Behind The Lies

Behind The Lies
Mengalihkan Rasa Sakit



Semuanya sudah lengkap dan siap menyantap hidangan yang Aruna beli dari restoran. Sebenarnya Bi Sumi sudah masak beberapa menu untuk makan malam ini, namun Miranti meminta agar Bi Sumi tidak menghidangkannya karena dia ingin menghargai Aruna.


“Enak ya, nggak perlu pergi ke restoran,” kata Miranti. “Untung Bi Sumi belum masak,” tambahnya.


Ashilla tergemap menatap Miranti. Dia tahu kalau wanita itu sudah berbohong untuk menyenangkan hati Aruna.


Ayu tersenyum menatap Miranti. Sedangkan Aruna tak mengangkat wajahnya sama sekali, dia terus tertunduk sembari menikmati makanannya. Faran sendiri tampak biasa-biasa saja, bahkan dia mengobrol dengan Edgar dan bercanda tawa dengan Asa, seolah semua baik-baik saja.


Tampaknya semua orang menikmati makanan yang dia beli, meski dia sendiri tampak tak selera dengan makan malamnya, padahal dia sudah membayangkan akan seenak apa semua makanan itu, namun, dia malah merasa kalau apa yang dia makan seperti tertahan di kerongkongan.


Sungguh awalnya Aruna baik-baik saja, bahkan setelah menerima hasil tesnya dia merasa sangat sehat, tapi kejadian ini membuatnya sakit.


Perlahan semua orang membubarkan diri usai menikmati makan malamnya, bahkan Faran pun demikian. Hanya menyisakan Aruna dan Ashilla yang masih duduk di meja makan.


“Aku minta maaf,” kata Ashilla membuka percakapan.


“Nggak apa-apa, aku juga minta maaf. Maaf karena selalu merepotkan kamu.”


Ashilla mengangguk. Dia kemudian bangkit dan pergi meninggalkan meja makan. Aruna sendiri masih duduk di tempatnya. Dia bingung, apa yang sebenarnya terjadi sampai Ashilla juga harus bersikap seperti itu?


“Bibi simpan sisanya di kulkas ya, Non,” kata Bi Sumi sembari membawa makanan tersebut.


Aruna mengangguk. Perlahan kemudian dia juga bangkit dan pergi ke dapur membawa semua piring kotor dan mencucinya.


“Biar Bibi aja, Non,” kata Bi Sumi. “Non Runa pasti capek.”


“Nggak kok, Bi.” Aruna meneruskan pekerjaannya. Air mata tak hentinya mengucur. Jangan pernah membuat Aruna menangis karena sekali dia menangis, dia akan kesulitan menghentikan air matanya yang seolah tak pernah habis. Semakin dia menangis, semakin dia merasa sakit.


Bi Sumi mematung menatap punggung yang bergerak naik turun itu. “Non.” Dia mendekat khawatir. “Biar Bibi aja.”


Aruna sudah tidak tahan lagi, dia ingin mengamuk dan melempar semua barang-barang. Dia ingin menjerit dan memaki dirinya sendiri. Namun, tanpa sadar Aruna merenyukkan satu gelas berbahan kaca tipis hingga gelas tersebut pecah di tangannya sendiri.


“Non,” teriak Bi Sumi panik. “Astaghfirullah.”  Bi Sumi lekas mendekatkan tangan Aruna ke bawah air yang mengalir. Dia mencuci darah yang terus mengucur dari telapak tangan wanita itu, pecahan gelas bahkan menempel di beberapa bagian. “Non, kenapa, Non?”


Aruna menggerak-gerakkan kakinya risau. Namun, dia berhasil mengalihkan rasa sesak di dada ke sakit di telapak tangannya.


“Bibi ambilkan obat merah.” Bi Sumi hendak pergi.


“Nggak usah, Bi,” tahan Aruna.


Bi Sumi mengurungkan langkahnya dan menoleh. Dia menatap darah yang terus mengucur di bawah derasnya air keran, piring-piring dan perabotan lainnya terendam air berwarna merah.


“Kalau begitu Bibi panggilkan Mas Faran.”


“Nggak usah.” Luka robek akibat pecahan beling tersebut tidak seberapa dibanding sesaknya dada yang dia rasakan sebelumnya. “Aku bisa obati ini sendiri. Tolong ambilkan perban saja, Bi.”


 Bi Sumi mengangguk. Dia lekas mengambil kotak P3K yang kebetulan ada di dapur. Bi Sumi meletakkannya di meja. “Duduk dulu, Non.”


Aruna juga membutuhkan kursi karena dia sudah sakit kepala melihat darah yang terus mengucur dari telapak tangannya.


“Non, ini harusnya dibersihkan dulu, takutnya ada beling yang masih menempel.” Bi Sumi menuangkan obat merah ke kapas.


