Behind The Lies

Behind The Lies
Bukan Pernikahan Impian



Hingga malam menjelang, Marissa terus menangis. Tadi dia sempat tertawa dan menjadikan ini sebagai lelucon, namun jika sesuatu yang dia anggap lucu itu menjadi kenyataan, dia tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah ini yang lucu?


Ira sudah membujuknya, agar dia berhenti menangis. Namun, dia sulit meredam perasaan marah, kesal dan dongkol yang melingkupi hatinya.


“Tante juga kepayahan membujuk agar Iyash mau menikah sama kamu.”


Seketika Marissa menoleh. “Terus kenapa dipaksa. Ini nggak akan baik buat kami.”


“Terkadang yang baik berawal dari hal yang kamu anggap buruk,” kata Ira. “Tante minta maaf, Tante nggak mau melihat Iyash seperti ini terus. Dia harus bangkit, Tante nggak mau seumur hidup dia seperti ini. Dulu dia anak yang manis, Cha, sama seperti kamu. Cuma kamu yang bisa mengembalikan Iyash.”


Marissa menyeka pipinya yang basah. “Kalau memang Kak Iyash begini karena perempuan dari masa lalunya, kenapa harus libatkan Icha?”


Ira memejamkan mata sembari mengetuk-ngetuk ujung jari kakinya ke lantai. “Nggak ada salahnya,” katanya tak ingin dibantah.


Marissa tertunduk sembari memegangi keningnya sendiri. Tampaknya semua orang lupa kalau dia adalah manusia, bukan boneka.


“Semua orang menyukai kamu, Cha,” kata Tante Ira. “Kamu lihat Kakek sama Nenek. Dia menerima kamu sebagai anak Restu sekaligus calon menantu mereka. Tante nggak mau memilih menantu lain, selain kamu.”


Ira membelai rambut Marissa.


“Restu beruntung karena dari sekian banyak anak asuh Papa, dia yang Papa pilih menjadi anak angkatnya, disekolahkan sampai sarjana, lalu bekerja di perusahaannya, bahkan diberi saham. Dan sekarang kamu lebih beruntung, dengan menikahi Iyash semua harta Hasa akan menjadi milik kamu dan anak-anak kamu. Tidak akan habis, bahkan sampai tujuh turunan.”


Jantung Marissa mencelus. Ira baru saja menghinanya. Tidak pernah sedikitpun dia berharap demikian. Dia akui keluarga Ira berperan besar pada kehidupannya, tapi apakah pantas, Ira bersikap sombong?


Perlahan Marissa mengangkat wajahnya yang sendu. “Icha dengar, Tante pernah menjodohkannya? Kenapa dulu tidak dipaksa seperti sekarang Tante memaksanya?”


“Kami tidak memaksa Iyash. Dia secara sadar menerima perjodohan ini dan acara malam Ini murni permintaannya sendiri.”


Marissa membasahi tenggorokan yang terasa begitu kerontang. Akhirnya dia mengerti perkataan Iyash siang tadi saat dia tak sengaja mengupingnya.  “Ini ada hubungannya dengan perceraian kalian?” tebak Marissa.


Ira terpegun.


“Kenapa, Tante?”


“Cha, sebaiknya kamu jangan bertanya kenapa? Tak semuanya harus kamu tahu. Kamu cukup jalani saja.”


“Icha nggak mau,” tolak Marissa seraya bangkit.


“Kamu akan buat Mama kamu kecewa?”


Seketika Marissa tergemap.


“Kamu nggak akan menyesal menikah dengan Iyash. Apa yang salah? Bukannya dulu kamu juga suka sama anak Tante?”


“Itu dulu, waktu Icha masih terlalu kecil untuk bilang suka. Tante mendengar kata suka dari bocah SD pada anak SMA? Apa yang Tante pikirkan waktu itu?”


Ira menepuk dan mengusap bahu Marissa. “Sekarang kamu sudah dewasa. Tante akan bantu kamu mengenakan gaun pengantin dan Priska akan meriasmu, jadi berhentilah menangis dan jangan marah. Ini hari istimewa buat kamu dan Iyash.”


Dada Marissa semakin bergejolak. Dia sangat yakin kalau sifat angkuh, otoriter dan dominan Iyash tak akan bisa diubah karena ada darah Ira di dalamnya.


Akhirnya Marissa hanya bisa pasrah. Dia mandi dan berendam air hangat sampai dirinya merasa lebih baik. Saat keluar dari kamar mandi, dia kembali melihat wajah angkuh Ira. Mungkin sudah jalannya dia harus tahu sifat asli wanita itu.


“Cepat pakai pakaian kamu.” Ira meletakkan kebaya putih beserta perlengkapan lainnya di atas ranjang. “Hari ini hanya ada acara akad, kita akan lakukan resepsi di Jakarta. Semewah yang kamu mau. Jadikan ini sebagai pernikahan impian kamu, Cha.”


Marissa menarik napas dan memilih membungkam mulutnya sendiri. Ketimbang membungkam mulut Ira. Dia lekas mengenakan pakaian yang sudah disediakan Ira.


Lalu kemudian Priska datang. “Maaf, lama, Prince rewel.”


“Nggak apa-apa. Pengantinnya juga baru selesai mandi.”


