Behind The Lies

Behind The Lies
Tidak Nyaman



Isi kepala Ashilla malam ini penuh dengan beban pikiran. Dia masih memikirkan cara untuk membujuk Angkasa agar mau menyewa rumah, apartemen atau apapun sebelum mereka membeli atau membangun rumah untuk mereka tinggali. Lagi pula Ashilla belum tahu harus tinggal di mana. Dia menyesal tidak merencanakan ini sebelumnya. Sekarang tampaknya Angkasa tak memiliki rencana dalam waktu dekat karena dia baru saja hendak memulai pekerjaan barunya.


“Sayang.” Angkasa memeluk istrinya dari belakang. “Kamu masih memikirkan kejadian tadi?” tanyanya berbisik di belakang kepala Ashilla.


Ashilla terdiam dan tak bereaksi.


“Aku akan mengabulkan keinginanmu, tapi tidak hari ini atau besok.”


“Kapan?” tanya Ashilla tanpa menoleh.


“Setidaknya beri aku waktu. Kamu, kan tahu saat ini aku belum berpenghasilan. Tabunganku habis dipakai untuk pesta kemarin.”


“Salah sendiri, kenapa kamu nggak mau menerima uang dari Opa, dari Bunda dan bahkan dari Papa kamu sendiri.”


Angkasa memang menanggung semua biaya pesta pernikahan, tapi itu karena dia sendiri yang menolak semua biaya dari orang lain. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa, dia mampu dan sekarang pun sebenarnya dia mampu membeli satu unit rumah kecil karena dia masih memiliki tabungan lain, namun, tak ada gunanya membahas hal itu dengan Ashilla. Dia tinggal di rumah itu karena permintaan ayahnya.


“Tabunganku cukup untuk membeli rumah atau setidaknya mengontrak,” kata Ashilla seraya berbalik dan menatap sang suami.


 “Itu artinya, aku menumpang di rumah kamu.”


Ashilla menggeleng. “Itu rumah kita.”


“Tidak kalau uangnya dari kamu.”


“Lalu apa bedanya jika kamu yang membeli rumah itu? Aku yang menumpang begitu?”


“Itu berbeda, Ashilla. Tugas suami menafkahi dan membangunkan rumah untuk istrinya.”


“Aku nggak peduli.” Ashilla duduk tegak sementara Angkasa tetap berbaring. Pria itu sampai mengangkat wajah agar bisa terus menatapnya. “Bagiku semuanya sama saja.”


“Tapi, bagiku berbeda.”


“Kamu gengsian, kamu selalu ingin terlihat hebat,” tuduh Ashilla seraya membuang muka.


Angkasa menghela napas. “Aku cuma mau menjadi yang terbaik buat kamu dan Asa,” ungkapnya lembut. “Setidaknya selama ini aku selalu jujur dan tak pernah menyembunyikan apapun dari kamu.”


Jantung Ashilla mencelus dan dia lekas menatap suaminya. “Kamu mau jadi yang terbaik buat aku dan Asa, ‘kan? Kalau begitu aku mau keluar dari rumah ini.”


Angkasa kembali menghela napas. Baru sehari menikah dia sudah dihadapkan pada masalah seperti ini.  “Papa yang minta kita tinggal di sini, Shill. Tadi pagi kamu yang bilang sendiri mau tinggal di rumah kedua orang tuaku, tapi kenapa sekarang malah seperti ini?”


Ashilla merengut. Dia kembali tidur membelakangi Angkasa.


“Aku sudah bilang, kita akan punya rumah sendiri, itu pasti. Aku juga akan mengabulkan keinginanmu, tapi nggak hari ini ataupun besok.”


“Lusa?” tanya Ashilla tanpa menoleh.


“Nggak lusa juga,” tolak Angkasa lembut.


“Ya sudah terserah kamu,” dengkus Ashilla kesal.


Terkadang memang Ashilla lupa caranya bersyukur. Jika dia menginginkan sesuatu, yang dia pikirkan hanya bagaimana hal tersebut bisa segera terkabul.


 “Daripada kamu mikirin itu, gimana kalau kita buat rencana untuk bulan madu kita,” usul Angkasa sabar.


Ashilla terdiam tak menanggapi.


“Yang,” bujuk Angkasa sembari merapatkan tubuh ke punggung Ashilla. “Kamu harusnya bahagia, jangan marah kayak gini.”


“Kamu pikir aku nggak bahagia?” Ashilla menggerakkan kadua bahunya, agar Angkasa melepaskan pelukannya.


“Kalau kamu bahagia, harusnya kamu nggak kayak gini.”


“Angkasa, please.”


