jaga Aruna aja, biar ayah yang bawa mobil.”
Faran mengangguk. Akhirnya dia menggantikan sang ibu di jok belakang menemani Aruna, Ayu pindah ke depan dan duduk di sebelah sang suami.
“Sayang.” Faran mengangkat kepala Aruna dan meletakkan di atas pangkuannya. Wajah pucat serta tangan dan kaki yang dingin Aruna membuat Aruna semakin merasa bersalah.
Sepanjang jalan dia memeriksa dada Aruna. Memastikan kalau istrinya masih bernapas. Tiba-tiba terdengar suara Aruna menarik napas panjang.
“Sayang,” panggil Faran panik.
Aruna kemudian terbatuk.
“Alhamdulillah,” sahut Faran mengucap syukur.
Wanita itu membuka kedua mata dan langsung melihat wajah panik Faran. “Sayang, Mas minta maaf.”
“Mas,” desis Aruna lemah. Napasnya terengah dan sesak.
“Alhamdulillah,” ucap Ayu.
“Sebentar lagi sampai,” kata Faran sembari menatap lurus ke depan dan memastikan kalau sang ayah tak salah jalan, kemudian dia membandingkannya dengan jalan yang diarahkan maps.
Jalan terasa lenggang, sehingga mereka bisa dengan cepat sampai ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Faran langsung meminta petugas rumah sakit untuk menyiapkan brankar, tak perlu waktu lama, Aruna langsung dibawa ke UGD dan segera mendapat penanganan.
Kamal sibuk mengurus administrasi. Sementara Faran malah sibuk mondar-mandir di depan pintu UGD sampai menghalangi beberapa orang yang hendak keluar masuk.
“Faran, duduk,” pinta Kamal seraya berjalan ke kursi dan duduk di sebelah istrinya. “Aruna akan baik-baik aja kok. Iya, ‘kan, Bu?”
Ayu mengangguk, padahal Ayu sendiri panik, takut terjadi apa-apa dengan sang menantu.
Faran menghentikan langkah, kemudian menoleh pada ibu dan ayahnya. “Ini salah aku.”
“Nggak ada yang perlu disalahkan. Namanya juga kecelakaan,” kata Ayu seraya bangkit dan mengajaknya duduk.
“Iya, kecelakaan ini gara-gara aku, Bu.”
“Memang kamu yang bikin lantainya basah? Aneh, masa suami yang jelas-jelas sayang sama istrinya sendiri malah membuat istrinya begini, kamu ini,” omel Ayu. Jelas di sini Ayu juga merasa bersalah lantaran meninggalkan Aruna sendiri di ruang makan.
Faran terduduk. “Semalam aku memarahinya.”
“Astaghfirullah. Cuma gara-gara dia pulang telat dan nggak bilang sama kamu?” Ayu kemudian menatap sang suami seraya menghela napas.
“Keluarga ibu Aruna?” tanya perawat di depan pintu ruang UGD.
Faran lekas bangkit dan mendekat. “Saya suaminya, Sus.”
“Ibu Aruna harus dibawa ke ruang radiologi.”
“Oh.” Faran menoleh pada kedua orang tuanya.
“Bapak bisa temani?”
Faran mengangguk.
Aruna sudah dipindahkan ke kursi roda dan perlahan dia dibawa keluar dari ruang Unit Gawat Darurat. Faran menggantikan perawat mendorong kursi roda Aruna.
“Kami boleh ikut, Dok?” tanya Ayu.
“Boleh, Bu.”
Roda pada kursi yang Aruna duduki terus melaju dan berhenti di depan ruang yang mereka tuju. “Mohon maaf, Bapak, Ibu, hanya suami saja yang boleh menemani pasien,” kata Perawat.
Ayu mengangguk. Padahal dia ingin tahu kondisi menantunya.
Jantung Faran semakin bergemuruh tak karuan, dia takut kejadiannya lebih parah dari yang dibayangkan.
“Ibu bisa berdiri?” tanya perawat.
Aruna mengangguk.
“Pak, ibu harus melepaskan pakaian dari pinggang, kami akan melakukan USG transvaginal, untuk tahu pendarahan yang sedang ibu alami,” ungkap Dokter Eka.
Faran mengangguk saja dan mengikuti arahan Dokter, dia membantu Aruna melepas celana, kemudian naik ke ranjang, kedua kaki Aruna dibuka lebar dan diangkat sehingga sedikit lebih tinggi dari anggota tubuh yang lain.
“Pak, Kemarin setelah Bu Aruna mendapat hasil lab dari Dokter Mirza, dia dirujuk ke poli kandungan,” tutur Dokter Eka sembari menyiapkan alat.
“Kemarin sudah di USG juga, usia kandungannya menginjak Minggu ke enam, sekarang kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan karena tadi ibu terjatuh dan ada flek dari jalan lahir. Takutnya berbahaya, apalagi ibu pernah mengalami keguguran.”
“Hah?” Faran terperangah mendengar semua penjelasan Dokter. “Keguguran?” Dia menatap Aruna yang tampak begitu pasrah.
