
Motor berhenti di depan sebuah rumah. Sang pengendara motor tampak menggigil kedinginan. Mengendarai motor di musim kemarau dalam keadaan basah kuyup adalah perkara yang buruk. Itu malah membuat Iyash masuk angin. Apalagi sekarang sudah pukul sembilan.
“Yash, dari mana, kenapa basah?” tanya sang ibu begitu Iyash masuk ke dalam rumah seraya mengucap salam.
“Ada orang yang jatuh ke kolam.”
“Duh kasihan, laki-laki perempuan?”
“Perempuan.”
“Bukannya kamu habis dari rumah Adisty?”
“Iya, Ma.”
“Siapa yang jatuh?”
Alih-alih menjawab, Iyash malah menatap ibunya cukup lama.
“Yash?”
“Iyash ganti baju dulu, Ma. Dingin.” Pemuda itu kemudian pergi ke kamar membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah itu dia menghubungi Martin sembari tidur berselimut tebal.
[Gimana? Udah beres?]
[Udah. Kami bubar pas si Angkasa hampir bunuh Adisty.] Balas Martin melalui pesan singkat.
Iyash menghela napas. Dia merenung, apa Angkasa benar-benar mencintai Ashilla sampai-sampai dia hampir kehilangan akal dan hendak membunuh sahabatnya sendiri? Iyash bertanya dalam hati.
[Terus gimana? Kenapa nggak dipisahin?]
[Udah sama ceweknya, padahal si Adisty yang bikin si Ashilla kecebur. Hebat nggak sih, si Angkasa dapet cewek kayak gitu di mana coba? Semoga ceweknya lekas sadar deh.]
Lagi-lagi Iyash termenung, dia tak langsung membalas pesan Martin. Dia malah memikirkan semua kejadian tadi. Ashilla tampak tidak suka hadir di acara tersebut, apa dia juga mengira kalau Iyash sama seperti mereka?
Sementara itu mobil yang dikendarai Angkasa berhenti di depan rumah Ganjar. Ashilla hendak turun, namun Angkasa mengunci pintu mobil tersebut, wanita itu pun lekas menoleh dan menatapnya.
“Aku rasa kamu terlalu serius dengan kejadian tadi. Just a game, Shill. Game.”
“Game?” Kedua mata Ashilla membola. “Kamu pikir aku suka permainan macam itu, buka-buka aib orang, saling ledek, saling hina, saling sindir. Kamu ajak aku buat memanas-manasi mantan kamu, ‘kan? Bersikap mesra hanya untuk dilihat orang,” cecar Ashilla. “Aku kecewa dan aku mau hubungan kita cukup sampai di sini.”
“Maaf kalau aku bikin kamu kecewa, tapi aku nggak ada niat buat memanas-manasi siapapun.” Angkasa memberi jeda. “Mantan? Aku nggak punya mantan.”
“Oh, mungkin maksud kamu selingkuhan?”
“Nggak, aku nggak pernah selingkuh dari kamu.”
“Atau jangan-jangan aku yang kamu jadikan selingkuhan?”
“Sayang, cuma kamu satu-satunya.” Angkasa meraih tangan Ashilla. “Nggak ada yang lain. Kalau kamu selingkuhan aku, aku nggak mungkin kenalin kamu ke mereka.”
Ashilla menghela napas.
“Hidup jangan terlalu dianggap serius. Ada banyak lelucon dalam hidup yang bisa kamu tertawakan.”
“Termasuk kesulitan orang? Aib orang?”
“Sayang, please, kamu nggak perlu percaya Sarah, Martin, Iyash, Adisty, Lisa, Kevin dan semua yang ada di sana. This is jokes,” terang Angkasa.
“Dan aku nggak perlu percaya kamu?”
Kedua mata Angkasa membola.
“Itulah kenapa kamu nggak langsung nolong aku karena kamu pikir aku bercanda?”
“Nggak, kalau itu kamu salah paham.” Angkasa meraih tangan Ashilla. “Kamu tahu aku panik dan bingung saat melihat kamu kecebur.”
“Buka pintunya,” pinta Ashilla kesal.
“Sayang, aku nggak mau putus. Aku harus apa biar kamu menarik semua kata-kata kamu?”
“Buka pintunya!”
“Nggak. Kamu harus dengar aku dulu, Shill.”
“Please, Sayang, please,” mohon Angkasa. Nampaknya dia sudah kebingungan untuk membujuk Ashilla. “Aku nggak mau putus. Bilang, apa karena kejadian malam ini, atau karena kamu sudah tidak nyaman, atau jangan-jangan selama setahun ini, kamu membohongi perasaan kamu sendiri?”
