Behind The Lies

Behind The Lies
Menyelimuti Kegundahan di Hatinya



“Gusman akan sedih kalau tahu Papa memperlakukan Aruna seperti itu,” kata Miranti. “Papa mungkin tidak suka dan tidak menganggapnya sebagai cucu karena Aruna tidak memakai nama Wijaya di belakang namanya, tapi Papa lupa kalau Aruna memiliki darah Wijaya.”


Ganjar seketika tergemap. Sementara Edgar setuju dengan kalimat sang ibu.


“Papa lupa kalau setiap yang Papa lakukan akan ditanya pertanggung jawabannya. Aku pikir Papa sudah berubah, tapi ternyata masih sama kayak dulu. Hanya karena Gusman meninggalkan nama Wijaya, Papa tidak mengakuinya, Papa mencoretnya dari Kartu Keluarga.”


Ganjar mengalihkan pandangannya ke pinggir hanya agar Miranti tak melihat bagaimana sedihnya dia akan hal itu.


“Pa, yang sudah terjadi, sudahlah, Pa, lupakan saja. Sudah setua ini juga. Allah kasih Papa umur panjang untuk memperbaiki semuanya, bukan malah semakin memperumit keadaan. Akhirnya keluarga Papa terpecah. Aku susah payah mengumpulkan anak-anak di rumah supaya apa, supaya aku tak bernasib sama seperti Papa,” nasehat Miranti panjang lebar.


“Kalau seperti ini Aruna juga segan menemui Papa,” tambah Miranti. “Kasihan anak itu. Hidupnya sulit. Dia tidak tahu apa-apa, tapi kenapa Papa harus melibatkannya dalam kebencian Papa, entah itu pada Dewi, atau pada Gusman, atau jangan-jangan Papa marah pada diri Papa sendiri karena kekacauan ini. Kalau memang iya, aku lebih senang begitu. Artinya Papa menyesali semua yang Papa lakukan.”


“Cukup, Mir,” kata Ganjar pelan.


“Cukup gimana, aku nggak mau tahu kalau Aruna ke sini, Papa harus bersikap baik sama dia. Aku tuh senang, aku tenang karena ada Faran di sisi Aruna.”


“Kalau saja dia mau datang dan menyempatkan diri setiap bulannya ke sini untuk menemui Papa,” kata Ganjar.


“Nggak usah menyalahkannya. Papa lupa kalimat menyakitkan Papa di hari pemakaman Gusman? Apa perlu aku ingatkan?”


Ganjar tak menjawab lantaran dia memang tidak mengingat apa yang sudah dia katakan sampai Aruna berhenti menemuinya.


“Oke Mira ingetin Papa. Waktu itu Papa bilang di depan pemakaman Gusman kalau kematian Gusman adalah salah Aruna. Kalau saja Aruna tak pernah lahir, Gusman pasti akan kembali pada Papa dan bukan pergi untuk menuruti egonya dan membuktikan kalau dia bisa membesarkan Aruna. Sampai harus kerja serabutan, sakit seperti ini dan akhirnya Papa kehilangan Gusman, begitu. Papa masih ingat?”


Jantung Ganjar mencelus.


“Kalau Papa memang masih tidak ingat, Papa tanya Edgar, Papa tanya Ashilla. Waktu itu Ashilla juga sakit hati, wajar karena kalau Papa berandai-andai Aruna tidak pernah ada, itu artinya Papa berharap hal yang sama pada Ashilla, dia sampai tak ingin kembali ke Jakarta. Papa tahu yang Papa sebut sebagai egonya Gusman, itu semua bukan ego, tapi–”


“Cukup, Mir.” Ganjar mengelus dadanya sendiri. “Kamu ingin Papa mati?”


Miranti membuang muka seraya menghela napas panjang. Dia kemudian menatap Edgar. “Ed, kamu pulang aja, biar Bunda yang jagain Opa.”


Edgar lekas bangkit. Lagipula dia tidak menyukai novel drama atau serial drama yang lebaynya nggak ketulungan. Bagi Edgar drama keluarga kakeknya lebih drama dari semua drama yang dia benci.


***


Mobil Yayan berhenti di depan di hotel, Faran langsung memesan satu kamar untuk suami istri. Sementara Yayan masih berada di dalam mobil depan hotel tersebut. Dia benar-benar sedih, wajah Dewi masih terbayang saat memintanya untuk menjelaskan semuanya pada Aruna. Namun, kata Faran malam ini Aruna sangat susah diajak bicara.