“Semoga nggak terjadi apa-apa ya, Pak, Bu. Coba sekarang ibu tarik napas,” pinta Dokter Eka pada Aruna. “Bismillah.”
Aruna menarik napas dan meringis ketika Dokter memasukkan transduser ke dalam tubuhnya melalui jalan lahir.
Faran semakin khawatir dan menggenggam tangan Aruna sambil mengecup puncak kepalanya.
Dokter mulai menjelaskan satu persatu apa yang ada di dalam layar. Faran terperangah. Dia tak begitu mendengarkan penjelasan Dokter, pikirannya malah mengawang ke kejadian satu bulan yang lalu saat Aruna memintanya untuk tinggal lebih lama di Jerman. Biasanya dia hanya cuti satu Minggu saja. Namun, waktu itu sampai dua Minggu dia tinggal di sana dan dia merasa kalau dirinya dan Aruna seperti baru berbulan madu.
“Alhamdulillah, hasilnya bagus, ya, Bu.” Dokter Eka menatap Aruna lama. “Ibu jangan kaget.” Dia kemudian menatap Faran. “Bapak juga ya.”
Aruna malah ikut menatap suaminya yang terlihat begitu syok.
“Kami menemukan dua kantong di rahim ibu, itu artinya, kemungkinan besar ibu mengandung anak kembar.” Dokter Eka tersenyum. “Setelah tujuh tahun menanti ya, Bu, Alhamdulillah, Allah langsung kasih dua. Selamat ya.”
Aruna tersenyum dan mengucap syukur.
Faran sendiri malah termangu. Dia seperti ditampar bertubi-tubi dan terus disadarkan kalau ini adalah nyata.
“Ini kantong pertama dan ini kantong kedua.” Dokter Eka menandainya di layar monitor. “Tapi kita harus terus pantau perkembangannya, takutnya ada salah satu yang tidak berkembang. Biasanya kehamilan kembar akan terlihat di usia kandungan sepuluh atau dua belas Minggu, tapi ada yang terdeteksi lebih awal seperti ibu Aruna ini.”
“Sayang, kamu?”
Aruna mengangguk lesu.
“Iya, Pak. Istrinya hamil. Saya pikir Bu Aruna sudah cerita hasil pemeriksaan kemarin.”
“Suami saya baru pulang, Dok,” bela Aruna.
“Ohh ….”
“Alhamdulillah.” Faran menjatuhkan lutut dan melakukan sujud syukur di atas lantai. Kemudian setelahnya dia bangkit dan menghujani Aruna dengan kecupan.
Aruna tersenyum, setelah kesalahpahaman kemarin, akhirnya dia bisa melihat wajah bahagia Faran.
“Bu Aruna masih lemah, perlu banyak istirahat. Kehamilan kembar itu terlalu beresiko, Pak, Bu.” Dokter mengakhiri pemeriksaan tersebut. Dia mencabut transduser perlahan. Perawat kemudian membantu Aruna menurunkan kedua kakinya, lalu turun dari ranjang secara perlahan dan kembali melengkapi pakaiannya.
“Bu Aruna perlu banyak istirahat, nggak boleh stress. Untung tadi cepat dibawa ke sini. Darahnya memang masih rendah, tapi ini biasa terjadi pada ibu hamil, meski begitu tidak boleh dianggap sepele karena ini berdampak besar pada bayi dalam kandungan, apalagi ini dua, gizinya harus seimbang,” tutur Dokter Eka.
Aruna dan Faran mengangguk bersamaan. Faran kemudian membantu Aruna kembali duduk di kursi roda.
“Pendarahannya, Dok?” tanya Faran khawatir.
“Insya Allah baik-baik saja, Pak. Bu Aruna hanya perlu istirahat.” Dokter Eka tersenyum. “Lakukan pemeriksaan rutin ya, Bu. Bulan depan kita bertemu lagi. Boleh di sini atau di klinik saya.”
“Iya, Dok,” kata Aruna lemah. “Apa saya sudah boleh pulang?”
“Karena Ibu masih lemah, sebaiknya Ibu dirawat dulu di sini.”
“Tapi, Dok, saya harus menghadiri acara pernikahan Kakak saya.”
“Oh. Acaranya kapan?”
“Nanti malam, Dok.”
“Oh, saya kira sekarang. Kalau acaranya nanti malam, istirahat dulu di sini sampai sore. Biar saya bisa pantau perkembangannya.”
“Tapi, Dok.”
“Sayang udah, sebaiknya ikut kata Dokter, itu semua juga untuk kebaikan kamu dan bayi kita.” Akhirnya Faran bersuara.
Aruna terperangah menatap sang suami.
“Bu, kamarnya sudah siap,” kata perawat.
Faran mengangguk, kemudian bangkit. Dia memegang handle kursi roda dan mendorongnya. “Sayang, Mas minta maaf untuk kejadian tadi malam.”
Aruna tengadah menatap sang suami, kemudian mengangguk. Tak ada gunanya lagi berdebat, lagi pula sekarang dia harus fokus pada bayinya.