
Ashilla termenung menatap pantulan wajahnya di depan cermin, sementara Olin, sang make-up artist tengah meriasnya. Nampaknya dia sepemikiran dengan Faran, sejak dia tahu perselisihan Iyash dengan Angkasa adalah soal Aruna, dia pernah berpikir kalau Angkasa mendekatinya karena memang dia mirip Aruna. Jangan-jangan selama ini dia hanya pelarian Angkasa dari obsesinya, sama seperti Iyash yang bersikap seolah dirinya memang Aruna.
Make-up tak lantas membuat struktur wajahnya berubah. Meski memiliki karakter yang berbeda, tapi wajah mereka tetap sama. Dia mungkin lupa kalau Angkasa menerima dirinya sebagai Ashilla, bukan Aruna. Sudah berkali-kali dia tanyakan itu pada Angkasa, namun sekarang terkoyak lagi karena pernyataan Faran. Hanya karena ada orang yang satu pemikiran dengannya, bukan berarti Angkasa seperti itu.
“Sudah selesai?” tanya Miranti seraya masuk.
“Belum, Bu,” jawab Olin.
“Kamu kok murung?” tanya Miranti pada Ashilla.
“Aku cuma gugup.”
Miranti tersenyum. “Penghulu sudah datang.” Dia kemudian berbalik dan hendak keluar.
“Bund,” panggil Ashilla. Olin seketika berhenti dan Ashilla menoleh pada Miranti. “Batalin aja.”
“Astaga!” Dengan segera Miranti mendekat. “Maksud kamu apa? Hanya karena kamu gugup, kamu minta pernikahan ini dibatalkan?”
“Bund.” Ashilla bangkit. “Sejak dulu, Bunda adalah figur buat aku. Aku nggak masalah, aku bisa ngikutin Bunda. Bunda bisa membesarkan Kak Edgar sendirian tanpa suami.”
“Terlalu mendadak kalau kamu mau seperti Bunda. Kenapa nggak dari setahun lalu saat Angkasa mengajak kamu berpacaran, seharusnya kamu tidak menerima dia.”
Ashilla termangu.
“Akan ada banyak orang terluka kalau kamu melakukan ini. Angkasa dan keluarganya akan kecewa. Terus Asa, apa kamu pikir dia akan baik-baik saja, hm?”
Ashilla tertunduk.
“Sebaiknya jangan bertindak bodoh.” Miranti kemudian menatap Olin. “Olin, cepat selesaikan riasannya.”
“Baik, Bu.”
Miranti kembali menatap Ashilla. “Bunda sudah sering mendengar kamu meragukan Angkasa, tapi tidak di detik-detik seperti ini, semua anggota keluarga sudah berkumpul,” kata Miranti kesal. “Bunda cukup mengenal Angkasa, dia pria yang baik, dia sudah dekat dengan Asa.” Miranti mengernyit. “Kamu kenapa, sih, Shill?”
Ashilla terus tertunduk.
“Kamu bilang kamu beruntung mendapatkan Angkasa, terus kenapa masih ragu, Ashilaaaa ….”
Ashilla menghela napas. Bagaimana dia menjelaskan pada Miranti kalau keraguan itu datang ketika dia menyadari siapa orang yang sejak awal Angkasa inginkan. Namun, lagi-lagi itu hanya dugaannya saja.
“Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Percaya sama Bunda semua akan baik-baik saja.”
Ashilla mengangguk.
“Sekarang cepat selesaikan. Angkasa dan yang lainnya sudah menunggu.”
Ashilla kembali mengangguk. Sedetik kemudian Miranti keluar. Sementara Ashilla kembali duduk di tempatnya tepat di depan cermin. Keraguan mungkin bisa datang kapan saja, tapi tidak di saat ketika seharusnya Ashilla sudah yakin dengan pilihannya.
Hanya tinggal beberapa menit lagi Angkasa akan sah menjadi suaminya, tapi memang manusia tak dapat memprediksi apapun bahkan untuk satu menit ke depan.
“Ayo, Mbak, kita selesaikan,” ajak Olin.
Gaun putih tulang yang Ashilla kenakan sangat cantik membalut tubuh indahnya. Bergaya sabrina menampilkan keindahan dari kedua bahunya. Hairdo klasik dengan hairbun rendah membuatnya terlihat semakin memukau, apalagi ditambah tiara berwarna putih. Cukup simpel, tapi lagi-lagi terlihat sangat menawan dikenakan Ashilla.