“Non yakin, gimana kalau infeksi?” tanyanya seraya mengobati luka tersebut.


Aruna meringis, setidaknya luka tersebut bisa melupakan kesedihannya, meski hanya sedikit saja. “Nggak akan, antibodi saya cukup kuat untuk menangkal virus.”


Bi Sumi berhenti. “Kalau seperti itu, kemarin-kemarin Non nggak akan sakit,” omelnya.


“Beda lagi, Bi, kemarin saya masuk angin.”


“Sama aja toh,” dengkus Bi Sumi.


Aruna tersenyum, namun lagi-lagi kedua matanya basah. Semua orang, bahkan termasuk Bi Sumi yang tak ada hubungan darah dengannya tetap merasa khawatir.


“Aku tahu Bibi khawatir, tapi aku bener-bener nggak apa-apa kok, Bi.” Aruna memang tidak bermaksud mencari perhatian, dia hanya ingin melupakan kesedihannya, sehingga dia menyakiti diri sendiri, agar dia hanya fokus pada rasa sakit di tangannya saja, bukan di hatinya.


“Nggak apa-apa gimana, lukanya besar, Non. Tuh lihat, belum lagi luka-luka yang kecil ini.”


Aruna mengangguk dan tak berani menatap lukanya sendiri.


“Jangan sok jagoan, Bibi tahu ini sakit,” omel Bi Sumi seraya membalut luka tersebut dengan perban.


Aruna merasa tersindir, kata-kata Bi Sumi mengingatkannya pada Iyash, pria itu bilang kalau dia sok jagoan, padahal cengeng.


“Bibi ….” Aruna tertawa getir seraya menangis.


“Hm.”


“Peluk Runa,” kata Aruna seraya memejamkan mata.


“Bibi bau bawang,” kata Bi Sumi tanpa melihatnya. Padahal Bi Sumi merawat Ashilla dari bayi, tapi sekarang Aruna malah lebih dekat dengannya.


Aruna menggeleng seraya membuka kedua tangannya dan minta dipeluk. Dia ingin Faran yang memeluknya, atau ibu mertuanya, namun, di saat seperti ini dia tak mungkin meminta mereka lantaran dia hanya tidak ingin semua orang tahu kalau dia dan Faran sedang ada masalah.


Bi Sumi memeluk Aruna dengan erat. Sejak awal Aruna menginjakkan kaki di rumah tersebut, Bi Sumi sudah merasa sangat menyayanginya. Dia tahu setiap kesulitan yang Aruna hadapi. Tak mudah menjadi dirinya. Dia bahkan merasa ikut sakit hati saat Gusman meninggal dan Ganjar menyalahkan Aruna dalam hal itu. Sama seperti saat ini, dulu juga Bi Sumilah yang memeluk Aruna atas kepergian Gusman. Waktu itu sampai malam Aruna diam di makam ayahnya, meratapi kepergian pria yang sudah membesarkannya. Faran juga berdiri di sana menemani Aruna yang enggan pergi dari makam tersebut. Kini Aruna merasa Faran jauh dan sudah tak peduli padanya.


“Makasih, Bi.” Aruna mengurai pelukan yang dia dapatkan selama tiga puluh detik. Hal itu cukup membuatnya merasa lega. “Aku mau tidur.” Dia kemudian bangkit.


Bi Sumi mengangguk. “Selamat malam, Non Runa.”


Aruna tersenyum, kemudian mengangguk. Dia lalu melenggang pergi meninggalkan dapur. Tak ada satupun yang berkumpul di ruang tamu. Syukurlah dia bisa melewatinya tanpa banyak pertanyaan.


Faran tak ada di kamar, sehingga dia bisa menghindarinya malam ini dan bisa menyembunyikan luka di tangan kanannya.


Faran sendiri ada di halaman belakang bersama Edgar. Sedangkan kedua orang tuanya sudah beristirahat lebih dulu karena merasa lelah. Miranti ada pekerjaan lain, begitupun dengan Ashilla, sementara Asa harus belajar di kamarnya.


Aruna merebahkan tubuh dan menarik selimut. Dia mencoba terpejam, tapi, sayang dia merasa kesulitan untuk bisa tertidur. Mungkin memang dia sudah tak sedih lagi, namun resah telah merenggut tenangnya malam itu lantaran dia belum mendapat maaf dari Faran.


Hampir satu jam Aruna merebahkan tubuh sembari menikmati rasa sakit di tangannya, tapi, tak sedikitpun dia mengantuk.


Tak berapa lama Faran datang dan bersiap untuk tidur. Dengan segera Aruna pura-pura terpejam sembari menyembunyikan tangannya yang diperban. Pria itu naik ke ranjang dan tidur membelakanginya. Dada Aruna kembali sakit, sekarang bahkan lebih banyak karena tangannya juga semakin terasa berdenyut nyeri.