Behind The Lies

Behind The Lies
Meminta Akses Sosial Media



Sore hari Ashilla pulang seperti biasa, namun, kabar kalau dirinya datang terlambat ke kantor sudah sampai pada sang kakek, sehingga saat baru saja menginjakkan kaki di lantai rumah bergaya Eropa tersebut, dia langsung mendapat pertanyaan.


“Opa dengar kamu terlambat datang ke kantor, kemana dulu? Katanya cuma mengantar Angkasa sampai Bandara.”


Ashilla malah menghela napas. Nampaknya dia malas membahas kejadian pagi tadi.


“Kemana dulu?” desak Ganjar. Dia kemudian melongok keluar. “Mobilnya di mana, kenapa naik taksi?”


“Aman di bengkel,” jawab Ashilla lesu.


“Kenapa bisa? Kamu kecelakaan?”


Ashilla menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Cuma ban bocor.


“Jangan mentang-mentang kamu cucu Opa, terus kamu bertindak semaunya dan datang seenaknya, kamu harus tetap disiplin dan memberi contoh baik pada karyawan lain. Masa cuma ban bocor kamu datang lewat jam makan siang?” omel Ganjar.


Mendapat omelan seperti itu Ashilla semakin merasa kesal. “Shilla capek, Opa, mau istirahat.” Dia kemudian masuk ke kamar dan mengunci pintu.


“Shilla!”


Ashilla tak menanggapi sang kakek, meski sudah cukup dewasa, dia masih saja bersikap kekanak-kanakan.


Di dalam kamar mandi wanita dua puluh delapan tahun tersebut mencoba membuang lelahnya dengan berendam air hangat. Kepalanya terkulai di bibir bak, perlahan dia memejamkan mata lalu menurunkan kepala hingga basah seluruhnya. Beberapa detik di dalam air tiba-tiba sekelebat bayangan Iyash membuatnya terperanjat. Dadanya berdebar sakit, semua bayangan Iyash ketika mencium, memeluknya untuk pertama kali dan saat Iyash menahan kepergiannya dalam pelukan berputar-putar dalam ingatan. Entah kenapa perasaan itu tak dapat berhenti. Dia merasa telah mengkhianati Angkasa.


Ashilla mengusap kasar wajahnya yang basah, kemudian bangkit dan pergi meninggalkan air, lalu menyambar handuk dan membalut tubuhnya. Di depan cermin dia menatap kosong kedua bola matanya. Entah kenapa bayangan Iyash tak mau pergi dari pikirannya.


“Angkasa, sorry,” gumamnya pelan. Dia memukul-mukul dada kirinya pelan. Debar di balik dadanya malah semakin kencang. “Astaga, Tuhan.” Tak ada gunanya dia berlama-lama di depan cermin dan menyesali kejadian hari ini ataupun semua pertemuannya dengan Iyash.


Ashilla lekas keluar dari kamar mandi dan segera mengeringkan rambut dan berpakaian. Setelah itu dia merebahkan tubuh di ranjang sembari menunggu panggilan Angkasa, sayangnya dia tak akan mendapat panggilan apapun karena Angkasa masih dalam perjalanan. Wanita berambut panjang itu kemudian memilih untuk mengirim pesan pada Miranti.


[Bund, hari ini Angkasa kembali ke New York.]


Tak berapa lama pesannya langsung mendapat balasan dari sang ibu.


[Iya, Bunda yang minta. Mendadak Sam nggak bisa photoshoot, jadi Angkasa yang menggantikannya.]


[Sam kenapa?]


[Kecelakaan.]


[Ya ampun.]


[Kamu yang sabar, Angkasa sudah bilang nggak akan memperpanjang kontraknya lagi, karena saat kamu memutuskan untuk tinggal di Jakarta, dia juga akan tinggal di sana. Selama ini kamulah alasan dia bekerja sama Bunda.]


Jantung Ashilla semakin berdegup. Entah apa yang akan terjadi selama Angkasa tidak ada. Akankah dia merasa kesepian?


[Asa gimana?] Ashilla baru saja mengalihkan pembicaraan.


[Rewel. Nanyain kamu terus, rencananya bulan depan Bunda minta Angkasa bawa dia ke Jakarta.]


[Kenapa nggak sama Bunda?]


[Kita lihat nanti.]


[Hm.]


Ashilla menutup percakapan tersebut dan meletakkan ponsel di meja, tiba-tiba panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.


“Halo.”


Di seberang telepon hanya terdengar suara angin. Tak ada sapaan hangat apapun, entah itu panggilan dari orang iseng atau memang panggilan nyasar.


“Halo, ini siapa?”


Ashilla lekas bangkit dan menegakkan tubuh. Perasaannya mulai tak nyaman karena Iyash lagi-lagi terlintas dalam angannya.


“Iyash?” tebaknya pelan.


“Aruna?”


Ashilla seperti terlempar jauh. Iyash tak menghubunginya, melainkan Aruna, dan entah sampai kapan Iyash menganggapnya begitu. Ashilla lekas memutus sambungan telepon.


“Aruna?” Ashilla menghela napas. Panggilan Iyash baru saja meninggalkan resah. “Aku bukan dia, Yash,” gumamnya seraya kembali meletakkan ponsel.


Setelah itu dia memejamkan mata, belum satu menit, tiba-tiba ponsel berdering dengan sangat terpaksa Ashilla kembali mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon.


