
Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit, Iyash mengetuk pintu kamar yang ditempati Rahma. Niat hati dia ingin meminta maaf pada Marissa. Namun, wanita itu sudah terlelap di atas pangkuan ibunya.
“Cha,” panggil Rahma pada sang anak. “Ih malah tidur.” Dia menggoyang-goyangkan tubuh Marissa.
“Mama, Icha ngantuk, please, izinin Ica tidur di sini,” gumam Marissa dengan mata terpejam.
“Tapi kamu harus izin dulu sama suami kamu, masa pengantin baru malah tidur terpisah.”
“Ma, jangan dibahas lagi,” gumam Marissa malas.
Seketika Iyash tercenung di depan pintu. Tangannya tertahan, dia mengurungkan niatnya untuk kembali mengetuk pintu tersebut. Iyash memilih kembali ke kamarnya dan menghabiskan malam dengan merenung sampai dia tertidur dan pagi menjemputnya.
***
Sementara itu ada yang berbeda dengan Edgar, pria itu bangun lebih pagi. Usai melaksanakan sholat subuh di masjid komplek, dia mengganti pakaian dan memulai kegiatan paginya dengan berjoging.
Miranti merasa bangga karena pada akhirnya Edgar kembali pada dirinya dan entah apa yang Edgar dapatkan dari pelariannya sampai anak tunggalnya itu mengalami perubahan besar. Miranti berharap ini menjadi awal yang baik untuk mereka semua. Rasa sakit di masa lalu mengajarkan mereka menjadi pribadi yang kuat.
Tidak semua masalah bisa terungkap. Bahkan meski seseorang mencari jawaban seperti yang dilakukan Edgar, karena bertanya kenapa hanya akan membuatnya lelah.
Semalam Edgar memberi tahu Marissa kalau dia sudah sampai Jakarta, dia juga meminta maaf karena tak berpamitan secara langsung, namun sampai detik ini Marissa tak membaca pesannya. Edgar berpikir kalau Marissa terlalu sibuk merawat pasiennya.
Meski merasa dongkol, tapi Edgar tahu kalau dirinya salah, dia meminta sang ibu untuk tidak melibatkan Marissa, namun dengan bersikap seperti itu, tentu saja secara tidak langsung dia melibatkan Marissa ke dalam masalahnya.
Ketika tengah asyik berjoging mengelilingi perumahan tempatnya tinggal saat ini, tiba-tiba bahu Edgar tak sengaja bertabrakan dengan bahu seorang perempuan.
“Maaf,” kata Edgar dan wanita itu bersamaan. Kedua manusia dewasa tidak akan mencari siapa yang salah dalam hal ini.
Edgar tersenyum, begitupun dengan wanita itu. “Ini Maira anaknya Dokter Mirza, ‘kan?” tanya Edgar.
Maira mengernyit dan mencoba mengingat pria itu. Tentu saja dia tidak akan ingat karena dia baru sekali bertemu dengannya.
“Iya, ‘kan?” Edgar memastikan, “Eh atau aku salah orang?”
“Iya, saya Maira.” Maira tersenyum lembut. “Mas tinggal di daerah sini juga?”
Edgar mengangguk. “Saya cucunya almarhum Pak Ganjar.”
“Oh, iya-iya. Saya turut berduka. Ayah jadi kehilangan teman main catur.”
“Oh Dokter Mirza suka main catur?” Dulu Edgar tak punya kesempatan untuk mendekati Maira karena meski sering berjoging nyatanya dia tak memiliki keberanian menyapa wanita itu. “Kebetulan, apa saya boleh main?”
“Bisa, datang aja ke rumah, Ayah pasti senang ada yang menemaninya main catur.”
Bibir Edgar terus tersungging.
“Saya duluan ya, Mas.”
“Iya. Hati-hati.”
Maira tersenyum lalu pergi. Wanita yang sedang menempuh pendidikan S2 kedokteran spesialis kandungan itu berlalu dari hadapan Edgar, sementara Edgar merasa hidupnya baru saja kembali dari mati suri.
Sedangkan di pagi yang sama, namun di belahan bumi yang berbeda, seseorang baru mengalami masalah besar dalam hidupnya. Bukan tidak bisa memberontak atau memilih jalan hidupnya yang lain, namun, terhimpit keadaan membuatnya tak punya pilihan. Marissa terpaksa menerima pernikahan tersebut, bukan karena dia cinta, tapi karena dia lebih mencintai ibunya daripada hidupnya sendiri.