Ashilla termangu sampai beberapa detik menatap pria itu. Mungkin dia egois dan terlalu cepat mengambil keputusan, dia memang masih mencintai Angkasa, tapi kejadian malam ini dan semua yang dia dengar tentang Sarah membuatnya ragu dengan hubungan yang sudah dijalaninya selama satu tahun ini.
Angkasa membuka kunci pintu mobil tersebut dan mengizinkan Ashilla pergi. Ashilla pun lekas membuka pintu, namun, sebelumnya dia menoleh.
“Aku butuh waktu memikirkan semuanya.”
Angkasa mengangguk. “Aku sayang dan aku cinta sama kamu. Kamu tahu selamanya akan seperti itu.”
Setelah mendengar perkataan Angkasa, Ashilla turun dan masuk ke dalam rumah.
“Dari mana kamu?” Tiba-tiba Ashilla mendengar suara kakeknya yang ternyata sedari tadi menunggunya di ruang tamu.
“Pergi sama Angkasa.”
“Sampai malam begini?”
Ashilla tak menjawab. Sementara Ganjar perlahan mendekat. “Dan ini kenapa basah?” tanyanya sembari memegang bahu sang cucu.
“Kecebur di kolam,” jawab Ashilla jujur.
“Hah? Kok bisa?”
Ashilla menenggak liur membasahi kerongkongan yang terasa kering.
“Kamu pulang sama siapa?”
“Sama Angkasa.”
“Mana orangnya?” Ganjar lekas berjalan ke depan pintu dan membukanya. Mobil Angkasa baru saja melesat pergi. Ganjar menghela napas dan kembal menutup pintu, lalu menoleh ke belakang, namun, Ashilla sudah masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Setelah dari kamar mandi, Ashilla mengenakan piyama hitam berbahan silk. Dia kemudian mengeringkan rambutnya di depan cermin. Tiba-tiba sekelebat bayangan Iyash datang, tubuh kekarnya yang basah kuyup usai menolongnya terus terbayang. Pertengkarannya dengan Angkasa juga masih terngiang. Yang jelas kejadian tadi terus berputar-putar di kepala.
Ashilla membuka tasnya yang terisi air. Ponsel, bedak, parfum, tisu, earphone dan semua isi dompetnya basah. Dia mengeringkan semuanya menggunakan hairdryer, berharap ponselnya masih bisa hidup, meski sudah terendam cukup lama. Dia membongkar ponsel, mengeluarkan baterai, kartu SIM dan kartu memorinya. Namun, sepertinya tak dapat diselamatkan, kerusakannya mungkin parah.
Ashilla membiarkan isi tasnya tercecer di meja, dia memilih merebahkan tubuh di kasur dan tidur.
***
Sepasang kaki berlari kecil, kemudian masuk ke dalam air dan merendam betis mungilnya. Suara tawa berbaur dengan indahnya bunyi alam. Anak-anak itu tampak riang diselingi bernyanyi. Tiba-tiba saja air meluap merendam setengah badan mereka. Gadis kecil menjerit terseret air, sedangkan yang lain sudah naik ke darat.
“Aahhhhh,” jeritan terus menggema dan terasa mengerikan.
Ashilla terbangun dengan napas terengah dan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya. Dia baru saja mendapat mimpi seorang anak perempuan kecil yang terseret arus sungai. Apa itu dirinya? Tiba-tiba pertanyaan tersebut muncul dalam benaknya begitu saja.
Tiba-tiba ketukan di daun pintu membuatnya terkesiap. Dia lekas duduk dan menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tadi setelah subuh dia menemui Ganjar dan mengatakan kalau dia akan tidur kembali karena merasa tak enak badan, dia juga sudah menghubungi Novia kalau hari ini dia tidak masuk.
Perlahan pintu terbuka dan Ganjar berdiri diambang pintu. “Kamu nggak lupa, ‘kan kalau hari ini ada santunan?”
Kening Ashilla mengernyit. “Santunan? Seminggu sekali?”
“Iya. Apalagi di sana lagi ada pembangunan, setidaknya bawa makanan untuk para pekerja.”
Ashilla menghela napas. “Minta Pak Yayan aja deh, Shilla ‘kan udah bilang, kalau Shilla capek, nggak enak badan, masuk angin kayaknya,” kata wanita itu sembari kembali menarik selimut.
“Harus ada perwakilan, masa Pak Yayan aja?”
“Kalau begitu Opa aja,” kata Ashilla di dalam selimut.
“Di depan ada Angkasa, kamu bisa minta antar dia.”
Seketika kedua mata Ashilla membola. “Ngapain?”
Ganjar mengedikkan bahu. “Ya mana Opa tahu. Kalian ada masalah?”
Ashilla tak menjawab, dia malah bergerak resah.
“Kalau memang iya, sebaiknya selesaikan. Jangan pernah menghindari masalah karena kalau dihindari masalah akan tetap ada dan bahkan mungkin lebih besar dari sebelumnya.”