Behind The Lies

Behind The Lies
Surabaya, 2009



Setiap Iyash ke Surabaya dia sudah sering melihat Aruna. Dia memang selalu tertarik pada gadis itu, namun tak pernah ada tindakan dalam dirinya karena dia merasa kalau dia hanya sebatas kagum dan terkadang dia selalu tidak menyangka kenapa di kampung, tepatnya di lereng gunung ada perempuan secantik Aruna. Seharusnya kulitnya menjadi gelap dengan seringnya terbakar sinar matahari, atau setidaknya dia terlihat kusam, namun, tidak terjadi pada Aruna. Gadis itu tetap terlihat cantik dengan kesederhanaannya.


Suatu hari Hasa memberi pilihan pada Iyash, mau tetap SMA di Jakarta atau mencari suasana baru di Surabaya. Awalnya Iyash heran kenapa Ayahnya tiba-tiba memberi pilihan seperti itu?


“Kenapa harus di Surabaya? Udah di sini aja,” kata Ira, padahal waktu itu Iyash belum menentukan pilihan.


“Anak kita belum memilih loh, Ma.”


“Ngapain memilih? Secara tidak langsung Papa menyuruh anak kita untuk sekolah di sana.”


Iyash mengerti kalau ibunya takut dia memilih sekolah di Surabaya karena seperti yang sering terjadi dia selalu malas pulang ke Jakarta setiap berada di sana.


“Iyash cuma suka liburan di sana, tapi belum tentu dia mau sekolah di sana,” kata Hasa.


“Iyash mau sekolah di sana,” tandas pemuda itu cepat dan seketika Ira menghela napas sampai menyandarkan punggung ke sandaran sofa.


“Yash, di sana tuh nggak nyaman,” kata Ira.


“Nggak nyaman buat Mama kamu,” timpal Hasa. “Jadi gimana, Yash, sekolah di mana?” tanyanya pada Iyash.


“Surabaya,” jawab pemuda itu yakin. Entah apa yang bisa membuatnya bisa seyakin itu memilih sekolah di sana yang jelas-jelas dia akan kehilangan semua fasilitas di Jakarta.


“Yash, di sini aja deh,” bujuk Ira. “Ya?”


“Tapi, Iyash pengen cari suasana baru, Ma.”


Menjauhi Jakarta, artinya menjauhi Adisty. Beberapa hari lalu Adisty mengajaknya bertemu di kafe, gadis berkulit coklat itu bilang kalau Iyash tidak boleh mengajak Angkasa. Akhirnya Iyash datang sendiri dan menunggunya hampir satu jam. Waktu itu Adisty  juga datang sendiri, Iyash kira dia akan datang bersama Sarah atau Lisa.


Dandanannya sore itu membuat Iyash mual. Adisty memakai gaun berlekuk dan sepatu berhak tinggi, rambut pendeknya disambung dengan warna-warna aneh, entah ide dari mana, hingga gadis berusia lima belas tahun itu bisa berdandan layaknya wanita dewasa. Yang paling membuat Iyash merasa mual adalah lipstik marun di bibirnya.


“Dis, lu kenapa sih?” tanya Iyash saat Adisty baru saja duduk. Gadis yang hobi bermain basket itu tersenyum malu dan tak seperti biasanya, Iyash benar-benar aneh dengan tingkah Adisty hari itu.


Tentu saja. Iyash mengenal Adisty dari kecil, mereka satu SD bersama dan ketika SMP Iyash mendapat teman baru dan itu Angkasa. Adisty pun memiliki teman baru, Lisa, Sarah, Marissa. Namun hobinya bermain basket membuat kulitnya semakin gelap dan kusam, sehingga dia tak seperti ketiga temannya yang digandrungi banyak laki-laki. Akhirnya Adisty lebih memilih bersama Iyash dan juga Angkasa.


“Lo pangling liat gue?” tanya gadis itu percaya diri.


“Pangling. Pangling banget malah. Lu dapet baju kayak gitu dari mana?”


Alih-alih menjawab, Adisty malah memutar bola mata. “Gue cantik, ‘kan, Yash?”


“Cantik.”


“Lo suka, ‘kan?”


“Nggak.” Iyash memang terkesan tegas dan tak bisa basa-basi. Namun, saat melihat wajah Adisty merengut, dia merasa bersalah. “Maksudnya, gue lebih suka lu yang biasa-biasa aja, nggak aneh-aneh kayak gini.”


