Behind The Lies

Behind The Lies
Teman Dari Surabaya



Ashilla mendekatkan ponsel ke telinga. “Ya, Sweety. Are you not sleep?”


“Asa mimpi buruk, Ma,” lapor bocah itu di telepon.


“Ya ampun, kamu mimpi apa?”


“Asa takut.”


“Ssshhhh … Bunda mana?”


“Pergi. Belum pulang.”


Tangis dan rengekan Asa membuat Ashilla merasa bersalah karena telah meninggalkannya dalam waktu yang lama.


“I want to follow you, Mom.”


“Ya sudah Asa ke sini aja, minta sama Bunda buat antar Asa ke Indonesia. Mama tunggu di sini.”


“Kenapa Mama perginya lama? Memang Mama nggak akan pulang lagi?”


“Kita sudah pernah bicarakan ini, Asa.”


“Kenapa Mama nggak ajak Asa?”


“Kamu sekolah.”


“Sekolah di sana saja.”


“Iya-iya.”


“Kalau Bunda sudah pulang, kamu bilang apa yang tadi Mama katakan sama kamu, nanti Mama telepon Bunda.”


“Iya.”


“Sekarang Asa tidur. Ini Mama lagi kerja.”


“In Indonesia night?”


“No, here in the morning.”


“Hm. Asa tidur lagi, Mam.”


“Okay, Honey. Have a nice dream.”


Setelah menutup panggilan, Ashilla berbalik dan mendapati Naya di belakangnya. “Kamu menguping?” tuduhnya yakin.


“Maaf,” kata Naya. “Kamu sudah menikah?”


Ashilla membasahi tenggorokannya. “Sudah.”


“Hah?” Kedua mata Naya membola. “Jadi?”


Ashilla lekas mengeluarkan kartu nama dari dalam tas. “Senang bertemu kamu, Naya. Lain kali kita bisa makan bersama,” katanya sembari memberikan kartu namanya pada Naya.


Naya tercenung menatap kartu dengan nama Ashilla Wijaya, bukan Aruna Anastasya. Sementara Ashilla sudah pergi meninggalkan toko buku tersebut. Pikirannya mengatakan kalau dia salah orang, sementara hati kecilnya berkata, tidak sama sekali. Wanita itu memang Aruna. Lenggok tubuh dan suaranya memang sangat mirip dengan Aruna. Hanya saja Ashilla sedikit formal dan tidak begitu ramah, wajar karena Ashilla baru bertemu dengan Naya.


Ashilla tengah mengemudi menuju kantor. Di perjalanan dia terus teringat percakapannya dengan Naya. Dia semakin penasaran pada sosok Aruna. Bahkan cita-cita mereka bisa sama? Dosen Sastra. Jika Aruna meninggal sepuluh tahun yang lalu, itu artinya Aruna tak pernah mewujudkan cita-citanya.


***


Sore hari Naya berdiri di depan rumah Iyash. Perempuan berkulit coklat itu telah berusaha keras mencari tahu keberadaan alamat rumah Iyash di Jakarta. Akhirnya Tuhan menuntunnya ke hunian serba putih yang sesuai dengan alamat yang didapatkannya dari Iqbal.


Berulang kali Naya mengetuk pintu, namun tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Naya tak mungkin pulang lagi karena baginya sudah terlalu jauh dia pergi ke tempat itu, rasanya percuma jika dia pulang dengan tangan hampa dan tak mendapat penjelasan apa-apa. Pagi tadi Ashilla telah membuatnya penasaran. Jika memang dia bukan Aruna kenapa tidak berkata sejak awal dan malah membiarkannya tetap bicara.


Hingga maghrib menjelang Isya Naya masih berdiri di depan rumah Iyash. Rumah sebesar itu bahkan tak ada pembantu? Pikir Naya. Di penghujung rasa kesalnya akhirnya datanglah seorang wanita paruh baya membawa barang belanjaan, dua orang pembantu berjalan di belakangnya dengan barang bawaan yang tak kalah banyak.


“Sri, buka pintunya,” titah Ira.


“Baik, Bu.” Sri lekas meletakkan barang bawaan dan membuka pintu untuk sang majikan.


“Permisi,” kata Naya mendekat. “Saya Naya, Bu, temannya Iyash dari Surabaya.”


Ira menatap wanita yang berpakaian kaos oblong dan jeans tersebut. “Naya?”


“Iya. Saya mau bertemu Iyash.”


“Kamu datang lagi besok. Iyash sedang pergi.”


“Tapi, saya di sini dari pukul empat.”


Bu Ira menghela napas. “Sri, bantu Mbok Yu bawa belanjaannya ke dalam.”


“Baik, Bu.”


Ira segera melakukan panggilan pada anak bungsunya. “Nama kamu siapa tadi?” tanyanya pada Naya.


“Naya. Bu.”


Ira mengangguk sembari menunggu Iyash menjawab teleponnya. Dia menatap perempuan di depannya. Perasaannya mengatakan kalau perempuan itu teman dekatnya Aruna. “Ada apa ke sini?”


“Mau bertemu Iyash.”


“Iya, saya tahu. Ada hal apa?”


