Behind The Lies

Behind The Lies
Wanita Bergaun Merah



Baru tiga hari Aruna tinggal di kos. Mulai Senin dia akan menjadi mahasiswa dan memulai mimpinya, tapi, malam ini Iyash mengajaknya untuk datang ke pesta ulang tahun Adisty. Iyash berjanji akan menjemputnya menggunakan mobil karena sang ayah telah menepati janji untuk menghadiahi kelulusannya satu unit mobil yang dia pilih langsung.


Aruna menunggu Iyash di depan gerbang sejak beberapa menit yang lalu. Dia merasa gugup karena ini kali pertama dia datang ke pesta. Dia terlihat sangat cantik dengan dress putih selutut yang dibelikan Iyash kemarin. Rambutnya diikat ekor kuda, hanya itu, tapi dia benar-benar terlihat sangat menarik.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Dia pikir itu Iyash, sehingga dia langsung mendekat dan tersenyum. Saat kaca mobil diturunkan, senyumnya langsung memudar dan perlahan kakinya mundur. “Maaf, aku kira Iyash.”


“Iya nggak apa-apa, aku cuma mau memastikan kamu datang,” kata Angkasa dengan senyum khasnya.


“Aku datang bersama Iyash, kamu duluan saja.”


Angkasa terus saja memamerkan senyum menariknya. “Tentu, aku hanya kebetulan lewat.”


Aruna mengangguk.


“Kalau begitu sampai ketemu di sana.”


“Iya,” sahut Aruna seraya mengangguk.


Tak berapa lama setelah mobil Angkasa melesat pergi, Iyash datang dan berhenti di depan Aruna, kali ini Aruna tak mau besar kepala, sehingga dia memilih untuk tetap berada di tempatnya.


Iyash tersenyum seraya menurunkan kaca mobilnya. “Hai.”


Jantung Aruna menggelepar. Dia tersipu melihat wajah Iyash.


“Ayo.”


Aruna lekas mengambil langkah dan masuk ke dalam mobil baru pemuda itu. Dia tampak gugup, begitupun dengan Iyash.


“Kamu nggak nunggu lama, ‘kan?”


“Nggak.” Jika mengikuti kata hati sebenarnya Aruna malas bertemu Adisty. Wanita itu pasti akan mengejeknya lagi. Entah apakah dia bisa menyesuaikan diri atau tidak, yang jelas dia merasa kalau tidak akan bisa setara dengan Iyash dan juga teman-temannya.


“Kamu siap?”


Aruna mengangguk.


“Kalau begitu pasang sabuknya.”


Aruna lekas memasang sabuk pengaman dan menguncinya. Aruna kemudian menoleh pada Iyash dan tersenyum, lalu setelah itu Iyash melajukan mobilnya.


Aruna tak mengalihkan pandangannya dari Iyash, dia merasa sejak di Jakarta Iyash  sedikit berubah. Entah mungkin itu perasaannya saja karena merasa kehilangan perhatian Iyash atau ada hal lain, tapi, seharusnya dia sadar kalau di sini dia bukan prioritas utama, lagi pula Iyash punya keluarga, tidakkah Aruna mencoba mengurus hidupnya sendiri?


“Kenapa, Run?” tanya Iyash sedikit menoleh, namun tak menatap Aruna.


Aruna membasahi tenggorokan, kemudian menatap ke arah lain.


“Besok kamu mulai kuliah, kamu pasti nggak punya waktu buat aku,” kata Iyash.


Gadis itu tersenyum getir. Bukankah Iyash yang tak akan punya waktu untuknya?


“Bulan depan aku berangkat,” kata Iyash.


“Kamu juga nggak akan punya waktu buat aku,” kata Aruna pelan. Tentu saja dari sekarang pun, Iyash tak ada waktu untuknya.


Iyash terdiam dan tak punya kata-kata untuk menyemangati Aruna, lagi pula gadis itu memang benar. Entah seperti apa pacaran jarak jauh itu.


“Kamu tenang aja, kita harus membuktikan kalau hubungan ini tidak akan mengganggu cita-cita kita, iya, ‘kan?” kata Aruna meyakinkan Iyash dan mengusir kekhawatiran di wajah pemuda itu.


Iyash mengangguk setuju. Dia dilarang ibunya berpacaran karena takut mengganggu masa depannya, namun Aruna ada benarnya kalau dia harus membuktikan bahwa semua itu bukan hambatannya untuk meraih cita-cita.


“Kita masih jauh?” tanya Aruna.


“Jauh, kenapa?”


“Aku nggak bawa kado.”


“Nggak perlu. Kamu di sini menemani aku.” Iyash kemudian melirik ke belakang diikuti Aruna. “Tuh.”


Aruna terperangah menatap sebuah kotak dengan bungkus merah di kursi belakang. “Besar banget, isinya apa?”


“Titipan Mama, aku nggak tahu isinya apa.”


“Oh.” Aruna kembali menghadap belakang.


“Aku nggak nyiapin kado apa-apa, lagipula nggak ada gunanya. Adisty bisa mendapatkan apapun yang dia mau.”


Aruna menghela napas dan menatap ke arah lain. Apakah dia baru saja iri pada Adisty? Tidak. Dia merasa kalau dia hanya kurang beruntung.