“Dengar,” ucapnya usai meletakkan ponsel di atas telinga. “Aku bukan Aruna, semirip apapun aku dengan dia, aku tetap Ashilla. Terima kasih untuk bantuannya, tapi aku harap kamu lebih realistis.”


Ashilla kemudian memutus sambungan dan kembali melanjutkan tidur. Namun, tiba-tiba ponsel kembali berdering dan dia benar-benar merasa kesal.


“Apa lagi? Apa semuanya belum jelas?”


“Sayang?” Tiba-tiba suara Angkasa membuat kedua mata Ashilla terbuka lebar. “Kamu kenapa?”


“Angkasa?”


“Memang kamu pikir siapa?”


“Nggak, tadi ada panggilan nyasar. Aku nggak tahu itu kamu. Kamu udah nyampe?”


“Aku lagi transit.”


“Oh, iya aku lupa.”


“Kamu teleponan sama siapa?”


“Iyash?” tebak Angkasa.


“Nggak, bukan.”


“Terus siapa lagi orang yang memanggil kamu Aruna, selain dia?”


Seketika Ashilla tergemap. Barulah dia ingat dengan perkataan yang dia lontarkan sebelumnya.


"Aku minta maaf," katanya pelan. Andai siang tadi dia tak memberikan nomor ponselnya pada Iyash.


"Kenapa dia bisa tahu nomor kamu?"


Seketika Ashilla tercenung. Tidak mungkin dia memberi tahu kepada Angkasa tentang kejadian hari ini.


“Aku nggak tahu.”


“Kamu pasti ngasih nomor kamu sama dia, iya, ‘kan?” tuduh Angkasa.


“Sayang,” panggil Ashilla pelan. “Aku minta maaf–”


“Tuh, ‘kan ….”


“Nggak, bukan gitu.”


“Terus apa?”


“Jadi, mmm ….”


“Sebaiknya kamu tidak menyembunyikan apapun dari aku.”


“Iya. Pagi tadi sehabis aku mengantar kamu, aku bantuin ibu-ibu yang mau melahirkan dan di rumah sakit aku ketemu dia.”


“Kok bisa?”


“Ya nggak tahu.”


“Kenapa sampai harus tukeran nomor telepon?”


“Ibu yang aku bantu itu meninggal dan aku nggak tahu kemana aku harus mengantar bayinya.”


“Jadi, Iyash bantuin kamu?”


“Iya. Dia mengantarku ke kantor Polisi.”


Helaan napas Angkasa terasa mengembus ke permukaan telinga Ashilla.


“Sayang.” Ashilla merasa bersalah.


“Shillaaaa ….”


“Aku, aku minta maaf.”


“Aku harap pertemuan dan kedekatan kamu dengan Iyash hanya sebatas itu.”


“Iya.”


“Aku pegang janji kamu.”


“Hm.” Meski Angkasa menganggap itu sebagai janji Ashilla, nyatanya Ashilla tak pernah merasa begitu. Dia malah penasaran kenapa Angkasa begitu takut dirinya dekat dengan Iyash?


Tentunya Angkasa semakin takut dan tidak merasa tenang. Belum juga sampai ke tempat tujuan, dia sudah dihadapkan pada hal yang sangat menakutkan. Bagaimana kalau Ashilla beralih pada Iyash? Entah itu mengalihkan perhatian, atau mengalihkan perasaan.


“Kamu ….” Mendadak Ashilla bingung menyambung kembali pembicaraan.


“Apa sebaiknya aku balik lagi ke sana?”


“Buat apa? Buang-buang waktu, buang-buang uang.”


“Aku nggak peduli dengan uangku, dengan waktuku. Aku lebih peduli kamu.”


“Jangan gila. Aku di sini baik-baik aja. Kamu nggak percaya sama aku?” Ashilla mulai kesal dengan kekhawatiran Angkasa. Entah apa yang ditakutkan pria itu, yang jelas terlihat tampaknya Angkasa memang tak percaya padanya.


“Aku tahu, aku percaya kamu baik-baik aja, tapi–”


“Please, kamu nggak perlu khawatir. i'm safe.”


Angkasa malah semakin khawatir, resah semakin membuncah. Dia tidak siap kehilangan Ashilla. “Aku nggak tenang.”


“Apa yang harus aku lakukan biar kamu tenang?”


“Aku minta akses semua sosial media kamu.”


Seketika Ashilla mengernyit. “Aneh. Kamu, ‘kan tahu aku cuma pakai email sama whatsapp, tapi sekarang aku pakai telegram buat grup kantor.”


“Ya udah nggak apa-apa, pokoknya aku minta akses.”


“Nggak!” tolak Ashilla tegas. “Kamu mau bajak privasi aku?”


“Nggak-nggak bukan gitu.” Nampaknya Angkasa baru menyadari kalau keinginannya telah memutus satu perjanjian.


“Udah ah. Aku sakit kepala. Aku mau tidur.” Sedetik setelahnya Ashilla memutus sambungan sampai dia tak mau mendengar tanggapan Angkasa lagi. Selama dia menjalin hubungan dengan Angkasa, tak pernah sedikitpun dia ingin menguasai Angkasa. Lalu kenapa sekarang Angkasa malah bersikap seperti ingin menguasai dirinya?