Waktu itu Marissa pergi ke kamar Iyash untuk mengambil peralatan mandinya, namun, saat hendak keluar, dia tak sengaja bersirobok dengan pria itu yang kebetulan hendak masuk usai kembali dari masjid.
Sikap Iyash yang seperti inilah yang membuat Marissa merasa dongkol.
“Dengar,” kata Marissa saat pria itu berbalik menatapnya. “Icha terpaksa menerima pernikahan ini demi Mama, jadi, jangan pernah berharap Icha akan mencintai Kak Iyash.”
Iyash terdiam menatap wanita itu hingga beberapa detik. Kemudian dia mengambil langkah dan membuka jendela kamar. Hal Itu membuat Marissa mengernyitkan dahi. Dia tidak menyangka kalau Iyash akan mengabaikannya lagi.
Jujur hal ini membuat Marissa semakin enggan berbicara dengan Iyash karena pria itu selalu membuatnya merasa gondok. Dia tidak ingin lebih lama berada satu ruangan bersama Iyash. Sehingga dia memutuskan untuk kembali ke kamar sang ibu. Namun, saat hendak keluar dia mendengar Iyahs berdehem.
“Ehem. Pernikahan ini hanya formalitas, jadi, jangan pernah membicarakan cinta,” kata Iyash tanpa berbalik dan tetap menatap lurus ke langit yang masih terlihat begitu gelap.
Marissa termenung. Tentu dia mendengarnya dengan baik. Bahkan, setiap perkataan akan terekam dalam ingatannya dengan baik. Dia kembali ke kamar sang ibu.
Marissa berdiri membelakangi pintu kamar yang ditempati ibunya. Dadanya bergejolak menahan api amarah. Marissa merasa ada yang salah dengan perjalanan hidupnya.
“Kamu kenapa?” tanya Rahma yang baru saja selesai mengemas barang-barangnya.
“Mama mau kemana?” tanya Marissa seraya mendekat.
“Pulang.”
“Kapan?” Marissa mendekat.
“Nanti siang.”
“Kalau begitu, Icha akan pulang sama Mama.”
“Loh, nggak boleh.” Rahma bangkit dari duduknya. “Iyash, ‘kan belum sembuh, sebagai istri, kamu harus merawat dia.”
“Oh. Icha ngerti.” Marissa kemudian pergi dan kembali ke kamar Iyash. Tampak pria itu masih asyik dengan kesendiriannya menikmati keheningan pagi dan langit yang mulai menampakan cahayanya.
“Icha nggak ngerti apa yang Kak Iyash pikirkan, Icha cuma nggak nyangka Kak Iyash akan melakukan ini.”
Pria itu menoleh, namun tak bicara apapun. Dia menatap kedua mata Marissa yang perlahan berembun.
“Kenapa harus libatkan Icha?” Marissa menarik napas dan jatuhlah air mata yang susah payah dia bendung.
Dada Iyash bergemuruh. Dia bingung menanggapi perkataan Marissa sampai dia benar-benar tak mampu menyusun kata.
“Perceraian Om Hasa dan Tante Ira, bukan tanggung jawab Icha,” lanjut Marissa.
“Saya–”
“Jika ini soal balas budi, kenapa waktu itu Kak Iyash harus mengorbankan nyawa?” Marissa menarik napas, dia kemudian berbalik sembari menyeka kedua pipinya yang basah, lalu pergi.
Sudah cukup lama Marissa menahan tangis, sampai dia lupa caranya menangis, tapi sejak Iyash masuk ke dalam hidupnya, dia tak bisa mengontrol emosinya lagi dan Iyashlah yang membuatnya kembali menangis setelah mantan pacarnya.
Iyah tergemap dan dia mematung tanpa bisa menjelaskan apapun pada Marissa, bahkan permintaan maaf yang seharusnya dia katakan pun tak tersampaikan pada wanita itu.
Iyash kembali berbalik dan merenungi kesunyian hatinya sendiri sembari menatap langit pagi.
Ada tiga terbodoh yang membuatnya menyesal pernah hidup di dunia ini. Pertama adalah jatuh hati pada Aruna, kedua adalah menanti Aruna sampai tak bisa membuka hati untuk yang lain dan yang ketiga adalah menikahi perempuan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Jika hidup dan mati adalah pilihan, tentu dia akan memilih mati sebelum semua ini terjadi, atau sejak sepuluh tahun lalu, ketika kecelakaan itu merenggut cintanya dan menjadikannya seperti mayat hidup.