Behind The Lies

Behind The Lies
Merenung



Ashilla merasa panik dengan kebohongannya sendiri. “Gimana kalau nanti malam kita pergi aja,” pinta Ashilla pada Angkasa.


Angkasa sudah cukup bersabar dan tidak ikut campur lebih jauh, namun Ashilla malah melibatkannya.


“Please. Soalnya Opa tuh nggak tahu tentang masalah ini, dari mulai aku menolong wanita hamil sampai ujungnya kayak gini tuh Opa nggak tahu.”


“Kenapa nggak sejak awal kamu cerita sama aku?”


“Semua kesibukan benar-benar membuatku lupa.”


“Ah bisa-bisanya kamu aja, padahal tiap kamu menemui bayi itu atau tiap kamu dekat dengan Iyash, udah pasti kamu ingat sama aku, nah pas ingat itu kenapa nggak bilang? Malah minta putuslah, minta ingin sendiri. Kalau kamu cerita semuanya aku juga nggak akan maksa minta akses ke sosial media kamu. Aku akan coba mengerti kamu,” cecar Angkasa kesal.


“Maaf, Sayang.”


“Sekarang kamu selesaikan masalah kamu sendiri. Aku mau pulang,” kata Angkasa seraya bangkit.


Ashilla merengut dan menahan tangan Angkasa. Pria itu menoleh dan menatap sang kekasih. “Nikah yuk,” ajak Angkasa seraya duduk kembali di sebelah Ashilla. Angkasa selalu serius jika menyangkut pernikahan. Namun, Ashilla malah tertawa dan menganggap itu sebagai bahan bercandaan.


Angkasa tergemap. Dia tak tahu lagi cara untuk meyakinkan Ashilla.


“Aku harus pulang, Sayang, dari kemarin belum ketemu Papa.”


Perlahan Ashilla melepaskan genggaman tangannya. Angkasa membungkuk dan mengecup puncak kepalanya. “Bye.” Pria itu kemudian pergi dan berpamitan pada Asa dan Pak Ganjar.


“Om, makasih ya, Asa suka mobilnya,” kata Asa seraya menunjukkan remot mobil yang baru dibelikan Angkasa.


Angkasa mengacungkan ibu jari seraya tersenyum.


“Makasih papan caturnya. Shilla pasti yang bilang kalau punya Opa rusak.”


Angkasa tersenyum. “Nggak ada yang bilang, Opa,” bisik Angkasa. “Sebelum pergi ke New York kita kan sempat main.”


Ganjar tertawa. “Opa lupa.”


Dari kejauhan Ashilla hanya menyaksikan. Dia ingin menahan pria itu karena jujur dia benar-benar ingin lebih lama bersamanya. Namun, Angkasa sengaja pergi meninggalkannya. Mungkin memang benar hanya pernikahanlah yang akan tetap menahan Angkasa bersamanya.


“Kalau pernikahan bisa tetap menahan kamu di sini, ya udah kita nikah,” teriak Ashilla dan itu membuat semua orang menoleh kepadanya. Namun, dia malah seperti terkejut dengan perkataannya sendiri, apalagi ketika semua orang menatapnya kaget.


Angkasa tak kalah terkejut, beberapa detik lalu Ashilla tertawa dengan ajakannya dan tiba-tiba perempuan itu bersikap demikian. Ini pasti bercanda, pikirnya. Dan tak segan tertawa kencang karena mengira perkataan Ashilla hanya guyonan.


Seketika Ashilla merengut dan berlari ke kamarnya. Itu malah membuat Angkasa semakin kaget.


“Angkasa!” pekik Ganjar.


“Opa, aku kira dia bercanda.” Angkasa lekas menyusul Ashilla ke kamar, namun pintu kamar sudah terlanjur di kunci. “Sayang, aku minta maaf, aku kira kamu bercanda,” katanya sembari menggedor-gedor pintu. “Sayang.”


Pintu terbuka dan Ashilla tertawa. “Aku memang bercanda. Udah sana pulang.”


Jantung Angkasa seketika mencelus. Perlahan kedua kakinya mundur saat Ashilla hendak memeluknya. Ashilla terkejut karena dia pikir Angkasa tidak akan marah seperti sebelumnya. Saat pria itu berbalik dan hendak melangkah, Ashilla lekas berkata, “Aku serius.”


 Kaki Angkasa tertahan. Namun, dia masih membelakangi Ashilla. Dia takut Ashilla kembali tertawa dan rasanya itu menyeramkan dari sebelumnya.


“Beneran. Aku mau menikah sama kamu.”