“Aneh? Gue kira lu suka cewek-cewek kaya Nikita Willy.”


“Tapi, Nikita Willy juga nggak dandan kayak gitu, Dis.”


Adisty menghela napas sembari mengempas punggung ke sandaran kursi di kafe tersebut.


“Lu nggak harus jadi orang lain, Dis, lu tuh cantik apa adanya.”


“Kalau gitu, lu jadi pacar gue.”


“Hah?” Seketika Iyash tergemap.


“Iya, lu jadi pacar gue.”


“Ngapain pacaran? Kita sahabatan udah lama.”


“Nggak. Gue maunya lu jadi pacar gue.”


“Tapi, gue nggak bisa, Dis. Lu bukan tipe gue.”


“Anjing, jahat lo.” Adisty kemudian bangkit seraya menendang kursi bekas duduknya dan itu membuat Iyash terkesiap.


“Ini yang gue nggak suka, lu kasar. Ngomong lu kasar, tindakan lu apalagi. Mangkanya gue bilang dandanan begini tuh nggak cocok buat lu, Dis,” ungkap Iyash jujur.


“Hari ini kamu udah nolak aku, aku janji dua tahun dari sekarang kamu akan bertekuk lutut memohon cintaku.”


Kali ini Iyash tertawa geli mendengar penuturan perempuan itu. Entah adegan sinetron apa yang ditirunya. Sialnya Adisty semakin marah karena Iyash menganggap bercanda semua yang dikatakannya. Adisty berjingkat dari kafe dan tertunduk malu melihat semua orang menatapnya.


***


Hari Sabtu, tepat satu hari sebelum masuk sekolah tahun ajaran baru Iyash diantar ayahnya ke Surabaya, sedangkan ibunya dan Rasya tak ikut. Ira tidak suka dan tidak setuju dengan keputusan Iyash mengikuti ayahnya bersekolah di sana. Namun, itu malah membuat Iyash semakin semangat karena sang ayah berjanji akan membelikannya mobil asal dia bisa menjadi juara kelas tiga tahun berturut-turut. Iyash menyanggupinya. Mudah saja untuknya karena sebelumnya dia juga termasuk siswa berprestasi.


Setelah pertemuannya dengan Adisty di kafe, mereka tak bertemu lagi. Adisty bahkan tak mengirimkan pesan apapun pada Iyash. Sementara Angkasa tetap menyemangatinya. Angkasa sendiri akan ikut kedua orang tuanya ke Singapura dan sekolah di sana.


Tepat sore hari Iyash sampai di kampung halaman sang ayah. Kakek dan Neneknya menyambut kedatangan mereka. Iyash akan bersekolah di sekolah yang didirikan Neneknya sendiri. Namun, karena Nenek Alma sudah tua, maka dari itu sekolah dilanjutkan oleh Mirasih, kakaknya Hasa.


Ketika para orang tua sedang mengobrol Iyash berjalan keluar sembari membawa kameranya. Di sebelah rumah Nenek Alma berjejer rumah-rumah panggung untuk para pemetik teh. Masih sama seperti dulu dan tak banyak yang berubah.


Saat sedang asyik mengarahkan kamera dan menangkap pemandangan sore itu. Iyash tak sengaja menangkap gambar seorang perempuan yang sedang berjalan sembari menuntun sepeda menyisir jalan berbatu di pinggiran perkebunan teh. Gadis berbaju putih selutut dengan motif bunga Lily.


Iyash lekas mengikuti gadis itu dari belakang, rambutnya yang panjang dikepang satu menutupi sebagian punggungnya. Iyash tak pernah dibuat sepenasaran ini. Perempuan itu terus berjalan, betisnya putih mulus dan Iyash baru pertama kali melihat warna kulit seputih itu dalam jarak sedekat ini.


Tak terasa bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. Iyash kembali mengarahkan kamera dari belakang dan mulai mencuri gambar gadis tersebut. Namun, beberapa detik setelah suara jepretan terdengar gadis itu menoleh.


Seketika Iyash mematung, kakinya bahkan terasa berat untuk melangkah apalagi berlari. Gadis itu terus menatapnya, begitu pula dengan Iyash yang terus menatap ke arahnya tanpa bersuara, dia seperti tersihir. Tatapan gadis itu persis seperti Medusa yang membuatnya berubah menjadi patung batu. Sialnya Iyash merasa kaku untuk menurunkan bibir agar tidak terus melengkung karena satu kata yang dia pikirkan, dia terlihat bodoh di depan Aruna.