
Ashilla mengajak Angkasa dan Aruna untuk berbicara di halaman belakang, tentu saja Faran ikut serta. Saat Aruna dan Faran berjalan lebih dulu, Ashilla menarik tangan Angkasa.
“Janji ini bukan soal Iyash,” bisik Ashilla pada Angkasa.
“Bukan, tapi ini tentang kamu dan Aruna,” kata Angkasa seraya kembali berjalan.
Seketika kening Ashilla mengernyit dan segera menyusul pria itu.
Sesampainya di halaman belakang semuanya terdiam, baik Ashilla maupun Angkasa sama-sama termenung.
“Katanya ada hal yang mau dibicarakan, tentang apa?” tanya Faran penasaran.
Aruna lekas menoleh pada suaminya.
Angkasa berdehem. “Ini tentang Adisty.”
Seketika Aruna terpegun menatap Angkasa. Dadanya bergemuruh dan dia tahu kemana arah pembicaraan itu.
Angkasa menatap wajah polos Ashilla yang sepertinya memang tidak tahu apa-apa, sedangkan Aruna malah terlihat kesal.
“Aku harap ini salah. Aku harap ini tidak benar.”
“Maksud kamu apa?” tanya Ashilla penasaran.
Angkasa menarik napas dalam, kemudian dia menatap satu wajah saja, yaitu, Aruna. “Apa benar kalau Tante Dewi Mamanya Adisty itu ibu kalian?”
Ashilla hampir terjatuh mendengar pertanyaan Angkasa. Sementara Aruna hanya mematung, tapi gemuruh di dadanya terus bergejolak.
“Jadi, benar?” tanya Angkasa. “Shill?”
Ashilla menggeleng.
“Run, bilang kalau ini salah, bilang kalau semuanya tidak benar?” pinta Angkasa.
“Memang kenapa kalau iya?” Aruna memberi jeda. “Apa kamu bisa menghapus darah yang mengalir di tubuhku?”
Angkasa tergemap. Sementara Faran semakin penasaran, dia yakin kalau Angkasa tahu tentang masa lalu Aruna.
“Aku pikir Adisty hanya–”
Ashilla memangkas perkataan Angkasa. “Run, kamu nggak bilang kalau Adisty–”
“Nggak penting,” tukas Aruna. “Kalau kamu mau mengakui dia sebagai saudara ya silakan. Aku nggak peduli.”
Ashilla termangu. Dia kemudian menatap Faran.
“Sayang.” Faran mencoba melunakkan kerasnya hati Aruna.
“Mas.” Aruna mengacungkan telapak tangannya di depan Faran. “Ini pilihan aku, selama ini kamu nggak pernah protes, ‘kan? Sekarang juga aku minta kamu untuk mendukung apapun pilihan aku.”
Faran terperangah. Tentu saja dia tidak bisa berkutik karena dia sendiri sudah bersumpah untuk tidak mencampuri pilihan Aruna.
Aruna hendak pergi meninggalkan obrolan, namun Ashilla menahannya.
“Tapi, kita nggak bisa memutus ikatan antara ibu dan anak,” kata Ashilla.
Aruna berbalik. “Kita cuma numpang lahir, Shill. Seharusnya kalau dia memang berniat menjadi ibu, dia tidak akan menyia-nyiakan kita, iya, ‘kan?”
“Kita nggak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.”
Ashilla termenung. Dia kemudian menatap Faran, lalu Angkasa.
Angkasa tersenyum seraya memeluk wanita itu. Dia bangga karena Ashilla tak sekeras Aruna, dia juga bangga karena calon istrinya itu jauh memiliki hati nurani, meski Angkasa tak berhak menyimpulkan apapun karena dia sendiri tidak tahu masalah sebesar apa yang dihadapi Aruna sampai menaruh dendam pada ibunya sendiri.
Faran menepuk bahu Ashilla, lalu pergi menyusul Aruna. Sesampainya di kamar, dia melihat Aruna sedang berdiri menghadap jendela. Dia tidak tahu kalau wanita itu tengah menangis, menahan perih di hatinya.
Faran mendekat kemudian dia memeluk sang istri dari belakang dan merasakan getar dari napas wanita itu. Dia tak perlu berkata apapun karena Aruna tak membutuhkan isi kepalanya, yang dibutuhkan Aruna hanyalah ketenangan dan dia yakin bisa memberikannya dengan pelukan tersebut.
Sedangkan Ashilla masih duduk di halaman belakang bersama Angkasa.