“Sekarang Prince di mana?” tanya Ira.


“Sama Tante Rahma.”


“Aduh kenapa dikasih ke Rahma, dia lagi sakit.”


“Aku nggak tahu kalau Tante Rahma lagi sakit,” ucap Priska.


“Rahma nggak boleh dekat anak kecil, dia punya TB paru. Gimana kalau Prince ketularan. Kamu ini,” omel Ira.


Priska meringis khawatir. Sementara Marissa merasa kepalanya bergolak. Mungkin dia dan ibunya jatuh ke lubang yang salah. Selama ini dia pikir Ira tulus, ternyata tidak. Entah apa yang membuat wanita itu mengeluarkan taring aslinya.


“Kamu sudah siap?” tanya Priska.


“Mama sakit jantung, Kak. Bukan TB paru,” kata Marissa.


“Oh, biasalah Mama suka melebih-lebih, ‘kan,” kata Priska sembari membantu Marissa menyisir rambut, lalu memakai bando agar anak rambut Marissa tidak menghalangi dahinya ketika di rias.


Marissa mengangguk.


Menantu sulung Ira itu mulai merias Marissa dengan make up natural, sentuhan blush on di kedua pipi Marissa membuatnya terlihat segar dan seperti tak habis menangis.


“Kamu jangan kaget kalau nanti sudah menjadi istrinya Iyash. Iyash baik, dia cukup royal, bahkan dia terlampau loyal pada orang yang dia cintai.”


Marissa tak begitu mendengarkan racauan Priska, dia hanya berusaha keras menahan amarahnya.


“Kalau Mama mungkin kamu sudah tahu dia?” tanya Priska.


Marissa menggeleng.


“Setahun pertama mungkin kamu akan kesulitan. Aku pun begitu, tapi setelah Queensha lahir, Mama perlahan berubah.”


Marissa hanya bisa menelan gejolak yang siap meledak, dadanya panas bukan main. Dia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi di depannya nanti. Benarkah Iyash akan bersikap baik, atau pria itu akan berpihak pada ibunya suatu saat nanti dengan berpikir kalau Marissa menerima perjodohan ini hanya agar bisa hidup enak dan menikmati harta Hasa yang konon tidak akan habis sampai tujuh turunan?


Priska mulai menata rambut panjang Marissa. Cukup sederhana, namun terlihat mewah. Tubuh mungil Marissa yang dibalut indahnya kebaya putih sampai menampilkan lekuk indah tubuhnya tak membuat Marissa terkesan dengan dirinya di depan cermin. Baru kali ini dia membenci dirinya sendiri.


“Sudah siap?” tanya Ira yang baru kembali sembari menggendong cucu keduanya. Prince yang baru berusia satu setengah tahun itu ingin segera turun dari gendongan sang Nenek dan ingin langsung memeluk ibunya.


Marissa pikir anak kecil juga tahu mana yang tulus dan mana yang tidak tulus.


“Sudah, Ma.” Priska merapikan peralatannya. Dia kemudian mengambil alih Prince dari gendongan ibu mertuanya. Sementara Ira segera merangkul lengan Marissa dan mengajaknya ke ruang keluarga, tempat diadakannya akad nikah.


Di sana Iyash sudah menunggunya. Kali ini Iyash menanggalkan penyangga tangannya. Dia mengenakan kemeja putih dibalut jas hitam. Meski Iyash suku jawa dan Marissa dari Sunda mereka tak mengusung adat apapun dalam acara akad yang diadakan dadakan tersebut.


Marissa duduk di sebelah Iyash, Rudi sudah tersenyum menatap Marissa. Dia tidak menyangka akan menjadi wali di pernikahan anak dari sahabatnya tersebut. Marissa baru ingat, orang pertama yang menuduh kalau dirinya dan Iyash ada hubungan adalah pria itu. Pria yang sekarang akan menjadi wali di pernikahannya.


Pernikahan tersebut dilakukan secara siri lantaran dokumen Iyash belum lengkap. Begitupun dengan dokumen kepemilikan Marissa.


“Bapak tahu, ‘kan, konsekuensi dari pernikahan siri?” tanya Penghulu. Seketika Marissa mengangkat wajah. Dia pikir pernikahannya akan sah menurut agama dan negara. Lalu apa masih bisa pernikahan seperti ini disebut sebagai pernikahan impian seperti yang Ira katakan?


“Kebetulan dokumen anak kami belum siap. Baru bisa siap minggu depan. Setelah semuanya selesai, kami akan segera mendaftarkan pernikahan anak kami ke KUA setempat,” kata Hasa.


“Baik.” Penghulu kemudian bertanya kesiapan kami sebagai calon pengantin. Iyash mengangguk, sementara Marissa hanya diam mematung. Tentu saja buat apa dia bilang siap, jika sebelumnya dia sempat memberontak.


Diawali dengan bismillah, Rudi menjalankan tugasnya dengan baik, lalu kemudian Iyash melantunkan janji sucinya. “Saya terima nikah dan kawinnya Marissa Indrawan Binti Restu Indrawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.”


Seketika Marissa menoleh dan menatap pria itu tanpa berkedip. Kenapa bisa Iyash begitu fasih mengucapkan akad suci pernikahan, jika sebelumnya dia terpaksa?