Angkasa menghela napas seraya melepaskan pelukannya. Dia kemudian meluruskan tubuh dan menatap langit-langit kamar.


“Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba kamu kayak gini.” Pria itu kembali menghela napas dan meletakkan kedua tangannya di atas perut. “Aku pikir kamu nggak akan mempermasalahkan keberadaan Daniel di sini.”


Hampir tiga puluh detik keduanya terdiam. Angkasa sibuk menyelami isi pikiran Ashilla. Sedangkan Ashilla sendiri masih berusaha mencari cara tanpa membuat Angkasa curiga.


“Aku cuma nggak nyaman,” kata Ashilla setelah cukup lama terdiam.


Angkasa menoleh. “Aku bersumpah dia nggak akan mengganggu kehidupan kamu, Asa dan bahkan selama ini dia tidak pernah mencampuri kehidupanku, Ashilla.”


Ashilla mengusap kasar wajahnya.


“Kamu cuma belum terbiasa.”


“Aku nggak mau membiasakan diri.”


“Aku nggak minta lama. Aku janji nggak sampai setahun.”


Ashilla berbalik dan menatap Angkasa. “Kalau begitu kita kembali ke New York.”


“Astaga … apa lagi ini ….” Angkasa menepuk keningnya sendiri. “Aku menikahi wanita Indonesia. Kalau aku mau kembali ke sana kenapa aku nggak menikahi orang sana aja.”


Kening Ashilla mengernyit, wajahnya merah padam. “Kalau begitu kenapa kamu menikahi aku?” tanyanya dongkol.


Angkasa lekas duduk.


“Kayaknya itu nggak usah dibahas lagi deh. Lagian itu cuma perumpamaan.”


Ashilla mendengkus.


Angkasa sendiri kesal karena ujung-ujungnya Ashilla akan meragukan cintanya lagi. Lalu dia akan mengungkapkan kembali seribu kata cinta untuk meyakinkan Ashilla. Angkasa pikir tidak akan ada gunanya karena Ashilla akan mengaitkannya kembali dengan keinginannya untuk pergi dan tidak tinggal di sana. ‘Kalau kamu cinta aku seharusnya kamu bisa mengabulkan keinginanku dan bla-bla-bla’.


Angkasa mengacak kasar rambutnya sendiri. Dia pikir dengan menikah dia akan mengerti Ashilla lebih baik lagi, namun, ternyata malah semakin rumit.


 Ashilla bangkit dan pergi meninggalkan ranjang.


“Kamu mau kemana?” tanya Angkasa.


“Aku mau tidur di kamar Asa,” jawab Ashilla tanpa menoleh.


“Nggak. Kamu nggak boleh kemana-mana,” larang Angkasa.


“Kenapa memangnya?” tanya Ashilla seraya berbalik. “Jangan mentang-mentang kamu suami aku, kamu bisa melarang aku seenaknya.”


“Aku bukannya melarang, tapi apa kata Papa sama Mama nanti?”


“Memangnya apa? Mereka akan mengerti, kita tinggal bilang aja kalau Asa nggak mau tidur sendiri.”


“Cukup.” Angkasa lekas turun dari ranjang dan menarik tangan Ashilla. “Kamu terlalu sering melibatkan orang dalam kebohongan kamu.”


“Angkasa!” Ashilla mengempaskan tangan suaminya. “Aku pikir dengan kita menikah kita nggak akan bertengkar lagi.”


Ashilla kemudian duduk di ranjang. Seharusnya ini menjadi hal biasa karena sewaktu pacaran pun mereka sering berselisih paham, bertengkar dan bahkan pernah berujung putus, tapi ujung-ujungnya mereka kembali dan saling membutuhkan satu sama lain.


“Kamu yang duluan.”


“Aku cuma mau kita pindah dan nggak tinggal di sini, apa susahnya? Cuma karena kamu nggak enak sama Papa kamu, terus kamu maksa aku tinggal di sini?”


Astaga!” Angkasa lekas duduk di sebelah istrinya. “Kamu sendiri yang bilang sama Opa kalau kamu akan tinggal di sini, tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran?”


“Kamu sudah tahu alasannya.”


“Cuma karena ada Daniel di sini, padahal dia tidak mengusik kamu. Kamu ini kenapa, Shill?”


Ashilla mengempas tubuh di ranjang, kemudian menarik selimut dan pura-pura tertidur.


Angkasa menghela napas. Dia baru menyadari kalau Ashilla begitu egois dan kekanak-kanakkan. Selama ini memang Angkasa selalu memanjakan dan mengabulkan keinginan Ashilla apapun konsekuensinya dan sesulit apapun itu, tapi sekarang Ashilla harus mengerti kalau dia hanya manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan.