Behind The Lies

Behind The Lies
Kebekuan



Marissa kemudian masuk ke dalam kamar dan dia terkejut melihat  Edgar ada di sana tengah duduk di atas ranjang.


“Sepertinya kita harus bicara,” kata Edgar.


Marissa lekas menutup pintu. “Apa?” tanyanya pelan seraya mendekat dan duduk di sebelah Edgar.


“Kamu nggak bilang kalau Iyash calon suami kamu.”


Marissa terperangah. Dan dia terlihat bingung.


“Oke, aku nggak mau membahas itu, lagi pula itu bukan urusanku,” kata Edgar. “Maaf, tadi aku mendengar kamu berbicara dengan Bunda di telepon,” akunya.


Marissa mengangguk. Dia tak bisa menanggapi pengakuan Edgar, karena awalnya dia berpikir kalau Edgar tahu dari ibunya secara langsung.


“Tapi, kenapa? Kenapa kamu ke sini bersama Iyash?” tanya Edgar.


“Cuma dia yang tahu jalan ke sini.” Padahal tidak seperti itu, Marissa sendiri bingung dengan semua keadaan ini.


Edgar tergemap. Dia ingin menuduh Marissa memaksa Iyash yang sedang sakit untuk mengantarnya ke sini, tapi dia tahu itu tidak begitu penting untuk dirinya. Maka dari itu dia keluar dari kamar Marissa dan pergi.


Marissa sendiri mematung di depan tempat tidur, sementara itu pembicaraan mereka terdengar langsung oleh Iyash. Pria itu tak bisa tidur, meski lampu sudah dimatikan. Dari pembicaraan Edgar dengan Marissa, dia yakin kalau Edgar memiliki perasaan pada wanita itu, apalagi saat Edgar bilang kalau dia berharap Iyash hanya kebetulan hadir sama seperti yang lain.


Iyash tidak terima sehingga dia akan membuktikan kalau dirinya bukan kebetulan hadir di dalam hidup Marissa, tapi sudah direncanakan dan bahkan sudah sejak lama, sebelum Edgar.


Persaingan yang baik, meski keduanya tak pernah merasa bersaing untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara Iyash sendiri hanya berusaha untuk mempertahankan apa yang dia miliki termasuk keluarga yang utuh.


Iyash segera mengambil ponsel dan menelepon ayahnya. Nada dering begitu sunyi menenggelamkan perasaannya. Masih terselip keraguan di hatinya, tapi dia tak boleh kalah. Sehingga kalimat itulah yang membuatnya kembali yakin.


“Halo, Yash, gimana, kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Hasa di telepon setelah sambungan terhubung.


Alih-alih menjawab, Iyash malah menghela napas panjang.


“Papa dengar kamu–”


“Aku siap,” tukas Iyash.


“Kamu yakin?”


“Sesuai perjanjian.”


“Kapan?” tanya Hasa.


“Besok. Aku nggak punya banyak waktu.”


“Baik, di saat kamu bilang iya, Papa akan langsung persiapkan semuanya.”


Tanpa menanggapi perkataan Hasa, Iyash langsung menutup panggilan.


Sementara Hasa tersenyum menatap Ira. Dia dan Ira sepakat berdamai dan memperbaiki hubungannya, asal Iyash mau dijodohkan dengan Marissa.


“Siapkan penerbangan. Bujuk Rahma untuk berangkat pagi-pagi nanti. Aku akan menelepon Rudi untuk memintanya bersiap menjadi wali nikahnya Marissa.”


“Iyash tidak sedang bermimpi, ‘kan?” tanya Ira khawatir.


“Aku melakukan ini demi anakku dan kurasa dia melakukannya demi pernikahan kita.”


Ira tercenung. Sebenarnya dia sudah menyerah dengan pernikahannya saat tahu kalau pria yang dia nikahi selama puluhan tahun itu tidak mencintainya. Namun, semuanya berubah saat Iyash bilang akan menuruti keinginan kedua orang tuanya asal mereka tidak berpisah, Iyash juga bilang kalau dia akan berubah.


Bagi Ira dan Hasa, Iyash adalah segalanya. Meski Hasa memiliki anak dari Miranti, tapi belum tentu Edgar mau mengakui dirinya. Memperjuangkan yang sudah berlalu bukan lagi tujuan Hasa.


Ira meninggalkan kursi ruang makan dan dia langsung menelpon Rahma. Dering ketiga, panggilan terjawab.


“Iyash setuju,” kata Ira langsung.


“Hah? Secepat itu? Aku belum bilang sama Icha soal ini.”


“Aku tahu ini serba mendadak. Dan Iyash minta semuanya dilaksanakan besok.”


“Ra, aku belum bilang sama Icha.”


“Mungkin kamu bisa bilang sekarang,” usul Ira.


“Aku kenal anakku. Mungkin setelah tahu, dia akan kabur dari sana.”


“Kalau begitu besok saja. Sehabis subuh kita berangkat. Aku yang akan menyiapkan semuanya.”


“Aku bingung, Ra. Aku takut tidak bisa meyakinkan anakku.”


“Kita sudah pernah bahas itu, Rahma. Kami sangat menyayangi Icha, seperti anak kami sendiri.”


Rahma tercenung. “Iya. Aku akan meyakinkan Marissa.”


“Besok pagi, kami akan menjemputmu dan kita bisa langsung ke Bandara. Hasa sudah memesan tiket pesawat.”


***


Keesokan paginya,Hasa, Ira dan Rahma berangkat dari rumah menuju Bandara. Begitupun dengan Rasya bersama istri dan kedua anaknya. Sementara itu di waktu yang sama selepas subuh. Edgar pamit pada semua orang kecuali pada Marissa dan Iyash.


 “Terima kasih untuk dua pekan di sini. Saya merasa diterima dan diakui seperti cucu sendiri,” kata Edgar pada Nenek Alma dan juga Juragan Hartanto. “Beberapa persen lagi, novel saya siap cetak. Saya hanya meminjam tempat dan lingkungan yang asri di sini sebagai latar.”


Nenek Alma tersenyum. “Kami bangga menjadi bagian dari perjuangan kamu. Nenek sama Kakek doakan kamu selalu dilindungi Allah, dimudahkan dan terutama kamu dan keluarga kamu diberi kesehatan dan umur yang panjang.”


Edgar tersenyum. “Kalau begitu saya pamit.”


“Eh, sudah pamit sama Icha?” tanya Nenek Alma.


“Sudah,” bohong Edgar. Dia tahu kalau Marissa tidak akan pulang bersamanya karena sibuk mengurus Iyash.


“Ya sudah, hati-hati.”


“Sering-sering berkunjung, kami juga keluargamu.”


Perkataan Juragan Hartanto membuat Edgar ingin menangis. Dia sampai memeluk pria tua itu lama.


“Kamu pasti sudah betah di sini, iya, ‘kan?” tanya Nenek Alma sembari membelai bahu Edgar. “Kalau begitu tambahlah satu malam lagi, kedua orang tua Iyash akan datang dan semua anak Nenek akan berkumpul di sini,” kata Nenek Alma.


“Maaf, Nek, saya sudah berjanji pada Bunda untuk pulang hari ini juga.” Lagi pula Edgar tak akan mau bersitatap dengan pria yang sudah meninggalkan ibunya, meski hanya dua detik.


“Oh begitu. Dia pasti rindu sama kamu.”


Edgar tersenyum.


“Kami tidak bisa membekalkan apapun, bahkan untuk sarapan saja belum siap. Bagaimana kalau kamu berangkat nanti setelah sarapan.”


“Nanti saya bisa sarapan di jalan, lagi pula sampai Jakarta bisa malam hari, ‘kan? Jadi, semakin pagi mungkin semakin bagus.”