“Sayang, aku minta maaf, aku sebenarnya nggak ngerti kenapa kalian bisa–”
“Ini terlalu rumit. Aku nggak bisa menjelaskannya sama kamu.” Ashilla kemudian bangkit.
“Kenapa?” Angkasa ikut bangkit. “Aku calon suami kamu.”
Ashilla menatap pria itu beberapa detik. “Aku malas bahas ini, aku hanya mau kita fokus pada pernikahan kita saja.”
Angkasa mematung. Namun, saat Ashilla hendak pergi dia lekas menyusulnya. “Kalau kita undang Mama kamu ke pernikahan kita, apa kamu keberatan?”
“Sebaiknya nggak usah kalau akar masalahnya belum beres, karena aku yakin akan ada masalah di pernikahan kita.”
“Kalau begitu kita selesaikan akar masalahnya,” usul Angkasa ringan, seolah masalah dan luka berkarat itu bisa hilang dengan air cuka.
“Makasih sarannya, tapi kamu pikir mudah, pernikahan kita hanya tinggal satu minggu dan aku nggak punya waktu untuk ini,” kata Ashilla seraya kembali melangkah. Sejujurnya hatinya sakit. Jika Aruna menikah dihadiri ayahnya, kenapa dia tidak bisa menikah dihadiri ibunya, tapi mau bagaimana, dia masih ingat saat Ganjar dan Miranti mengusir Dewi dari rumah. Dia masih ingat saat Dewi memohon dan dia tidak ingin hal serupa terjadi.
Angkasa tampak bingung dengan penjelasan Ashilla. Sungguh jawaban menggantung itu malah membuatnya semakin penasaran.
“Aku ingin tahu yang sebenarnya,” pinta Angkasa.
Ashilla menggeleng. “Kamu berdoa saja semoga aku bisa menceritakan semuanya."
"Sayang." Angkasa menahan tangan Ashilla.
Ashilla berbalik. "Orang tua kami bercerai ketika kami masih bayi. Aku bahkan–" Tenggorokan Ashilla tercekat.
"Aku ngerti,” tukas Angkasa. “Dulu, aku yang bantu Aruna nyari tempat kos, dia–" Angkasa menerawang kejadian dimana untuk pertama kalinya dia melihat Aruna, "wanita yang rapuh," Sambung pria itu.
Ashilla mengangguk. Dia kemudian menghela napas. "Itu kesalahan orang tua kami. Jangan paksa aku untuk membuka luka lama, baik Aruna ataupun aku sama-sama sakit hati. Kami korban."
Jantung Angkasa mencelus. "Maaf," lirihnya seraya merangkul bahu wanita itu. "Ya udah deh, aku pura-pura nggak tahu."
Ashilla mengernyit seraya mendelik.
Angkasa tersenyum. Tak peduli sekelam apapun masa lalu Ashilla, Angkasa tetap beruntung mendapatkannya. Dia pastikan kalau pria yang sudah meninggalkan Ashilla akan menyesal. Satu yang terpenting dia harus bisa membuktikan kalau Ashilla bahagia bersama dirinya sampai tak ada waktu untuk mengingat masa lalu.
***
Setelah kepergian Nadine, sore harinya Iyash termenung di depan taman panti asuhan yang dibuatnya. Taman itu dia buat untuk Aruna, waktu Ashilla datang dia sangat bahagia karena wanita itu menyukai taman buatannya, tapi ternyata dia hanya membohongi diri karena dia juga sebenarnya tahu kalau wanita itu bukan Aruna.
Sejauh mata memandang yang terbayang hanya dirinya dan Aruna sedang duduk menikmati senja ditemani secangkir kopi, berlalu lalang anak-anak panti menyoraki kedekatan mereka. Iyash tersenyum simpul membayangkan dirinya sendiri.
Sampai tak terasa air mata ikut melebur sore itu. Dia siap jika harus merelakan Aruna, yang terpenting wanita itu sudah menemukan bahagia, meski tak bersama dirinya. Namun, yang dia inginkan untuk saat ini adalah memperbaiki hubungannya dengan Aruna. Dia tidak siap jika harus berpura-pura tidak mengenalnya. Sekali saja dia ingin mengobrol banyak hal meski bukan lagi tentang hubungan mereka.
Kenapa bisa sesulit itu? Dia tak sanggup melangkah ke depan selama satu inginnya belum terwujud. Iyash sengaja menahan dirinya di masa lalu, bukan untuk kembali dan mengulang masa itu, tapi setidaknya merelakan pun harus dengan cara yang baik.
Iyash menoleh ke samping dan menatap satu kardus berisi barang-barang Aruna. Dia kemudian bangkit dan pergi membawa kardus tersebut.