Naya membasahi tenggorokannya. Tidak seperti Iyash yang ramah dan baik hati, ibunya malah terlihat judes. “Sudah sepuluh tahun dan saya ingin bertemu.”


“Sepuluh tahun?” Kening Ira mengernyit.


Naya mengangguk.


Sambungan pun terhubung dan Iyash menjawab panggilan ibunya. Pria itu sedang pergi mencarikan rumah untuk disewa Suster Rika dan Lily, itu semua agar Ashilla lebih leluasa datang menjenguk.


“Kenapa, Ma?” tanya Iyash di telepon.


“Kamu di mana? Di rumah nggak ada orang, sudah dapat rumahnya?”


“Sudah.”


“Kapan pulang? Ini ada teman kamu dari Surabaya.”


“Naya.”


“Sendiri?”


“Iya.”


“Sebentar lagi Iyash pulang. Minta Naya tunggu aja, Ma.”


Ira mengangguk. Kemudian menutup panggilan, dia lalu menatap Naya. “Masuk. Tunggu di dalam, Iyash lagi di jalan.”


“Baik, Bu, terima kasih.” Naya pun masuk dan duduk.


“Saya tinggal ke dalam.” Ira kemudian pergi ke dapur. “Sri, buatkan minum untuk temannya Iyash.”


“Iya, Bu.”


Naya memutar pandangan pada rumah bernuansa serba putih, bersih dan nampaknya tak pernah ada debu yang dibiarkan bersarang lama di sana.


Sri datang membawakan segelas teh dan biskuit. “Silakan diminum, Mbak.”


“Terima kasih. Oh iya, boleh saya tanya sesuatu, Mbak?”


Sri mengangguk.


“Kalau Iyash sudah menikah belum?”


“Belum, Mbak.”


Naya mengangguk. “Terima kasih.”


“Saya permisi.” Sri pun berlalu membawa nampan.


Sampai tiga puluh menit menunggu, akhirnya deru mesin mobil terdengar. Iyash turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah sembari mengucap salam. Naya lekas berdiri gugup.


“Naya?”


“Iyash, apa kabar?” Naya mengulurkan tangan.


“Baik. Kamu?” Iyash menyambut uluran tangan wanita yang pernah menyatakan perasaannya sebelum dia dan Aruna memutuskan bersama. Wajar jika untuk pertemuan kali ini Naya sedikit gugup.


“Dari Surabaya?” tanya Iyash seraya duduk.


“Dari Malaysia minggu lalu.” Naya pun kembali duduk.


“Oh iya kamu kerja di sana, betah?”


“Betah. Cuma penasaran kalau belum menaklukan ibu kota sendiri.”


Iyash tersenyum dan Naya menyadari satu hal kalau perasaannya masih sama. Apa sebaiknya dia tidak perlu bercerita tentang Ashilla, karena siapa tahu sebenarnya Iyash belum mengenal wanita itu, pikir Naya. Meski tujuan awal dia datang ke sini adalah untuk menanyakan hal itu.


“Datang jauh-jauh dari Malaysia. Sudah dapat pekerjaan?”


“Sudah, bantu teman jaga stand buku di mall. Kalau kamu ada pekerjaan mungkin bisa bantu aku.”


Iyash membasahi tenggorokannya. “Apa ya.”


“Rencanaya dua bulan di sini, kalau nggak ada pekerjaan, mungkin aku akan pulang ke sana.”


“Jadi, dua bulan itu untuk menaklukan ibu kota? Hebat sekali. Aku kasih hadiah kalau kamu berhasil,” tantang Iyash.


Naya tertawa.


“Kamu di sana kerja apa?”


“Bantu Bude di restoran. Kebetulan suami budeku asli orang sana dan punya restoran.”


“Wah kerja di sini bantu teman, kerja di sana bantu Bude. Hebat kamu kerjanya bantu-bantu orang.”


“Bantu-bantu dapat gaji, masa mereka biarkan aku kelaparan.” Naya kembali terkekeh.


“Tapi di sana kamu sambil kuliah?”


“Kuliah.”


“Ngambil apa?”


“Ekonomi bisnis.”


“Oh.”


“Kamu udah pulang, Yash?” tanya Ira sembari mendekat.


“Mama. Sudah beberapa menit yang lalu.”


“Makan dulu, ajak teman kamu sekalian, kasihan nunggu dari jam empat.”


Iyash lekas menatap Naya. “Serius?”


Naya mengangguk.


“Terima kasih sudah datang kalau begitu.”


“Sama-sama.”


“Ya udah yuk, makan,” ajak Iyash. Tentu saja Naya langsung bangkit dan mengikuti Iyash ke ruang makan. Tak baik menolak rejeki lagi pula sejak keluar mall dia belum makan.


“Selama di sini kamu tinggal di mana?” tanya Iyash seraya duduk.


“Aku tinggal di kosan teman.”


“Oh, jadi ke sini sekalian cari pengalaman?”


“Iya.” Naya menatap deratan makanan di atas meja. “Saya cicipi ya, Bu.”


“Iya. Makan yang banyak,” kata Ira. Meski awalnya Naya lihat kalau Ibunya iyash itu tampak tak ramah, namun ternyata tak begitu buruk. Dia tak mengusirnya dan malah mengajaknya makan malam.