Tak berapa lama mobil Iyash berhenti di depan sebuah rumah dan Aruna langsung menoleh pada pria itu. “Di sini?”


“Iya.”


Aruna berdecak. “Jauh atau dekatnya kamu nggak bisa diukur.”


Iyash tersenyum. “Ayo turun.”


Aruna lekas keluar dari mobil, pun dengan Iyash. Mereka bergandengan dan masuk ke dalam. Aruna mengedarkan pandangan dan dia melihat Angkasa melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu hanya tersenyum dan Iyash membalas lambaian tangan Angkasa dan langsung berjalan ke arah sahabatnya itu.


“Macet?” tanya Angkasa


“Nggak.”


“Hai,” sahut Aruna cepat, seolah dia baru kembali dari lamunan.


“Kamu cantik banget,” puji Angkasa.


Aruna merasa gugup karena Angkasa adalah pria pertama yang memujinya di pesta ini. Sedangkan Iyash mungkin lupa mengatakannya.


Seorang perempuan menghampiri mereka. “Iyash?”


“Sarah.”


“Ih, ya ampun, nggak nyangka bisa ketemu di sini, apa kabar?”


“Baik.” Iyash kemudian menatap Aruna. “Kenalin, Aruna.”


Sarah tersenyum dan menatap gadis itu. “Siapa?”


Untuk pertama kalinya Aruna mengulurkan tangan karena biasanya dia tidak akan mengawali perkenalan, namun Sarah tak menyambutnya.


“Dia Aruna cewek gue,” kata Iyash.


Tangan Aruna tertahan beberapa detik, namun akhirnya dia turunkan karena merasa gondok. Nampaknya tak ada yang ingin berkenalan dengan dirinya.


“Oh.” Sarah kemudian menatap Angkasa. “Dia yang bikin lu ngotot masuk sastra inggris?”


“Ssstttt.” Kedua mata Angkasa membola menatap Sarah.


“Hah? Serius?” tanya Iyash. “Gue kira lu bercanda.”


“Gue udah gedeg dengar dia curhat Aruna lagi, Aruna lagi. Gue jadi penasaran kayak apa sih cewek yang bisa bikin Angkasa betah di ibukota. Biasanya sehari aja dia udah ngeluh, macetlah, panaslah.”


“Loh, bukannya dia udah seminggu di sini?” tanya Iyash.


“Nggak. Waktu kalian ketemu di kampus, itu hari pertama Angkasa pulang.” Sarah terkekeh.


Angkasa lekas membuang muka. Dia menyesal curhat pada Sarah.


Iyash tersenyum menanggapinya.


“Nih gue kasih tanda perkenalan.” Sarah memberikan segelas sirup buat Aruna.


“Ambil.”


“Makasih.”


“Ya udah gue ke sana dulu, Yash.”


Iyash mengangguk.


“Eh, gue juga.” Angkasa pun pergi mengikuti Sarah untuk memberi wanita itu pelajaran karena sudah membocorkan rahasianya.


Aruna dan Iyash tiba-tiba merasa kikuk.


“Yash,” panggil Adisty. Wanita itu menghampiri ke arahnya. “Makasih udah datang.”


“Iya, sama-sama.”


“Gue kira sendiri.” Adisty menatap sinis Aruna. Dia kemudian kembali menatap Iyash. “Gimana gue malam ini?” tanya Adisty seraya bergaya dengan meletakkan tangan di pinggang.


“Cantik,” puji Iyash.


Jantung Aruna mencelus. Dia sendiri tidak mendapat pujian itu dari Iyash, sedangkan Iyash malah dengan mudah memuji wanita lain di depannya.


“Kadonya?” Telapak tangan Adisty terbuka di depan Iyash.


“Ada di mobil, tapi dari Mama.”


“Lo?”


“Gue nggak sempat beli apa-apa. Nanti aja deh, apapun yang lu minta, gue beliin.”


“Bener?”


“Iya.”


“Ih, makasih, Iyash.” Adisty memeluk Iyash sekilas, kemudian menarik tangan pemuda itu. “Gue ajak ketemu Mama sama Papa.”


Aruna tergemap, mematung di tempatnya. Jadi, yang dimaksud Adisty bisa mendapatkan apapun yang dia mau itu, ya ini. Apapun yang Adisty mau dari Iyash. Kedua tangan Aruna mengepal kuat. Kenapa dia bisa mempercayai kalau Iyash tulus pada dirinya?


Dalam keadaan kesal karena ditinggal sendiri di pesta tersebut. Aruna menenggak minuman yang diberikan Sarah padanya.


Para tamu di ajak untuk berkumpul dan menyanyikan lagu untuk yang berulang tahun malam ini. Setelah itu Adisty memejamkan mata untuk membuat harapan, lalu meniup lilin seperti ritual ulang tahun pada umumnya. Dia pun memberikan kue pertama pada ibunya, kemudian ayahnya.


Aruna terperangah menatap wanita bergaun merah yang berdiri di sebelah Adisty. Dia menajamkan pandangan, perlahan kemudian air matanya turun ketika dia menyadari kalau ibunya Adisty adalah wanita yang meninggalkannya ketika bayi.


Aruna lalu menatap Iyash yang sedang disuapi kue oleh Adisty. Lagi-lagi dia menangis dan kebetulan Iyash dapat melihatnya. Aruna lekas pergi meninggalkan pesta tersebut.