Dibantu Olin dan dijemput Asa, Ashilla keluar dari ruang make up. “You are beautiful, Mam.”
Ashilla tersenyum mendengar pujian dari anaknya sendiri. Semua orang tersenyum melihatnya. Rona di wajahnya tak menandakan kalau dia gugup, bahkan tak tergambar kalau beberapa saat lalu dia meminta Miranti membatalkan semuanya.
Anggun dan gemulai, Ashilla berjalan ke dekat Angkasa. Pria itu tersenyum menyambut betapa cantik pengantinnya sore itu.
Ashilla duduk bersama Angkasa di depan penghulu dan beberapa orang yang ditunjuk untuk menjadi saksi pernikahannya. Ganjar sebagai wali nikah, Edgar dan Faran sebagai saksi serta dua lainnya dari pihak pengantin pria.
Tepat pukul lima sore, kalimat basmalah terlantun untuk mengawali akad suci pernikahan. Tak seperti yang sebelumnya Ashilla takutkan Angkasa begitu fasih mengucapkan janji suci pernikahan. Tentu saja, sejak bertemu Ashilla tak pernah Angkasa mengharapkan wanita selain dirinya.
Tak berlangsung lama, bahkan hanya terjadi beberapa menit saja mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Lantunan doa serta syukur menggema di aula tempat diadakannya acara tersebut.
Dilanjutkan dengan sungkem, kemudian sesi foto bersama semua anggota keluarga. Sangking sibuknya Angkasa belum sempat memuji Ashilla dan menatapnya untuk jangka waktu yang lama seperti yang sering dia lakukan.
Hanya sentuhan-sentuhan yang diarahkan oleh sang juru kamera, namun di sela-sela itu Angkasa berbisik, “Kamu cantik.” Hingga beberapa kali.
Bersemu merahlah pipi Ashilla mendengar bisikan Angkasa barusan. Meski sempat meragukan pria itu, namun, setelah akad suci terucap, tak ada lagi keraguan, akhirnya dia sadar kalau Angkasa hanya mengharapkan apa yang sudah Tuhan tetapkan.
“Selamat ya, akhirnya,” kata Aruna dan Faran yang sudah berdiri di depan mereka.
“Terima kasih,” kata Angkasa dan Ashilla bersamaan.
“Mas Faran punya kado untuk kalian.” Aruna kemudian menatap sang suami.
Faran tersenyum. “Ini sebenarnya ide Aruna, tapi ya aku ikut saja.”
“Jadi, kadonya apa?” tanya Ashilla penasaran.
Faran mengeluarkan amplop panjang. “Bukan uang.”
Aruna tertawa sambil bergelayut manja di lengan sang suami. Dari kejauhan sepasang mata menatap ke arahnya penuh luka. Meski berusaha untuk melepaskan nampaknya hidup Iyash tetap penuh dengan penyesalan. Entah itu penyesalan karena menunggu Aruna sampai selama itu, atau karena hal lain, yang jelas dia merasa bodoh karena sampai detik ini dia belum bisa melupakan Aruna dan menggantikannya, sementara Aruna terlihat bahagia dengan yang lain.
“Terima kasih untuk tiket liburannya,” kata Angkasa. “Kami pasti akan memanfaatkannya.”
“Harus,” sahut Ashilla. “Kapan lagi dibiayai bulan madu.”
Aruna terkekeh dan lagi-lagi dia memeluk lengan suaminya, bahkan lebih erat dari sebelumnya. Beberapa jepret foto diambil dengan gaya candid tanpa sepengetahuan mereka berempat karena Miranti yang memintanya pada sang juru kamera.
Para tamu undangan berdatangan dan langsung menatap ke arah pelaminan. Nampaknya mereka lupa kalau ada tamu yang ingin mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
“Foto dulu,” kata Ashilla seraya menggandeng lengan Aruna dan memintanya menghadap kamera. Tanpa diarahkan, secara otomatis Faran dan Angkasa juga langsung menatap ke kamera.
Tak dapat dipungkiri, Angkasa bahagia lantaran bisa melepas lajangnya sesuai dengan target dan perencanaan yang matang bersama orang yang tepat.
Aruna dan Faran turun meninggalkan pelaminan, bersamaan dengan itu yang lainnya naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai, sementara Iyash masih berdiri dan memandangi mereka secara diam-diam. Sejujurnya Iyash ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari, sungguh itu terjadi di luar kendalinya karena sampai detik ini Iyash masih selalu gagal mengendalikan emosinya.