Behind The Lies

Behind The Lies
Berkunjung



Angkasa dan semua anggota keluarganya sudah sampai di depan rumah Ashilla. Ayah dan ibunya bercengkrama dan menanyakan kesehatan Ganjar yang hari itu kebetulan baru pulang dari rumah sakit.


“Sudah mendingan, semoga nanti pas hari pernikahan Ashilla saya sudah sehat,” kata Ganjar yang masih duduk di atas kursi roda. “Tapi, jangan khawatir nanti Edgar yang akan menggantikan saya kalau saya tidak bisa menjadi wali nikah Ashilla.”


 “Oh." Ayahnya Angkasa tersenyum. "Ngomong-ngomong Edgarnya dimana?”


“Tadi bilangnya mau mengantar Asa ke sekolah. Kalau nggak nyasar, mungkin dia bertemu cewek cantik,” kata Ashilla seraya mendekat dan meletakkan enam gelas minuman di meja.


Erik tersenyum menatap calon menantunya yang semakin terlihat cantik.


“Apa kabar, Pa?” tanya Ashilla.


“Baik, Shill.”


Ashilla tersenyum seraya mengecup punggung tangan Erik dan Maya, tapi dia melewatkan Angkasa begitu saja.


“Kamu kok nggak salim sama aku?” tanya Angkasa.


Ashilla mengernyit.


Angkasa menganjurkan tangannya di depan wanita itu. “Salim dulu, sama calon suami juga, masa di lewat.”


Ashilla mencebik, namun dia tetap memenuhi kemauan Angkasa.


Angkasa tersenyum dan yang lain juga ikut tersenyum melihat sepasang calon suami istri tersebut.


“Kamu terlihat semakin cantik, Shill, pantas Angkasa pengen cepat-cepat, dia takut dengan ungkapan ‘kalau janur kuning belum melengkung, kamu masih menjadi milik orang lain’, jadi, dia pengen cepat-cepat halalin kamu. Malahan tadi dia minta bawa penghulu ke sini,” ungkap Erik panjang lebar.


“Papa, ah.” Angkasa menggaruk kepala.


“Sabar, cuma tinggal enam hari lagi,” kata Miranti.


“Nggak kok, Bund, Papa cuma bercanda.”


“Nggak ah, tadi kamu emang maksa mau bawa penghulu ke sini.”


Angkasa berdecak karena sang ayah telah membuatnya malu.


Ashilla malah tak kuat menahan tawa. “Oh iya, Mama Laila mana?” tanya Ashilla seraya menatap keluar karena dia pikir ibu tirinya Angkasa tertinggal di mobil.


“Nggak bisa ikut, lagi nggak enak badan, tensinya naik, tapi mama titip salam sama nitipin ini buat kamu.” Erik kemudian menatap Angkasa. “Mana titipan Mama?” tanya pria itu.


“Memang Mama nitip apa?” tanya Angkasa bingung.


“Kayaknya di mobil, bentar ya Papa ambil,” kata Erik seraya bangkit, kemudian pergi keluar.


“Oh iya.” Miranti celingukan. “Faran sama Aruna mana?”


“Aku panggilin.” Ashilla bangkit. Namun, Miranti menahannya.


“Kamu di sini aja. Maya mau ngobrolin pernikahan kalian.”


Ashilla mengangguk dan langsung menatap Maya. Sementara Miranti bangkit dan pergi meninggalkan ruang tamu.


“Jadi, gimana, Tan?” tanya Ashilla pada Maya.


Maya tersenyum. “Katanya kamu sibuk banget sampai nggak sempat pilih gaun?”


Ashilla menatap Angkasa sekilas. “Aku udah bilang sama Angkasa kalau gaun Bunda yang urus. Bunda udah siapin semuanya kok, Tan.”


“Oh gitu. Syukurlah. Tante lupa kalau Angkasa pernah bilang begitu.”


Ashilla mengangguk kaku. Sementara itu Miranti berdiri di depan pintu kamar Aruna dan mengobrol dengan Faran.


“Sakit lagi?” tanya Miranti seraya melongok ke dalam dan melihat Aruna yang tidur membelakangi pintu.


“Katanya nggak enak badan, Bund,” jawab Faran.


“Kamu yakin dia nggak perlu tes urin?”


Kening Faran mengernyit.


“Bunda yakin kayaknya dia bukan cuma masuk angin.”


Faran tercenung, kemudian menoleh pada Aruna yang masih terlelap.


“Udah tiga hari loh ini.”


“Katanya dia cuma butuh istirahat.”


“Banguninlah,” bujuk Miranti. “Nggak enak sama tamunya Ashilla. Temui sebentar aja.” Sebenarnya bukan tamunya yang membuat Miranti merasa tak nyaman, tapi keributan yang akan ditimbulkan Ganjar setelahnya jika Aruna bersikap seperti itu, seolah memang tak bisa menghargai sang pemilik rumah.


“Iya, Bund.” Faran segera berjalan ke dekat ranjang. Sementara Miranti kembali ke ruang tamu.


 “Sayang, bangun, tamunya Ashilla udah datang,” kata Faran.


“Biarin aja ah.”


“Nggak boleh gitu dong. Kamu, ‘kan di sini buat Ashilla.”


Akhirnya Aruna terpaksa bangun. “Ya udah aku cuci muka dulu.” Perlahan dia bangkit. Namun, tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri, tapi dia tetap memaksakan berdiri sampai akhirnya malah jatuh ke pangkuan Faran.


