
Alunan musik dan lagu dari Shane Filan mengiringi keindahan acara malam itu. Beautiful in white menggambarkan keadaan Ashilla dan Angkasa saat ini. Pria itu tak hentinya tersenyum dan memuji wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Tak ada yang dia lihat selain wanita di sebelahnya malam itu. Pun, dengan Ashilla, dia tidak memperhatikan siapa yang datang dan tidak datang di acara pernikahannya.
Iyash naik ke panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat pada sahabat kecilnya. Dia tersenyum seraya mendekat, kemudian tertawa saat mendapat pelukan dari Angkasa.
“Gue minta maaf.”
Angkasa mengedikkan bahu seraya melepaskan pelukannya.
“Selamat ya.”
“Thanks, Yash. Cepat nyusul.”
Iyash tersenyum kecut. Hal itu memang terlalu sensitif baginya. Pria itu kemudian menatap Ashilla. “Selamat, Shill.”
Ashilla tersenyum seraya mengangguk. “Makasih. Cepat cari calon ibu untuk Lily, aku nggak bisa.”
Iyash tertawa kecil. “Aku bisa jadi ayah tunggal untuknya.”
“Ih, kasihan.”
“Kamu tenang aja, kalau Iyash bilang dia bisa, pasti dia bisa,” timpal Angkasa.
Iyash tersenyum seraya mengangguk. Dia kemudian memberikan hadiah kecil.
“Apa ini? Boleh dibuka?”
“Buka aja.”
Ashilla dan Angkasa membuka kado tersebut langsung di depan Iyash. Seketika mereka berdua terperangah melihat miniatur rumah dari kayu.
“Cantik banget.” Ashilla kemudian tertawa.
“Siapa tahu mau bikin rumah, gue buatin desainnya, gratis.”
“Serius?” tanya Ashilla.
“Iyalah.”
“Ah, makasih.” Ashilla lompat kegirangan.
Angkasa tersenyum melihat kebahagiaan Ashilla. “Makasih, Yash.”
“Sama-sama.”
Dari kejauhan Aruna menatap ke arah mereka. Jantungnya seperti tercubit. Sakit. Dia bersahabat dengan Iyash dari SMA, rusak karena hubungan percintaan, lalu sekarang malah seperti bermusuhan. Kini Iyash malah lebih dekat dengan Ashilla.
“Sayang,” panggil Faran. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Aruna langsung menatap sang suami.
Faran lekas menatap ke arah pelaminan. Dia terkejut, rupanya sejak tadi Aruna menatap pria yang sedang mengobrol dengan kedua mempelai.
Aruna lekas bangkit.
“Mau kemana?” Faran menahan tangannya. “Jangan jauh-jauh.”
Aruna mengedarkan pandangan. “Mau mpek-mpek.”
“Mas ambilkan.” Faran bangkit.
“Ah, nggak usah, aku bisa sendiri. Nggak enak duduk terus.”
“Ya udah.” Faran duduk kembali. “Jangan lama-lama.”
Aruna mengangguk. Dia berjalan sendiri, namun Faran terus mengawasinya. Tiba-tiba Faran melihat Aruna menghentikan langkah ketika berpapasan dengan seorang wanita paruh baya.
“Kamu?” Kening Ira mengernyit. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada pengantin wanita. “Kalian?”
Aruna malah terdiam menatap wanita itu.
“Aruna?”
“Permisi.” Aruna hendak pergi, namun Ira menahan tangannya. Hal itu membuat Faran bangkit dan hendak mendekat. Namun, terhenti saat dia melihat Iyash ada di belakang wanita paruh baya tersebut.
“Jadi, kamu Aruna? Kamu kembali untuk Iyash?” tanya Ira.
“Ma?” Tiba-tiba Iyash sudah ada di belakang ibunya.
“Yash, dia?” Ira terperangah menatap sang anak.
“Iya, Ma. Dia Aruna dan orang yang Angkasa nikahi adalah saudara kembarnya.”
Ira menatap Aruna. “Jadi, kalian?”
Aruna masih terdiam, tak ada gunanya mengingat hal yang sudah berlalu, rasa sakit di masa lalu sudah tergantikan dengan semua kebahagiaan yang dia dapatkan hari ini.
“Mama mengerti, Yash. Jadi, kedua orang tuanya bercerai, satu dibawa Ayahnya dan satu dibawa ibunya, iya, ‘kan?” duga Ira.
Aruna tersenyum kecut. Andai memang sesimpel itu. Sayangnya tak ada yang mudah dengan kehidupannya dulu.