Kali ini Angkasa berbalik dan tersenyum, lalu mengambil langkah dan memeluk Ashilla. Namun wanita itu lagi-lagi tertawa, tapi Angkasa tetap menahannya dalam pelukan.


Ganjar dan Asa ikut tertawa bahagia.


“Semalaman aku memikirkan ini,” bisik Ashilla.


Angkasa terus tersenyum. “Nggak usah ada lamaran, langsung nikah aja,” bisik pria itu tanpa melepaskan pelukan.


***


Iyash terus mengemudi dan berhenti di depan panti asuhan milik kakeknya. Tanpa basa-basi dia langsung menanyakan keberadaan bayi yang dibawa suster Rika kemarin.


Suster Rika keluar dari balik dinding sembari menggendong Lily. “Maaf, Pak.”


“Lily.” Iyash lekas mengambil alih Lily dari pelukan Suster Rika. “Kenapa, Sus?”


“Maaf, Pak. Lebih baik Lily di sini karena sepertinya Bu Ashilla tidak ingin merawat Lily. Bahkan dia yang memaksa saya untuk membawa Lily ke sini,” bohong wanita itu.


“Apa?” Iyash terhenyak. “Bisa-bisanya dia begitu.”


Suster Rika mengangguk. Sepertinya Iyash tak menaruh curiga sedikitpun akan hal ini.


“Jadi selama ini dia hanya pura-pura?” gumam Iyash kesal.


“Sejauh yang saya lihat memang begitu, Pak,” bohong Suster Rika lagi. Padahal jelas-jelas dia melihat kalau Ashilla tak keberatan menjadi ibu angkat Lily, meski awalnya terpaksa. Namun, kebohongan dan fitnah yang diciptakan suster Rika begitu sempurna, sehingga membuat Ashilla membenci tindakan Iyash dan nampaknya Iyash juga termakan dengan permainan tersebut.


Iyash benar-benar merasa dibohongi dengan wajah dan sikap lembut Ashilla terhadap Lily. Bisa-bisanya Ashilla bersikap seolah memang dia siap merawat bayi malang ini. Menurutnya Ashilla terlalu egois dan tak memikirkan sekitarnya. Bahkan, lebih cepat melupakan sehingga terlihat tak memiliki empati.


“Yash, Lily akan lebih sehat tinggal di sini karena akan banyak yang memperhatikannya,” ucap Yani, istri Marwan sang pengurus panti.


Iyash mengangguk. “Kalau begitu saya titip dia, jangan sampai ada yang mengadopsinya.”


Yani dan Marwan mengangguk. “Kami akan jaga dia sampai kamu menikah dan membawa Lily bersama keluarga kecil kamu.”


Iyash tersenyum getir. “Menikah dengan siapa?” pikirnya.


“Dengan perempuan atuh, Nak,” kata Yani.


“Perempuan banyak, Bu. Iyash bahkan bisa mendapatkan empat sekaligus kalau dia mau,” kekeh Marwan.


Iyash mengembalikan bayi kecil itu pada Suster Rika. Dia kemudian duduk di sofa.


“Jangan banyak pikiran, Nak. Nanti juga ada jodohnya, asal kamu yakin,” kata Yani. “Ibu doakan yang terbaik untuk kamu.”


“Terima kasih, Bu.”


Iyash menghela napas panjang. Perempuan yang ingin dia nikahi hanya Aruna, namun sekarang Aruna sudah berubah. Aruna bukan lagi wanita yang dia kenal. Bahkan wanita itu sudah melupakan semua kenangannya.


Sepulang dari panti, Iyash ke rumah dan sepanjang jalan dia merenungkan kejadian ini. Dia pergi ke sebuah ruangan dan terduduk di depan meja sembari menatap potret Aruna yang terpasang di dinding. Kali ini senyum yang biasa dia lihat begitu manis, malah terlihat miris menyayat hati. Cintanya memang tak bertepuk sebelah tangan, namun lebih menyakitkan dari itu.


Dia kembali membuka buku harian Aruna. Catatan terakhir wanita itu menjadi keyakinannya sejak sepuluh tahun terakhir. Itulah kenapa dia tak pernah menganggap Aruna mati.


Perlahan Iyash memasukkan semua buku-buku dan album fotonya bersama Aruna kedalam kardus dan menyusunnya. Dia sudah menyerah dan mungkin memang Aruna sudah melupakannya. Keyakinannya setiap bersama Ashilla menjadi begitu tipis. Dia ragu kalau Aruna masih ingat padanya dan mungkin saja Aruna memang sudah melupakannya sejak pergi meninggalkannya sepuluh tahun yang lalu.


***