Behind The Lies

Behind The Lies
Semoga Menjadi Pertentangan Terakhir



Semua orang pagi itu sudah selesai menikmati sarapan mereka masing-masing. Ada yang pergi jalan-jalan seperti Faran dan Aruna juga kedua orang tua mereka. Ada yang kembali ke kamar seperti Daniel, sedangkan Edgar, Miranti, Ganjar dan Asa masih duduk di resto.


Edgar masih setia menikmati secangkir kopi. Dia memang selalu paling terakhir meninggalkan kursi setelah makan, apalagi sambil membuka sosial media. Ada banyak pengikut baru yang sepertinya ini adalah ulah Marissa dan temannya. Namun, ada satu akun yang memberi like di setiap postingannya dalam semalam. Dia pikir akun tersebut milik seorang perempuan, sehingga dia mengabaikannya Padahal akun itu milik Hasa.


“Mau pulang jam berapa?” tanya Miranti.


“Terserah Bunda aja.” Asap kelabu menguar dari mulut pria itu.


Seketika Ganjar terbatuk.


“Edgar, matikan dulu rokoknya, kasihan Opa,” kata Miranti.


Seketika Edgar membenamkan ujung rokok yang masih menyala ke atas piring bekas makannya.


“Mandi dulu gih, siap-siap.”


“Udah, Bund. Memangnya aku Asa,” dengkus Edgar.


Asa mendelik. Dia kemudian menatap Miranti. “Mama mana, Bund?” tanya bocah itu.


“Nggak tahu,” jawab Miranti.


“Tuh Mama tuh,” tunjuk Edgar.


Ashilla tersenyum dari kejauhan. Rambut Ashilla masih terlihat sedikit basah karena dia tak sempat mengeringkannya sampai benar-benar kering. Sementara wajahnya terlihat begitu cerah, tak seperti semalam. Wewangian menguar pagi itu.


“Beda ya pengantin baru. Mandinya lama, wanginya sampai kayak gini, astaga, untung udah makan, kalau nggak kepala langsung pusing cium aromanya,” goda Edgar.


“Ih parfum mahal, masa bikin pusing,” kata Ashilla sembari duduk di sebelah Asa. “Maaf telat. Tadi, mandi dulu.”


Angkasa pun duduk di sebelah sang istri.


“Kamu nggak jawab panggilan Bunda.”


“Maaf, Bund. Lagi di kamar mandi,” bohong Angaksa, padahal dia sengaja karena tak ingin seorangpun mengganggu keintimannya dengan Ashilla.


“Oh barengan, pantesan lama,” dengkus Miranti.


Ashilla tertunduk malu. Sementara Angkasa tersenyum kering.


“Yang lain mana?” tanya Angkasa seraya memutar pandangan.


“Udah selesai makan. Faran sama Aruna jalan-jalan, nggak tahu yang lain.”


“Daniel?”


“Ke kamar,” jawab Edgar sembari terus membuka sosial medianya dan memposting foto keluarganya dalam pernikahan Ashilla, dia menambah captions. “Happy wedding for you, my sister.”


Orang pertama memberinya like adalah Hasa yang ternyata sejak tadi duduk di sana dan makan. Rupanya setelah dari apartemennya, dia keluar dan memutuskan untuk menyewa satu kamar di hotel yang sama. Dan pagi ini dia hanya bisa mengintip sang anak dari kejauhan.


“Selesai makan, siap-siap, kita pulang hari ini,” instruksi Miranti.


“Aku akan pulang ke rumah Angkasa,” kata Ashilla.


“Nggak,” sahut Ganjar cepat. “Kamu akan tetap di rumah Opa.”


“Hah?” Kening Ashilla mengernyit. “Aku pikir setelah menikah, aku bebas memilih jalan hidupku sendiri.”


Ganjar termangu menatap cucu kesayangannya. “Nggak ada yang boleh pergi dari rumah Opa,” kata pria tua itu keras kepala.


“Mau sampai kapan?”


“Selamanya.”


“Nggak, aku nggak mau.”


“Karena Angkasa suami kamu? Kalau begitu ceraikan dia,” kata Ganjar enteng.


Seketika kedua mata Ashilla membola, begitupun dengan MIranti, Angkasa sendiri tak kalah terkejut dengan perkataan pria tua tersebut.


“Papa!” Miranti bangkit dari duduknya. “Papa kenapa sih?”


Edgar berdecak. “Ini tempat umum, jangan anggap seperti rumah sendiri,” kata Edgar seraya bangkit. “Asa, ayo kita pergi.”


Asa lekas pergi meninggalkan kursi dan ikut bersama Edgar. Sementara Miranti kembali duduk. Dia belum sadar ada Hasa yang sedari tadi memperhatikan ke arahnya.


Ashilla menatap Angkasa. Pria itupun kemudian berdehem. “Opa, kalau ini karena kejadian semalam, saya minta maaf, tapi terus terang saya sama sekali tidak tahu. Perilaku seseorang baik dan buruk itu diluar kendali kami dan tentu saja itu bukan kesalahan kami, jadi kami tidak perlu bertanggung jawab akan hal itu.”