“Saya permisi.” Aruna kemudian berbalik, namun tiba-tiba Iyash menarik tangannya. “Hati-hati,” seru pria itu.
Jantung Aruna berdegup cepat. Hampir saja dia bertabrakan dengan salah satu tamu yang kerepotan mencari kursi sembari membawa piring. “Maaf,” kata tamu wanita tersebut.
“Makasih,” sahut Aruna.
“Sama-sama.” Iyash melepaskan genggamannya.
Aruna tertunduk dan pergi meninggalkannya. Jantung Iyash mencelus. Kegagalan hubungannya dengan Aruna memang disebabkan oleh ibunya sendiri, tapi jika dipaksakan pun Aruna belum tentu bahagia bersamanya. Sungguh hari ini dia melihat wajah Aruna yang cerah dan jauh dari duka. Mungkin itu karena pernikahan saudaranya tau karena dia bahagia bersama pasangannya.
Ira menatap anaknya yang tak berhenti mengarahkan pandangannya pada Aruna yang sedang sibuk mengantri di stand mpek-mpek. Sedangkan Faran segera menyusul istrinya.
“Mama minta maaf karena sudah memintanya pergi menjauh dari kamu,” kata Ira.
“Sudah terlambat.” Iyash mengalihkan pandangannya ketika melihat seorang pria baru saja mendekat pada Aruna. Dia kemudian tengadah dan menenggak minuman yang sedari tadi dipegangnya.
“Mungkin belum terlambat jika kamu ingin kembali.”
Iyash tergemap, dia mengernyit menatap sang ibu. “Mama ngerti kata terlambat nggak, sih?”
“Maksud kamu?”
Iyash kemudian menunjuk Aruna yang sedang bercanda mesra dengan suaminya. “Mama lihat. Dia sudah menikah.”
Ira terperangah sampai beberapa detik, tapi sungguh hatinya bahagia karena artinya Aruna tidak akan kembali pada Iyash. “Kalau begitu kamu cari wanita lain,” usul Ira. “Buktikan kalau kamu juga bisa bahagia tanpa dia.”
Iyash berdecak. Dia kemudian pergi meninggalkan ibunya.
“Ih, Yash,” panggil Ira. Tak berapa lama setelah Iyash pergi, Ira kembali pada sang suami, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia terkejut melihat sang suami sedang mengobrol dengan wanita lain dan dia tahu wanita itu adalah mantan pacar suaminya.
Waktu itu Miranti memang menghindari Hasa, namun sekarang tampaknya Miranti tak masalah dengan kehadiran pria itu.
Meski Hasa terkejut karena ternyata Aruna masih hidup dan wanita yang berdiri di pelaminan adalah saudara kembar wanita yang dicintai anaknya, namun Hasa tak memberi tahu Miranti akan hal itu.
“Angkasa nggak pernah cerita kalau kamu ayah angkatnya,” kata Miranti.
“Bukan, memang tidak diangkat secara resmi, tapi aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri karena dia sahabat anakku dan dari kecil dia suka menginap di rumah, sekarang saja sudah besar dia jarang berkunjung.”
“Oh.” Miranti mengedarkan pandangan. “Nggak enak dilihat orang. Aku permisi.” Miranti mengambil langkah.
“Mir, tunggu.” Hasa mendekat. “Mungkin kita tidak bisa mengulang pertemuan ini, jadi, aku ingin memastikan sekali lagi.”
Miranti malah terlihat tidak nyaman. Dia takut Edgar melihatnya.
“Mir, apa dulu saat kamu pergi, kamu memang hamil?” tanya Hasa.
Miranti membasahi tenggorokannya.
“Maaf, tapi aku mendengar itu dari orang lain dan aku yakin kalau aku ayahnya.”
“Ayah siapa, Hasa?” tanya Miranti pura-pura.
“Anak dari bayi yang kamu kandung.”
Miranti menggeleng. Dia tidak mungkin memberi tahu Hasa, bagaimana jatuh bangunnya kehidupan yang Miranti lalui bersama Edgar. Meski Hasa ayahnya, tapi Edgar tak membutuhkan wali, jadi untuk apa Hasa tahu, pikir Miranti.
“Mir, tolong jawab aku,” pinta Hasa.
“Bund,” panggil Edgar seraya mendekat. Hal yang ditakutkan Miranti terjadi Edgar melihatnya bersama Hasa.
“Aku permisi.” Miranti segera pergi, sebelum Edgar semakin mendekat ke arahnya. Hasa termangu menatap pria bertubuh tinggi dan berbahu lebar, rambut ikal dan struktur wajah yang persis seperti dirinya ketika masih muda.