“Sayang ….”


“Apa sih, aku nggak apa-apa ah.” Aruna kembali bangkit dan pura-pura kuat. Dia tidak ingin cerita apapun pada Faran termasuk kondisi tubuhnya sekarang karena dia masih kesal pada pria itu.


Setelah dari kamar mandi, dia langsung keluar dari kamar, sementara Faran berjalan di sebelahnya.


“Selamat pagi,” sapa Faran ramah.


Faran tersenyum dan langsung bersalaman dengan para tamu, begitupun dengan Aruna.


“Apa kabar?” tanya Angkasa. Sepuluh tahun yang lalu mereka hanya bertemu dua kali, Aruna tak begitu mengenal Angkasa, pun sebaliknya.


Aruna tersenyum. “Baik, kamu?”


“Aku juga.”


“Selamat ya,” kata Aruna seraya duduk.


Angkasa tersenyum, dia kemudian menatap Ashilla yang ternyata sedari tadi menatapnya. Andai saja Angkasa bisa mencuri waktu, dia ingin bicara berdua saja dengan Aruna. Dia ingin bertanya tentang kejadian sebenarnya, termasuk kalau bisa dia juga ingin membicarakan apa yang dikatakan Adisty semalam.


Ashilla mengerjap dan lekas menatap ke arah lain, sementara Aruna segera tertunduk. Dia sedih mengingat kejadian itu lagi. Sampai detik ini masih ada perasaan yang menyiksa, meski dia sudah minta maaf pada Iyash.


Tak hanya Ashilla, Faran juga memperhatikan perubahan raut wajah Aruna.


“Sekarang aku dengar kamu tinggal di Jerman?” tanya Angkasa.


Aruna mengangguk.


“Sejak kapan? Kenapa nggak pernah ke Indonesia?” tanya Angkasa lagi.


Aruna merasa kalau Angkasa terlalu berani menanyakan hal itu. Dia takut lama-kelamaan Angkasa akan menyinggung soal Iyash.


“Udah hampir lima tahun,” jawab Aruna,


“Eh iya, maaf soal kejadian waktu di RS.”


Aruna hanya mengangguk.


Angkasa kemudian mengedarkan pandangan dan dia terkejut saat semua orang ternyata menatapnya. “Kenapa? Aku udah lama kenal Aruna kok,” kata pria itu pada ayah dan juga Tantenya.


“Oh.”


Di sini justru Ashilla yang terkejut. Dia tidak ingin cemburu, sayangnya tutur lembut Angkasa pada Aruna membuatnya cemburu.


“Seberapa lama?” tanya Faran.


Angkasa termangu. Dia benar-benar lupa kalau pria itu suaminya Aruna. Untung tidak keceplosan membicarakan Iyash.


“Lumayan.”


“Setahun? Dua tahun?” tebak Faran.


“Nggak juga sih, kami–”


“Aku yang kenalin mereka,” bohong Ashilla.


“Oh.” Nampaknya Faran tidak percaya. Mendengar pertanyaan Angkasa tadi, dia pikir kalau Angkasa sudah cukup tahu tentang Aruna, lagi pula dia tahu betul kalau Ashilla baru satu tahun berpacaran dengan Angkasa.


“Dari tahun berapa kamu kerja sama Bunda?” tanya Faran memastikan.


“Tiga tahunan ada,” jawab Angkasa.


Faran kemudian menatap Aruna. “Berarti waktu itu kamu belum pernah bertemu Aruna dan kamu nggak tahu dia tinggal di Jerman?”


“Mas,” panggil Aruna pelan.


“Aku cuma pengen tahu aja, Sayang.”


“Kalau udah tahu kamu mau apa? Bukan urusan kamu juga.”


“Iya sih. Udah lupain aja, maaf ya.” Faran sadar kalau dia sudah berlebihan.


Angkasa tersenyum.


Sedari tadi Miranti sibuk menerima telepon, sehingga dia tidak ikut mengobrol, sedangkan Ganjar mengobrol dengan Erik, sementara Maya malah memperhatikan Angkasa, Aruna, Ashilla dan Faran, padahal niatnya datang ingin membicarakan tentang pernikahan keponakannya itu.


Ashilla lekas berdehem. “Tante, jadi semua progresnya gimana?”


“Udah hampir seratus persen ya, Ang?”


Angkasa menoleh kemudian mengangguk.


“Makasih, Tante.”


“Ini juga hasil kerja keras Angkasa, tante hanya membantu apa yang perlu dibantu.”


Ashilla menatap pria itu, kemudian tersenyum. Angkasa malah termenung menatapnya.


“Aku mau bicara berdua sama kamu,” pinta Angkasa. Namun, Ashilla malah terdiam cukup lama. “Atau kalau nggak aku mau bicara sama Aruna aja. Berdua.”


Seketika Ashilla menatap Aruna. “Maksudnya? Kamu mau bicara apa berdua sama Aruna?” selidik Ashilla.


Angkasa kemudian menatap Aruna.


“Kalau gitu, kita ngobrol berempat aja di belakang,” usul Ashilla.


“Berempat?” tanya Angkasa heran.


“Iya, Mas Faran juga wajib tahu, dia, ‘kan suami Aruna,” kata Ashilla.


Angkasa kemudian menatap Faran. Nampaknya Aruna mendapat pria yang lebih cemburuan dari pada Iyash, pikir Angkasa.


“Ya udah oke.” Yang terpenting Angkasa bisa membuktikan kalau perkataan Adisty salah. Hanya itu.