“Angkasa benar, tak seharusnya pernikahan mereka jadi korban, Pa,” kata Miranti lebih tenang.


“Ya sudah kalau begitu kalian tetap tinggal di rumah Opa.”


“Maaf, Opa, tapi aku akan tetap ikut Angkasa. Mulai Senin dia akan kerja di perusahaan ayahnya.”


“Dan kamu masih akan tetap bekerja di perusahaan Opa. Kamu harus bertanggung jawab dengan semua kesalahan kamu dan memperbaiki semuanya.”


“Aku sudah putuskan akan menjadi ibu rumah tangga dan nggak akan kembali ke kantor. Opa sudah menunjuk Kak Edgar, ‘kan? Jadi, dia saja yang mengurus semuanya.”


“Kamu sama Edgar yang akan mengurus semuanya.”


Miranti berdecak kesal. Sudah setua ini Ganjar masih saja keras kepala. Miranti sampai khawatir apakah sikap sang ayah tak bisa diubah?


 “Aku yang akan menggantikan Opa di Kantor dan Edgar yang akan menggantikan Ashilla,” kata Miranti.


Ganjar kehilangan cara menahan Ashilla agar tetap di rumahnya.


“Setidaknya beri mereka waktu Opa. Kenapa Opa jadi kayak gini, dulu Opa setuju dan meminta Angkasa untuk cepat-cepat menikahi Ashilla, tapi sekarang malah kayak gini.” Miranti menghela napas.


Jujur, kejadian semalam membuat Ganjar takut kehilangan semuanya. Sebisa mungkin dan sekuat tenaga dia akan mempertahankan apa yang harus menjadi miliknya.


Angkasa menggenggam tangan Ashilla. “Kami janji akan mengunjungi Opa setiap Minggu.”


Ganjar terdiam dan mengalihkan pandangannya.


“Meski Ashilla sudah menjadi istri saya, tapi saya tidak akan menguasai dan mengekangnya,” tambah Angkasa.


“Opa dengar?” tanya Miranti. “Dulu Opa pernah mengusir Ashilla karena dia melakukan kesalahan, sekarang Opa malah menahannya. Untung Ashilla menikahi pria yang tepat.”


“Ya sudah terserah kamu,” tukas Ganjar.


Ashilla tersenyum menatap Angkasa. Dia setuju dengan perkataan Miranti. Meski rasa ragu sering hadir, namun kali ini setelah dia dan Angkasa benar-benar bersatu, dia merasa kalau Angkasa memang pria yang tepat dan dia tak pantas meragukan pria sebaik Angkasa.


“Bunda mengizinkan kamu untuk tinggal di rumah orang tua Angkasa.”


Angkasa dan Ashilla tersenyum. “Sebenarnya Angkasa sudah menyewa satu unit apartemen di dekat kantornya, tapi baru bisa ditempati seminggu lagi,” karang Ashilla.


Seketika Angkasa menoleh dan menatapnya lekat.


“Iya, ‘kan, Sayang?”


“Hm, i-iya,” kata Angkasa gugup. Dia memang akan melakukan apapun untuk Ashilla, meski tak pernah berpikir apa yang akan terjadi kedepannya, yang jelas dia merasa akan terus bahagia dengan wanita itu.


“Kenapa nyewa, kamu nggak mampu beli?” tanya Ganjar.


“Aku nggak mau Angkasa beli apartemen. Aku mau dia membuatkan rumah untuk kami tempati dan membangun rumah tangga kami dari nol.”


Angkasa tersenyum menatap genggaman tangan Ashilla. Sedangkan Miranti tersenyum menatap keduanya.


“Selamat ya,” kata Miranti. “Bunda sampai lupa bilang selamat sama kalian.”


Ashilla tersenyum. “Aku sudah mendengarnya dari sebelum kami menikah.”


“Doa Bunda selalu menyertai kalian.”


“Makasih, Bund,” kata Angkasa.


Miranti tersenyum. “Jadi, kapan kalian keluar dari sini?”


“Mungkin jam sepuluhan, kami harus siap-siap,” jawab Ashilla.


“Oke. Sekarang kalian sarapan dulu.”


Angkasa dan Ashilla mengangguk. “Asa ikut siapa?” tanya Ashilla.


“Kenapa masih tanya, ikut kamulah. Kamu ibunya,” jawab Miranti.


Ashilla kembali mengangguk.


“Kalau Asa nggak mau, dia akan tetap di rumah. Mana enak hidup menumpang, lagi pula rumah Opa rumah kalian juga,” kata Ganjar.


Ashilla hanya mengangguk. Dia tak lagi menentang perkataan Ganjar, meski tersemat kata menyakitkan dalam kalimatnya, namun semuanya sudah dia anggap selesai karena Miranti sudah mengizinkannya pergi dan tinggal di rumah Angkasa. Namun, satu yang dia harapkan sejak semalam, semoga tak ada lagi pertentangan, tapi jika memang ada, dia harap ini adalah pertentangan terakhir, semoga kedepannya Ganjar bisa menerima dan mengerti dengan semua keputusannya.