Di kamar hotel Aruna langsung pergi ke kamar mandi dan mengunci pintu. Faran panik. “Sayang.” Dia terus mengetuk. “Sayang jangan gini dong.”


Aruna menangis ditemani kucuran air dari shower yang langsung mengguyur puncak kepala sampai ujung kakinya.


“Sayang, please, kamu bisa sakit lagi kalau kayak gini,” bujuk Faran. Dia kemudian terdiam dan mendengarkan suara tangis Aruna dari luar. Rasanya memang percuma terus menerus bicara karena saat ini Aruna tak mendengar apapun selain kesedihannya sendiri.


Faran berdiri seraya bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi. Tak berapa lama Aruna keluar dalam keadaan menggigil. Wanita itu basah kuyup, wajahnya pucat dan hidungnya memerah.


Faran mengeringkan kepala Aruna dengan handuk tersebut. Dia lalu membantu istrinya itu menanggalkan seluruh pakaian yang basah, saat Faran memakaikan kimono. Aruna memeluknya dengan erat dan terus menangis.


Selama ini Faran sudah berlaku sabar terhadapnya. Bahkan pria itu tak pernah meninggikan suaranya. Faram meminta dirinya pada sang ayah dengan cara baik-baik, bahkan Faran juga sangat menghormati keluarganya. Belum lagi semua keluarga Faran menerima dirinya. Aruna adalah menantu satu-satunya di keluarga Faran mengingat Faran adalah anak tunggal. Ibunya Faran bahkan lebih menyayangi dirinya ketimbang anak laki-lakinya itu. Selama di Jerman, Aruna lebih sering menghubungi ibu mertuanya, daripada suaminya sendiri.


“Aku nggak mau kehilangan Mas Faran,” isak Aruna.


Seketika Faran tergemap dan membalas pelukan sang istri. “Seharusnya Mas yang bilang begitu. Selama ini Mas menjaga kamu untuk diri Mas sendiri, bukan untuk orang lain.”


Aruna terus terisak. Perlahan Faran melepaskan pelukannya dan mengajak Aruna ke ranjang. “Kamu duduk dulu, Mas buatkan teh hangat.”


Aruna menarik napas dan mencoba menenangkan dirinya sendiri sembari menatap punggung pria itu. Selama ini setelah kepergian sang ayah, memang hanya Faranlah yang dia miliki. Keluarga Faranlah yang terus memperhatikannya, meski dari jauh.


Faran membawakan segelas teh hangat. “Minum dulu.”


Aruna lekas meraihnya dan menyeruputnya sedikit.


“Masih panas?” tanya Faran.


Aruna mengangguk.


“Ya udah simpan dulu. Kamu sebaiknya tidur.” Faran membantu Aruna merebahkan tubuhnya di ranjang, namun saat Faran menyelimutinya, Aruna menarik tubuh Faran dan  memeluknya.


Faran tercenung.


“Aku takut,” lirih Aruna tepat di telinga Faran.


Entah apa yang Aruna takutkan sampai dia tak melepaskan pelukannya pada Faran.


Akhirnya Faran membalas pelukan Aruna dengan mengecup keningnya, kemudian beralih ke kedua pipinya, lalu ke hidung dan terakhir ke bibir cukup lama. Sampai Aruna merasa ada ketenangan di sana.


Aruna membalas pagutan itu. Malam itu Aruna berhasil menemukan ketenangannya dalam diri Faran, pria yang lembut yang tak pernah marah. Aruna beruntung karena meski awalnya dia tak pernah mencintai Faran, namun sekarang justru dia tak ingin kehilangan pria yang sudah menemani masa sulitnya itu.


Aruna menerima setiap sentuhan lembut yang Faran berikan. Faran melepaskan tali kimono yang sebelumnya sempat dia pasangkan. Dia terus menghujamnya dengan kecupan di setiap titik di atas permukaan kulit putih bersih yang Aruna miliki.


Meski tak bisa melupakan kesedihannya. Namun, Faran berhasil menyelimuti kegundahan hatinya malam itu.


“I love you,” desis Faran di telinga Aruna. Berharap kali ini Aruna menjawab pernyataan cintanya.


“I love you too,” balas Aruna pelan.


Faran tersenyum. Dia merasa menang kali ini dan untuk merayakannya dia kembali menghujani Aruna dengan kecupan. Bagi Faran malam ini menjadi terasa lebih indah dari malam-malam sebelumnya yang sering dia habiskan dengan Aruna.


***