“Ya sudah kamu hati-hati. Lain kali main lagi ke sini.”


Edgar mengangguk. Dia kemudian mengucap salam. Lalu pergi meninggalkan rumah tersebut dengan kendaraannya. Sementara itu Marissa melihat sendiri kepergian Edgar melalui kaca jendela kamarnya. Dia merasa bersalah. Namun, dia bingung harus bagaimana. Dia sudah menjelaskan pada Nenek Alma, Edgar juga sudah tahu kenapa dia ada di sini, namun, kehadiran Iyashlah yang membuat semuanya menjadi rumit.


Semalam Marissa mendapat telepon dan Miranti mentransfernya sejumlah uang. Meski Marissa sudah menolak nyatanya Miranti menghargai pekerjaan Marissa dengan harta. Dan itulah yang membuat Marissa merasa terhina. Dia melakukan ini agar bisa dekat dengan Edgar, bukan malah seperti sedang membuka jasa.


“Cha,” panggil Nenek Alma di depan pintu kamarnya.


Marissa lekas turun dari ranjang dan pergi ke dekat pintu, lalu membukanya.


“Edgar, pulang dan katanya dia sudah berpamitan sama kamu.”


Marissa terdiam beberapa detik. Edgar memang tak berpamitan, tapi setidaknya dia tahu kalau Edgar pulang.


“Cha?”


“Iya.” Marissa mengangguk.


Nenek Alma tersenyum. “Kenapa dia harus pulang, padahal rumah ramai ada dia di sini.”


Marissa menarik napas dalam. “Sudah terlalu lama dia pergi, Nek. Kasihan ibunya.”


“Oh memang ayahnya di mana?”


Andai Marissa bisa bilang kalau ayahnya  adalah Hasa. Namun, dia sadar kalau dirinya tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Urusannya saja semakin rumit.


“Tapi, nenek senang ada kamu di sini.” Nenek Alma merangkul lengan Marissa. “Rumah jadi wangi.”


Marissa tersenyum kikuk. “Kalau ada kak Edgar rumah jadi ramai, ada Icha rumah jadi wangi, terus kalau ada Kak Iyash rumah jadi apa? Membeku?”


Nenek Alma tertawa. “Iyash tak sedingin itu. Udah Yuk, temui Iyash. Beruang kamu nggak mau sarapan kalau bukan pawangnya yang suapin.”


“Nek, tapi Icha–”


“Iya, Nenek tahu. Tapi, Iyash harus  minum obat.”


Marissa ingin menyangkal semua yang Nenek Alma pikirkan, namun dia takut membuat wanita tua itu bersedih.


Marissa mematung di depan pintu kamar Iyash. Sementara Nenek Alma sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


“Kalau pagi, cahaya mataharinya masuk ke kamar Iyash. Jadi, kamu bisa sekalian berjemur,” kata Nenek Alma. Wanita itu kemudian menoleh pada Marissa. “Icha, ayo cepat, Iyash sudah lapar.”


Iyash sendiri hanya duduk terdiam di atas ranjangnya. Mungkin sikapnya yang dingin membuat semua orang meragukan kalau dia akan menikahi Marissa.


Perlahan Marissa mendekat dan duduk di dekat kaki pria itu. Lalu dia mengambil mangkuk berisi bubur hangat dan mulai menyuapi Iyash. Dia malas bicara jika itu berujung ketegangan dan memancing pertengkaran. Jadi, lebih baik dia diam dan menghemat energinya.


Sampai bubur tersebut habis, tak ada obrolan di antara mereka. Iyash sendiri tak mengajak Marissa berbicara, sehingga membuat Marissa ingin segera menyelesaikan kegiatannya ini. Sementara sedari tadi Nenek Alma duduk di sofa menyaksikan kebekuan di antara mereka. Setelah Marissa selesai menyuapi Iyash, Nenek Alma keluar lebih dulu dan Marissa segera mengikutinya.